
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya.. Kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Dimana aku?" Lirihnya pelan ketika tidak menyadari keberadaan Elden yang sedang duduk tidak jauh darinya.
Elden menatap puas ketika barang mainnya mulai tersadar. "Selamat datang di gudang permainan Elden Crishtian Pak." Dengan ekspresi wajah yang datar Elden mengatakannya.
"A--Apa?" Mulutnya terbuka. Merasa terkejut ketika melihat Elden dan Rafael yang sedang menatap dirinya.
"Kenapa kau terkejut, hm?" Tanya Elden sambil berdiri menatap ke arah kepala sekolah. Sedangkan Rafael hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat reaksi kepala sekolah yang terlihat lucu.
Kepala sekolah menatap geram ke arah Elden. Kedua tangannya yang terikat kuat ia gerak-gerakkan agar terlepas. Namun sayangnya, bukan semakin melonggar, malah semakin menguat ikatannya. Hal itu membuat pergelangan tangannya lecet. "Lepaskan aku atau kau akan ku adukan ke Ayah mu!" Ancamnya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Elden. Tersirat jelas jika kepala sekolah sedang kesal dan marah.
Elden menyeringai tipis setelah mendengar perkataan dari mangsanya. Lalu, langkah kakinya berhenti tepat di depan kepala sekolah. Tubuhnya ia sejajarkan dengan kepala sekolah. Kemudian salah satu tangannya dengan lembut memegang leher kepala sekolah. Tidak lama kemudian, pegangan itu berubah menjadi sebuah cengkraman kuat hingga membuat kepala sekolah terdongak. "Adukan saja. Aku tidak takut sama sekali." Kata Elden dengan suara yang terkesan dingin. Bahkan Rafael yang melihat itu bergidik ngeri. Elden memang benar-benar menyeramkan. Makanya tidak ada orang yang mau mengusik atau menyakiti orang yang berada di sekeliling Elden. Karena mereka tau jika orang di sekeliling Elden adalah orang yang berharga dan pengaruh besar dalam kehidupan Elden.
Kepala sekolah menatap bengis. Diludahinya wajah Elden. "Cuih! Pantas saja Ayah mu tidak memperhatikan mu. Ternyata kau adalah anak gila yang tidak punya otak!" Hina kepala sekolah.
Plak..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kepala sekolah. Perkataan yang di ucapkan oleh kepala sekolah sukses memancing emosi Elden. "Kalau kau tidak tau apa-apa tentang ku, lebih baik kau diam." Kata Elden menekan setiap kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
"Ha-ha-ha.." Gelak tawa memenuhi di setiap penjuru ruangan. Bukannya merasa terancam, kepala sekolah malah tertawa lucu.
Elden menegakkan tubuhnya kembali. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana jeans yang ia pakai. Kedua iris bola matanya menatap lekat yang akan menjadi korbannya malam hari ini. "Sungguh menarik. Aku semakin tertantang jika korban ku seperti ini." Ucap Elden di dalam hatinya. "Aku ingin bertanya, apa alasan yang membuat mu membunuh Mita?"
Tawanya langsung terhenti seketika itu juga. Ditatapnya wajah Elden dengan seringai tipis yang tersemat di bibir tebalnya. "Untuk apa aku memberitahu mu?" Tanyanya menantang.
Rafael semakin tertarik untuk mendengarkan.
"Agar aku bisa mempertimbangkan apa yang harus aku lakukan pada mu." Jawab Elden.
Sang kepala sekolah berfikir sejenak. "Iya, aku yang melakukannya. Memang kenapa? Apa dia kekasih mu?" Ujarnya sambil menundukkan kepala. Lalu kepalanya kembali mendongak. Pandangannya langsung menatap dua iris kedua bola mata yang sedang menatapnya tajam. "Kau bisa mencari perempuan lagi. Di dunia ini masih banyak perempuan yang jauh lebih baik daripada perempuan itu. Dan aku melakukannya karena aku ingin menyingkirkan orang yang membahayakan nyawaku." Jawabnya jujur. Masih ingat bukan ketika Justin datang ke kantor kepala sekolah?
Kejadian di ruang kepala sekolah...
"Tuan.." Kata kepala sekolah dengan menatap ke arah Justin. Sudah hampir setengah jam lamanya ia memohon ampun. Akan tetapi selama itu pula perkataannya tidak direspon sama sekali.
"Aku mempunyai seorang putri bernama Lexa Ardola. Dia bersekolah di sini." Ujar Justin.
Sang kepala sekolah langsung mendengar nya secara seksama. Meskipun tadi sedikit terkejut dengan perkataan Justin.
Justin menyeringai tipis. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan pegangan kursi yang ia duduki. Ketukan yang ia lakukan menimbulkan suara yang terdengar khas. Bahkan di pendengaran sang kepala sekolah bunyi ketukan yang Justin lakukan terdengar sangat menakutkan.
"Aku hanya ingin kau memastikan Putriku baik-baik selama di sekolah ini. Jangan sampai ada yang melukainya. Jika itu terjadi, maka kepala mu yang akan menjadi taruhannya." Ancam Justin dengan menyeringai.
Sang kepala sekolah langsung mengangguk. "Baik Tuan. Anda bisa percayakan putri anda ke saya." Jawab sang kepala sekolah.
Lalu Justin langsung bangkit dari tempat duduknya. "Anggap saja itu sebagai bentuk balas budi mu." Ujar Justin dengan ke dua tangan masuk ke dalam saku celananya.
"Iya Tuan. Saya mengerti." Setidaknya nyawanya selamat melalui siswi yang bernama Lexa. Dirinya benar-benar merasa terselamatkan.
Setelah mengatakan itu Justin langsung berjalan pergi meninggalkan ruangan. Namun langkahnya langsung terhenti tepat di tengah pintu. "Aku mengingatkan pada mu, jika di sekolah ini ada salah satu orang yang tidak menyukai keberadaan Putriku. Jadi berhati-hatilah. Kau lengah sedikit maka kepalamu akan hilang dari tubuh mu."
__ADS_1
Kembali ke yang sekarang..
Kedua tangan Elden mengepal kuat. Amarahnya sukses tersulut. Dicengkeramnya dengan kuat baju itu. Kedua matanya memerah bagaikan kerasukan setan. "Mita hanya perempuan biasa yang ingin tau dunia luar! Dia perempuan tidak bersalah, tapi kenapa kau malah menghabisinya?! Jika kau tidak ingin nyawamu terancam, harusnya kau jaga baik-baik dirimu. Bukannya malah menghabisi orang lain yang tidak bersalah, bodoh!" Bentaknya keras. Rafael yang dari tadi berada di belakang Elden langsung menatap ke arah Elden.
Cengkraman Elden di baju itu semakin menguat. Otot-otot di tangannya bahkan sampai terlihat jelas. "Kau akan mati malam ini."
Sementara Bram yang berada di pintu luar tetap terus mendengarkan. Tubuhnya yang tegak itu berdiri tepat di depan pintu luar.
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notifikasi dari kalian ya 💛 Terimakasih teman-teman..