
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Jika Elden dan Lexa sibuk menghabiskan waktu berdua bersama, maka berbeda dengan Mita yang sedang duduk menunggu kedatangan Elden di ruang tamu.
Dengan menggunakan sweeter oversize berwarna cream dan kaos kaki berwarna senada, Mita dengan santainya duduk bersandar di sofa. Cahaya yang sedikit remang-remang membuat Mita merasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Mit, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu." Ucap Elden yang sudah memutuskan nya dengan bulat.
Mita yang awalnya fokus dengan makanan nya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Elden. "Apa itu El?" Tanya Mita bingung. Pasalnya Elden tidak pernah mengajaknya untuk berbicara serius seperti ini.
"Aku tidak mempunyai perasaan apapun untuk mu Mit." Ujar Elden langsung ke intinya.
Kejujuran Elden waktu itu masih memenuhi isi hatinya. "Hufftt.." Helaan nafas keluar dari mulutnya. "Sakit si, tapi ya harus gimana lagi. Sekeras apapun aku memaksa Elden untuk bersama ku, hal itu tidak akan pernah terjadi. Yang ada Elden akan pergi menjauhi ku. Itu akan semakin membuat ku sakit." Ujarnya dengan kepala yang mendongak ke atas.
Kebersamaannya dengan Elden berputar di ingatannya. Mulai dari awal bertemu hingga sekarang. Kenangan-kenangan manis masih terekam jelas di memori ingatannya.
Wajah Elden yang tampan, tatapan hangat yang selalu ia dapatkan, perhatian lebih yang selalu Elden berikan padanya hingga rasa sakit yang ia dapatkan dari harapannya sendiri. Itu membuat Mita langsung tersenyum miris. Apalagi mengingat jika sekarang perhatian Elden lebih tertuju ke Lexa, perempuan yang di cintai oleh laki-laki yang ia cintai. "Kau sangat beruntung Lexa. Kau sangat beruntung karena telah mendapatkan sosok laki-laki seperti Elden." Lirihnya pelan. Hatinya terasa sesak mengingat semuanya.
"Rasa sakit yang gue rasain sekarang tidak ada apa-apanya dari pada rasa sakit yang lo rasain sekarang." Dengan tenang Lexa mengatakannya.
"Apa maksud lo?" Mita tidak mengerti dengan apa yang di katakan Lexa.
"Apa perkataan yang gue katakan belum jelas juga Mita?" Kata Lexa dengan menekan nada di setiap perkataanya. "Rasa sakit yang gua rasain sekarang belum seberapa dengan rasa sakit yang lo rasain sekarang. Kenapa gue bilang seperti itu?" Lexa menegakkan tubuhnya. "Karena gue tau, lo tidak di anggap sama sekali dengan laki-laki yang lo cintai. Dan sayangnya laki-laki yang lo cintai itu mencintai gue." Ujar Lexa tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Hiks!" Isakan tangis langsung lolos dari bibirnya yang mungil. Buliran kristal meluncur deras membasahi kedua bola mata cantiknya. Dicengkeramnya dengan kuat sweeter yang ia pakai. Perkataan Lexa waktu itu memang ada benarnya dan itu berhasil membuat dirinya tersadar. "Why is this so painful for me Lord? Why is this so stifling? Why? Why does the boy I love love another girl? Whereas if you present him for me? What's the use of me all this time? What will I do if I mean nothing to him. Hiks!" Jeritnya frustasi. Kedua kakinya ia angkat dan ia tekuk di atas. Dipeluknya kedua kakinya itu dengan erat. Sementara wajahnya ia tenggelam kan di lipatan ke dua tangannya.
Artinya : Kenapa ini sangat menyakitkan untukku Tuhan? Kenapa ini sangat menyesakkan dada? Kenapa? Kenapa laki-laki yang aku cintai nencintai perempuan lain? Sedangkan kau hadirkan ia untuk ku? Apa gunanya aku selama ini? Apa fungsinya aku jika aku tidak ada artinya buat dia. Hiks!
Tubuhnya bergetar hebat. Hatinya terasa sakit dua kali lipat dari sebelumnya. "Why do you attend him in my life if you don't even present him to live with me Lord?" Lirihnya pelan.
Artinya : Kenapa kau hadirka ia dihidupku jika dia saja tidak kau tadirkan untuk hidup bersama ku Tuhan?
Disela tangisannya, sebuah perkataan Elden tadi pagi terlintas di benaknya.
"Jika terjadi sesuatu, bilang sama aku Mita. Aku akan membantu kamu." Ujar Elden memperingati Mita.
Kepala itu lantas menggeleng pelan. "Aku hanya akan menyusahkan mu El jika aku menceritakan teror-teror pembunuhan yang aku dapat beberapa hari ini." Ujarnya. Lalu jemarinya yang mungil mengusap buliran kristal yang membasahi kedua bola matanya. Hidungnya terlihat memerah karena habis menangis. Kedua bola matanya juga sembab dengan keringat yang membasahi dahinya. Keadaan Mita benar-benar terlihat mengenaskan.
Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Namun Elden tidak kunjung datang juga. Sedangkan janjinya tadi, Elden akan datang jam 8 malam. Tidak seperti biasanya Elden telat dari janji yang telah ia ucapkan sendiri.
Ting Tong..
Suara bel diluar langsung mengalihkan ekstetansinya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. "Akhirnya datang." Ujarnya dengan senang. Setelah itu Mita segera bangkit dari tempat duduknya. Kedua kakinya yang jenjang berjalan menuju pintu apartment miliknya. Akan tetapi langkahnya langsung terhenti ketika mengingat sesuatu. "Bukankah Elden mengingat sandi apartemen ku? Bukankah Elden mempunyai kartu masuk yang bisa ia gunakan?"
Kemudian Mita memutuskan untuk mengintip di balik lubang kecil yang tersedia di pintunya. Dengan tangan yang bergetar Mita melakukannya.
Deg..
Mita spontan langsung memundurkan langkahnya. Sosok laki-laki berbadan tegap dengan pakaian serba hitam sekarang tengah berdiri teoat di depan pintu apartment nya.
Tubuhnya bergetar takut. Lantas Mita segera mengunci pintu apartment nya dari atas hingga bawah. "Elden." Nama pertama kali yang muncul di hatinya adalah Elden. Dengan cepat Mita berjalan menuju ke tempat ponselnya berada.
Brak.. Brak.. Brak..
Pukulan pintu mulai terdengar. Mita semakin takut di buatnya. Tangannya bergetar takut. Dipencet ya tombol hijau untuk menghubungi Elden.
Tut..Tut.. Tut..
Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab panggilan anda.
__ADS_1
Bunyi operator terdengar. Jemarinya dengan lincah mengetik sebuah pesan yang ia kirimkan ke Elden.
Mita : Aku takut El. Ada orang asing yang sedang berdiri di depan pintu apartment Ku.
Mita : Kau ada di mana? Aku butuh bantuan ku El.
Mita : El, please segera datang apartment ku. Aku menunggu mu..
Sementara suara dobrakan terdengar keras. Mita dengan cepat berlari ke dalam kamarnya m Dikuncinya pintu kamarnya dari dalam. Tubuhnya merosot begitu saja dengan ponsel berada di genggamannya.
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
__ADS_1
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..