
Happy reading ....
🌿
Rianti menatap Rida yang berlalu begitu saja dengan tatapan nanar. Istri Adisurya itu terduduk di sofa dengan hati yang sangat kecewa. Bagaimanapun Raydita besar dalam pengasuhannya, Rianti tidak menyangka Raydita akan bisa berkata seperti itu pada ibu kandungnya.
Sementara itu, Adisurya yang berdiri menghadap kaca jendela mengacak kasar rambutnya. Sebisa mungkin pria itu menahan diri agar tidak berbuat kasar pada Raydita. Inikah hasil dari kasih sayangnya selama ini?
Di sisi lain, Rayhan terlihat sangat berang. Ia menghampiri Raydita yang menatap jengah dan memutar bola matanya malas. Apalagi setelah melihat Annisa juga masuk ke kamarnya dan meletakkan nampan di atas meja. Raydita terlihat muak dan ingin mengusir mereka agar keluar dari kamarnya.
"Apa begitu cara Lo bicara sama orang tua, hah? Mulut Lo itu sampah tahu nggak? Dia nyokap Lo, Dit. Nggak pantas Lo ngomong gitu ke dia." Rayhan menegur keras Raydita.
Sejujurnya, Rayhan terkejut mengetahui Rida adalah ibu kandung Raydita. Tadi saat ia hendak ke kamarnya, Rayhan berniat mengabaikan perdebatan mereka. Tapi semakin didengarkan, kata-kata Raydita semakin kasar. Rayhan pun tak bisa menahan diri untuk tidak menegur Raydita.
"Kakak tahu apa? Kakak nggak tahu kan gimana perasaanku saat tahu aku ini siapa? Kak Ehan nggak perduli sama aku. Kakak lebih perduli sama dia," tunjuk Raydita pada Annisa.
"Tuhan nggak adil sama aku, Kak. Kenapa aku terlahir dari seorang j*lang, salahku apa?" tanya Raydita dengan nada tinggi.
Rayhan sangat ingin membungkam mulut Raydita. Akan tetapi, terdengar dari nada suaranya, Raydita seperti sedang menahan tangis.
__ADS_1
"Lo nggak salah. Yang salah itu mereka, orang tua kandung Lo. Tapi Lo juga nggak seharusnya menjudge Tante Rida seperti itu. Oke, gue nggak perduli anggapan Lo tentang Om Sandy. Tapi Tante Rida, Dit. Kita nggak tahu keseluruhan cerita di masa lalu. Lo tanya dulu baik-baik. Lo dengerin, setelah itu terserah Lo. Mau marah, mau benci, tapi jangan bilang kalau Tante Rida j-, aarrgh." Rayhan tak meneruskan kalimatnya.
Raydita menatap Rayhan yang mengacak kasar rambutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kemudian menoleh pada Annisa.
"Kak Ehan jangan membandingkan aku sama Nisa dong, Kak. Dia pasti bersyukur jadi anak mama sama papa. Tapi aku? Apa yang harus aku syukuri dengan tahu semua ini?"
"Dita, kamu nggak kehilangan apa-apa. Aku juga nggak akan ngambil apa-apa dari kamu," sahut Annisa.
"Bohong. Lo munafik. Buktinya Lo cari perhatian. Pulang kampung, Lo mau mama sama papa khawatir, kan? Lo mau nguji rasa sayang mereka ke Lo, kan?" tuduh Raydita.
"Sok tahu, Lo. Nisa balik kampung itu Gue yang ngajak. Dan Lo bilang apa tadi, gue jangan bandingin Lo sama Nisa? Eh dengar ya. Lo harusnya bersyukur, Papa dengan tegas bilang bahwa sampai kapanpun, Lo itu Raydita Adisurya. Lihat dong Nisa. Lo nggak mendadak amnesia, kan? Lo ingat gimana Nisa waktu pertama datang? Udik, kumel, di mata kita berdua dia udah mirip gembel. Gue aja sampai ngerasa ... sakit hati gue, Dit. Hidup dia susah banget. Rumah dia di sana nggak lebih gede dari kamar Lo disini. Coba kalau Lo yang diposisi dia. Gue yakin Lo nggak akan semudah itu memaafkan mama sama papa. Belum lagi alasan yang lain. Gue tahu ini nggak mudah untuk kalian. Tapi ya sudahlah. Biarkan itu jadi urusan mereka sama Tuhan," ujar Rayhan panjang lebar.
