PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
32. Penyerangan (Season 2)


__ADS_3

...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...


Selamat pagi semuanya. Bagaimana kabar kalian? Btw, kepala aku pusing bgt ini. Terus juga ngantuk. Bismillah semoga kalian suka ya! Thank you ❤️ - Lexa Ardola Crishtian



...Happy Reading 🥳...


Dor... Dor.. Dor..


Suara tembakan nyaring terdengar memenuhi seisi Mansion. Semua bodyguard yang ada di dalam Mansion langsung bergerak dan menyerang kembali.


Dor.. Dor.. Dor..


"Cepat kalian hubungi Tuan Bram!" Ujar salah satu diantara mereka.


"Aku akan menghubunginya." Sahut salah satu diantara mereka. Ia pun langsung bergegas menghubungi Bram.


Bram yang baru saja akan beristirahat dibuat terbangun karena suara tembakan.


"Shiitt!" Umpatnya kasar dan langsung bangun. Dengan cepat Bram mengambil beberapa senjata miliknya. Sedangkan Lexa sudah tertidur lelap di atas ranjang miliknya.


Bram menatap sekilas wajah pucat karena kebanyakan menangis. "Maafkan aku." Lirihnya pelan. Bram mengakui jika dirinya bersalah dan keterlaluan. Tapi, mau bagaimana lagi? Bram terlalu cinta dan terlalu terobsesi dengan Lexa.


Dor.. Dor.. Dor..


Di pakainya sarung tangan yang ia miliki. Tidak lupa juga Bram memakai earphone yang telah tersambung dengan bodyguard nya.


Suasana terasa menegangkan. Dibawa sana sudah banyak korban berjatuhan. Entah itu dari musuhnya atau dari bodyguard nya sendiri.


"Tuan, kondisi di bawah tidak aman. Justin Atkinson, ayah dari Lexa telah datang menyerang. Tidak hanya itu bawahan dan pembunuh bayaran dari Anggota Geng Mafia Crowned Eagle juga datang menyerbu secara bersamaan."


"Sialan!" Berbagai macam kata umpatan keluar dari mulut Bram. "Cepat kalian serang balik. Bunuh dan berantas habis mereka." Titah Bram tegas. Bram tidak pernah menyangka jika Justin dan Elden akan bersatu menyerangnya n


"Baik tuan. Saya mengerti."


Setelah itu Bram mengalihkan pandangannya ke arah Lexa. Di kecupnya dengan sayang kening Lexa yang terasa hangat. "Tunggu sayang. Aku akan menghabisi mereka lalu aku akan membawa mu pergi dari sini." Bisik Bram lirih.


Lalu Bram bergegas keluar dari dalam kamar. Tidak lupa juga mengunci pintu kamar Lexa.


Dor.. Dor..


Suara tembakan nyaring terus bersahutan. Bram sedikit menunduk dan melangkah hati-hati. Dengan pakaian serba hitam, hal itu membantu Bram agar tak terlihat oleh musuhnya.


"Dimana Bram?" Suara tegas tak terbantah membuat anak buah Bram merinding seketika. "JAWAB! DIMANA TUAN MU HAH?!!" Justin semakin emosi ketika tidak kunjung mendapat jawaban.


"Tuan, sepertinya Bram bersembunyi di lantai atas." Ujar salah satu bawahan Justin.


Dor..

__ADS_1


Justin menembakkan timah panas tepat ke arah kepala bodyguard Bram. "Kau sudah tidak berguna lagi." Desis Justin sambil membersihkan pistolnya dengan sapu tangan yang ia bawa.


"CEPAT KAU KELUAR BRAM!" Dengan kepala yang mendongak dan amarah yang siap meledak, Justin melangkah maju diantara bodyguard-bodyguard Bram yang telah mati tertembak. Lantai yang awalnya bersih, kini sekarang berganti menjadi lautan darah.


Rafael mengepalkan tangannya. Amarahnya juga sukses terpancing ketika mengingat kondisi sahabatnya yang hampir mati. "KELUAR KAU BRENGSEK!" Suaranya terdengar menggelegar. Membuat siapa saja yang ada disana langsung terpaku.


