Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Akur?


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Rayhan dan kedua adiknya menikmati makan siang di tiga tempat berbeda. Rayhan makan di ruang keluarga sambil menonton televisi, Raydita di ruang makan, sementara Annisa berbaur dengan beberapa pelayan di dapur.


"Kak, pulangnya kata mama mau dibawain apa? Sekarang mama lagi di supermarket," tanya Raydita pada Rayhan. Rupanya ia sedang berbalas pesan dengan Rianti.


"Bawain SPG-nya yang paling cantik," sahut Rayhan asal.


"Idih, beneran aku bilangin loh ke mama," delik Raydita.


"Nis! Woy, Nisa! Sini, Lo!" seru Raydita.


"Lo manggil apa ngajak gelut sih?" tanya Rayhan dengan nada tak suka.


"Manggil laah," sahut Raydita santai.


Tak lama, Annisa terlihat memasuki rumah utama. Ia langsung menghampiri Raydita dan bertanya : "Ada apa, Dita?"


"Lo ditanyain mama, katanya mau apa?" sahut Raydita tanpa menoleh.


"Aku nggak mau apa-apa," sahut Annisa yang terduduk tak jauh dari Raydita dan mengambil apel yang ada di meja.


"Oh," sahut Raydita singkat. Tatapannya tetap fokus pada ponsel sambil kembali meneruskan makan siangnya.


"Kak Ehan, kata mama suruh Kakak cari pacar. Masa mau sama Mbak-mbak SPG," ujar Raydita membacakan pesan dari mamanya.


"Enak kali ya, pacaran sama cewek yang lebih tua," kelakar Rayhan sambil mendekati meja dan menaruh piringnya yang kosong. Rayhan terduduk di samping Annisa yang memberinya tatapan aneh.


"Kenapa? Banyak kok yang begitu," ujar Rayhan sembari mengarahkan apel yang pegang Annisa ke mulutnya.


"Berondong?" Annisa mengerutkan keningnya.


"Yo-i," sahut Rayhan.


"Nggak boleh," ujar Annisa dan Raydita hampir bersamaan.


"Kenaaapa? Suka-suka gue dong," protes Rayhan.


"Pokoknya nggak boleh. Kita nggak setuju. Ya nggak, Nis?" tanya Raydita dan langsung diangguki oleh Annisa.


"Yee ...," delik Rayhan.


"By the way, kenapa Kak Ehan nggak pacaran aja sama Viola? Dia kan lumayan cantik," usul Raydita.


"Ogah. Pacaran sama dia, gue bisa bentol-bentol," sahut Rayhan datar.


"Yee, Dita bilangin loh."


"Emang Lo kenal sama dia?" tanya Rayhan.


"Kenal dong," sahut Raydita singkat.


"Sejak kapan?" Rayhan menautkan alisnya.


"Rahasia," sahut Raydita ketus.


Rayhan menatap heran pada Raydita yang berlalu dari ruangan itu. Ia pun menoleh pada Annisa yang mengangkat sedikit bahunya.


"Nis, PR Lo belum dikerjain kan? Barengan yuk di kamar gue," ajak Raydita.

__ADS_1


"Oke. Sekarang?" tanya Raydita.


"Tahun depan," timpal Rayhan. Annisa mengulumkan senyum sambil mendorong pelan punggung Rayhan.


"Setengah jam lagi," sahut Raydita yang mulai melangkah menuju tangga.


"Oke," sahut Annisa.


Rayhan menoleh pada Annisa dan menatapnya lekat.


"Kakak masih mau?" Annisa menawarkan apel yang sudah tinggal sedikit lagi.


Rayhan menggeleng pelan, lalu bertanya, "Sejak kapan Lo sama Dita akur?"


"Sejak sekarang, hehe. Memangnya kenapa? Bagus dong," sahut Annisa sambil tersenyum.


"Hee, iya bagus. Kalian bisa kompak juga ngerecokin hidup gue," ujar Rayhan dengan senyuman masam.


"Ya enggak laah, Kak. Nisa heran deh, kok Kak Ehan belum punya pacar? Kakak kan banyak fans-nya."


"Level gue tinggi," sahut Rayhan dengan gerakan tangan ke atas.


"Suka yang tinggi, gitu? Pantesan pengen pacaran sama Mbak SPG, mereka kan suka pakai heels, jadi tinggi. Iya kan?"


"Dih. Lo beneran adik gue bukan sih? Kok b*go?"


"Iih, Kak Ehan gitu." Annisa mendorong punggung Rayhan dengan wajah yang cemberut.


"Udah jelek, nggak usah dibikin jelek lagi itu muka," canda Rayhan sambil tersenyum lebar.


"Sok kecakepan," balas Annisa sambil berlalu dari ruangan itu.


"Emang gue cakep."


"Level gue tinggi, Neng."


"Cari aja yang pakai egrang," delik Annisa.


