PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
6. Kasus yang Terpecahkan (Season 2)


__ADS_3

...Pembukaan dengan yang tampan-tampan dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang tampan begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...


Selamat pagi cantik. Jangan insecure lagi ya. Kamu cantik kok. Udah ya? Cintai dirimu sendiri dulu. Jangan fikirkan perkataan orang lain. Aku menyayangimu.



...Happy Reading 🥳...


Lexa menghembuskan nafasnya pelan. Setelah kepergian Elden tadi, Lexa sekarang hanya rebahan dan rebahan. Rasa malas lagi-lagi datang menyerangnya. "Ah, aku jadi mager!" Decaknya sebal. Jemarinya mengusap rambutnya kesal. Merasa heran dengan dirinya sendiri yang mudah merasa malas. Apalagi mager. Mager seperti menjadi best friend nya. Seperti menjadi teman baiknya karena selalu datang menyerangnya kapan saja.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Lexa memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Menyibak selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Kedua kakinya melangkah pelan menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Lexa segera melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya dan Lexa segera menjalankan rutinitas mandinya.


Lima belas menit telah berlalu..


Hampir lima belas menit lamanya Lexa menghabiskan waktu di dalam kamar untuk mandi. Mulai dari keramas, sikat gigi dan menggosok tubuhnya. Semua Lexa lakukan dalam lima belas menit. Setelah itu Lexa segera keluar dari dalam kamar mandi. Handuk Lexa letakkan di tempatnya. Berbeda dengan Elden yang selalu meletakkannya secara sembarangan atau bisa disebut, meletakkan barang di tempatnya. Sekarang Lexa memakai celana kulot kebesaran berwarna hitam yang ia padukan dengan baju crop sepinggang. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.


"Hufft." Untuk kesekian kalinya Lexa membuang nafasnya. Pandangannya jatuh ke atas tempat tidur yang berantakan. "Aku harus segera menyelesaikannya. Setelah itu aku akan pergi membeli makanan untuk sarapan pagi." Monolog Lexa yang berbicara sendiri. Kemudian Lexa segera membereskan tempat tidur. Menatanya ulang agar rapi kembali. Lexa juga membersikan meja, jendela dan membuka gorden kamar.


"Akhirnya selesai juga." Gumam Lexa. Lexa menatap puas ke arah kamarnya yang telah bersih rapi. "Sekarang aku hanya pergi mencari sarapan. Sisanya aku bereskan nanti." Selanjutnya Lexa mengambil dompet, ponsel dan juga kunci apartment. Lexa melangkah keluar kamar. Kedua bola matanya tiada hentinya menatap kagum apartment milk Elden. Apartment sederhana yang di desain khusus. Warna abu-abu gelap dan terang menjadi pilihan Elden. Meskipun interior apartemen di dominasi warna hitam, hal itu tidak membuat Lexa merasa takut.


Klik..


Pintu apartment telah terkunci. Sekarang Lexa akan pergi mencari makanan untuk sarapan pagi. Dengan berjalan kaki, Lexa segera menelusuri lorong-lorong panjang. Banyak yang tinggal di apartemen ini. Hanya saja kebanyakan dari mereka adalah suami istri yang sudah menikah. Mengingat jika apartment ini termasuk ke dalam apartment elit di Kota London.


Lexa beberapa kali menoleh ketika beberapa orang yang ia kenal menyapanya. Lexa tersenyum membalas sapaan hangat mereka yang tinggal di apartemen yang sama dengannya. Yang menyapa Lexa lebih cenderung ibu-ibu. Sementara bapak-bapak sudah pergi bekerja.


Tiba-tiba terlintas sebuah bayangan di otaknya. "Pasti nanti kalau aku sama Elden jika sudah menikah, pasti akan seperti itu. Aku akan membuatkan sarapan, menyiapkan baju untuk pergi ke kantor dan aku sama Elden akan mempunyai babby kecil yang tampan dan juga cantik." Ujar Lexa pada dirinya sendiri. Bayangan indah yang terasa nyata. Keyakinan dalam hatinya semakin hinggap di hati Lexa. "Ya, sekarang dan seterusnya aku akan bersama Elden."

__ADS_1


Sementara itu, di kampus swasta ternama di Kota London, terlihat dua pria tampan tengah mengobrol. Satu jam lagi pelajaran akan berlangsung. Namun, dua pria tampan itu memilih untuk mengobrol serius di kantin. "Apakah kau sudah mendapatkan informasi itu Raf?" Tanya Elden sambil duduk bersandar. Auara dominant menguar dari tubuh Elden. Aura khas yang hanya dimiliki seorang Elden Crishtian.


Rafael menaikkan sebelah alisnya. Menatap wajah sahabatnya. "Beri aku waktu satu Minggu El. Kau tau bukan, jika aku mendapatkan dua informasi tentang dirinya yang tadi saja membutuhkan waktu tiga Minggu. Apalagi ini. Aku sedang mengusahakannya." Jawab Rafael kemudian meminum minumannya.


Elden menghela nafasnya berat.


"Bagaimana dengan markas kita El? Apakah berjalan lancar?" Tanya Rafael bergantian. Mengingat jika Elden dan Rafael saling membagi tugas.


"Tenang saja. Semua berjalan dengan lancar Raf. Sebentar lagi Geng kita akan mendapatkan pengakuan di dunia. Kita hanya perlu memperkuat kekuatan kita agar tidak terkalahkan." Kata Elden. Kedua tangannya bersedekap dada. Tatapannya menukik tajam. Tidak ada ekspresi yang tergambar di wajah tampannya. Hanya ada wajah datar dengan tatapan intimidasi yang menjadi ciri khasnya.


Rafael tersenyum puas. "Kau memang hebat El."


"Bukankah kita sama-sama hebat?"


Rafael tersenyum. "Ya, kita berdua memang hebat. Sekarang kita tinggal mengalahkan sosok yang bernama Ruddin itu."


"Aku jadi penasaran siapa Ruddin itu. Jika memang Ruddin itu Bram, berarti dia akan menunjukkan batang hidungnya ke hadapan kita."


Elden berfikir sejenak. Mulai sejalan dengan pemikiran Rafael. "Lalu apa yang membuatnya pergi ke luar negeri? Apakah itu hanya pengalihan isu saja?" Kini giliran Elden yang menuangkan pikirannya.


Rafael menggeleng tidak setuju. "Menurut ku itu bukan pengalihan isu saja El. Dia pergi ke luar negeri ada maksud tersendiri. Menurut pendapat ku, dia pergi keluar negeri untuk fokus dengan tujuannya." Rafael menjeda kalimatnya. Tatapannya menatap serius ke arah Elden. "Kau tau bukan, untuk menjadi yang terbaik harus mempunyai ke fokusan dan tujuan yang kuat? Apalagi dunia kita yang tidak bersih. Cara kotor bisa dilakukan. Jika kepergiannya meninggalkan Lexa untuk membangun Aliansi-nya sendiri, berarti dia sudah melakukannya dengan terencana dan tersusun secara apik."


Elden terdiam di tempatnya. Pemikirannya melayang jauh ke masa lalu. "Bisa di bilang, dia pergi meninggalkan Lexa agar Aliansi terbentuk. Dia tidak ingin Lexa menjadi kelemahannya atau menjadi sasaran musuhnya."


"Ya, kau benar."


***

__ADS_1


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊

__ADS_1


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2