Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
falling in love


__ADS_3

Happy reading ....


*


Hembusan nafas Rayhan menyapu lembut wajah Isti. Keduanya saling menatap dengan tangan yang saling menggenggam erat. Perlahan, Rayhan mengarahkan bibirnya pada bibir Isti. Sambil merasakan degup jantung yang meronta, Isti refleks memejamkan kedua matanya.


Satu kecupan lembut cukup membuat Isti terpaku dan merasakan kakinya melemas. Tapi rupanya tidak bagi Rayhan.


Setelah menjeda gerakannya, Rayhan memberanikan diri meraup bibir Isti yang terkatup. Cukup lama ia melakukannya, tapi karena tak mendapat respon apapun dari kekasihnya, Rayhan pun menghentikan ciumannya.


Keduanya saling menatap, kemudian Isti tertunduk malu.


"So-sorry," lirih Rayhan yang tertunduk juga.


"Nggak apa, Kak," sahut Isti sangat pelan.


"Kamu nggak marah, kan?" tanya Rayhan sembari menatap Isti.


Isti mengangkat wajahnya sesaat, lalu tertunduk lagi sambil menggeleng pelan.


"Lagi?" tanya Rayhan menggoda.


"Ish," decih Isti sambil mencubit pelan perut Rayhan dengan senyum yang terkulum.


"Aww. Sakit, Sayang," ujar Rayhan berpura-pura.


"Maaf," ucap Isti yang menganggap serius keluhan Rayhan.


Rayhan menatap gemas pada Isti. Tangannya pun melingkar dan menarik Isti ke dalam pelukannya.


Rayhan bisa merasakan tubuh Isti menegang. Namun kemudian, melemas dan membalas pelukannya.


"I love you," bisik Rayhan.


"I love you too," balas Isti malu-malu dan membenamkan wajahnya di dada Rayhan.


Mereka dikejutkan oleh suara pintu yang ditutup kasar. Keduanya langsung mematung sembari menahan nafas.


"Huft. Ngagetin aja," gumam Rayhan.


"Siapa itu, Kak?" tanya Isti pelan dengan wajah yang memucat.


"Paling juga Dita," sahut Rayhan.


"Gimana dong, Kak?" Isti terlihat cemas.


"Nggak apa-apa, Sayang. Biasa aja. Uluu kaget ya?" goda Rayhan sembari memperhatikan wajah Isti dalam keremangan.


"Kak Ray juga kaget, kan? Udah ah, Isti ngantuk." Deliknya manja.


Rayhan tersenyum tipis dan kembali mengeratkan pelukannya. Dikecupnya kening Isti sebelum membiarkannya pergi.


"Mimpi indah, Sayang," ujar Rayhan pelan.


"Kak Ray tidur ya," ucap Isti.

__ADS_1


Rayhan mengangguk, tapi tangannya belum juga melepaskan genggamannya. Isti menggoyang-goyangkan tangannya yang masih digenggam Rayhan. Rayhan yang tersenyum menatapnya seakan berat untuk melepaskan.


"Udah ya, Kak." Isti mencoba mengingatkan dengan suara sangat pelan. Ia sangat takut jika ada yang melihat mereka.


"Oke deh," ujar Rayhan enggan.


Bukan hanya Rayhan yang enggan melepaskan genggaman, tapi Isti juga. Tak ingin Rayhan kecewa, Isti menghambur cepat dan mengecup pipi Rayhan. Isti yang merasa sangat malu langsung berlari ke kamar Annisa saat Rayhan masih terpaku oleh sikapnya.


Rayhan tersenyum lebar sambil memegangi pipinya yang dicium Isti. Ia pun bersorak riang tanpa bersuara.


Kegembiraan Rayhan terhenti ketika sebuah notifikasi pesan masuk. Rupanya benar, tadi Raydita melihat apa yang ia dan Isti lakukan. Rayhan terkekeh membaca pesan Raydita yang tertulis:


'Woy! Modal dong dikit, jangan pacaran di rumah.'


Rayhan masih menahan tawa sambil berjalan menuju kamarnya. Ternyata tadi ia salah menduga dan berfikir Raydita sudah menutup pintu kamarnya.


Rayhan memposisikan dirinya tepat di depan pintu kamar Raydita. Ia mengira-ngira dari mana Raydita bisa tahu apa yang sedang ia lakukan. Dan ternyata ... posisinya tadi terpantul di lemari kaca yang berada di seberangnya.


"Ish, kok gue mendadak b*go ya," ujar Rayhan sembari menoyor kepalanya sendiri. "Dasar kepo lo," ucap Rayhan seakan Raydita ada di depannya.


Rayhan berlalu dengan hati riang. Raut wajah Isti seakan menggelantung di pelupuk matanya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Rayhan masih sempat menengok ke bawah, berharap kamar Annisa terbuka. Namun karena ini sudah malam, Rayhan pun masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Isti merasakan pertentangan batin yang luar biasa. Ia yang semula merasakan hatinya berbunga, jadi merasa menyesal setelah menyadari yang telah terjadi diantara ia dan Rayhan adalah dosa.


