PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
135. Jarak yang Mulai Terkikis (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Lexa merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Seperti tidak ada cahaya yang menyinari dalam gelap.


Bram, laki-laki yang ia cintai benar-benar menjaga jarak dengan dirinya. Tidak ada sapaan lembut seperti biasanya. Tidak ada senyuman hangat yang biasa ia terima. Lexa benar-benar merasa ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi.


Seperti sekarang, jam istirahat biasanya Bram datang menghampirinya hanya untuk sekedar menggoda atau mengajaknya ke kantin untuk makan bersama. Namun yang terjadi sekarang, Bram datang ke kantin tanpa menghampirinya sama sekali. Ada perasaan sedih yang hinggap di hatinya.


"Tumben sekali Lexa tidak bersama Bram? Apakah hubungan mereka sudah berakhir?" Bisik salah satu perempuan disana sambil sesekali melirik ke arah Lexa.


Tangan Lexa mengepal kuat. Merasa tidak terima dengan ucapan perempuan tadi.


"Lihat saja, bahkan Bram tidak melirik sama sekali ke arah Lexa. Kurasa hubungan mereka benar-benar sudah berakhir." Sahut salah satu perempuan itu.


Amarah mulai menguasainya. Dengan kesal Lexa menatap ke arah ke dua perempuan yang sibuk mengomentari hubungannya.


Kedua perempuan yang di tatap seperti itu lantas langsung menatap pongah ke arah Lexa.


"Sepertinya ada yang tidak terima dengan ucapan kita tadi." Dengan sengaja perempuan itu menaikkan sedikit nada bicaranya.


"*****!" Umpat Lexa sambil menatap tajam ke arah keduanya.


Sekarang Lexa tengah berada di kantin umum. Semua siswa-siswi kelas sepuluh, sebelas dan dua belas berada disana. Kantin terlihat ramai. Pasalnya hari ini guru-guru sedang melakukan rapat dadakan untuk membahas ujian sekolah.


"Apa yang lo bilang?!" Salah satu dari mereka tidak terima. Lantas memilih untuk melangkah maju dengan menatap marah kearah Lexa.

__ADS_1


Lexa mendengus geli. Tidak ada rasa takut yang menyelimutinya.


Sontak saja perhatian seisi kantin mulai memperhatikan ke arah Lexa. Hal itu membuat Bram yang sedang duduk di kursinya bersama teman-temanya menatap ke arah perempuan yang ia cintai.


"Ternyata selain ***** kalian juga tuli." Desis Lexa dengan dingin. Tatapannya tidak lepas dari kedua perempuan di hadapannya.


Perkataan Lexa tadi sukses memancing emosi mereka. Rasa kesal dan tidak terima melingkupi diri mereka. "Berani-beraninya kau berkata seperti itu hah?!"


Lexa tersenyum tipis. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya. Lexa sedikit memiringkan kepalanya lalu berkata "Kenapa gue harus takut dengan mu? Sedangkan gue sama Lo sama-sama manusia." Jawab Lexa dengan tersenyum remeh.


Elden yang melihat itu lantas langsung menghampiri ke arah Lexa. Jika dibiarkan seperti ini maka kejadian lama bisa saja akan terulang lagi. Digenggamnya lengan Lexa.


Spontan Lexa langsung menoleh. Ke dua bola matanya langsung bertemu dengan ke dua bola mata orang yang selama ini ingin ia jauhi. "Ikut aku sekarang." Ujar Elden lalu megenggam tangan mungil milik Lexa. Ditariknya tangan mungil itu agar mau mengikuti langkah kakinya.


Tanpa perlawanan Lexa mengikuti langkah Elden. Kepalanya menoleh kebelakang untuk menatap pria yang ia cintai.


Bram yang melihat itu hanya bisa mengepalkan ke dua tangannya. Rasa cemburu meliputi perasaannya.


"Bram, Lo putus sama Lexa?" Tanya teman Bram yang duduk satu meja dengan Bram.