"Kak Ehan benar, Dit. Saat ini kita sama-sama terluka. Aku mengerti perasaan kamu yang takut kehilangan kasih sayang orang tua kita, tapi tidak akan seperti itu, Dita. Itu hanya perasaan kamu saja. Seperti yang pernah kamu bilang, mereka sayang sama aku karena ingin menebus kesalahan di masa lalu. Tetaplah berpikir seperti itu. Aku nggak masalah, Dita. Karena aku tahu, itu kenyataannya. Sampai kapan kita begini terus? Anggap saja masa lalu itu hanya sebuah batu sandungan dalam perjalanan hidup kita. Bagaimanapun kita harus bangun dan meneruskan langkah. Bukankah begitu?" tutur Annisa dengan suara berat.
Rayhan mendekat pada Raydita dan memeluknya. Putra Adisurya itu membiarkan Raydita terisak di pundaknya.
"Kalian sadar nggak sih, bukan cuma kalian yang merasa ini berat. Tapi gue juga. Punya adik cewek dua itu ... gimana ya? Sebagai kakak, tanggung jawab gue berat loh. Hmm, bayangin aja. Nanti, mama sama papa akan ... 'Han, jaga adik-adiknya', 'Han, kenapa kamu biarkan Nisa ini-itu', 'Han, Dita jangan dibiarin begini-begitu', 'Han, kamu itu harusnya bla bla bla sama adik kamu', 'Han, Han ...'. Oh My God! Gue ini mirip bodyguard kalian. Terus, kapan gue nyari cewek-nya?"
Annisa dan Raydita mengulumkan senyum mendengar sang Kakak bermonolog.
__ADS_1
"Cewek kakak juga harus yang aku sama Nisa suka," celetuk Raydita.
"Setuju," timpal Annisa.
"Tuh, kan. Kalian curang. Miris banget hidup gue," keluh Rayhan sambil melepaskan pelukannya pada Raydita.
Menyadari suasana mencair, Rayhan melebarkan tangannya. Annisa mendekati dan memeluk Rayhan. Begitu juga dengan Raydita. Keduanya memeluk Rayhan dari sisi yang berbeda.
Raydita masih terlihat canggung. Wajahnya melengos saat Annisa menatapnya sambil tersenyum.
"Kalian ini adik-adik kakak. Sampai kapanpun akan seperti itu. Kita coba untuk berdamai dengan keadaan dan hidup rukun di rumah ini. Oke? Step by step aja, yang terpenting tujuan kita ke sana. Hidup bahagia sebagai keluarga," tutur Rayhan.
Annisa mengangguk kecil, sedangkan Raydita mengeratkan pelukannya pada Rayhan. Di luar kamar, orang tua mereka menatap haru sambil meneteskan air mata.
"Udah ah, engap gue. Kalau punya cewek dua gini kali ya rasanya. Enak gitu ... peluk sini, peluk sana. Haha," kelakar Rayhan.
"Jangankan dua, satu aja harus lewati seleksi kita dulu. Kalau gagal di salah satu dari kita ... end," ujar Raydita menanggapi kelakaran kakaknya.
"Dih, tega. Bisa-bisa gue jomlo selamanya. Nasib gue kok apes banget ya." Rayhan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Raydita. Seulas senyuman terukir di wajahnya yang tampan. Semoga saja, setelah hari ini, hari-hari mereka akan lebih baik lagi.
__ADS_1
_bersambung_