PSYCOPATH VS CEWEK GALAK

PSYCOPATH VS CEWEK GALAK
148. Elden Si Psycopath 21+ (S1)


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Di sebuah kamar dengan cahaya yang minim penerangan, terlihat seorang pria tengah asik melakukan hubungan intim dengan perempuan yang telah ia sewa. Malam ini adalah malam yang indah untuknya. Sudah lama ia tidak menyalurkan hawa nafsunya ke perempuan.


"Oh.. shitt! Sungguh enak sekali! Fu*k!" Umpatnya di setiap hujaman yang ia lakukan. Sementara perempuan yang berada di bawah kungkungan-nya terlihat mendesah keenakan.


Klik


Pintu kamar terbuka. Tanpa mereka ketahui ada sosok laki-laki yang tengah melihat kegiatan mereka berdua dalam diam. "Jadi ini pria yang membunuh mu Mita?" Ucapnya dalam hati. Aura hitam melingkupinya. Rasa kesal dan emosi mulai datang mengelilingi nya.


Salah satu tangannya mengepal erat. Sedangkan salah satu tangannya memegang sebuah pistol yang telah terisi penuh dengan peluru. "Aku jadi tidak sabar untuk melihat mu memohon ampun di bawah kaki ku." Desisnya pelan. Lalu dengan santainya Elden berjalan masuk. Suara desahan dan decitan ranjang terus terdengar. Hal itu tidak membuat Elden merasa risih sama sekali. Malah, senyum kepuasan tersungging di bibirnya.


Dengan santainya Elden berjalan menuju sofa kosong yang terdapat di sudut ruangan. Ke dua kakinya melangkah pelan tidak menimbulkan suara apapun. Setelah itu Elden dengan gagahnya duduk di sofa. Tubuhnya yang tegak menghadap ke arah mqngsa-nya. "Apakah sudah selesai?" Dengan suara yang terdengar dingin Elden mengeluarkan suaranya. Jemarinya dengan pelan mengetuk-ngetuk pegangan sofa hingga menimbulkan suara yang terdengar sangat khas.


Jeff yang mendengar suara asing itu lantas langsung menghentikan kegiatannya. Seketika itu juga kedua bola matanya membulat sempurna ketika mengetahui jika ada Elden Crishtian yang merupakan teman dekat dari perempuan yang ia bunuh kemarin malam. "Bagaimana kau bisa ma--suk?" Dengan suara yang terbata-bata ia bertanya-tanya. Aura dominant yang terpancar jelas dari tubuh Elden membuat perempuan yang berada di bawah kungkungan Jeff meronta-ronta meminta dilepaskan. Alhasil Jeff melepaskan perempuan itu. Dengan tergesa-gesa perempuan itu mengambil pakaian nya asal dan segera berlari keluar dari ruangan.


Jeff bangkit dari tempat tidurnya. Lalu diambilnya celana pendek yang jatuh tergeletak di atas lantai hotel kamar. Di pakainya celana pendek itu dengan santai. Meskipun sebenarnya ketakutan menyelimuti nya.


Elden menatap remeh ke arah laki-laki di hadapannya. "Aku hanya ingin bermain-main dengan mu. Apa kau mau bermain-main dengan ku?"


Kening Jeff berkerut heran. Merasa heran dengan perkataan Elden. "Tidak. Aku tidak ingin bermain-main dengan bocah seperti mu. Ada apa kau datang kemari?" Tolak Jeff dengan tegas. Tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Apa kau bodoh?" Ujar Elden dengan memandang rendah ke arah Jeff. Sontak saja perkataan Elden sukses memancing emosi Jeff.


Dengan gerakan cepat, Jeff langsung berjalan menghampiri Elden. Dicengkeram nya erat jaket Elden hingga tubuh Elden tertarik berdiri. "Apa kau ingin aku habisi huh?"


"Terbalik. Seharusnya aku yang bilang seperti itu." Tanpa menunggu waktu lama, Elden lantas menembakkan timah panas ke perut Jeff.


Dor..


Suara letusan tembak memenuhi penjuru ruangan.


"Sialan!" Umpat Jeff. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk. Cengkraman di jaket Elden perlahan ia lepaskan.


Ditatapnya tubuh Jeff dihadapannya. "Bagaimana rasanya? Apakah itu sakit?" Tanya Elden dengan ekspresi wajahnya yang polos seperti anak kecil. "Oh tidak sakit?" Ujarnya menjawab pertanyaan nya sendiri.


Jeff yang melihat hal itu lantas mendongak. Menatap penuh emosi wajah Elden.


Dengan tersenyum sombong Elden lantas menendang kepala itu dengan menggunakan kakinya. Tendangan yang sangat kuat hingga menimbulkan bunyi patahan tulang.


Krak..


Elden berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jeff. "Kau telah berani membunuh perempuan yang aku jaga." Ucap Elden yang hanya mampu di dengar oleh Jeff.


Jeff yang mengerti maksud dari perkataan Elden lantas membalas tatapan Elden. "Aku hanya orang suruhan. Aku minta maaf. Tolong ampuni aku." Pintanya memohon ampun.


"Ampun? Enak sekali. Mita yang meminta ampun pada mu saja tidak kau lakukan bukan?" Lalu Elden berdiri. Ditaruhnya tas yang ia bawa ke atas meja. Setelah itu Elden membuka tasnya dan mencari barang yang akan ia gunakan.


Jeff menatap horor Elden. Walaupun usia Elden jauh lebih muda darinya, tapi tetap saja hawa dan aura dominant yang dikeluarkan oleh tubuh Elden tidak mampu dikalahkan.


Elden menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pilihannya jatuh ke sebuah kapak yang ia bawa tadi. Kapak besar dan tajam. Terlihat sangat menakutkan bagi orang yang melihatnya.


Jeff berusaha bangkit dari posisinya. Rasa takut melingkupi nya. Jeff bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Elden.


Dengan kapak yang berada di genggamannya, Elden berjalan mendekati Jeff yang sedang meringkuk takut. "Apa kau pernah berfikir perasaan Mita waktu itu?" Tanya Elden.

__ADS_1


Jeff menggeleng pelan. Dibelakangnya sudah ada dinding. Jeff tidak bisa menjauhi Elden lagi. Nyawanya benar-benar terancam sekarang.


Sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. "Kau berani berbuat, maka kau harus mau menerima resikonya." Desis Elden dengan dingin. "Katakan selamat datang dengan dunia ku."


Dengan kasar Elden melayangkan kapak tajam itu ke salah satu kaki Jeff hingga terputus.


"Arghhhhh!!! Sakittt!!" Jeritnya kesakitan. Darah memuncrat hingga mengenai wajah Elden. Bahkan lantainya sekarang telah basah dengan darah.


Rasa sakit menyerang tubuh Jeff berkali-kali lipat. Tangisnya pecah begitu saja. "Arghhh.. arghhh.." Ringisan kesakitan menjadi melodi indah untuk Elden. "Ampun. Ampun. Maafkan aku. Ampuni aku." Runtuhnya memohon ampun. Kakinya berdenyut sakit berkali-kali lipat. Namun sayang, permohonan ampun yang ia lakukan tidak berarti apa-apa untuk Elden. "Kira-kira apa selanjutnya yang harus aku potong?" Dengan tersenyum puas Elden bertanya. Tanpa memperdulikan keadaan korban yang tengah ketakutan.


***


Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..


__ADS_2