
Sementara itu kini Rafael sudah berada di Gudang Markas. Hampir setengah jam lamanya Rafael menghabiskan waktu diperjalanan. Nanik? Rafael akan menghubunginya nanti setelah pulang bekerja.
Dilepasnya helm full face miliknya. Lalu diikuti dengan masker dan sarung tangan. Rafael melepaskan secara berurutan. "Hufftt.." Hembusan nafas keluar dari dalam mulut Rafael. Kedua bola matanya tertutup sejenak. Lalu salah satu tangannya bergerak memijat pelipis. Rasa pusing dan kantuk tiba-tiba menyerangnya lagi.
Dari arah kejauhan, terlihat salah satu bodyguard tengah menatap Rafael. Rafael yang sedari tau akan tatapan itu hanya berakting pura-pura tidak tau. "Selamat datang Tuan." Sapa Bodyguard itu sopan. Kepalanya menunduk dengan kedua tangan berada di sisi kanan dan kiri.
"Iya? Ada perlu apa?" Tanya Rafael dengan suara dinginnya. Meskipun Rafael terlihat ramah ke bawahannya, akan tetapi Rafael menjadi orang yang paling ditakuti di Gudang Markas.
Baik Elden maupun Rafael, keduanya mempunyai ciri khasnya masing-masing. Jika Elden dikenal dingin, angkuh dan mematikan maka berbeda dengan Rafael. Rafael sedari dulu dikenal sebagai good boy atau laki-laki dengan kepribadian lembut. "Gudang Markas sudah dibersihkan sesuai perintah dari Tuan Rafael." Lapornya sopan.
Rafael mengangguk. Bibirnya bergumam tanpa suara. "Kau bisa kembali." Titahnya tegas.
"Baik Tuan." Jawabnya lalu segera berlalu.
"El, besok kamu sudah mulai bekerja lagi kan?" Tanya Lexa memastikan.
Kini Elden dan Lexa tengah berada di ruang tengah. Keduanya saling mengobrol dan bercerita. Sudah lama Elden dan Lexa tidak melakukan ini.
"Iya sayang. Besok aku masuk kerja. Kasian Rafael sayang. Selama aku libur dua hari ini, Rafael lah yang mengurusi pekerjaan ku." Kata Elden menjelaskan.
Lexa mengangguk mengerti. Salah satu tangannya mengambil satu botol air minum. Lalu di teguknya hingga habis tak bersisa. "Emh, bagaimana kabar mereka berdua El? Apakah Nanik sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Rafael?" Tanya Lexa. Pasalnya, setau Lexa sedari duduk di bangku Senior High School, hubungan Rafael dan Nanik di tentang oleh kedua orang tua Rafael hanya karena kasta Nanik berada dibawah mereka. Jika saja kedua orang tua Rafael tidak memiliki pandangan yang seperti itu, mungkin Nanik dan Rafael sudah hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka.
__ADS_1
"Tetap seperti itu sayang. Rafael sudah berusaha membujuk kedua orang tuanya. Meyakinkan jika Nanik adalah wanita baik yang pantas untuk dijadikan istri. Namun tetap saja, kedua orang tua Rafael tidak setuju."
Lexa mengangguk mengerti. "Kasihan Nanik, El. Pasti Nanik sedih banget jika tau alasannya."
Dengan lembut Elden mengusap puncak rambut Lexa. "Iya sayang. Tapi mah bagaimana lagi? Rafael tidak mungkin membunuh kedua orang tuanya hanya karena sebuah restu."
"Iya aku tau El. Tapi menurut ku itu sudah terlalu keterlaluan."
Cup..
Dikecupnya bibir merah Lexa. "Iya sayang. Jadi nanti kamu akan aku bawa ke tempat Rafael agar Nanik mempunyai teman berbicara. Mau!" Usul Elden yang langsung disetujui Lexa.
"Aku mau!" Jawab Lexa bersemangat.
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
__ADS_1
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