
Happy reading ...
"Nisa, kenapa duduk di bawah, Nak?"
"Tempatnya memang di situ, Mas. Memangnya mau di mana lagi?" sahut Rianti yang mulai merasa jengah.
Raydita kembali mengarahkan ponsel pada dirinya. Gadis itu berceloteh tanpa memperdulikan raut wajah papanya yang tak sesenang tadi.
Dalam diamnya, Rianti memperhatikan wajah Annisa. Ia merasa wajah itu sangat familiar di matanya.
"Apa-apaan ini. Kenapa aku merasa anak udik ini mirip denganku?" Batinnya. Cepat-cepat ia menepis perasaan itu. Rianti pun menurunkan kedua kakinya.
"Awas. Disuruh gitu aja nggak bisa. Dasar manja." Gerutunya. Rianti berlalu menuju tangga. Annisa yang merasa keberadaannya tak diperlukan lagi, berniat akan kembali ke kamarnya.
"Eh, kamu. Mau ke mana? Ikut ke kamar saya."
Annisa membalikkan badan, berjalan mengarah ke tangga.
"Upik abu, ambilin gue air."
Annisa kembali ke ruang makan dan membawakan segelas air untuk Raydita. Ia membungkuk sambil menyodorkan gelas itu. Namun siapa sangka, Raydita yang hendak bangkit dari rebahan menyenggol gelas itu dan membasahinya sedikit.
"Ish! Kamu sengaja ya?" Bentaknya.
"Enggak. Kan kamu yang menyenggolnya, Dit," ucap Nisa membela diri.
"Kamu itu bodoh atau apa? Taruh di meja." Bentaknya lagi.
Dari arah tangga, Rianti membuang kasar napasnya. Ia benar-benar merasa kesal dan kembali menuruni tangga dengan tangan yang terkepal.
"Mama," rengek Raydita.
Dengan hati yang diliputi rasa kesal, Rianti mengambil gelas itu dan menyiramkan airnya ke wajah Annisa. Raydita nampak terkejut, apalagi Annisa.
Dengan angkuhnya, Rianti berlalu begitu saja. Raydita yang masih tak percaya dengan sikap mamanya, mengekor dibelakang sambil sesekali menoleh pada Annisa.
__ADS_1
Annisa mengusap wajahnya sambil tertunduk. Hari ini, ini kedua kalinya ia mengalami hal serupa. Namun bila harus jujur, ia merasa sakit di bagian dada saat mendapat perlakuan itu dari wanita yang diketahui sebagai ibunya.
Dengan lesu Annisa berlalu ke luar, mencari lap untuk mengelap sisa air yang membasahi lantai. Dengan perasaan yang terasa sesak, ia membungkuk mengelap lantai.
Tanpa disadarinya, Rayhan memperhatikan dari atas. Putra Adisurya itu melihat semua kejadian dari awal. Tadi, ia kembali ke kamar saat mamanya berjalan menuju tangga.
Ada perasaan iba di hati Rayhan. Ia menoleh pada pintu kamar mamanya dan kembali menoleh pada Annisa yang kini berlalu ke belakang.
Di tempat lain, Adisurya merasa hilang semangat setelah melihat perlakuan Rianti pada Annisa. Walau ia tahu seperti apa wanita yang dinikahinya itu, namun melihat sikapnya pada Annisa membuat Adisurya terluka.
Tadi Adisurya melihat rekaman cctv rumahnya. Ia tidak menyangka semua itu terjadi saat baru satu hari ia meninggalkan rumah. Adisurya kembali melihat layar ponselnya dan menghubungi Heru yang masih berada di acara itu.
"Heru, kita pulang besok pagi." Ujarnya.
"Baik, Tuan."
Heru menutup panggilan, ia bergegas meninggalkan ruangan. Jika tuannya meminta pulang esok, itu artinya sisa pekerjaannya harus selesai malam ini.
***
Di salah satu club, Sandy menikmati malam bersama sekretarisnya yang cantik. Wanita itu tanpa ragu terduduk di pangkuan Sandy sambil menyesap minumannya.
Tanpa sengaja, ujung mata Sandy menangkap sosok Rida. Wanita itu baru saja masuk dan terlihat cantik dengan senyum terukir di wajahnya.