"Ngangk*ng dong," kekeh Rayhan. Annisa menutup mulutnya menahan tawa.


"Apa? Emang ngerti?" goda Rayhan.


Annisa menepuk pundak Rayhan yang masih memberinya tatapan menggoda.


"Serius, Lo ngerti nggak?"


"Nggak!"


"Bohong dosa loh."


"Udah ah." Annisa menghindari godaan Rayhan dengan berjalan ke kamarnya.


"Yee ...." Rayhan mendudukkan bok*ngnya di sofa. Ia kembali memainkan ponselnya masih dengan senyuman di wajah.


Di sisi lain, Raydita yang mendengar candaan Rayhan dan Annisa hanya bisa menyunggingkan senyum sesaat. Ia membiarkan pintu kamarnya terbuka, dan diam-diam berharap Rayhan juga mengajaknya bercanda.


***


Mobil yang membawa Rianti memasuki halaman rumah. Istri Adisurya itu melenggang masuk, diikuti supir dan Mang Asep yang membawakan belanjaannya.


"Anak-anak di mana, Bi?" tanya Rianti saat berpapasan dengan Bi Susi yang menyambutnya.

__ADS_1


"Di kamar Non Dita, Nya."


"Sama Nisa juga?" Bi Susi mengangguk cepat.


"Oh ya?" Rianti memperlihatkan raut wajah tak percaya. Cepat-cepat ia melepas heels dan memakai sandal rumah yang disodorkan Bi Susi.


Dengan langkah perlahan Rianti masuk ke ruang keluarga, lalu menuju tangga. Terdengar suara Raydita dan Annisa di antara alunan musik dari kamar Raydita yang sedikit terbuka.


Raut wajah Rianti terlihat bahagia. Dari balik pintu, tangannya menyembul sambil mengarahkan kamera ponsel yang ia pegang.


Senyum Rianti merekah melihat hasil bidikan kameranya. Rayhan berbaring di kasur sambil menghadap tembok, sementara Raydita dan Annisa berada di karpet dengan buku-buku yang berserakan.


Rianti tak bisa menahan diri untuk tidak mengirimkan foto itu pada suaminya. Lengkap dengan emoticon hati yang bertebaran dimana-nama.


Tok ... tok.


"Permisi, Sayang. Mama boleh masuk?"


"Silahka, Bu," sahut Annisa.


"Kalian sedang apa? Mengarjakan PR ya?"


"Iya, Ma. Nisa pinter deh matematikanya," puji Raydita.


"Oh ya?"


"Enggak juga, Bu. Apalagi Dita, pinter banget Bahasa Inggrisnya." Annisa balik memuji Raydita.


Mendengar kedua putrinya saling memuji, Rianti sangat bahagia. Dikecupnya pucuk kepala kedua putrinya secara bergantian.


"Ehan tidur?" tanya Rianti sembari mendekati tempat tidur.


"Mungkin," sahut Raydita singkat.


Rianti mengusap rambut Rayhan, kemudian berpamitan ke kamarnya.


***


Keluarga Adisurya berkumpul bersama menikmati makan malam di ruang makan. Adisurya dan Rianti tak bisa menyembunyikan wajah bahagia mereka. Terlebih melihat keakraban ketiga anaknya yang saling menimpali candaan.


Setelah selesai, Adisurya meminta waktu sebentar untuk membicarakan sesuatu dengan anak-anaknya.


"Sejujurnya papa tidak menyangka kalian bisa akrab secepat ini. Papa dan mama senang melihatnya. Terima kasih, Sayang. Anak-anak papa ...."


Sembari tersenyum, Rianti menimpali, "Mama berencana menemani perjalanan papa ke luar negeri. Mungkin sekitar tiga atau empat hari. Sebenarnya ini bukan hal baru. Tapi karena dalam keluarga kita ada anggota baru, maka kami membicarakan ini dengan kalian."


"Melihat kalian yang akur begini, kami jadi tenang. Papa percaya, Ehan bisa menjaga Dita dan Nisa," sambung Adisurya.


"Mereka kan udah pada gede, Pa. Nggak kemana-mana juga," ujar Rayhan.


"Ya, siapa tahu kalian mau mengisi weekend dengan jalan-jalan. Oh iya, Nisa. Mulai hari Minggu nanti, kamu les private-nya di tempat les Miss Dara ya. Biar bisa keluar juga, jadi nggak jenuh di rumah terus. Minta antar sama Mang Asep atau sama supir yang lain."


"Siap, Yah," sahut Annisa.


"Awas loh, jangan kabur lagi," ujar Rianti.


"Enggak dong, Bu," ucap Annisa tersipu malu.


"Kalian jangan keluyuran ya. Harus bisa memegang kepercayaan yang kami berikan," nasihat Adisurya.


"Oke, Pa," sahut Rayhan dan Raydita, juga diangguki oleh Annisa.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2