PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
129. Nyawaku Lebih Penting! (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


"Ayah, nanti aku pulangnya dengan Bram saja." Ujar Lexa yang kini sedang duduk di mobil mewah bersama Ayahnya, Justin.


Justin yang sedang menyetir mobilnya lantas langsung menoleh. "Tidak mau Ayah jemput?" Tanya Justin lalu kembali fokus menatap ke depan.


Lexa menggeleng pelan. "Untuk saat ini tidak dulu Ayah. Aku ingin menyelesaikan masalah dengan Bram." Jawab Lexa sambil menatap jalanan kota yang terlihat ramai. Namun tidak sampai macet.


"Kalau ada sesuatu bilang ke Ayah. Ayah akan membantu putri Ayah. Jangan ditanggung sendiri." Ujar Justin dengan suara yang terdengar lembut. Perhatiannya sebagai figur seorang Ayah sudah tidak bisa diragukan lagi. Walaupun Justin adalah seorang Ketua Mafia Italia yang memiliki tanggung jawab dengan resiko yang sangat besar. Akan tetapi Justin tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah bagi putri kesayangannya.


Lexa tersenyum mendengar perkataan Justin tadi. Perasaannya menghangat. "Iya Ayah. Kalau ada sesuatu pasti Lexa akan bilang ke Ayah. Ingat, Lexa adalah perempuan yang kuat dan tangguh." Dengan tersenyum lebar Lexa mengatakannya.


Deg


Justin yang melihat senyuman itu langsung tertegun. Tubuhnya membeku dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. Senyuman yang tersungging di bibir putrinya sangat mirip dengan senyuman yang Jessica miliki.


"Kamu tidak perlu takut Justin. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan selalu ada disini. Di hati mu. Ingat, aku adalah perempuan yang tangguh. Mereka yang ingin memisahkan kita tidak akan pernah bisa melakukannya."


Perkataan Jessica beberapa tahun yang lalu langsung terlintas di benaknya. Justin tidak akan pernah melupakan sosok wanita yang selama ini mengisi hari-harinya. "Lihat sayang, sekarang putri kita sudah tumbuh besar. Dia menjadi perempuan yang cantik seperti dirimu. Dia terlihat manis dengan senyuman yang ia miliki. Dia benar-benar mirip seperti dirimu. Hanya saja sifat keras kepala ku turun ke putri kita." Ujar Justin di dalam hati.


Tidak berselang lama kemudian, akhirnya Justin dan Lexa telah sampai di halaman sekolah. Seperti biasanya, sosok Lexa selalu menyita perhatian publik.


"Hati-hati. Belajar yang giat. Ayah sayang sama Lexa." Ucap Justin lalu mengecup kening putrinya.

__ADS_1


Lexa yang sudah mulai terbiasa dengan hal itu lantas mengangguk mengerti. "Siap Ayah! Ayah bisa mengandalkan putri Ayah ini." Jawab Lexa dengan semangat empat lima.


Setelah itu Lexa melangkah kan kedua kakinya meninggalkan Justin yang masih setia menatap nya dari belakang.


Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya Lexa membalas beberapa sapaan dari teman seangkatannya dan juga adek kelasnya.


"Hai Kak." Sapa salah satu perempuan yang berpapasan dengan Lexa.


"Hai juga." Jawab Lexa membalas sapaan dari adek kelasnya.


"Lexa, itu Ayah kamu?" Tanya salah satu teman seangkatannya.


Lexa mengangguk. "Iya. Itu Ayah ku." Jawab Lexa. "Aku masuk ke dalam kelas dulu ya." Pamit Lexa dan segera berjalan masuk ke dalam kelasnya.


Tidak berbeda dari suasana di luar kelas, semua teman satu kelasnya menatap ke arahnya. Ada yang menatapnya benci, tidak suka dan ada juga yang menatapnya dengan tatapan kagum. "Abaikan Lexa. Abaikan." Ujar Lexa pada dirinya sendiri. Berusaha untuk menekankan pada dirinya jika apa yang mereka lakukan tidak penting baginya.


Setelah itu Lexa duduk di bangkunya. "Hufftt.." Lexa menghembuskan nafasnya pelan. Ada perasaan lelah yang hinggap di perasaannya. Apalagi Bram yang belum merespon pesannya sama sekali. Hal itu semakin membuat Lexa kefikiran.


"Lexa, Lo sudah tau ngga mengenai kabar Bram kemarin?" tanya salah satu teman Lexa yang tiba-tiba datang menghampiri Lexa dengan duduk di depan bangku Lexa.


"Bram kemarin cabut dari kelas gara-gara dengar kabar kalau Lo lagi sakit dan bertepatan dengan Elden, kakak kelas kita. Desas-desus nya si bilang seperti itu." Ujar teman Lexa menjelaskan.


"Oh.." Lexa tidak tau harus menjawab apa.


Setelah itu, bel bunyi jam pelajaran pertama telah berbunyi. Semua siswa siswi masuk ke dalam kelasnya masing-masing.


Jam pelajaran pertama mengenai Pendidikan Kewarganegaraan membuat Lexa bersemangat. Setidaknya jam pelajaran pertama di buka dengan jam pelajaran yang Lexa sukai.


"Bram, Lo kenapa? Dari tadi gue perhatikan Lo diem terus. Biasanya Lo yang paling heboh sendiri." Ujar ketua kelas yang kebetulan dari lama sudah menaksir Bram.


Kepala yang semula menunduk itu langsung mendongak dan menatap lawan bicaranya. Tatapan dingin menusuk dengan ekspresi yang datar membuat sang ketua kelas langsung tertegun. Aura menyeramkan dan dominant terlihat jelas keluar dari tubuh Bram. "Bukan urusan mu." Jawab Bram dengan dingin.


Tidak ada senyuman ramah yang tersungging di bibir tipisnya. Tidak ada tatapan ramah yang terpancar dari wajahnya. Sekarang digantikan tatapan datar dan dingin menusuk.


Sementara itu Elden kini sedang sibuk mengerjakan soal-soal ujian praktik. Untungnya Elden termasuk kedalam jejeran siswa yang cerdas dan tanggap. Jadi meskipun Elden tidak belajar, materi yang selama ini dijelaskan oleh gurunya terserap sangat baik di otaknya. Dengan tenang Elden mengerjakan soal-soal ujian itu.

__ADS_1


Rafael yang melihat perubahan dari sikap Elden hanya bisa menatapnya dari jauh. Jika Rafael terlalu ikut campur maka Elden bisa memusuhinya. Namun jika Rafael diam saja maka nyawa sahabat nya terancam. Alhasil Rafael memutuskan untuk bergerak jika Elden berada dalam bahaya.


"Bagaimana keadaan Lexa? Apakah ada bahaya yang mengintainya?" Tanya seorang laki-laki yang sedang duduk bersandar di kursinya.


Orang yang menjadi bawahannya lantas menjawabnya. "Tidak ada Tuan. Perempuan itu dalam kondisi aman. Hanya saja, saya curiga dengan gerak-gerik salah satu siswa kelas 12 IPA. Dia bernama Mita. Dia terlihat sangat mencurigakan. Akan lebih baik jika kita menyingkirkan nya daripada membahayakan nyawa perempuan itu." Usulnya.


"Iya kau benar. Jika terjadi sesuatu dengan Lexa maka nyawaku yang akan menjadi taruhannya." Desisnya pelan dengan sebuah seringai yang tersungging di bibirnya.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2