"Astaghfirullahaladzim. Gimana dong? Kalau Abi sama Umi tahu, pasti mereka kecewa. Dan lagi, Allah kan Maha Tahu. Tapi, bukankah perasaan suka juga fitrah dari Allah? Aahh, aku kan suka sama Kak Ray. Sayang dong kalau pacar ganteng dianggurin. Iih, kok aku jadi gini sih? Abi, Umi ... maafin Isti," batin Isti berceloteh.


Antara sesal dan senang, entah mana yang lebih dominan.


Sejak kejadian malam itu, Isti berusaha tidak terlalu dekat dengan Rayhan. Selain merasa malu pada Raydita yang memergoki mereka, ia juga merasa bersalah karena telah mengecewakan kedua orang tuanya.


***


Satu persatu, teman-teman ketiga anak Adisurya berdatangan ke rumah pengusaha itu. Rianti sangat senang menyambut mereka. Sambil menunggu keberangkatan, Rianti meminta Bi Susi menyiapkan makan malam untuk mereka.


Dari kamar Rayhan, gelak tawa terdengar karena pintu dibiarkan terbuka. Di kamar Raydita, Tasya sedang video call dengan Mela. Sedangkan Raydita sedang memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas.


"Jadinya kalian gabung dong sama Nisa cs?" tanya Mela.


"Ya, gitu deh. Tapi lumayan asik kok," sahut Tasya.


"Ooh. Oke deh, jangan lupa oleh-olehnya buat gue ya," pesan Mela.


"Transfer dulu, baru gue beliin. Gue aja dikasih pas-pasan sama nyokap," kilah Tasya.


"Pelit lo. Gue minta oleh-oleh sama Om Adi aja sekalian, wlee."


"Emang berani?" tanya Tasya meragukan.


"Enggak. Haha ..," kelakar Mela. "Dit, beliin gue sesuatu ya. Nanti gue bawaiin oleh-oleh juga dari sini." Sambungnya.


"Bawa apaan, Mel?" tanya Tasya.


"Lo maunya apa?" Mela balik bertanya.


"Bawain gue cowok ganteng dong. Anjrit, gue lihat orang pacaran malam-malam, jiwa jomlo gue menjerit. Sumpah." seloroh Raydita.

__ADS_1


"Siapa yang pacaran malam-malam?" tanya Tasya heran.


"Iya, Dit. Lo lihat siapa?" Mela juga terlihat penasaran.


"Mmm siapa ya? Hehe. Itu, gue lihat acara live gitu. Di chanel mana ya gue juga nggak merhatiin," sahut Raydita kikuk.


"Oh, gue kira lo lihat orang pacaran di depan mata. Eh, by the way. Semester nanti kita cari gebetan, yuk!" usul Mela.


"Oke. Siapa takut?" sahut Raydita dan Tasya bersamaan.


Sementara itu di kamar Annisa, dua sahabat itu juga sedang memastikan barang-barang yang akan dibawa tidak ada yang tertinggal. Mereka bahkan sampai membuat list dari barang-barang tersebut.


Sedari tadi, Isti memperhatikan raut wajah Annisa yang bersemu entah karena memikirkan apa. Karena penasaran, Isti pun menanyakan. "Kamu lagi mikirin apa sih, Nis? Aku perhatikan, kamu seperti orang yang lagi bucin sama someone."


"Ah masa sih?" Annisa memegangi wajahnya sendiri.


"Hayoo, kamu lagi mikirin siapa, hmm?" goda Isti.


"Enggak, kok," geleng Annisa.


"Jujur deh, aku kan sahabat kamu. Mikirin Kak Agas ya?" todong Isti.


"Sok tahu kamu, Isti," delik Annisa.


"Tapi benar, kan?"


"Mmm, Isti. Aku boleh nanya nggak?" ujar Annisa ragu.


"Boleh. Nanya apa?"


"Kamu sama Kak Ehan pacarannya nggak yang aneh-aneh, kan?" tanya Annisa.


Deg. Isti merasa tertohok dengan pertanyaan itu. Pikirnya, apakah Raydita menceritakan yang dilihatnya malam itu pada Annisa? Bagaimana kalau Raydita juga menceritakan pada dua sahabatnya? Kemudian berita itu tersebar dan sampai di telinga kedua orang tuanya.


Hanya dengan membayangkannya, wajah Isti menjadi pucat pasi. Annisa yang menyadari perubahan ekspresi itu merasa heran dan bertanya, "Kamu kenapa, Isti? Sakit?"


"E-enggak. Aku baik-baik aja. Nisa, apa maksud kamu bertanya seperti itu?" tanya Isti hati-hati.


"Nggak ada maksud apa-apa. Entah kenapa, aku jadi teringat lagi sama pernyataan Kak Agas. Menurut kamu, dia baik nggak?" tanya Annisa malu.


Isti merasa lega. Ia berharap apa yang tadi dibayangkan tidak akan pernah terjadi.


"Eh, kok diam? Menurut kamu Kak Agas gimana?" tanya Annisa lagi.


"Ciee, kamu suka ya sama Kak Agas?" goda Isti.


"Ish, kamu. Aku kan nanya, jawab dong," kilah Annisa dengan wajah merona.


"Baik. Kak Agas itu cool, cocok sama kamu."


"Gitu ya," gumam Annisa.


Isti mengangguk yakin, lalu menggoda Annisa yang masih belum mengakui perasaannya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2