
Selama sehari ini Elden disibukkan dengan kegiatannya di kantor. Mulai dari melakukan pengecekan dokumen, berkas dan turun ke lapangan langsung. Hampir seharian ini juga Elden tidak sempat untuk menghubungi istrinya.
"Terimakasih. Saya sangat puas bekerjasama dengan anda Tuan." Ujar partner bisnis Elden.
"Saya juga sangat puas bekerjasama dengan anda Tuan Ricky." Ujar Elden membalas pujian Ricky yang merupakan partner bisnis Elden.
"Saya permisi dulu tuan." Pamit Ricky.
Elden membalasnya dengan anggukan kepala. Sebelum pulang, Elden memasukkan beberapa barang miliknya. Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Istrinya pasti sedang menunggunya di rumah. Dengan senyum sumringah, Elden segera turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift khusus.
Ting..
Baru saja Elden masuk ke dalam lift, Elden dibuat terkejut dengan kedatangan Laura. "Ah, Tuan Elden." Sapa Laura sambil membungkuk kemudian melangkah masuk ke dalam lift.
Suasana yang terasa akward membuat Laura menoleh. "Tuan baru mau pulang?" Tanya Laura basa-basi.
Elden menoleh sekilas. Kemudian menganggukkan kepala. "Iya, aku baru saja selesai melakukan pekerjaan ku. Jadi pulangnya sedikit terlambat." Sahut Elden menanggapi pertanyaan Laura.
Laura mengangguk mengerti. "Oh begitu." Gumam Laura. Pandangannya lurus ke depan.
Elden menoleh sekilas. Merasa tertarik dengan apa yang dilakukan Laura. "Apa kau baru saja akan pulang?" Tanya Elden. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.
Merasa ditanya, lantas Laura mengangguk. "Iya Tuan. Saya baru saja akan pulang. Tadi ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan malam ini." Jawab Laura.
Ting..
Pintu lift terbuka. Laura berjalan terlebih dahulu. Suasana perusahaan yang terasa sepi seketika membuat bulu kuduk Laura meremang.
Melihat ketakutan dari wajah Laura membuat perhatian Elden tertarik. "Kau pulang sendiri?" Tanya Elden. Tubuhnya berbalik menghadap ke arah Laura. Keduanya berdiri saling berhadapan.
__ADS_1
Laura mengangguk. "Iya Tuan. Saya pulang sendiri. Biasanya saya pulang naik Bus. Tapi sepertinya ini sudah terlalu malam." Lirihnya. Kedua bola matanya bergerak gelisah.
"Kau bisa pulang dengan ku. Aku akan mengantarmu pulang Laura." Kata Elden final. Pandangannya tidak luput dari paras milik Laura. Wajah yang hampir sama seperti perempuan di masa lalunya.
Kedua bola mata Laura membulat sempurna. Kepalanya reflek menggeleng pelan. "Ah, tidak perlu Tuan. Saya akan berjalan kaki. Rumah saya tidak jauh dari sini." Tolak Laura.
"Hsst." Salah satu tangan Elden terangkat. Jari telunjuknya menyentuh bibir Laura. "Diam lah Laura. Jangan menolak. Ini perintah bukan tawaran."
Glek..
Air ludah Laura telan. Kedua bola matanya menatap kagum wajah tampan Elden. "Ini orang atau malaikat?!" Ucap Laura dalam hati.
Kepala Laura menunduk malu. Tidak ingin menolak. "Baiklah Tuan. Terimakasih Tuan."
Elden tersenyum. "Sama-sama Laura." Jawab Elden pelan. Kedua bola matanya terus menatap kagum wajah Laura. Hatinya berdesir hangat setiap kali Laura menunduk dan menyembunyikan raut malu. "Sama. Kalian memiliki kedua bola mata yang sama. Bahkan respon yang kalian tunjukkan juga sama."
Disudut ruangan tersembunyi terlihat sosok orang yang tengah memegang kamera. Setiap pergerakan dan interaksi Elden dan Laura di foto secara sembunyi.
"Aku telah mendapatkan foto mereka berdua Tuan." Laparnya lewat sambungan telfon yang terhubung di earphone yang ia gunakan.
"Kerja bagus. Kirimkan ke ponsel ku."
"Baik Tuan."
Sementara itu Lexa tengah menunggu kepulangan suaminya di meja makan. Berkali-kali Lexa berusaha menghubungi suaminya. Namun sayangnya Elden tidak kunjung mengangkat telfonnya. Rasa khawatir dan cemas campur menjadi satu. Kegelisahan melanda diri Lexa. "Kamu dimana El?" Gumam Lexa. Tak terasa buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. Lagi-lagi Lexa menangis. "Biasanya kamu pulang jam 8 malam El. Kamu biasanya mengabari ku. Lalu, kemana perginya kamu sekarang El?" Lirih Lexa. Tangisnya pecah. Kekhawatiran menyelimuti diri Lexa. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. "Hiks!" Isak-nya pelan. "Kamu dimana El?" Pikirannya jauh melayang. Kecurigaan dan ketakutan menyergap dalam diri Lexa. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hal itu semakin membuat rasa cemas Lexa semakin menjadi-jadi.
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
__ADS_1
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
__ADS_1