Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Salah mengenali


__ADS_3

Mohon maaf, up-nya telat🙏


Happy reading ....


🌿


Udara pagi terasa menusuk pori. Rida yang ingin menarik selimut pun mengerjap dan tertegun menyadari pria yang terlelap di sampingnya.


Lagi-lagi pria ini. Pria yang sama yang pernah ada di masa lalunya. Pria yang pernah meninggalkan dirinya yang tengah berbadan dua. Jangankan bertanggung jawab, pria ini justru meragukan kesetiaannya. Badohnya, ia kini justru menghabiskan malam dengan pria ini lagi.


Di tempat lain, Annisa sudah bersiap akan pergi ke sekolah. Namun lagi-lagi harus kecewa karena Raydita sudah meninggalkannya. Namun begitu ia bersemangat saat melihat Rianti terduduk di teras depan rumahnya. Dengan wajah yang ceria, Annisa hendak berpamitan pada ibunya.


"Bu, Nisa berangkat dulu." Ujarnya sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


Rianti mengerutkan keningnya. Menatap jijik pada tangan Annisa.


"Sudah sana pergi!" Usirnya.


Walau kecewa, Annisa tetap berusaha memperlihatkan senyumannya. Menatap sesaat wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Nisa berangkat, Assalamu'alaikum!" Serunya riang.


"Wa'alaikumsalam, Neng. Hati-hati," sahut Bi Susi.


Bi Susi menatap nanar punggung Annisa. Seandainya bisa, ingin sekali ia mengantar Nona-nya. Saat Bi Susi meletakkan cangkir teh milik Rianti, terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang dan ada seseorang yang menyapa Annisa.


"Selamat pagi, Cantik. Wah sudah besar kamu ya. Siapa namanya, Sayang?"


"Annisa, Nek." Jawabnya ragu.


"Mau ke sekolah? Kok nggak diantar supir?"


"Tidak. Mau naik angkot saja. Permisi."


"Siapa itu, Bi?" tanya Rianti. Tak lama terlihat sosok wanita berumur menyapa Rianti dan masuk ke halaman rumah.


"Rianti!"


"Bude? Apa kabar? Mari masuk." Rianti beranjak dan menyambut tamunya yang tak lain saudari almarhum ayah mertuanya.


Mereka saling menanyakan kabar, lalu Rianti menggandenganya masuk ke ruang tamu.


"Anakmu sudah besar ya. Cantik, mirip sekali denganmu saat seusia dia."

__ADS_1


"Anak Rianti?"


"Iya, yang barusan itu kan? Kenapa dibiarkan naik kendaraan umum sih? Zaman sekarang itu bahaya mengintai. Apalagi gadis cantik. Gimana kalau nanti ada yang nyulik? Hii, serem ah. Nanti Bude marahin suamimu. Banyak uang kok anaknya disuruh naik angkot." Tuturnya.


"Maksud Bude, Nisa?"


"Iya. Rayhan pasti sudah besar. Gantengnya anak itu. Nggak kerasa, lama ya Bude nggak ketemu kamu. Terakhir ketemu itu kapan ya? Sebelum kamu melahirkan kalau nggak salah."


"I-iya, Bude." Rianti terlihat canggung. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Namun untuk saat ini, ia mencoba menepis. Ia tak ingin terkesan tak acuh pada kerabatnya.


"Sekarang Bude tinggal di sini? Sejak kapan?"


"Bukan tinggal, cuma sedang berkunjung saja. Kamu ingat Hana? Istrinya Rio."


"Oh iya-iya. Mbak Hana, apa kabar keluarganya Bude?"


"Baik. Ingat nggak dulu kan kalian sama-sama mengandung. Cuma beda berapa bulan ya waktu itu. Duluan kamu ya?"


"Iya. Waktu Rianti hamil delapan bulan, kalau nggak salah Mbak Hana baru lima bulan."


"He-em. Kamu beruntung, Hana bayinya meninggal. Bayinya itu terlahir cacat di sini, dan tidak tertolong karena dia nggak bisa nyusu. Terlebih lahirnya juga prematur." Tuturnya.


"Turut berduka, Bude. Maaf Rianti terlambat mengetahuinya."


"Dia bukan ...."


