
Happy reading ....
🌿
Angin yang semakin dingin memperburuk kondisi Raydita yang lemah. Namun rasa takut saat membayangkan dua penjaga itu bisa kapan saja memanfaatkan keadaannya, membuat Raydita berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya, namun sia-sia.
Raydita sangat putus asa. Kemudian tanpa sengaja ia melihat pecahan gelas yang tadi pagi dilempar Sandy, juga kaca jendela yang terbuka.
"Tuhan, beri aku kekuatan sedikit saja. Bantu aku keluar dari tempat ini," gumam Raydita penuh harap.
Dengan susah payah Raydita membungkukkan badan sambil mengangkat tangannya yang terikat di belakang. Meski sulit serta sakit, ia memaksa agar tangan dan punggungnya tidak terhalang kursi lagi.
Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya bisa juga. Kini Raydita memikirkan cara agar bisa mendekati pecahan gelas itu.
Raydita pun berdiri, lalu meloncat-loncat serta menggeser-geserkan kakinya yang terikat. Setelah berada di dekat pecahan gelas, Raydita duduk dilantai mencoba mengambil satu serpihan yang agak besar untuk kemudian menggesek-gesekkan pada tali pengikat tangannya.
Cukup lama Raydita melakukan itu. Meskipun sudah merasa pegal, ia terus berusaha.
Raydita tersenyum sembari meneteskan air mata saat tangannya berhasil terlepas dari tali yang mengikat. Cepat-cepat Raydita melepas ikatan pada kedua kakinya.
Sambil sesekali menoleh ke pintu, Raydita mendekati jendela sambil membawa dua kursi yang ada di ruangan itu. Satu kursi diletakkan di luar, sedangkan satu lagi sebagai pijakan.
Walaupun tak terlihat, Raydita yakin banyak pecahan kaca di situ. Ia tak ingin kakinya yang telanjang menginjak pecahan kaca tersebut.
Perlahan namun pasti, Raydita bisa terbebas dengan melompat sejauh mungkin ke bagian sisi. Ia merasa lega meski harus menahan sakit pada lengannya yang sempat tergores sisa kaca di jendela.
Gelap, tempat itu sangat gelap. Seakan itu sebuah vila yang telah lama di tinggalkan pemiliknya. Hanya ada beberapa lampu taman di bagian depan.
Kalau aku lewat sana, mereka bisa saja melihatku. Tapi kalau lewat sini ....
__ADS_1
Raydita merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak tahu seperti apa tempat ini.
Raydita melangkah ke sembarang arah. Sambil mengeratkan tangannya yang disilangkan di dada, ia hanya bisa memohon perlindungan dari binatang malam yang suaranya semakin jelas terdengar.
Sepertinya ini perkebunan teh. Tapi suara air itu, pasti ada sungai di dekat sini. Jangan-jangan ini dekat hutan, batin Raydita.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Raydita meneruskan langkah dengan meraba sisi kiri, kanan, dan depannya. Jalan yang tidak rata membuat gadis itu sesekali terhuyung.
Dari kejauhan terlihat lampu mobil yang bergerak mendekati vila. Merasa yakin itu mobil Sandy, Raydita sontak merasa takut dan berlari.
"Aaww!" pekiknya pelan seiring tubuhnya yang tersungkur.
Raydita menangis tertahan karena rasa sakit di bagian kakinya yang terkilir. Ia mencoba berdiri lagi, namun rasa sakit itu semakin menjadi bila kakinya digerakkan.
Raydita menyadari, angin yang sangat dingin ini sedikit banyaknya mengurangi rasa sakit pada setiap bagian tubuhnya yang terluka. Namun sampai kapan? Raydita meraba kalinya yang tak beralas dengan tangannya yang hampir membeku.
"Papa ... hiks, hiks." Raydita terisak lemah. Ia sudah tak mampu meneruskan langkah. Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukannya. Dalam kegelapan, Raydita membiarkan dirinya terkulai dalam dakapan angin malam.
Sandy mengacak kasar rambutnya. Tadi, saat berada di lampu merah, ia mendengar obrolan pedagang asongan tentang polisi yang bertebaran di jalan. Beruntung di sisi kanannya ada jalur untuk berbelok, Sandy pun kembali dan sempat berdiam diri di sebuah resto di daerah tersebut.
"Adisurya pasti sudah menyebar orang-orangnya. Aku harus mencari cara lain agar bisa keluar dari kota ini." Gumamnya.
"Rida. Ya, dia akan membawaku ke luar dari tempat ini."
***
Di vila ...
"Neng, makan dulu ya," pinta Bi Marni yang terlihat mengkhawatirkan Annisa.
__ADS_1
"Nisa nggak n*fsu makan, Bi. Terima kasih."
"Nanti Neng Nisa bisa masuk angin, Nyonya akan memarahi Bibi kalau sampai Neng Nisa sakit." Bujuknya untuk yang kesekian kali. Bi Marni sudah mengetahui semua yang terjadi pada Annisa dari Mang Asep.
"Ibu Rianti pasti sangat mengkhawatirkan Dita. Tadi ibu langsung shock dan menangis," ujar Annisa dengan tatapan kosong.
"Tuan dan Nyonya dalam perjalanan pulang. Den Juna, Pak Heru, dan yang lain sedang berusaha mencari Non Dita. Bahkan yang Bibi dengar, ada tim SAR juga yang membantu pencarian."
"Bagaimana kalau malam ini Dita belum ditemukan, Bi? Sekarang dia pasti sedang ketakutan," ujar Annisa sambil mengusap air matanya.
"Kita berdoa saja ya. Semoga Non Dita dalam lindungan Gusti Allah."
"Aamiin."
Dari dalam kamar, samar-samar terdengar suara Raka. Annisa merasa heran karena Mela dan Tasya baru saja meninggalkan vila itu dengan dijemput supir keluarga Mela. Pikirnya, dengan siapa Raka bicara? Apakah dengan Tantenya Ghaisan? Tapi kenapa intonasinya sangat tinggi. Karena penasaran, Annisa dengan sangat pelan membuka pintu kamarnya.
"Heh, aku benar-benar tidak menyangka akan sedekat ini dengan anak haram papa," decih Raka.
"Dita bukan anak haram. Dia tidak berdosa," kilah Rida cepat.
"Oh ya? Apa kau dan ayahku pernah menikah? Menjijikkan membayangkan kalian berselingkuh di belakang ibuku. Haruskah aku beritahukan pada mereka agar menghentikan pencarian? Mungkin saja mereka sedang menyambung hubungan ayah dan anak yang pernah putus." Deliknya sembari menahan amarah.
"Tidak. Sandy bahkan tidak tahu tentang Dita, begitu juga sebaliknya. Jangan sangkut pautkan Dita dalam hal ini. Itu hanya masa lalu," ujar Rida dengan air mata yang tergenang. Ia sangat mengkhawatirkan Raydita. Terlebih Sandy mengabaikan panggilannya.
Anak haram, Dita .... batin Annisa sambil menutup kembali pintu kamar itu dengan sangat hati-hati.
Apa itu artinya, Om Sandy dan Tante Rida adalah orang tua kandung Dita? Batinnya lagi.
Annisa tidak menyadari, tidak hanya dirinya yang terkejut mendengar kenyataan itu. Bi Marni bahkan langsung membelakangi Annisa sambil membungkam mulutnya sendiri.
__ADS_1
_bersambung_