PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
154. Kecemburuan Bram (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


"Ayah, aku nanti pulang sendirian." Ujar Lexa memperingati Justin lagi.


Justin mengangguk mengerti. "Iya Princess." Jawab Justin sambil memakai kaca mata hitamnya. Hal itu semakin memberi kesan tegas dan maskulin bagi orang yang melihatnya.


"Bye Ayah." Sambil melambaikan tangannya je arah Justin, Lexa lantas berjalan meninggalkan Justin. Kedua kakinya melangkah masuk ke dalam sekolah. "Hufftt.." Hembusan nafas lolos dari bibirnya yang mungil.


Hari ini Lexa memakai sepatu dari Bram. Rambutnya ia ikat menjadi satu dengan headset yang terpasang di telinganya. Sambil mengunyah permen, Lexa berjalan masuk ke dalam sekolah.


Penampilan Lexa yang sedikit berbeda daripada sebelumnya membuat siswa-siswi yang tanpa sengaja berpapasan dengan Lexa langsung di buat kagum. Terkesan berani dan sexy.


Setelah melewati lorong-lorong sekolah, akhirnya sekarang Lexa telah sampai di dalam kelasnya m Diletakkannya tas ransel miliknya di atas meja. Berita mengenai kematian kepala sekolah membuat Lexa sedikit merinding.


"Hei, apa kalian tau? Aku tadi melihat Bram menghampiri kakak kelas yang terkenal dingin itu. Yang namanya Elden. Mereka sekarang duduk di satu bangku yang sama." Kemunculan tiba-tiba dari salah satu teman Lexa membuat Lexa langsung menatap ke arah temannya.


"Apa kau serius?" Tanya Lexa meyakinkan.


Teman Lexa mengangguk. "Iya Lexa. Bram tadi menghampiri meja Elden dan Rafael. Entah apa yang akan ia lakukan. Aku tadi segera kembali ke dalam kelas untuk mengabari ini." Jawabnya.

__ADS_1


"Apa yang akan mereka lakukan?" Itulah yang Lexa pikirkan. "Aku mau ke toilet." Pamit Lexa ke ketua kelasnya. Kemudian dengan cepat Lexa segera berjalan menuju kantin sambil sedikit berlari. "Bagaimana jika mereka berkelahi seperti waktu itu?"


"Sudah lama aku tidak bergabung dengan kalian berdua. Bagaimana jika aku bergabung sekarang?" Tanya Bram sambil menatap ekspresi wajah Elden dan Rafael satu persatu. Membuat Elden menatap datar ke arah Bram.


"Kemana saja kau Bram?" Suara dingin itu terdengar menusuk.


Bram dengan santainya menyandarkan punggungnya ke kursi yang ia duduki. Kedua tangannya bersedekap dada. Kedua matanya membalas tatapan Elden tanpa ada keraguan sama sekali. Terlihat sangat berbeda ketika pertama kali mereka bertemu. "Aku kemarin sedang sibuk bermain-main dengan teman-teman ku." Jawabnya enteng. Padahal yang dimaksud teman oleh Bram ini adalah musuh yang ia habisi kemarin.


Elden menatap tidak tertarik. Sementara Rafael menatap curiga ke arah Bram. Ada sebuah kejanggalan yang ia tangkap dari perkataan Bram barusan.


Semua siswa-siswi yang berada di kantin sontak saja langsung menatap ke arah Elden, Bram dan Rafael. Mereka di kejutkan dengan kehadiran Bram yang tiba-tiba duduk di berhadapan dengan Elden. Padahal menurut kabar desas-desus yang beredar, hubungan Elden dan Bram tidak berjalan dengan baik. Mengingat kekasih Bram yang bernama Lexa berdekatan dengan Elden.


"Aku mendengar kabar mengenai peristiwa di Club malam Elite tempat para Gengster dunia berkumpul. Apa kau sudah dengar Bram?"


Pertanyaan dari Rafael membuat Bram beralih menatap ke arah Rafael yang duduk di sebelahnya. "Ya, aku sudah mendengarnya." Jawab Bram tenang. "Apa ini punya kalian?" Tanya Bram ketika melihat beberapa Snack di meja. Salah satu tangan Bram terukur untuk mengambil kentang goreng. Tanpa menunggu jawaban dari Elden dan Rafael, Bram langsung mengambilnya.


Salah satu alis Elden terangkat. Sementara Rafael menatap Bram dengan seringai yang tersungging di bibir tipisnya. "Aku dengar dia menghabisi musuhnya sendirian." Kata Rafa sambil menatap Elden lalu menatap ke arah Bram yang sedang asik memakan makanannya. "Dia juga seumuran dengan kita dan yang membuat ku semakin penasaran dengan sosok itu adalah dia meninggalkan jejaknya yang bernama Ruddin dengan gambar mahkota. Menurut mu apa yang membuatnya meninggalkan jejak seperti itu?"


Elden menegakkan tubuhnya. Kedua bola matanya menatap tajam ke arah Rafael. Seakan-akan mengerti arah pembicaraan ini. "Menurut ku dia meninggalkan jejaknya sebagai Ruddin agar di kenal oleh banyak orang. Bisa di bilang, orang itu ingin orang lain mengenalnya sebagai sosok Ruddin." Kata Elden menjawab pertanyaan Rafael.


Rafael mengangguk-anggukan kepalanya. Tangannya yang berotot itu memainkan tempat minuman yang baru saja ia beli. Setelah itu Rafael beralih menatap Bram, meminta jawaban. "Bagaimana menurut mu Bram?"


Bram langsung menghentikan kegiatannya. Kedua bola matanya bertatapan langsung dengan ke dua bola mata milik Rafael. "Aku setuju dengan jawaban Elden. Dan satu hal lagi, menurut ku dia meninggalkan nama Ruddin bukan tanpa alasan, tapi punya tujuan dan maksud tertentu. Tapi sayangnya aku tidak tau itu." Jawab Bram. Walaupun di dalam hatinya Bram bersorak menang.


Rafael lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku juga memikirkan hal yang sama seperti kalian. Tapi ada satu hal yang membuat ku berfikir keras. Kenapa dia menyerang tempat perkumpulan yang berisi anggota Gengster? Kenapa dia langsung menyerang tempat-tempat orang hebat berkumpul?" Kata Rafael yang membuat Elden berfikir.


"Sialan!" Umpat Bram dalam hati. Sepertinya yang patut di waspadai sekarang adalah Rafael.


"Menurut segi pengamatan ku, dia langsung menyerang Club elite itu agar namanya langsung dikenal. Agar sosoknya di kenal tanpa membutuhkan waktu yang lama. Apalagi dia melakukannya sendirian. Menurut ku dia ingin menjadi yang terkuat diantara yang terkuat." Sambungnya.


"El." Panggilan lembut dari belakang tubuh Elden membuat ke fokusan tiga laki-laki itu langsung terganggu.

__ADS_1


Tubuh Elden berbalik. Kemudian Elden berdiri dan berhadapan dengan Lexa. Perempuan yang beberapa hari ini ia lupakan. "Lexa."


Bram yang melihat kehadiran Lexa langsung mengepalkan tangannya di bawah meja. "Sejak kapan mereka menjadi sedekat ini?"


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2