"Silahka, Bu," ujar Bi Susi.


"Terima kasih. Sepertinya ini enak. Bibi yang membuatnya?" Bi Susi mengangguk pelan, lalu meninggalkan ruangan itu.


"Kalau yang namanya turunan, ada saja. Dulu, anak Pak Lek-nya Adi. Lalu anak Hana. Bersyukur anak-anakmu sehat tidak kurang sedikitpun."


"Iya, Bude." Sahutnya pelan.


"Adi ke kantor?"


"Sedang di luar kota."


"Bilang sama suamimu. Jangan pelit! Masa anak sendiri naik angkot. Untuk apa jadi pengusaha sukses, kalau anak sendiri tidak menikmati kesuksesannya. Orang lain memperlakukan anak perempuan itu seperti ratu, eh dia kok sebaliknya. Jangan-jangan dianggap pembantu. Setahu Bude, Adi dulu baik, sopan, tapi kok begitu sama anaknya? Sama Rayhan gimana?"


"Mas Adi tidak berubah kok Bude. Masih tetap baik, sopan, penyayang. Pokoknya suami dan ayah idaman," bela Rianti.


"Oh ya?" Bude terlihat meragukan meski Rianti mengangguk cepat mengiyakan. Tak ingin membuat Rianti merasa tak enak hati, wanita berumur itu memilih membicarakan hal lainnya sambil menikmati suguhan.

__ADS_1


Rianti menatap kosong wanita yang tengah menikmati kue buatan ART-nya. Dalam diamnya, kelebatan masa lalu mulai mengusik perasaannya.


Mungkin karena Bude sudah berumur, beliau salah mengenali Annisa sebagai putrinya. Namun entah mengapa hal itu justru menyadarkan Rianti akan sesuatu yang selama ini jadi tanda tanya besar dibenakknya.


"Tidak hanya aku yang merasa Annisa mirip denganku, tapi Bude juga. Siapa sebenarnya Annisa? Kenapa Mas Adi sangat menyayanginya?" gumam Rianti dalam hatinya.


***


Awan putih itu terlihat kontras dengan warna biru langit yang terbentang luas di angkasa. Cuaca terik siang ini berpadu dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.


Dari balkon kamarnya, Rianti menatap kosong pesona alam yang tersaji di hadapannya. Kedatangan Bude pagi tadi telah mengembalikan memory masa lalu yang pernah dilupakannya.


"Ini Bu bayinya. Sebaiknya ibu susui dulu."


"Aaaah! Apa ini, Sus! Anak siapa ini!"


"Putri ibu."


"Tidak, tidaak! Dia bukan bayiku." Pekiknya saat itu.


"Kamu beruntung, Hana bayinya meninggal. Bayinya itu terlahir cacat di sini, dan tidak tertolong karena dia nggak bisa nyusu."


Ucapan Bude kembali ternginang. Terlebih saat mengucap kata 'cacat', Bude sambil menuduhkan ke bagian atas bibir. Rianti teringat pada bayi yang menurut perawat adalah bayinya. Ia pun kembali tersadar dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Itu bukan bayiku. Bayiku adalah Dita." Gumamnya.


"Anakmu sudah besar ya. Cantik, mirip sekali denganmu saat seusia dia."


Lagi-lagi ucapan Bude terngiang di telinganya. Rianti pun beranjak dan mencari album foto saat ia masih remaja.


Rianti tertegun saat album foto itu sudah berada dalam genggannya. Ia merasakan degup jantungnya sangat cepat dan tak beraturan. Dengan tangan yang gemetar, Rianti membuka album foto itu. Ia terkesiap melihat sosok Annisa ada di sana.


Di luar terdengar suara klakson mobil. Namun Rianti masih belum beranjak dari posisinya. Berkali-kali ia memastikan wajah itu, namun tiba-tiba ia menutupnya dan memasukkannya ke dalam laci.


"Tidak, tidak mungkin dia anakku." Gumamnya.


Ceklek. Rianti sontak menoleh ke arah pintu. Adisurya yang semula tersenyum lebar, kini sedang manatapnya heran.


"Kamu kenapa?" Tanyanya.


"Mas, Annisa itu sebenarnya siapa?" tanya Rianti dengan suara yang bergetar.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2