PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
36. Kesedihan Lexa (Season 2)


__ADS_3

...Pembukaan dengan yang cantik-cantik dulu ya 😉 Author paling demen nih sama yang cantik begini 💚 Btw, Selamat datang di Season 2 kisah Elden - Lexa 😘...


Hai selamat siang! Berhubung authornya ngetik part ini siang, jadi selamat siang. Meskipun updatenya pagi hehehe 😂😂 Btw, jangan lupa semangat ya! Love you gais! - Lexa Ardola Crishtian



...Happy Reading 🥳...


Lexa menangis. Hatinya terasa hancur ketika melihat kondisi Elden yang meng-khawatirkan. "Elden, Hiks!" Bibirnya terus memanggil nama kekasihnya. Berharap jika Elden akan terbangun dan memeluknya. "Elden bangun!" Jeritnya semakin histeris. Tubuhnya tak kuasa lagi menahan beban. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga. "Elden!"


Siapapun yang mendengar suara tangis Lexa, pasti akan ikut sedih.


"Apakah nona baik-baik saja." Salah satu bodyguard yang berada di luar ruangan mendengar suara tangis Lexa merasa prihatin.


Salah satu temannya yang berada disebelahnya hanya bisa menggeleng pelan.


"Aku kasihan dengan nona. Di umur dua puluhan harus merasakan sakit. Padahal di luar sana banyak perempuan yang merasakan kasih sayang, bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi Nona tidak. Nona sudah merasakan sakit dan kejamnya akan dunia Mafia. Nona sudah merasakan sakitnya ditinggalkan oleh orang yang ia sayang. Nona juga sudah merasakan di khianati oleh orang yang ia percaya dan ia sayang."


"Iya, kau benar."


Sambil berjaga mereka mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk.


"Elden, bangun ya?" Bisik Lexa. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Kedua tangannya terus megenggam tangan kekasihnya.


Wajahnya sembab. Kedua matanya memerah karena kebanyakan menangis. Bahkan sekarang air matanya telah mengering. Hanya isakan tangis yang terus keluar dari bibirnya.


"Elden, kamu dengar aku kan sayang?" Lirihnya pelan. Setau Lexa, orang dalam keadaan koma ataupun kritis, masih mampu mendengar suara.


"Elden." Lirihnya pelan. Kedua bola matanya menatap wajah tampan Elden yang terbalut perban. Banyak luka lebam yang menghiasi wajah Elden. "Pasti sakit ya?" Ujar Lexa. Perlahan tangannya bergerak memegang wajah Elden. "Sakit ya sayang? Pasti sakit kan?" Ujarnya. Pandangannya tidak lepas dari wajah Elden yang masih setia menutup mata. "Bangun ya? Bukankah kamu berjanji untuk tetap bersama ku?" Lirihnya lagi. Nafasnya tercekat di tenggorokan ketika mengingat kejadian itu. "Hiks! Maafkan aku. Maafkan aku!" Isaknya. Tangisnya pecah ketika mengingat tubuhnya disentuh oleh Bram. Peristiwa pemerkosaan itu masih terekam jelas di ingatannya. "Maafkan aku Elden. Maafkan ku. Aku tidak bisa menjaga tubuh ku. Aku tidak bisa menjaga diriku dari tangan orang lain. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga Mahkota ku untuk mu Elden!" Wajahnya memerah. Tubuhnya bergetar hebat. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang terlihat berantakan.


Ceklek..

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka. Lexa berusaha membukam mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.


Chayden masuk ke dalam ruangan. Perkejaan yang akan ia lakukan lagi-lagi harus ia tinggalkan ketika mengingat putranya yang terbaring di rumah sakit. Namun, siapa sangka jika dirinya dipertemukan lagi dengan sosok perempuan yang dicintai oleh anaknya.


Perlahan langkahnya masuk ke dalam. Pintu ruangan tertutup otomatis.


