
Gelak tawa terdengar dari ruang keluarga rumah Adisurya. Tak hanya Annisa dan Ghaisan, Raydita serta Yuda juga ada di sana. Rianti yang sedang memotong buah mengulumkan senyum mendengar candaan mereka. Tak ayal wanita itu menggelengkan kepala jika yang dibahas mereka seputar hal dewasa.
“Eh, Nis. Kenapa kita nggak barengan aja sih marriednya? Lumayan ‘kan hemat biaya,” cetus Yuda.
“Nggak lah. Satu-satu aja,” sahut Annisa sembari melirik pada Ghaisan yang merengkuh manja pundaknya.
“Kak Agas nggak ngebet kayak lo kali, Yud,” timpal Raydita.
“Siapa, Agas? Gak tau aja kalian ya gimana Agas kalau lagi ngobrolin begituan. Untung aja Nisa kuat iman. Kalau enggak? Weeh, nggak jamin deh,” ujar Yuda yang juga melirik pada Ghaisan.
“Kak AGas wajah lah tau, dia ‘kan dokter. Bahasan alat vital itu udah biasa. Cuma bahasanya aja nggak frontal,” bela Raydita.
“Dih. Lo gimana sih? Calon laki lo itu gue, Dit. Bukan Agas. Dibelaian mulu deh,” protes Yuda.
“Yee, Kak Agas ‘kan sepupu gue. Nah lo baru calon,” kilah Raydita sembari mendelikkan ujung matanya, membuat Yuda menggaruk tengkuk yang tak gatal sambil nyengir.
Keseruan mereka berlanjut hingga makan malam. Suasana menjadi semakin ramai setelahnya karena mereka melakukan panggilan video dengan Rayhan dan Isti.
“Duuh, istri solehah,” goda Raydita pada Isti yang sedang memasak. Isti menoleh pada kamera ponsel yang diarahkan Rayhan padanya.
“Masak apa, Bu?” tanya Annisa.
“Nasi goreng seafood, Nis. Sayang masih ada sisa nasi tadi siang,” sahut Isti.
“Wiih. Enak tuh. Jadi pengen,” ujar Annisa yang langsung ditimpali Ghaisan.
“Beneran pengen? Beli, yuk!” ajak Ghaisan.
“Nisa udah makan, Kak. Serius amat.” Annisa mengusap wajah Ghaisan yang menatap mesra padanya.
“Mulai deh yang bucin. Hmmm padahal kemarin ada yang bete loh,” sindir Raydita pada Annisa sambil mengulumkan senyum.
“Siapa yang bete?” tanya Ghaisan pada Raydita, sambil menatap pada Annisa dengan jarak yang sangat dekat.
“Siapa lagi. Nyonya,” sahut Raydita sambil melirik pada Annisa yang kemudian melempar bantal sofa padanya.
Raydita terkekeh dengan mimik wajah yang mengejek Annisa. Kekehan Raydita seketika pudar ketika mendengar ucapan Yoga yang sedang ngobrol dengan Rayhan.
__ADS_1
“Beruntung ya, Kak Ray punya istri chef. Makannya selalu enak. Pasti makin cinta. Kalau kata pepatah, dari perut naik ke hati. Kalau Kak Ray sih dari hati turun ke perut. Eh udah di perut naik lagi ke hati. Gitu aja terus bolak-balik,” seloroh Yoga.
“Maksud lo apa? Emang kenapa kalau gue nggak bisa masak, masalah buat lo?” Raydita menekuk wajahnya dengan tatapan kesal.
“Punya istri dokter juga enak, Yud. Siap sedia kalau lagi sakit. Bisa merangkap jadi dokter pribadi. Lebih hemat ‘kan, udah satu paket. Istri plus dokter pribadi. Kalau mau makan enak, pergi aja ke resto. Kita juga sering kok ke resto. Ya ‘kan, Yang?” bela Rayhan yang diangguki cepat oleh Isti.
“Denger tuh,” timpal Raydita masih dengan wajah ditekuk.
“Hati-hati loh jangan banyak tingkah, Yud. Bisa-bisa disuntik mati sama si Dita,” seloroh Ghaisan.
“Ish. Jangan dong. Serem amat lo, Gas.” Yuda menghadapkan wajahnya pada Raydita dan memasang wajah menggoda sambil berkata, “Maaf, Beib. Tadi aku cuma becanda. Pengen tau aja gimana reaksi Kak Ray. Hehehe, maaf ya. Demi kamu, demi kita, aku akan belajar masak sama abangku. Jangan marah dong.”
Yoga mencolek-colek dagu Raydita meski kekasihnya itu menepis beberapa kali. Yuda sepertinya sudah merasa jadi bagian dari keluarga itu dan tak malu meski ada Rianti di sana.
