
Happy reading ....
*
Ghaisan menepikan motornya di depan kantor Adisurya. Setelah meminta izin bertemu pada sekretarisnya melalui bagian reseptionis, Ghaisan pun menunggu di lobi kantor.
Beberapa kali Ghaisan terlihat membuang kasar nafasnya, seakan ingin melepaskan beban yang membuat dadanya terasa sesak. Tatapannya menerawang entah memikirkan apa. Ghaisan nampak terkejut saat Heru memanggilnya.
"Agas!"
""Iya, Om," sahut Ghaisan sambil beranjak dari duduknya dan menghampiri Heru.
"Tuan Adisurya memintamu ke ruangannya," ujar Heru.
"Baik, Om. Terima kasih."
Heru mempersilakan Ghaisan mengikutinya menuju lift. Sambil berjalan, mereka mengobrol. Ghaisan menanyakan kabar Juna dan teman-temannya. Walau sebenarnya hanya basa-basi, karena ia tahu, Juna dan teman-temannya baru kembali dari touring bersama Yuda..
Sesampainya di ruangan Adisurya, Heru mempersilakan Ghaisan masuk. Ghaisan terlihat kikuk saat menyapa Adisurya. Entah karena sudah lama tidak bertemu, atau karena perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Duduklah," titah Adisurya datar. Ghaisan mengangguk dan duduk di hadapan Adisurya.
"Kamu tahu kenapa om memintamu datang ke sini?" tanya Adisurya datar dan terkesan dingin.
"Tidak tahu, Om," sahut Ghaisan sambil menggeleng pelan. Ghaisan memberanikan diri membalas tatapan dingin Adisurya.
"Apa benar Rika sudah menjodohkanmu?" imbuh Adisurya.
Deg. Ghaisan seketika merasa dunianya berhenti sesaat. Dari mana Adisurya mengetahui perihal perjodohannya, apakah mamanya sudah memberitahukannya pada Rianti? Ghaisan nampak bingung, namun tak ayal ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayah Annisa tersebut.
"Itu baru rencana mama, Om. Agas sudah menolaknya," tegas Ghaisan.
"Heh, kamu yakin?" tanya Adisurya dengan mimik mengejek.
__ADS_1
""Tentu," sahut Ghaisan.
"Tapi om nggak yakin. Apalagi kalian akan tinggal bersama di Amerika," imbuh Adisurya datar. Dan lagi-lagi membuat Ghaisan terperanjat. Pikirnya, sedetail itukah sang mama menceritakan semuanya?
"Tinggalkan Annisa. Bicaralah apa adanya. Om rasa itu lebih baik, setidaknya Nisa tidak akan membencimu."
"Maaf, Om. Agas tidak bisa melakukannya," ujar Ghaisan tegas.
"Kenapa? Kamu mau menjalani dua hubungan sekaligus, heh? Om ingatkan, jangan mempermainkan perasaan Nisa! Lebih baik kalian putus sekarang," tegas Adisurya.
"Om, Agas akan coba mencari jalan keluarnya. Tapi bukan putus dengan Nisa. Please, Om. Beri Agas kesempatan. Agas ingin mencoba untuk tetap bersama Nisa," pinta Ghaisan.
Adisurya menatap lekat pada Ghaisan. Ia melihat kesungguhan di wajah putra almarhum Ryan itu. Adisurya pun tak tega jika memaksakan kehendaknya. Sekali ini saja, ia ingin melihat bukti dari kesungguhan itu.
"Oke. Om beri waktu sampai hari dimana kamu harus pulang lagi ke New York. Om tahu ini terlalu singkat. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kamu dan anak itu akan tinggal bersama. Kamu itu laki-laki normal Agas. Seusia kamu ini lagi mengebu-gebu dalam segala hal, termasuk ... ya, kamu ngertilah maksud om. Please, jangan menyakiti Nisa," pinta Adisurya serius.
"Agas akan usahakan yang terbaik, Om," ujar Ghaisan.
"Ryan, seandainya kau masih ada, mungkin kau akan menertawakanku. Lihatlah, putramu seakan sedang berusaha mewujudkan keinginanmu yang tertunda. Bukankah kau dulu menginginkan Nisa jadi bagian dari keluargamu? Jika benar mereka berjodoh, keinginanmu akan terwujud. Haruskah aku membantunya? Untuk sementara ini, aku ingin melihat dulu seberapa kuat putramu menginginkan putriku," gumam Adisurya bermonolog.
Di tempat lain, Rayhan baru tiba di rumah Raka. Ketika Rayhan melihat Raka tengah menikmati sarapannya, Rayhan langsung menghampiri dengan raut wajah yang marah. Selain karena Rika, Rayhan juga marah karena merasa telah dibohongi kedua sahabatnya.
