Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
taruhan yang dibatalkan


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Keributan di kantin tentunya jadi hot issue yang terdengar hampir ke setiap penjuru sekolah, tak terkecuali Raydita. Tasya dengan semangatnya menceritakan kejadian di kantin pada kedua sahabatnya.


Raydita mendengarkan dengan seksama. Senyuman miring terukir di wajahnya. Ujung matanya mendelik saat melihat Annisa bersama Isti masuk ke dalam kelas.


Nisa memakai hoodie Kak Ehan, batin Raydita. Ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Annisa. Raut wajahnya memperlihatkan rasa iba saat bertanya, "Kamu nggak apa-apa kan, Nisa?"


"Aku nggak apa-apa, Dita. Terima kasih," sahut Annisa pelan.


"Sorry, tadi aku nggak ada di sana. Coba aja kalau aku ada, udah kubejek-bejek tuh si Bella," geram Raydita.


"Untung ada Kak Ray," timpal Isti bangga.


Raydita tersenyum tipis, lalu melangkah menjauhi Annisa dan Isti.


***


Mentari semakin terik, jam tangan yang dilihat berkali-kali juga menunjukkan sudah lewat tengah hari. Di dalam mobilnya, Rida masih setia menunggu Raydita pulang sekolah. Sesekali ia menoleh pada paperbag yang diletakkan di kursi samping. Rida sudah tak sabar memberikannya pada Raydita.


Hatinya bersorak ketika melihat security mulai membuka pintu gerbang sekolah. Dengan seksama Rida memperhatikan satu persatu siswi yang keluar dari sana.


Rida terkesiap melihat sosok Raydita. Dadanya terasa berdegup kencang dan seketika membuat tangan dan kakinya gemetar. Butuh keberanian ekstra untuk melangkahkan kaki mendekati Raydita.


Sementara itu di sisi lain, Ghaisan berlari mengejar Annisa yang berada jauh di depannya. Nafasnya terengah saat sampai di dekat Annisa.


"Nisa. Sebentar, Nis. A-aku mau ngomong sama kamu." Ujarnya.

__ADS_1


Kak Agas mau apalagi sih? Apa nggak cukup masalah yang dia buat tadi, batin Annisa.


"Kak, lain kali aja ya. Nggak enak sama yang lain," sahut Annisa yang merasa risih dengan tatapan siswa lain padanya.


"Gue ke rumah ya," ujar Ghaisan.


"Nggak usah, Kak. Nanti ibu marah," ucap Annisa sembari tersenyum masam.


"Oke deh, lain kali aja. Bye, hati-hati ya." Ghaisan mencoba mengerti posisi Annisa. Ia tidak mau Annisa mendapat masalah di rumah.


Annisa mengangguk pelan, dan melangkah menuju ke mobil. Begitu juga dengan Raydita yang melambaikan tangan pada Ghaisan.


Rida harus kecewa, ada Ghaisan di sana. Ia tak mungkin menghampiri Raydita apalagi memberikan hadiah. Setelah Ghaisan kembali ke dalam area sekolah, Rida pun mengikuti laju mobil yang membawa putrinya.


Ghaisan dan kedua sahabatnya selalu meluangkan waktu bermain basket setiap kali pulang sekolah. Mereka belum ingin pulang jika seragam yang dikenakan tidak basah oleh keringat.


"Ray, taruhan kita masih berlaku nggak?" tanya Ghaisan.


"Hehe jangan bilang Lo mau nagih, karena tadi Lo udah akuin Nisa di depan anak-anak. Siap-siap Ray, mobil Lo bakal berpindah tangan, hahaha." Raka tergelak senang.


"Nggak ah, apaan? Yang ada Lo bikin masalah buat Nisa," sahut Rayhan sambil melempar bola pada Raka.


"Yaa kok gitu, Ray?" protes Raka.


"Suka-suka gue. Lo nggak sadarkan apa akibat dari sikap b*go Lo itu. Panjang urusannya kalau sama Si Bella," ujar Rayhan kesal.


"Gue beneran suka sama Nisa, Ray," aku Ghaisan.


"Whats!" pekik Raka.

__ADS_1


"Heh, gue nggak percaya. Taruhan kita batal. Gue nggak mau satupun diantara kalian jadi pacarnya Nisa. Ngerti?" Rayhan masih terlihat kesal.


Rayhan memutar badan dan hendak mengambil tasnya. Namun tiba-tiba ... bugh!


Bola yang dilemparkan Ghaisan mengenai punggung Rayhan hingga membuatnya terhuyung.


"Gas! Lo apa-apaan sih?" Raka mendorong pundak Ghaisan dan membuatnya hampir terjatuh. Namun tatapan Ghaisan bukan tertuju pada Raka, melainkan pada Rayhan yang sedang mendekatinya.


"Lo suka kan Ray sama Nisa?" tanya Ghaisan datar.


"Apa? Lo marah sama gue karena berfikir gue suka sama Nisa? Dengar ya, gue sayang sama Nisa. Tapi sebagai kakak, bukan yang lain," tegas Rayhan.


"Bohong. Kakak apaan? Lo itu munafik. Kalau suka ya suka aja. Apa maksud Lo ngelarang kita deketin Nisa? Itu karena Lo suka sama dia kan? Gue nggak minat sama mobil Lo. Gue bakal jadiin dia cewek gue. Terus Lo mau apa?"


Rayhan menyeringai mendengar ucapan Ghaisan. Sementara Raka setengah tak percaya mendengarnya dan bergumam, "Beneran mab*k ini anak."


"Lo beneran suka sama Nisa? Terus apa Lo pikir Nisa juga suka sama Lo? Oke, silahkan. Tapi dengan catatan, Lo harus buat dia benar-benar suka sama Lo. Baru Lo boleh jadiin dia cewek Lo, ngerti? Awas, kalau sampai Lo berani nyakitin Nisa." Tatapan Rayhan yang tajam tertuju pada Ghaisan yang juga menatapnya.


Rayhan mengambil tasnya dan berlalu dengan langkah yang lebar. Ia tidak menghiraukan suara Raka yang berkali-kali memanggilnya.


"Gue juga pulang," pamit Ghaisan sambil membuang bola yang ia pungut ke tengah lapangan. Setelah mengambil tas, Ghaisan berlalu dari tempat itu.


"Agas! Tungguin gue!" seru Raka yang berlari kecil menyusul langkah cepat Ghaisan.


Sebuah seringaian terukir di wajah seorang siswi yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pohon besar di dekat lapangan. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Raka yang berusaha membujuk Ghaisan.


"Ooh, jadi semua berawal dari taruhan. Hmm ...." Gumamnya sambil tersenyum miring.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2