
Rafael menatap penuh selidik setiap senjata yang baru saja selesai dicetak. Kedua bola matanya bak elang yang siap menerkam mangsanya. "Apakah senjata kemarin sudah sukses dikirim ke Canada?" Tanya Rafael sambil memeriksa sebuah laporan.
"Sudah Tuan. Tidak ada kecacatan ataupun keluhan sama sekali. Mereka puas dengan senjata yang dikirimkan. Bahkan mereka ingin membelinya lagi dengan harga dua kali lipat." Jelasnya sambil berdiri tepat di depan Rafael.
Rafael membuka setiap halaman. Memeriksanya dengan teliti. Setelah dirasa tidak ada kesalahan, lantas Rafael meletakan laporan itu di atas meja. "Kerja bagus. Jangan kecewakan pelanggan. Lalu senjata yang akan di kirim ke Texas hari ini, apakah itu sudah siap juga?" Tanya Rafael lagi. Kedua bola matanya menatap wajah bawahannya. Kedua tangan Rafael masuk ke dalam saku celana yang ia pakai. Sehingga memberikan sebuah kesan tegas bagi orang yang melihatnya.
"Sudah Tuan. Sekarang sedang proses packing. Nanti sore kami akan mengirimnya ke Texas, Tuan." Jawabnya menjelaskan.
Rafael mengangguk mengerti. "Kau bisa kembali."
"Baik Tuan. Saya permisi." Pamitnya sopan.
Rafael mengusap wajahnya pelan. Pikirannya tiada henti memikirkan Nanik. Kekasihnya pasti sedang menangis sekarang. Mengingat jika perkataan yang Rafael ucapkan tadi cukup membuat melukai perasaan kekasihnya itu.
"Kita sudah sepakat Nanik, aku akan bekerja di kuasa Elden dan menjadi anggota Geng Mafia Crowned Eagle. Kamu juga sepakat akan hal itu. Lalu apa sekarang? Kenapa kamu tidak mengerti akan keadaan ku? Apa belum cukup waktu yang aku luangkan setiap malam untuk mu? Apa itu belum cukup huh? Jika kau ingin mencari laki-laki yang menemani mu dalam dua puluh empat jam, maka laki-laki itu bukan aku Nanik. Carilah pria lain diluar sana."
Jika Rafael berada di posisi Nanik, mungkin Rafael akan marah sekarang. Namun berbeda dengan Nanik, Nanik hanya terdiam dan tidak membalas perkataan yang ia lontarkan tadi.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Ponsel yang berada di dalam saku celana bergetar nyaring. Hal itu membuat Rafael langsung mengangkat sambungan telfon tersebut tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"Raf, bagaimana? Apakah semuanya berjalan lancar?" Tanya Elden sambil mengusap kening Lexa yang sudah tertidur di atas pahanya.
"Baik El. Semuanya berjalan lancar. Pengiriman barang ke Canada berjalan lancar. Lalu, hari ini kita akan mengirimkan persenjataan kita ke Texas." Ujar Rafael sambil melangkah menuju ke lantai atas.
__ADS_1
Elden tersenyum bangga. "Kerja bagus Raf. Besok kau bisa cuti. Aku akan mengurus sisanya." Kata Elden lalu menunduk ketika merasakan pergerakan dari Lexa.
"Baiklah El. Kebetulan juga, aku juga ingin libur dan jalan-jalan bersama Kekasih ku."
"Oke Raf. Jika ada apa-apa kau bisa hubungi aku. Aku akan mengirimkan anak buah ku."
"Tidak perlu El. Aku bisa menjaga diri ku sendiri."
Suara gelak tawa terdengar. "Hahaha, baiklah Raf. Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Aku sedang berada di ruangan pribadi." Jawab Rafael singkat.
Elden yang merasakan aneh lantas bertanya. "Ada apa dengan mu Raf?" Tanya Elden penuh selidik.
"Baiklah. Kau bisa mengabari ku lagi nanti."'
"Baik Elden."
***
- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰
- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
__ADS_1
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@penulisfullandari
@nickalbertreal
@raraagathareal
@darrenkendrickreal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
__ADS_1