"Turun." Ucapnya datar.
"Turun, Tuan?"
"Iya, turun. Kau lihat wanita yang baru datang itu? Dia lebih menggoda dari pada dirimu." Desisnya.
Dengan kesal wanita itu turun, tangannya mengepal melihat Sandy menghampiri wanita lain yang tak kalah seksi dari dirinya.
"Sendiri?" Rida yang baru saja terduduk dan memesan minuman dikejutkan oleh pria yang menghampirinya.
"Pak tua itu pasti sudah tidur. Kalau tidak, aku yakin kamu tidak akan ada di sini. Apa pelayananmu masih sama seperti dulu? Kalau masih sama, aku mau." Bisiknya.
__ADS_1
"Heh. Maaf, aku tidak tertarik pada pria sepertimu," ujar Rida malas.
"Benarkah? Aku menawarkan diri hanya karena kasihan padamu yang tidak terpuaskan oleh pria tua itu."
"Sok tahu. Meski dia tidak bisa memuaskanku di ranjang, dia bisa memuaskanku dengan uangnya."
"Hahah, uang. Aku juga punya."
"Aku bukan lagi anak SMA yang terpikat hanya karena satu kartu ATM yang saldonya tak seberapa," ujar Rida dengan tatapan menajam.
"Aku juga bukan lagi pria dengan hanya satu ATM di dompetnya. Kalau kau mau kembali padaku, aku pastikan kau tidak akan menyesal. Ngomong-ngomong soal uang, Adisurya lebih kaya dari tua bangka itu. Kenapa kau tidak menggodanya? Aku yakin dia bisa memberimu dua hal yang sangat kau inginkan itu."
"Apa maksudmu? Aku ini sudah berpengalaman. Dengan sekali melihat, aku tahu mana pria yang matanya jelalatan dan mana yang tidak. Dan Adisurya bukan pria yang nakal. Dia pria bertanggung jawab terhadap keluarganya," tutur Rida.
Mendengar Rida juga memuji Adisurya, membuat Sandy merasa semakin geram saja.
"Bagaimana kalau aku menantang wanita penggoda sepertimu untuk merayunya. Seorang pawang dikatakan berpengalaman jika bisa menenangkan singa yang garang. Sebaliknya, seorang j*lang dikatakan berpengalaman jika bisa membuat pria pendiam menjadi garang. Aku betulkan?"
"Aku tidak mau. Tidak pada Adisurya," desis Rida.
"Heh. Kalau begitu, kau tak ubahnya j*lang murahan yang bisa dimiliki siapa saja."
"Laki-laki sialan. Aku memang seorang j*lang. Tapi aku tidak akan merusak rumah tangga pria baik seperti Adisurya. Apalagi hanya karena provikasi orang sepertimu. Laki-laki tidak bertanggung jawab sudah mencampakkanku."
"Hoo, jadi kau masih mengingat masa lalu kita. Aku bukan tidak mau bertanggung jawab. Hanya saja aku tidak yakin jika anak yang kau kandung itu benar anakku. Bagaimana kalau ternyata bukan? Apa kau pikir aku akan meninggalkan anak istriku demi kau yang mengandung anak pria lain? Tidak, untuk saat itu. Tapi sekarang, aku mungkin bisa bersamamu. Tidak perduli dengan statusmu. Istri orang ataupun j*lang orang. Ibu satu anak, dua anak, atau banyak anak sekalipun, aku tidak perduli. Karena aku mulai terobsesi dengan tubuhmu lagi. Kau juga menginginkanku. Aku bisa lihat itu dari sorot matamu."
Rida menatap tajam dengan tangan mencengkram kuat pada gelas yang dipegangnya. Dengan perasaan kesal, ia berlalu meninggalkan tempat itu.
Namun langkahnya terhenti oleh tarikan tangan Sandy.
Pria itu menarik paksa dirinya untuk mengikuti ke lantai dua tempat itu.
"Lepas!" geram Rida.
"Aku berikan berapapun yang kau mau. Asalkan malam ini kau tidur denganku," desis Sandy dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Pria itu menarik paksa tanpa perduli tatapan orang-orang yang memperhatikannya.
__ADS_1
_bersambung_