Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
gagal


__ADS_3

Happy reading ....


Dari dalam mobil yang terparkir di pelataran sebuah restoran fastfood, Rida menatap Sandy dan Raydita yang tengah menikmati makan siang mereka. Keduanya terlihat akrab sembari sesekali diselingi tawa.


Tok ... tok. Juru parkir mengetuk pintu mobilnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Rida heran sambil membuka kaca mobil.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Tanyanya menawarkan diri.


Awalnya Rida merasa bingung, namun kemudian mengerti maksud pertanyaan itu.


"Saya mau drive thru aja," sahut Rida.


Juru parkir itu mengangguk dan mempersilakan dengan gerakan tangan. Rupanya, ia menghampiri mobil Rida karena heran melihat pemilik mobil tak juga turun setelah lama berada di sana.


Sekilas Rida menoleh pada dua orang yang sedari tadi diperhatikannya. Kemudian berlalu untuk memesan makan siang.


Sementara itu di dalam resto, ponsel Raydita berkali-kali berdering. Sandy dapat melihat ekspresi putri Adisurya itu tak nyaman dan memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa nggak diangkat? Memangnya siapa?"


"Mama, Om." Sahutnya dengan senyuman kecut.


"Rianti? Kok nggak diangkat?" Sandy hendak mengambil ponsel Raydita, berniat untuk berbicara sekaligus memberi penjelasan pada Rianti. Namun sayang, Raydita cepat-cepat menjauhkan ponselnya dan bicara sendiri pada sang mama.


"Iya, Ma. Maaf, tadi ponselnya Dita tinggal ke toilet." Dustanya.


Mendengar hal itu, Sandy mengerutkan kening lalu menyeringai tipis.


"Kamu dimana?" Suara Rianti terdengar ketus.


"Dita lagi di McD sama teman, Ma." Sahutnya.


"Pulang. Mama tidak mau mendengar alasan apapun juga. Sharelock sekarang juga. Mama akan suruh orang untuk jemput kamu."


Raydita tertegun sesaat menyadari panggilannya diakhiri. Dengan wajah yang sendu, ia mengirim pesan pada mamanya. Raydita pun memasukkan ponselnya ke dalam saku tas.


"Kenapa bohong sama mama kamu? Dan ... teman? Kamu menganggap Om ini teman?" tanya Sandy setengah menggoda.


"Mama nggak suka Dita dekat-dekat sama orang yang usianya lebih tua, Om. Apalagi laki-laki. Memangnya Om mau Dita anggap apa? Om kan teman mama dan papa, jadi ya teman Dita juga kan?" sahut Dita pelan.


Sandy menatap lekat pada Raydita yang kembali menyuapkan makanan dengan senyum menyeringai. Dalam hati ia bergumam, "Pintar bohong kamu ya. Heh, kenapa nggak bilang aja Rianti nggak suka kamu dekat-dekat sama aku. Hehe ...."

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Raydita melihat seorang pria berbadan tegap memasuki resto itu. Dia adalah Leo, orang suruhan Rianti yang sudah sering mendampinginya.


"Dita pulang sekarang ya, Om." Pamitnya.


"Oke kalau kamu pulang sekarang." Sandy bersiap akan beranjak dari kursi.


"Nggak usah diantar, Om. Dita udah ada yang jemput," ujar Raydita dengan gerakan tangannya.


Sandy menoleh dan terkesiap melihat pria kekar yang nampak sangar itu membungkuk hormat pada Raydita. Pria itu membawakan tas Raydita dan melirik tajam padanya.


"Terima kasih ya, Om. Permisi ...."


"I-iya, sama-sama. Hati-hati di jalan." Sahutnya kikuk.


Tatapan Sandy mengikuti setiap langkah Raydita sampai ke dalam mobil pria yang menjemutnya. Ia nampak gusar menyadari tak semudah itu menjalankan rencananya.


***


Di dalam kamarnya, Rianti merasa geram dengan apa yang terjadi. Menurut pengakuan Annisa dan Mang Asep, Raydita pergi bersama kedua sahabatnya. Tapi apa ini? Rianti mendapatkan pesan video dari salah satu sahabat Raydita.


Mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Rianti segera melihat dari balkon kamar. Setelah Raydita masuk ke dalam rumah, mobil itu meninggalkan kediaman Adisurya.


Mang Asep yang melihat Raydita pulang diantar Leo menatap penuh tanya. Ia menatap ke atas balkon dan langsung tertunduk saat menyadari Rianti sedang melihat ke arahnya.


