PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
32. Perpisahan|Part Khusus Rafael dan Nanik - Side Story (Season 3)


__ADS_3

‼️Sediakan Tisu dan lagu Galau sebelum membaca part ini. Terimakasih. Jangan lupa like dan komen ya!


Ting..


"Aku pulang sayang." Teriak Rafael sambil tersenyum cerah. Salah satu tangannya memegang bungkus makanan pemberian Dara. Rafael berniat akan makan malam bersama kekasihnya sekaligus akan meminta maaf atas sikapnya tadi. Dan ingat, besok Rafael akan cuti dua hari. Jadi Rafael bisa mempunyai banyak waktu untuk kekasihnya.


Pintu rumah terbuka. Kening Rafael berkerut heran ketika mendapati pintu rumah tidak di kunci. Padahal hari sudah malam. Jam telah memasuki pergantian hari yaitu jam 11.59 malam. "Nanik.." Teriak Rafael memanggil nama Nanik. Dengan langkah mengendap-endap Rafael melangkah masuk ke dalam rumah.


Gelap. Bahkan lampu tidak dinyalakan. Tidak seperti biasanya Nanik mematikan lampu. Pasalnya, kekasihnya ini termasuk perempuan penakut. Diletaknnya bungkus makanan yang ia bawa di meja tamu. Setelah itu tanpa suara, Rafael langsung mengisi pistol miliknya dengan peluru. Status siaga telah ia nyalakan. Kedua bola matanya menatap tajam sekelilingnya. Tidak adanya lampu memuat penglihatan Rafael sedikit berkurang. "Nanik.." Panggilnya lagi. "Kamu dimana sayang? Jangan bercanda. Ini tidak seru." Ujarnya pelan. Dengan langkah hati-hati Rafael mulai masuk ke dalam kamar.


"Nanik.." Panggilnya lagi. Kedua bola matanya seketika membulat sempurna ketika mendapati sosok yang ia cintai tengah duduk di sudut ruangan. Kedua kakinya ditekuk dan dipeluk erat. Tanpa banyak bicara lagi, Rafael segera menghampiri kekasih tercintanya itu. "Kamu kenapa sayang? Siapa yang membuat kamu seperti ini?" Tanya Rafael. Kedua tangannya menangkap wajah sembab Nanik.


"Hiks!" Tangisnya pecah begitu saja. Kedua bola matanya menatap kecewa ke arah Rafael. Buliran kristal seakan tak mau kalah untuk keluar dari kedua bola yang membuatnya candu. Keduanya saling berlomba-lomba untuk keluar dan membasahi kedua pipi cabi Nanik. "Apa kamu puas Raf membuat ku seperti ini?" Lirih Nanik. Ditepisnya kedua tangan Rafael ketika akan mengusap air matanya.


Rafael yang melihat respon Nanik sedikit terkejut. "Apa maksud mu Nanik? Jangan memancing ku." Desisnya tajam.


Nanik menggeleng pelan. Nanik sudah tidak kuat lagi untuk bertahan di hubungan ini. Mulai dari hubungan yang tak direstui orang tua Rafael. Rafael yang terlalu mengekangnya. Hingga Rafael yang selalu pergi meninggalkannya ketika ada masalah, dan Rafael yang tidak bisa meluangkan waktu untuknya. "Raf.." Lirihnya pelan. Kepalanya mendongak. Kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata milik Rafael. "Kita akhiri saja hubungan ini ya. Kamu bisa menjalani kegiatan kamu tanpa memikirkan aku. Dan aku bisa melakukan apapun yang aku mau." Tekadnya sudah bulat. Nanik ingin keluar dari zona kehidupan Rafael. Nanik ingin melakukan apa yang ia mau. Sudah cukup sembilan tahun lamanya Nanik hidup dibawah kuasa Rafael. "Mari kita akhiri saja Raf." Ujarnya lagi.


Kedua tangan Rafael mengepal kuat. Rahangnya mulai mengeras dengan gigi menggelatuk pelan. "Tidak ada kata putus di hubungan kita Nanik." Ucapnya penuh penekanan. Lalu dengan kasar Rafael menarik pergelangan tangan Nanik hingga ikut berdiri.


"Raf, lepas!" Protes Nanik merasakan cengkraman kuat di pergelangan tangan kanannya.