"Sudah lama kita tidak bertemu Lexa. Bagaimana kabar mu?" Ujar Chayden membuka topik pembicaraan.


Lexa mengusap air matanya. Rambutnya ia rapihkan. "Kabar saya baik Om." Jawab Lexa dengan memunggungi Chayden. Memang terlihat tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi? Lexa tidak ingin menunjukkan kondisinya yang terlihat acak-acakan.


Chayden tersenyum tipis ketika melihat respon Lexa yang tidak sesuai dengan dugaannya. "Kondisi Elden sudah lebih baik. Semalam jantungnya sempat berhenti. Syukurnya Elden masih bisa diselamatkan." Kata Chayden memberi tau Lexa.


Tubuh Lexa mematung mendengar hal itu. Jadi kekasihnya hampir saja pergi meninggalkannya?


Suasana terasa canggung dan hening. Jika saya Chayden tidak memulai topik pembicaraan mungkin sekarang suasana akan terasa akward.


"Kau pasti tau Lexa, jika hubungan ku dengan putraku berjalan tidak baik bukan?"


"Seperti yang kau ketahui jika hubungan ku dan Elden berjalan tidak baik. Kami memang ayah dan anak, tapi kami terlihat seperti musuh." Ucapnya. Kemudian Chayden melangkah maju. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jas yang ia pakai. "Sebenarnya aku menyayanginya. Hanya saja Elden tidak suka jika dunianya di usik oleh orang lain. Apalagi jika orang lain mengusik dunia orang yang ia sayangi. Entah itu orang terdekatnya ataupun orang yang mengenalnya jika mereka mengusik ketenangan Elden, maka bersiaplah. Elden akan bertindak diluar dugaan kita. Namun, semuanya berubah saat Elden bertemu dengan mu. Dalam seumur hidupnya ia mengijinkan orang asing masuk ke dalam dunianya setelah neneknya yaitu kau Lexa."


"Aku sempat menentang hubungan kalian. Aku sempat tidak menyetujui dan mengancam Elden jika tetap berdekatan dengan mu. Tapi apa kau tau jawabannya?"


"Dia berkata seperti pada ku.. Jangan ikut campur dengan urusan ku jika tidak ingin berurusan dengan ku... "


Hatinya terasa sakit ketika mengingat hal itu. Setelah itu Chayden berbalik dan menghadap ke arah Lexa. " Aku punya saran untuk mu Lexa. No matter how hard you run from reality. No matter how hard you run from destiny. No matter how hard you look for answers to all the questions, in fact the answer to all of them is only one Lexa, which is yourself. It's just that you don't know yet. But I hope you notice before this goes too far. Sekeras apapun kau berlari dari kenyataan. Sekeras apapun kau berlari dari takdir. Sekeras apapun kau mencari jawaban dari semua pertanyaan, sebenarnya jawaban dari semua itu cuma ada satu Lexa, yaitu dirimu sendiri. Hanya saja kau belum mengetahuinya. Tapi aku harap, kau segera menyadarinya sebelum semua ini melangkah terlalu jauh." Ujar Chayden dengan tenang.


Kedua tangan Lexa saling megenggam satu sama lain. Terbesit keraguan dan ketakutan di dalam dirinya ketika mendengar perkataan Chayden tadi.


"Aku harap kau mengerti." Ujar Chayden sebelum melangkah pergi.


Bibirnya bergetar. Kedua bola matanya menatap wajah pucat kekasihnya. "Apa yang harus aku lakukan El?" Lirihnya pelan.

__ADS_1


***


- UP setiap hari jam 3 pagi 🥰


- Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like 👍 dan tinggalkan jejak juga di komentar ya. Tidak vote gpp kok. Asal kalian kasih like dan komentar positif buat aku..🥺❤️ Tolong bantuannya 🙏


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@penulisfullandari


@nickalbertreal


@raraagathareal


@darrenkendrickreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


__ADS_2