PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
144. Kita Akan Mengejarnya Sampai Dapat (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Senyuman cantik tersungging di bibirnya. "Iya El. Kamu tenang saja. Aku akan bilang sama kamu." Ucap Mita menanggapi perkataan Elden tadi.


Obrolannya bersama Mita waktu itu berputar kembali di ingatannya. Tangisnya semakin pecah ketika baru menyadarinya. "Jadi ini yang kamu maksud Mita? Jadi ini maksud perkataan mu?" Ujarnya disela tangisannya.


Tubuh Rafael membeku ditempatnya. Tanpa ia sadari buliran kristal juga jatuh membasahi kedua bola matanya. Diusapnya buliran kristal itu dengan menggunakan jemarinya.


Tangisnya semakin pecah ketika mengingat semua apa yang ia lakukan terhadap Mita. "Maafkan aku Mita. Maafkan aku!" Jeritnya frustasi. Kedua tangannya mencengkram erat sprei tidur nya. Penyesalan benar-benar melingkupi diri Elden.


Tubuh Rafael berbalik. Lalu, kedua kakinya melangkah lebar keluar dari ruangan.


Rafael merasa tidak sanggup melihat keadaan sahabatnya yang terpuruk seperti itu. Hatinya terasa sakit ketika melihatnya. Apalagi melihat kondisi Mita yang tidak manusiawi membuat amarahnya keluar tapi tak bisa terlampiaskan.


Dicengkeramnya dengan kuat pegangan tangga yang ada di sebelahnya. Tubuhnya lirih begitu saja. "Apakah ini semua hanya ilusi?" Ujarnya lirih.


Elden terdiam di dalam kamar Mita. Setelah menangis beberapa jam, akhirnya Elden terdiam dengan menatap kosong ke arah sudut ruangan yang menjadi tempat Mita gantung diri.


Sweeter yang Mita pakai tadi adalah sweeter yang ia belikan untuk Mita. Sweeter oversize berwarna cream kesukaan Mita.


"Elden, belikan aku ini. Boleh?" Tanya Mita dengan kedua bola mata yang berbinar senang.


Pandangan Elden langsung beralih dan menatap apa yang Mita maksud. Lalu, dengan gaya cool-nya Elden mengangguk menyetujui apa yang Mita inginkan. "Kamu boleh membelinya Mita." Ujar Elden sambil menatap wajah Mita yang tampak senang dengan ucapannya.


Dengan semangat empat lima Mita memeluk tubuh Elden dengan erat. "Terimakasih El, kamu memang mengerti aku." Ucap Mita.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Elden. "Sama-sama Mita." Jawab Elden.

__ADS_1


Tidak hanya itu Mita adalah sosok perempuan yang ceria dan agresif. Meskipun begitu, Mita adalah tipikal perempuan yang sulit dalam bersosialisasi. Maka hal itulah yang membuat Mita selalu menempel padanya.


Kenapa Elden selalu menuruti permintaan Mita? Apa yang Mita inginkan, Elden tidak akan menolaknya. Kecuali permintaan Mita menjauhi Lexa, Elden tidak bisa melakukannya. Saat itulah untuk pertama kalinya Elden menolak permintaan Mita.


"El, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Rafael yang kini berdiri di belakang tubuh Elden. Setelah membasuh mukanya tadi, Rafael memutuskan untuk kembali ke kamar Mita.


Elden langsung bangkit dari tempatnya. "Kita akan mengejarnya sampai dapat Raf. Darah di balas dengan darah. Maka nyawa juga di balas dengan nyawa." Jawab Elden dengan suara yang dingin.


Rafael mengangguk mengerti. Setuju dengan keputusan Elden. "Aku akan mencari pelakunya El."


Elden mengangguk. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri hingga menimbulkan suara yang terdengar sangat khas. Kemudian tubuhnya berbalik dan berhadapan langsung dengan Rafael. Aura hitam terpancar jelas dari wajah Elden. "Dan aku yang menyiksa nya hingga mati." Ujarnya dengan sebuah seringai tipis yang menyeramkan.


Sementara itu terlihat seorang pria berbadan gempal tengah bercinta dengan seorang perempuan di sebuah hotel VIP.


"Tuan, saya telah berhasil membunuhnya." Lapornya dengan sopan.


"Ahh.. Ah.. Ahh.." Suara desahan terdengar dari perempuan yang ada di bawahnya.


"Kerja bagus. Sekarang kau bisa menghabiskan waktu mu untuk bersenang-senang. Tapi ingat, kau besok harus bekerja lagi untuk menjaga gadis itu. Jangan sampai gadis itu terluka atau nyawa mu yang menjadi taruhannya." Kata pria itu di balik sebuah kelambu yang menutupi kegiatannya.


"Baik Tuan. Saya mengerti." Jawanya dengan sopan.


***


Salah satu alisnya terangkat. Justin menatap heran bodyguard. "Apa itu?" Tanyanya sambil memainkan sebuah pistol yang ada di kedua tangannya.


"Mita telah tiada Tuan. Perempuan yang mencelakai nona Lexa telah di bunuh dengan tragis." Lapornya.


"Diperkosa dan dibunuh?" Gumamnya.


"Iya tuan. Bahkan perempuan itu sebelum ditemukan tewas, tubuhnya ditemukan menggantung oleh temannya sendiri bernama Elden Crishtian. Pria yang beberapa waktu lalu bertemu dengan anda tuan."


Spontan Justin langsung menghentikan kegiatannya. "Jadi siapa yang membunuh nya?" Tanyanya dengan menatap tajam bagaikan seorang singa yang siap menerkam musuhnya.


Bodyguard yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah sendiri. "Pelakunya adalah kepala sekolah yang ada disekolah putri anda tuan." Jawabnya.


"A--Apa?" Sontak saja Justin dibuat terkejut dengan informasi itu. Namun keterkejutan nya tidak bertahan lama. "Sudah ku duga, bajingan licik itu yang melakukannya." Ujarnya dengan sebuah seringai tipis andalannya. "Ternyata membunuh dengan tangan orang lain, itu terasa sangat menyenangkan. Sekarang tinggal aksi Elden. Apakah dia berhasil membunuh bajingan licik itu?"


"Aku mempunyai seorang putri bernama Lexa Ardola. Dia bersekolah di sini." Ujar Justin.

__ADS_1


Sang kepala sekolah langsung mendengar nya secara seksama. Meskipun tadi sedikit terkejut dengan perkataan Justin.


"Saya baru menyadarinya tuan." Ucap sang Kepala sekolah menanggapi perkataan Justin tadi.


Justin menyeringai tipis. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan pegangan kursi yang ia duduki. Ketukan yang ia lakukan menimbulkan suara yang terdengar khas. Bahkan di pendengaran sang kepala sekolah bunyi ketukan yang Justin lakukan terdengar sangat menakutkan.


"Aku hanya ingin kau memastikan Putriku baik-baik selama di sekolah ini. Jangan sampai ada yang melukainya. Jika itu terjadi, maka kepala mu yang akan menjadi taruhannya." Ancam Justin dengan menyeringai.


Sang kepala sekolah langsung mengangguk. "Baik Tuan. Anda bisa percayakan putri anda ke saya." Jawab sang kepala sekolah.


Lalu Justin langsung bangkit dari tempat duduknya. "Anggap saja itu sebagai bentuk balas budi mu." Ujar Justin dengan ke dua tangan masuk ke dalam saku celananya.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2