"Tidak akan." Ujarnya dengan nada rendah. Terlihat jelas jika Rafael kini sedang dilingkupi emosi. "Kamu milik ku. Kamu catat dan ingat itu baik-baik Nanik. Aku tidak akan pernah melepaskan mu." Ujarnya penuh peringatan.


Nanik menggeleng kuat. Menolak perkataan Rafael tadi. Ya, Nanik akui jika dulu Nanik selalu menurut dan tidak macam-macam dengan perkataan Rafael, akan tetapi sekarang Nanik sudah tidak mau lagi. Sudah cukup Nanik mengerti Rafael. Selalu mengalah dengan keegoisan Rafaela. Namun sekarang, Nanik sudah tidak ingin lagi. Cinta memang buta. Tapi sekarang Nanik tidak ingin diperbudak oleh kata cinta dan sayang. "Maaf Raf, aku sudah tidak bisa. Kamu bisa mencari wanita lain atau bersama wanita pilihan kedua orang tua mu." Ujar Nanik lirih.

__ADS_1


Rafael mematung mendengar perkataan kekasihnya tadi. Bagaimana bisa Nanik mengetahui tentang perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya? Padahal jelas-jelas jika Rafael selama ini menyembunyikan hal ini dari Nanik.


Dengan lemah Nanik melepas pegangan Rafael di pergelangan tangannya. "Lebih baik kita mengakhiri hubungan ini Raf. Daripada kita bertahan dan membuang-buang waktu dan tenaga untuk suatu hal yang mustahil. Kita sudah tau ending hubungan kita seperti apa. Kita tidak akan bisa bersama Raf. Tidak akan bisa. Hubungan kita ada hanya untuk saling menyakiti."


Rafael menggeleng pelan dengan kedua bola mata menatap tak percaya atas perkataan yang terlontar dari bibir Nanik. "Jadi itu pandangan kamu tentang hubungan kita Nanik? Iya?"


Nanik mengangguk pelan. Memang itulah faktanya.


"Hah.." Tubuh Rafael berbalik. Rambutnya ia usap kasar. Lalu Rafael kembali menghadap ke arah Nanik dengan deru nafas tidak beraturan. Rafael sedang berusaha mengontrol emosinya sendiri yang siap meledak kapan saja.


Nanik terdiam dengan kepala yang menunduk. Cahaya rembulan menjadi satu-satunya sinar yang menerangi keduanya. "Maafkan aku Raf. Aku tidak bisa bertahan lebih jauh lagi." Lirih Nanik dalam hati. Tak terasa air matanya ikut terjatuh setiap kali Nanik mengucapkan kata Maaf.


Rafael membuang nafasnya pelan. Setelah berdiam cukup lama akhirnya Rafael telah membuat keputusan bulat. "Baiklah jika itu mau mu Nanik. Kalau menurut kamu hubungan kita ada hanya untuk menyakiti, aku minta maaf. Aku sudah berusaha yang terbaik untuk mu. Maaf jika aku tidak ada waktu luang untuk mu. Maaf jika aku hanya sibuk bekerja tanpa mempedulikan mu. Tapi aku sudah berusaha yang terbaik untuk mu. Aku kira dengan menemani mu setiap malam akan membuat mu merasa senang. Memberikan barang apa yang kamu mau atau pulang lebih cepat, aku kira akan membuat mu merasa bahagia. Ternyata tidak. Mungkin benar apa kata mu tadi, aku hanyalah laki-laki egois yang mementingkan perasaan ku sendiri. Tapi perlu kamu tau satu hal Nanik, laki-laki egois inilah yang sedang berusaha banting tulang, mengumpulkan uang agar bisa hidup mencukupi kebutuhan mu."


Nanik terdiam. Kedua tangannya saling tertaut satu sama lain. Ada resa penyesalan ketika dirinya tadi mengucapkan kata putus.


"Hiks!" Tangis Nanik pecah. Tubuhnya luruh begitu saja. "Maaf, hiks!" Jeritnya histeris.


Rafael mematung mendengar jeritan itu. "Maafkan aku jika dengan adanya aku, aku malah menyakiti perasaan mu." Lirihnya pelan. Lalu Rafael melangkah pergi meninggalkan rumah yang dulunya membuatnya nyaman.


***


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏

__ADS_1


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2