Bram yang mendengar pertanyaan itu lantas memutuskan kontak mata dengan kekasihnya. "Iya." Jawab Bram dengan singkat.


"Bukannya Lo sayang banget sama Lexa?" Sahut salah satu temannya.


"Iye benar. Bukannya Lo sayang banget sama Lexa?"


Bram terdiam di tempatnya. Mulutnya terkunci rapat. Ekspresi wajahnya berubah datar. Luka yang ia dapat dari kejadian semalam masih belum sembuh total. Namun, sakit yang ia dapatkan dari pukulan-pukulan itu masih belum ada apa-apanya dengan sakit yang ia rasakan sekarang.


Lexa melepaskan genggaman Elden yang berada di pergelangan tangannya. "Mau kamu apa El?" Tanya Lexa dengan menatap wajah Elden.


Elden menatap sendu wajah perempuan yang ia cintai. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu Lexa." Jawab Elden.


Kini mereka berdua berada di sebuah taman sekolah. Ada beberapa siswa-siswi yang berlalu lalang. Ada juga yang sedang duduk bersama teman-temanya untuk melakukan selfie dan mengerjakan tugas.


Lexa tertegun mendengar jawaban dari Elden. Jika Lexa pikir-pikir, Elden lah yang selalu menemaninya. Elden lah yang datang menghiburnya di kala Lexa merasa lelah dengan semua yang menimpa nya. Namun sayangnya, Lexa selalu menolak mentah-mentah kehadiran Elden. Ditatapnya wajah tampan dan tegas itu.


Elden tidak bisa bergeming dari tempatnya. Tatapan mendalam penuh makna yang terlihat jelas dari wajah Lexa membuat Elden terlena. "Maafkan aku jika aku selalu menganggu ketenangan mu." Ujar Elden.

__ADS_1


Lexa menggeleng pelan. Tidak setuju dengan perkataan Elden tadi. Kedua bola matanya menatap kedua bola mata tajam itu. Tidak ada rasa canggung ketika kedua bola matanya bertemu dengan pria yang selama ini mengejarnya. "Tidak El. Kamu tidak menganggu ketenangan ku sama sekali." Dengan nada yang rendah Lexa mengucapkannya. "Aku saja yang terlalu bodoh tidak melihat ketulusan mu yang selalu ada buatku." Tambahnya lagi.


Deg


Jantung nya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Rasa hangat dan dingin dapat ia rasakan dalam satu waktu. Setelah itu Elden langsung memeluk tubuh mungil itu dengan sayang. "Maafkan aku Lexa. Maafkan aku sudah membuat mu terluka. Gara-gara aku Mita melukai mu. Maafkan aku." Lirihnya pelan.


Lexa membalas pelukan itu. Kejadian pertengkaran antara dirinya dengan Mita terlintas di otaknya. "Tidak apa-apa El." Jawab Lexa.


Elden tidak bisa membunuh Mita begitu saja hanya karena Mita melukai perempuan yang ia cintai. Ingat, Mita adalah orang yang selama ini menemani Elden. Di kala suka maupun duka, sebelum Lexa datang ke dalam kehidupannya, Mita dan Rafael lah yang menemaninya.


Jangan samakan karakter Elden dengan Sean. Jika Sean akan membunuh orang yang berani mengkhianatinya. Entah itu Keluarga, sahabat maupun orang terdekatnya. Maka berbeda dengan Elden. Elden masih menghargai jasa dan kebaikan orang yang menemaninya selama ini.


Jadi kalian bisa mengambil sisi positifnya yaitu menghargai orang yang selama ini berbuat baik dengan kalian. Jangan karena kehadiran orang baru, kita melupakan orang yang selama ini menemani kita. Dan ingat, setiap kejahatan atau keburukan yang orang lain lakukan ke kita, tidak selamanya kita membalasnya dengan kejahatan juga.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..


__ADS_2