
...Pembukaan dengan yang tampan-tampan dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang tampan begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...
Good morning. Ketemu lagi dengan ku. Bagaimana kabar kalian, hm? Baik-baik saja kan cantik? Btw, jangan lupa sarapan dan minum air putih yang banyak ya. Jaga kesehatan ya cantik. Agar kita bisa bertemu dalam bentuk film ❤️ - Elden Crishtian
...Happy Reading 🥳...
Jam telah menunjukkan pukul 11 siang. Mahasiswa jurusan teknik telah selesai melakukan mata kuliahnya.
"El, kau berkelompok dengan siapa?" Tanya salah satu perempuan yang tidak Elden kenal.
"Dia berkelompok dengan ku." Sahut Rafael sambil menenteng tas miliknya yang bersisi laptop dan beberapa buku paket.
Perempuan itu menghela nafas kecewa. Padahal dia berniat untuk mendekati pria yang dikenal dingin di seantero Universitas.
Rafael tersenyum sambil melambaikan tangan melihat kepergian perempuan itu dengan wajah yang ditekuk. "Kau lihat El, perempuan itu berniat untuk mendekati mu. Dia melakukan modus yang sering aku lakukan dulu." Ucap Rafael sambil merangkul pundak Elden. Elden yang tidak suka di rangkul kecuali Lexa yang melakukannya. Jadi Elden langsung menyingkirkan tangan Rafael dari bahunya. "Jangan merangkul ku Raf." Tanda peringatan dari Elden membuat Rafael menelan ludahnya kasar.
"Hehehe." Rafael tertawa renyah. Berusaha melunakkan suasana. "Maafkan aku." Ujar Rafael. "Jadi, untuk tugas proyek yang diberikan oleh Dosen tadi, kau satu kelompok dengan ku El."
"Hm." Elden mengiyakan. Tidak berniat memanjangkan percakapan. Lalu Elden bangkit dari duduknya. Sambil memakai tasnya, lantas Elden berjalan keluar dari dalam kelas. Rafa uang tidak ingin tertinggal segera mengikuti langkah sahabatnya.
"Kau selalu meninggalkan ku El. Apa kau tidak kasian terhadap ku?" Omel Rafael seperti ibu-ibu.
Elden hanya cuek. Tidak menanggapi omelan sahabatnya. Elden menganggapnya sebagai angin lalu.
Suasana kampus terlihat ramai. Beberapa mahasiswa ada yang sedang duduk santai di kantin. Ada juga yang mengobrol dan bercerita di taman. Ada juga yang sedang menyendiri menghindari keramaian.
Elden menatap lurus ke depan. Tatapannya terkesan dingin. Rahangnya yang tegas dengan bulu mata yang lentik membuat para kaum hawa merasa iri. Ditambah sifatnya yang dingin tak tersentuh membuat kaum hawa berlomba-lomba untuk mendekati Elden. Meskipun mereka sudah tau jika Elden sudah mempunyai kekasih bernama Lexa Ardola yang merupakan mahasiswi jurusan Sejarah.
"Kau mau langsung pulang atau lanjut pergi ke markas?" Tanya Rafael memecah keheningan.
"Aku langsung pulang. Lexa menunggu ku." Jawab Elden singkat. "Aku duluan." Pamit Elden menepuk pundak Rafael.
__ADS_1
Langkah Rafael berhenti. Hembusan nafas keluar dari mulutnya. Pandangannya menatap ke arah sahabatnya yang sudah masuk ke dalam mobil. Tangannya melambai ketika mobil Elden telah pergi. "Ya, kau memang bucin El. Aku akui itu. Bahkan sekarang sahabat mu kau tinggal begitu saja tanpa berbasa-basi terlebih dahulu."
Sementara itu, di sebuah apartemen milik Elden, terlihat Lexa tengah sibuk beres-beres. Mulai dari membersihkan meja, menata barang-barang yang berantakan, mencuci baju di mesin baju, sampai mengepel lantai apartment telah Lexa selesaikan dalam waktu dua jam.
