PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
34. Hancur (Season 2)


__ADS_3

...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...


Selamat pagi semua. Sudah sarapan belum? Oh iya, kalian hari ini mau ngapain aja? Jangan lupa sarapan ya sebelum melakukan aktivitas. Btw, tetap semangat dan jaga kesehatan. Love you! - Lexa Ardola Crishtian



...Happy Reading 🥳...


"Bertahan lah Lexa. Kita akan ke rumah sakit." Pelukannya semakin mengerat. Tubuh Lexa di bungkus dengan menggunakan selimut dan jaket yang ia bawa. Dikecupnya beberapa kali kening putrinya. "Maaf kan Ayah." Bisik Justin berulang kali. "Maafkan ayah." Hatinya hancur melihat kondisi putrinya. Selama ini Justin menjaga dan melindungi Putrinya bagaikan berlian. Tapi naas, hanya karena keegoisan nya, Justin kecolongan. "Maafkan ayah Lexa. Maafkan ayah tidak bisa menjaga mu dari laki-laki brengsek itu."


Pagi telah menjelang. Suara burung berkicauan saling bersahutan. Kini Lexa telah dipindahkan di ruang VVIP bersebelahan dengan ruangan milik Elden. Tidak ada luka atau cidera serius yang di alami oleh Lexa. Hanya saja, Lexa mengalami pemerkosaan yang sudah tidak bisa di hindarkan.


Justin duduk termenung di dalam ruangan. Hampir semalaman ia tidak tertidur. Kedua tangannya setia megenggam salah satu jemari putrinya. Berbagai macam kata "Maaf" keluar dari bibirnya.


Jika boleh memilih, Justin ingin memutar waktu dan mencegah peristiwa naas ini. Justin masih tidak sanggup untuk menghadapi putrinya ketika tersadar nanti.


"Elden.."


Suara lirih terdengar. Kepala yang semula menunduk langsung terangkat. "Lexa." Justin gelagapan. Tubuhnya bangkit dan segera mengusap kening putrinya dengan sayang. "Ini Ayah.'' Bisik Justin lembut.


Kemana perginya sosok licik dan menyeramkan dari pria yang di juluki sebagai Ketua Mafia Italia? Gelar yang diberikan oleh orang-orang di Dunia gelap padanya, seakan sudah tidak berlaku jika Justin berhadapan dengan Lexa, darah dagingnya.


Merasakan sebuah usapan lembut di keningnya, membuat Lexa perlahan-lahan membuka pelupuk kedua bola matanya. "A-yah.." Bibirnya yang pucat bergerak memanggil Ayahnya. "Hiks!" Tangisnya kembali terdengar, ketika lagi-lagi Lexa mengingat kejadian semalam. "Elden!" Jeritnya frustasi ketika mengingat perkataan Bram waktu itu.


"Apa kau lupa sayang jika Elden sudah mati? Elden sudah tewas dalam ledakan mobil waktu itu."


Kepala Lexa menggeleng kuat. "Ayah, Elden masih ada kan? Elden masih ada kan Ayah?" Kedua bola matanya yang sayu menatap sendu ke arah Ayahnya.


Justin terdiam. Kedua tangannya memeluk erat tubuh mungil putrinya. "Elden baik-baik saja Lexa. Elden baik-baik saja. Jangan seperti ini. Ayah mohon." Lirih Justin.


Perasaan siapa yang tidak hancur ketika melihat keadaan Putrinya yang seperti ini? Perasaan siapa yang tidak sakit jika darah dagingnya mengalami hal berat seperti ini?


"Tenang, Lexa. Elden baik-baik saja." Bisik Justin berusaha menenangkan.


"Hiks! Hiks!" Tangisnya masih terdengar. Tubuhnya sudah memberontak seperti tadi.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka. Disana menampilkan Dokter Alvarez dengan dua suster di belakangnya. Sungguh, ketika ia tau jika perempuan yang ia obati semalam adalah kekasih dari pasien kemarin, membuat Dokter Alvarez tidak menyangka. Bagaimana bisa keduanya mengalami hal senaas ini?