"Hai, Ray! Sini sarapan sama gu-." Raka tak dapat menuntaskan kalimatnya. Rayhan tiba-tiba menarik kasar bajunya dan mendorong Raka hingga terhuyung.
"Lo sengaja bohongin gue, kan? Maksud lo apa, hah?" bentaknya.
"Gue nggak ada maksud apa-apa, Ray. Agas lagi nyoba buat-."
Satu pukulan dilayangkan Rayhan pada wajah Raka dan membuat pelayan yang ada di sana berteriak ketakutan. Pelayan itu berlari ke luar hendak memanggil security. Rayhan yang masih diselimuti amarah kembali mendekati Raka yang sudah meringis kesakitan. Raka berjalan mundur sambil mencoba menghentikan Rayhan dengan kedua tangannya yang diarahkan ke arahkan ke depan.
"Mau nyoba apa, heh? Mau coba-coba mainin hati adik gue! Begini ya kalian di belakang gue. An**ng ya kalian!" umpat Rayhan sambil berlalu meninggalkan Raka di ruang makan. Saat berpapasan dengan security dan pelayan di ruang keluarga, Rayhn juga membentak mereka, "Mau apa, Lo?"
Security itu hanya menggeleng cepat demi menghindari amukan Rayhan. Sedangkan Raka hanya bisa menatap nanar langkah besar Rayhan yang meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Raka sontak berlari ke luar saat mendengar suara motor Ghaisan yang baru datang. Baru saja ia sampai di teras ...
"Apaan sih lo, Ray?"
Terdengar suara Ghaisan berteriak yang disusul dengan suara kepalan tangan Rayhan yang melayang berulang-ulang hingga Ghaisan tersungkur. Raka langsung berlari dan mencoba menahan pergerakan Rayhan. Sementara itu, Ghaisan dibantu oleh security bangkit dan balik menatap nyalang pada Rayhan.
"Lo pikir gue ngapain, heh? Gue mau ngasih pelajaran sama orang yang udah berani nyakitin adik gue. Ngerti, Lo!" bentak Rayhan.
"Ray. Udah, Ray. Lo dengar dulu penjelasan Agas," pinta Raka sambil mengunci pinggang Rayhan dan menariknya ke belakang.
"Lo mau jadi jagoan, heh? Boleh, kebetulan gue juga lagi 'on'," ujar Ghaisan sambil melepas jaketnya dan dilempar asal.
"Agas. Jangan, Gas!" cegah Raka yang terpaksa melepaskan kuncian tangannya pada pinggang Rayhan karena Rayhan memaksa.
"Berani lo, sama gue?" geram Rayhan sambil kembali melayangkan pukulan ke arah Ghaisan, namun mampu dihindari. Ghaisan yang menangkis ukulan Rayhan balik memukul sekuat tenaga dan pergulatan pun tak terhindarkan.
"Lo nggak tahu apa-apa dan main hajar aja, heh? Lo pikir gue bakal diam? Lo salah, Bro." Ujarnya di sela perkelahian mereka. Ghaisan kembali mengerahkan tinjunya yang langsung ditangkis Rayhan yang balik meninju wajahnya.
"Lo juga salah kalau berfikir gue bakalan diam. Berani lo nyakitin Nisa, persahabatan kita, end." Rayhan yangs edang menarik bagian depan kaos Ghaisan membulatkan matanya seakan mengintimidasi lawannya.
"Udah! Cukup!" pekik Raka sambil memisahkan kedua sahabatnya dengan susah payah.
"Please, jangan berantem di rumah gue! Kalau nyokap gue tahu, kalian bakal dilaporin ke polisi. Mau lo pada di penjara, hah?"
Rayhan dan Ghaisan yang mendengar ucapan Raka langsung terdiam dengan sorot mata yang ingin saling menerkam.
"Kita omongin biak-baik, oke? Lo salah paham, Ray. Dan lo, Agas, nggak usah diladenin juga," ujar Raka seakan meminta pengertian pada Ghaisan yang kemudian membuang muka.
"Ayo, kita omongin di dalam. Kita beresin hari ini juga," tegas Raka.
Rayhan dan Ghaisan mengikuti langkah Raka. Saat mereka tanpa sengaja bersentuhan, keduanya langsung memasang ancang-ancang siap menyerang. Raka sampai menggeleng dan membentak keduanya. Meksipun sudah merasa sakit akibat perkelahian mereka tadi, tetap saja mereka masih terlihat kesal karena belum benar-benar menuntaskan amarah yang sudah sampai ke ujung kepala.
_bersambung_
__ADS_1