"Hufftt.." Di usapnya peluh yang jatuh membasahi keningnya. "Akhirnya semua telah beres. Sekarang aku tinggal mandi dan masak." Kata Lexa sambil menatap ruang televisi yang telah bersih. Bau harum karena pewangi ruangan semakin menenangkan Lexa. "Sebentar lagi Elden akan pulang. Aku harus bersih dan wangi." Tidak ingin berlama-lama lagi, Lexa segera berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Lexa menyelesaikan mandinya dalam waktu sepuluh menit. Ini adalah mandi tercepat yang pernah ia lakukan. Mengingat jika sekarang sudah jam 11 siang. Sedikit lagi kekasihnya akan pulang. Setelah mandi, Lexa segera keluar dari dalam kamar mandi dan segera berjalan masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaian santai. Lexa memilih celana pendek dengan baju crop top tanpa lengan berwarna hitam. Terlihat pas dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih tanpa cacat. Rambutnya ia gerai dengan jepitan rambut yang dulu pernah Elden belikan. Lexa menatap kagum penampilannya di cermin. Kemudian Lexa tersenyum. "Kamu memang cantik Lexa." Puji Lexa pada dirinya sendiri.
Klik..
Suara pintu apartment terbuka membuat Lexa terburu-buru untuk memakai parfum. "Sekarang sambut kekasih mu pulang." Lagi-lagi Lexa berbicara pada dirinya sendiri. Dengan semangat, Lexa segera menghampiri Elden.
"Hai El. Bagaimana hari ini?" Tanya Lexa sambil memeluk tubuh tegap Elden dari belakang.
Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Elden ketika merasakan pelukan hangat di pinggangnya. "Hari ini cukup melelahkan sayang. Aku ada tugas kelompok yang harus aku selesaikan akhir pekan nanti." Jawab Elden jujur. Ke dua tangannya yang berotot dengan urat-urat yang menonjol memegang jemari lentik milik Lexa. Di genggamnya jemari itu dengan lembut. "Jika tadi ditemani sama kamu, mungkin lelah yang kurasakan tadi akan hilang. Seperti sekarang, lelahku langsung lenyap begitu saja ketika kamu peluk seperti ini." Ditariknya kedua tangan Lexa agar semakin memeluk tubuhnya.
Mendengar perkataan itu membuat hati Lexa menghangat. Kepalanya ia sandarkan di punggung lebar milik Elden. "Aku jadi bertanya-tanya El, kemana perginya sifat dingin dan cuek mu itu?"
Elden menggeleng pelan. Pertanyaan yang sama yang selalu Lexa tanyakan. "Setiap kali ada di dekat kamu, sifat dingin dan cuek ku hilang begitu saja sayang. Hanya sifat hangat dan penuh kasih sayang yang selalu muncul jika aku bersama mu." Tubuh Elden berbalik, menghadap ke arah Lexa.
"Apa kamu perlu bukti cantik?"
"Tentu saja. Perempuan juga perlu bukti bukan hanya kata dan janji manis."
Elden tersenyum penuh arti. "Baiklah. Aku akan membuktikan itu. Kedua bola mata Elden terpejam. Bibirnya mengerucut lucu mendekati wajah Lexa. Lexa yang mengerti hal itu langsung menepuk bibir Elden hingga menimbulkan suara yang keras.
Plak..
Sontak saja Elden terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Lexa. Kedua pelupuk matanya terbuka.
"Wlek!" Disana, kekasihnya tengah menjulurkan lidah ke arahnya sambil memasang ekspresi yang meledek.
"Kamu berani menantang ku cantik?"
__ADS_1
Merasa posisinya sedang terancam, Lexa segera berlari menjauh. Sedangkan Elden seger mengejar Lexa dengan langkah kecil. Alhasil, sekarang Elden dan Lexa saling kejar-kejaran. Gelak tawa terdengar, mengisi penjuru ruangan apartemen. Bukankah bahagia itu sederhana?
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