"Bagaimana kabar kamu Lexa?" Sambil mengeluarkan sebuah alat-alat medis, Dokter Alvarez berusaha membuat suasana yang tenang.


Justin mengusap lembut salah satu tangan Lexa. Genggaman tangannya tidak Lexa lepaskan. Tanpa di kasih tau, Justin sudah tau jika putrinya tidak ingin ditinggalkan.


Dokter Alvarez tersenyum sambil mengecek detak jantung dan denyut nadi Lexa. Sementara kedua susternya mengecek infus yang terpasang. Sedangkan yang lainnya meletakkan beberapa cemilan dan makanan yang menjadi rekomendasi dari Rumah Sakit untuk Lexa.


"Oke. Kondisi kamu sudah lebih baik. Tetap di jaga, oke? Jangan sampai menurun." Ujar Dokter Alvarez sambil mengemasi alat-alat medis yang ia bawa. "Dan ingat, jangan lupa di makan makanan kamu agar memulihkan kondisi tubuh kamu." Sarannya.


"Baik dok." Melihat putrinya yang terdiam, membuat Justin langsung menyahuti perkataan Dokter Alvarez.


"Baiklah saya permisi dulu. Jika terjadi sesuatu kalian bisa memanggil ku dengan menekan tombol merah di sana." Ujar Dokter Alvarez sambil menunjuk ke arah tombol yang ia maksud.


Justin mengangguk. Tubuhnya semakin di tarik merapat oleh Putrinya. Kemudian Dokter Alvarez dan dua susternya langsung berjalan keluar ruangan.


Lexa menatap kepergian Dokter Alvarez dengan takut. Kejadian semalam yang menimpanya membuat Lexa sedikit trauma dengan laki-laki asing.


"Sekarang makan makanan kamu Lexa." Ujar Justin sambil berjalan ke arah meja. Di ambilnya satu set makanan itu dan kembali duduk di kursi berdekatan dengan Lexa.


Lexa menggeleng pelan. Di tatapnya wajah Ayahnya dengan sedih. Kedua bola matanya memerah gara-gara kebanyakan menangis.


Lexa terdiam. Selanjutnya Lexa mengangguk samar. "Ma-uu. Tapi ayah janji akan membawa Lexa bertemu dengan Elden kan?" Tanya Lexa lirih.


Justin tertegun dengan tatapan Lexa. Ada setitik harapan disana. Padahal, awalnya Lexa terlihat hampa dan kosong. Lalu apa ini? "Sebegitu berartinya kah Elden untuk mu nak?" Justin tersenyum. Berbalik dengan kondisi sebenarnya. "Iya, Ayah janji. Kita akan menemui Elden setelah kamu menghabiskan makanan ini semua. Lalu meminum obat kamu."


Lexa mengangguk setuju. Jika itu berkaitan dengan kekasihnya, Lexa rela melakukan apapun. Iya benar. Lexa begitu menyayangi Elden. Elden adalah dunianya setelah Mama dan Bundanya.


Lalu Justin meletakkan makanan itu di meja kecil di hadapan Lexa. Dengan bantuan Justin, Lexa mulai bangun dari posisi tidurnya. Tubuhnya ia sandarkan di sandaran bantal yang telah Justin susun tinggi untuk menopang tubuh Putrinya.


"Mau ayah suapi?" Tanya Justin menawarkan.


Lexa menggeleng. Menolak tawaran Ayahnya. "Tidak Ayah. Aku makan sendiri." Tolaknya sambil tersenyum.


Kedua saling menatap dalam.

__ADS_1


"Di makan sampai habis. Ayah mau keluar sebentar."


"Emh."


Dengan langkah lebarnya, Justin segera melangkah keluar dari dalam ruangan. Sungguh, Justin masih tidak kuat untuk menatap wajah putrinya. Rasa penyesalan dan bersalah masih kerap datang menghampirinya. "Maafkan Ayah." Lirihnya. Tubuhnya bersandar di pintu ruangan.


***


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊

__ADS_1


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2