PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
150. Elden Si Psycopath 21+ (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


"Tuan, Elden telah menghabisi nyawa Jeff, pembunuh Mita. Elden melakukannya dengan sangat baik. Tempat kejadian juga dibersihkan tanpa meninggalkan jejak apapun tanpa bisa dilacak." Lapor seorang bawahan Justin. Dia baru saja pulang dari tugas mengawasi Elden.


Justin yang sedang berada di halaman rumah Lexa lantas membalikkan badannya menghadap ke arah bawahannya. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya. "Apa yang Elden lakukan untuk membunuh pria itu?" Tanya Justin sambil menatap ke arah anak buahnya.


Lnatas bawahan Justin menjawabnya dengan rinci. "Elden membunuh pria itu dengan sadis tuan. Dia memotong salah satu kaki Jeff dengan menggunakan kapak yang ia bawa. Tidak hanya itu, Elden tanpa sengaja memotong kepala Jeff hingga terputus. Aku yang melihatnya sudah ngeri sendiri Tuan." Jawabnya.


Justin tertawa renyah mendengar cerita itu. "Baiklah. Lalu apa yang dilakukan oleh Rafael?"


"Rafael bagian menculik kepala sekolah Tuan. Dia juga melakukannya dengan sangat baik. Mereka benar-benar saling melengkapi satu sama lain." Kata bawahan Justin dengan semangat empat lima.


Justin mengangguk mengerti. "Sekarang kita tinggal menunggu hasil bersihnya saja. Kau tetap awasi mereka berdua dan jangan lupakan Bram."


"Baik tuan." Jawabnya sambil membungkukkan tubuhnya, hormat.


Ayu yang sedari tadi mendengar percakapan antara Justin dan bawahan Justin langsung terpaku ditempatnya. Mulutnya ia bungkam dengan menggunakan kedua tangan nya. Kedua bola matanya membulat sempurna. "Elden? Bukankah dia pria yang menginap di rumah kemarin? Membunuh? Apakah itu benar? Bukannya usia Elden masih remaja? Tapi bagaimana bisa Elden membunuh orang dengan begitu sadis? Atau mungkin yang dimaksud oleh Justin adalah Elden yang lain? Tapi itu tidak mungkin." Pikirannya berkecamuk. Logika dan hatinya sedang berperang habis-habisan. "Tunggu sebentar. Justin tadi juga menyebut nama Bram? Bram di awasi? Tapi untuk apa?" Hatinya semakin bertanya-tanya. "Untuk apa Justin melakukan hal sejauh itu!"

__ADS_1


Tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Justin, alhasil Ayu memutuskan untuk kembali ke dalam kamar putrinya. Ayu memilih untuk tidur bersama Lexa. Ayu benar-benar merasa takut sekarang. "Kenapa putriku dikelilingi oleh pria yang berhubungan dalam dunia gelap?" Ujarnya dalam hati sambil menatap wajah Lexa yang sudah terlelap. Diusapnya dengan lembut wajah cantik itu. Ayu menatap sendu wajah putri kesayangannya. "Tuhan, jangan biarkan Lexa berakhir seperti Jessica." Lirihnya pelan.


Sementara itu, disebuah markas Geng Mafia Crowned Eagle terlihat sangat damai. Bram mengerutkan keningnya ketika melihat suasana markas yang hening. "Dimana Rafael?" Tanya Bram ke salah satu bodyguard yang di tugaskan sebagai penjaga pintu laboratorium.


"Tuang Rafael sedang berada di ruang bawah tanah Tuan." Jawabnya dengan sopan.


"Ruang bawah tanah? Bukankah itu ruang penyiksaan?" Gumamnya pelan yang langsung diangguki oleh bodyguard itu.


"Iya tuan. Tuan Rafael sedang berada di ruang penyiksaan. Tuan Rafael dan Elden sedang berada disana. Mereka sedang menghabisi orang yang telah bermain-main dengan mereka. Jadi saran saya, lebih baik Tuan jangan ikut campur urusan mereka." Ucapnya memberi saran ke majikan barunya.


Bram mengangguk ramah. Ditepuknya pelan bahu itu. Tersirat sebuah Ancaman disana. Hal itu membuat bodyguard yang sedang berdiri berhadapan dengan Bram merinding takut. Memang benar wajahnya terlihat ramah. Akan tetapi ada sesuatu yang mengerikan tersembunyi di balik keramahannya.


"Terimakasih sudah mempedulikan ku. Tapi akan lebih baik jika kau peduli dengan nyawa mu sendiri. Takut jika ada yang menyelinap kaku membunuh mu." Dengan tersenyum pongah Bram mengatakannya. Berbanding terbalik dengan kedua bola mata yang menatap dingin.


Setelah mengatakan hal itu Bram berjalan pergi untuk menuju ruang pelatihan fisik. Bram akan memperkuat diri sebelum memulai pertempuran yang sebenarnya.


"Apa yang akan kau lakukan pada tua bangka itu El?" Dengan berdiri bersandar di dinding ruangan, Rafael dengan santainya meminum minuman beralkohol yang ada di tangannya.


Rafael langsung menegak habis minumannya. "Kau selalu suka bermain-main El. Apa kau tidak bosan?" Tanya Rafael sambil berjalan menuju sebuah meja yang berada di dekatnya.


"Bukankah kau tau Raf, jika aku paling suka bermain-main? Aku kurang puas bermain-main tadi. Kau tau Raf? Jeff tadi tidak asik untuk ku ajak bermain. Jeff terlalu cepat menyerah. Hal itu membuat ku tidak sadar memukul kepala nya hingga terputus dari tubuhnya." Seperti tidak ada beban Elden menceritakannya. Tidak ada rasa bersalah atau takut ketika menceritakannya. Wajahnya nyaris datar tidak ekspresi sama sekali.


Rafael yang sudah tidak terkejut lantas memakan Snack yang ia bawa. "Kita melupakan Bram, El. Menurut mu bagaimana Bram? Apakah dia tidak akan mengkhianati kita El?"


Sontak saja pertanyaan Rafael tadi membuat Elden mau tidak mau menatap ke arah Rafael. "Bram tidak akan mengkhianati kita Raf. Aku yakin itu." Jawabnya mantap. Entahlah, Elden tidak tau harus menjawab apa. Akan tetapi di dalam hatinya Elden yakin jika Bram tidak akan menjadi musuh dalam selimut.


"Terserah kau El. Aku akan mengikuti mu dan aku juga akan mengawasi nya." Keputusan final telah Bram buat. Bram tidak ingin kecolongan atau mengalami sebuah kerugian besar yang berdampak pada dirinya maupun Elden.


Kedua bola mata kepala sekolah mulai terbuka. Obrolan samar-samar antara Rafael dan Elden ia dengar. "Dimana aku?" Lirihnya pelan ketika tidak menyadari keberadaan Elden yang sedang duduk tidak jauh darinya.

__ADS_1


Elden menatap puas ketika barang mainnya mulai tersadar. "Selamat datang di gudang permainan Elden Crishtian Pak." Dengan ekspresi wajah yang datar Elden mengatakannya.


"A--Apa?" Mulutnya terbuka. Merasa terkejut ketika melihat Elden dan Rafael yang sedang menatap dirinya.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊

__ADS_1


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..


__ADS_2