Panggilan video itu diakhiri karena Rayhan dan Isti akan menikmati makan malam mereka. Beberapa saat kemudian, Yuda juga pamit pulang.
“Agas. Lo nggak pulang?” tanya Yuda.
Ghaisan terlihat malas beranjak dari sofa. Gerakannya sontak terhenti ketika Rianti berkata, “Nginep aja di sini.”
“Yuda boleh nggak, Ma?” tanya Yuda cepat.
“Kamu sama Dita sebentar lagi nikah. Nggak ada nginep-nginepan. Sabar ya, tinggal hitungan hari,” ujar Rianti sambil tersenyum tipis.
“Iya, Ma. Becanda kok, hehehe,” cengir Yuda.
“Bohong ah. Bilang aja modus,” sindir Ghaisan.
“Lo tuh yang modus,” balas Yuda. “Hati-hati, Ma. Bisanya yang LDR lebih bahaya,” sambungnya.
“Udah, bawel. Cepetan pulang” Raydita menarik tangan Yuda yang kembali berpamitan pada Rianti.
“Yuda pulang, Ma. Daah Nisa! Assalamu’alaikum,” serunya sambil berlalu menuju ruang tamu dan melangkah terus ke luar.
“Ayang jangan narik-narik begini dong. Aah, kamu. Bukannya bantuin aku bujuk mama biar bisa nginep, malah ngusir,” protes Yuda yang tentunya membuat Annisa, Rianti dan Agas mengulumkan senyum mendengarnya.
“Agas mau di kamar Ehan atau kamar tamu?” tanya Rianti.
__ADS_1
“Kalau di kamar Nisa boleh nggak, Ma?” tanyanya berseloroh, dan membuat Annisa sontak menoleh sambil membulatkan kedua matanya.
“Boleh,” sahut Rianti.
“Beneran, Ma?” tanya Ghaisan antusias.
“Tapi dihalalin dulu ya Nisa-nya,” sahut Rianti.
“Agas kira beneran boleh, hehehe. Becanda, Ma,” kilah Ghaisan.
“Lama-lama Kak Agas ketularan Yuda deh,” delik Annisa.
“Makanya cepetan nikah, Nis. Agas ‘kan cowok normal,” cetus Rianti sambil beranjak dari sofa.
“Mulai lagi deh, Ibu. Males ah bahasannya itu mulu.” Annisa terlihat malas menanggapi. Rianti hanya menoleh sesaat kemudian berlalu menuju ruang makan.
“Apa?” tanya Annisa pada Ghaisan yang menatap lekat padanya.
“Kak Agas kenapa nggak angkat telpon Nisa? Chat juga nggak dibalas. Kenapa?” tanya Annisa dengan raut kesal.
“Aku sibuk banget, Sayang. Selain itu aku juga sengaja,” sahut Ghaisan dengan entengnya.
“Sengaja? Jadi Kak Agas suka ya ngerjain Nisa?”
“Enggak juga. Maksudku, aku tuh sengaja ngambil banyak shift, Sayang. Selain shiftku, shift temanku juga. Jadi kadang tidur cuma beberapa jam aja,” jelas Ghaisan.
“Kenapa gitu? Terus kalau Kak Agas sibuk, Nisa dicuekin?” tanya Annisa masih dengan mimik kesal.
“Ya maaf, aku niatnya setengah ngeprank juga. Aku nggak suka kamu bad mood kayak terakhir kali nelpon itu, Nis. Makanya aku langsung mikir kalau aku tuh harus pulang. Dan kebetulan temanku ada yang gak bisa masuk, ya aku ambil lah. Jadi sekarang dia gantiin aku, double sama shift-nya dia,” jelas Ghaisan lagi.
“Kalau gitu Kak Agas lama dong di sini?” Antara senang dan malu karena telah buruk sangka pada Ghaisan, wajah Annisa merona.
“Iya. Tiga minggu lebih,” sahut Ghaisan sambil tersenyum tipis.
Annisa memilih diam untuk menyembunyikan hatinya yang teramat senang. Bagaimana tidak, mereka akan bersama-sama lebih lama dari biasanya. Selain itu juga mungkin Ghaisan ingin ikut andil dalam persiapan pernikahan Raydita dan Yuda.
“Kok diam? Seneng nggak?” tanyanya dengan mimik menggoda sambil menekankan ujung telunjuk di pinggang Annisa.
__ADS_1
“Seneng, Kak. Seneng banget malahan,” aku Annisa malu-malu sembari menahan gerakan tangan Ghaisan yang akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ghaisan menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya, dan untuk sesaat mereka menikmati kebersamaan yang sempat terlewatkan karena jarak memisahkan.
_bersambung_