Suara klakson motor Raka mengagetkan Mang Asep. Rayhan yang turun dari motor itu menautkan alis melihat Mang Asep yang mengelus dada.


"Ka, masuk dulu yuk! Gue mau mandi dulu, gerah," ujar Rayhan yang langsung diangguki Raka.


"Agas tadi bilang jam berapa ketemu di sana?" tanya Raka.


"Jam 4. Dia mau ke klinik nyokapnya dulu. Lo nggak pulang kan? Pakai baju gue aja."


"Boleh. Gue malas pulang, nggak ada siapa-siapa di rumah. Lo sih enak, ada nyokap," sahut Raka.


"Nyokap gue kan nggak kerja. Ya pasti ada di rumah laah."


Keduanya pun masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar Rayhan. Saat Rayhan sedang mandi, Raka tiduran di sofa yang ada di kamar itu sambil memainkan ponselnya.


Keningnya berkerut mendengar ada suara dua orang yang sedang berdebat di kamar sebelah.


"Dita lagi sama siapa?" Gumamnya. Perlahan Raka bangkit dari sofa dan berjalan ke luar kamar. Di depan pintu kamar Raydita, ia mencoba menguping perdebatan yang terjadi di dalam.

__ADS_1


"Mama udah nggak sayang Dita. Sekarang mama lebih sayang sama Nisa," protes Raydita dengan suara meninggi.


"Kok jadi bawa-bawa Nisa? Mama tanya, kenapa kamu berbohong? Jelas-jelas kamu jalan sama Sandy. Nggak ada hubungannya dengan Nisa," sanggah Rianti.


"Memangnya kenapa kalau Dita jalan sama Om Sandy? Dia kan papanya Kak Raka. Om Sandy orangnya baik, Ma."


"Mama nggak suka, titik," tegas Rianti.


Mendengar nama papanya disebut, Raka tertegun. Namun cepat-cepat kembali ke kamar Rayhan. Tak lama, terdengar suara pintu kamar yang ditutup kasar.


"Papa sama Dita? Kok bisa?" gumam Raka bingung.


"Woy! Kenapa Lo?" tanya Rayhan dari ambang pintu kamar mandi.


"Nggak kenapa-napa. Ray, gue minta minum dong."


"Oh iya, lupa. Ke bawah yuk!"


Dengan cueknya Rayhan yang hanya mengenakan celana boxer menuruni tangga sambil mengeringkan rambutnya. Mereka menuju ruang makan.


Rayhan menawarkan minuman dingin pada sahabatnya itu. Ia masih merasa heran dengan Raka yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Dari arah tangga, Raydita menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Rayhan dan Raka saling menatap penuh tanya saat melihat Raydita memasuki kamar Annisa.


Suara pintu kamar itu ditutup kasar. Rayhan berjalan menuju kamar Annisa, Raka mengikuti di belakangnya.


"Dita, ada apa?" Annisa menatap heran pada Raydita yang masuk tiba-tiba.


"Dasar tukang ngadu," geram Raydita sembari tangannya bergerak cepat menyambar rambut Annisa.


"Aww. Aaw! Sakit, Dita. Lepaskan," pekik Annisa pelan sambil mencoba melepaskan tangan Raydita dari rambutnya.


Mendengar suara pintu ada yang membuka, cepat-cepat Raydita melepaskan cengkramannya. Ia menoleh dan langsung menghampiri Rayhan dengan raut wajah mengiba.


"Kak Ehan, Nisa ngaduin aku ke mama. Aku kan tadi pagi sakit perut, jadi lama di toilet. Tapi Nisa bilang ke mama, aku bolos satu mata pelajaran dengan sengaja. Dita dimarahin mama, Kak." Rengeknya sembari melingkarkan tangannya di lengan Rayhan.


"Enggak, Kak. Nisa nggak bilang begitu," sanggah Nisa cepat.


"Dia bohong, Kak. Buktinya tadi mama marahin Dita habis-habisan," ujar Dita manja.


Rayhan menatap heran kedua adiknya bergantian. Ia bingung harus bersikap bagaimana sekarang.

__ADS_1


Tak hanya Rayhan, Raka juga merasa bingung dengan apa yang baru saja ia dengar. Dalam hati Raka bertanya-tanya, "Kenapa Si Dita menyalahkan Nisa? Jelas-jelas bukan karena itu tadi Tante Rianti memarahinya."


_bersambung_


__ADS_2