"Tuan, lebih baik anda pergi dari sini. Disini sudah tidak aman Tuan. Nyawa tuan sedang dalam bahaya." Ujar salah satu bodyguard yang menghampiri Bram.


"Tuan, jika tuan kalah sekarang, siapa yang akan meneruskan generasi Tuan nanti?"


Bodyguard itu berusaha membujuk Tuannya.


"Tuan bisa pergi lewat jalan rahasia. Biarkan wanita itu dijemput oleh Ayahnya. Justin tidak main-main Tuan. Dia bahkan membawa orang-orang ahli dalam bersenjata. Kita sudah kalah jumlah dan kalah dalam skill Tuan."


Berbagai pikiran memenuhi isi pikiran Bram. Ini adalah keputusan yang sulit. Pergi dan selamat, atau pergi sebagai pengecut?


Bram benar-benar ingin bersama Lexa. Bram ingin hidup dan membangun keluarga kecilnya bersama Lexa. Tapi apa yang terjadi sekarang? Apa yang ia rencanakan telah gagal total.


Iya, memang benar faktanya jika kita bisa merencanakan tapi Tuhan yang memutuskan semuanya.


"Aku akan pergi." Akhirnya Bram memutuskan untuk pergi sebagai pengecut.


"Baik Tuan. Kamu akan menghadapi mereka untuk mengulur waktu. Tuan bisa pergi dengan beberapa bodyguard lain."


Bram mengangguk. Setelah itu Bram bangkit dan segera berjalan melewati lorong-lorong gelap dengan cahaya minim.


"Maafkan aku sayang. Aku akan bertanggung jawab untuk anak kita nanti."


Justin mengangguk setuju. Entah sejak kapan hubungan Justin dan Rafael menjadi sedekat ini. Sebuah hal yang akan menjadi sejarah besar bagi Dunia Geng Mafia Italia dan Eropa.


Kemudian melalui gerakan mata, Rafael dan Justin memberi sebuah kode agar bodyguard mereka naik ke atas tangga.


Lalu satu persatu dari mereka mulia berjalan dan naik ke tangga.


Dor..


Sebuah tembakan dari jauh membuat salah satu diantara bodyguard Rafael jatuh tertembak.


"DAM'N it!" Tanpa banyak bicara, Rafael langsung menodongkan pistol tepat ke arah musuhnya.


Dor..


"Kau ternyata penembak jitu juga Raf." Puji Justin sambil tetap waspada.


Rafael tersenyum puas. "Aku memang ahli dalam tembak-menembak sekarang. Jika dulu Aku lebih tertarik dengan dunia kesehatan Om." Kata Rafael menanggapi pujian Justin.


Namun tiba-tiba tiga orang sekaligus datang menyerbu. Rafael yang tanpa persiapan langsung terdorong mundur ketika mendapatkan sebuah pukulan telah di rahangnya. "BRENGSEK!" Umpat Bram sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Sementara Justin berhasil menangkis serangan musuh.

__ADS_1


"Tiga lawan dua, tidak buruk juga." Ujar Justin sambil tersenyum miring.


"Serang!"


Ke tiga musuhnya menyerang Justin dan Rafael secara bersamaan. Pertarungan sengit tidak dapat dihindari.


Rafael dengan gesit membalas pukulan lawannya hingga akhirnya jatuh menggelinding dari undakan tangga. Sedangkan Justin memukul telak musuhnya dalam sekali pukulan hingga pingsan.


"Tuan, di atas sana sudah aman." Ujar Bodyguard Justin. Semua musuh telah kita bersihkan. Tuan bisa pergi dengan aman."


Justin mengangguk. "Kita pergi sekarang." Titah Justin yang langsung di jawab oleh anak buahnya.


"Baik tuan." Jawab mereka serempak.


Setelah itu mereka semua langsung berjalan menaiki tangga dengan cepat. Mengingat jika musuh dan lawannya telah mati tertembak.


"Tunggu Ayah, Lexa. Ayah datang."


***


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2