Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ngobrol di teras


__ADS_3

Happy reading ....


*


Di kediamana Adisurya tepatnya di teras depan, Rianti menyajikan segelas jus untuk sang suami. Ia juga meletakan salad buah miliknya di atas meja.


Pasangan suami-istri itu menikmati sisa siang sembari memperhatikan Asep dan beberapa pekerja taman yang sedang mempercantik halaman depan rumah mereka.


Sesekali terdengar suara Adisurya yang ikut nimbrung perbincangan para pekerja itu, atau sekedar memberikan intruksi. Tak jarang Adisurya meminta pendapat Rianti tentang apa dan bagaimana halaman mereka ditata.


"Mas."


"Hmmm. Apa?" Adisurya menoleh pada Rianti.


"Mas tahu 'kan, Dita ke lapas untuk menjenguk Sandy?" tanya Rianti seraya mengangkat mangkuk berisi salad buah dan mulai menyendoknya.


"Tahu. Memangnya kenapa?" Adisurya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Sandy sudah mendapatkan hukuman yang pantas dia dapatkan. Kalau Dita mulai membuka hati untuk dia, tidak apa. Sebagai orang tua, kita harus senang melihat Dita sudah berdamai dengan dirinya, dan mau menerima sepenuhnya masa lalu Rida dengan Sandy. Dengan begitu, Dita akan lebih tenang menjalani lembaran baru dalam kehidupannya dengan Yuda. Hehehe, nggak nyangka ternyata Yuda membawa pengaruh positif juga buat Dita," imbuh Adisurya yang diakhiri dengan kekehan ringan.


"Semoga saja Yuda tidak mengecewakan kita ya, Mas. Oh iya, nanti yang jadi wali nikah Dita siapa? Nggak mungkin Sandy, 'kan?" tanya Rianti lagi.


"Ya enggaklah, Sayang. Kita bilang aja yang sejujurnya pada pihak KUA. Biar nanti mereka yang menyediakan wali hakim untuk Dita."


"Tapi nanti kalau media tahu yang sebenarnya gimana?"


Adisurya menoleh pada Rianti seraya tersenyum tipis.


"Kok malah senyum? Pastiin dong, jangan sampai orang dari KUA ada yang membocorkan kebenaran tentang Dita ke orang luar. Cukup dengan mereka tahu, bahwa almarhumah Rida ditinggalkan suaminya saat sedang mengandung Dita. Udah gitu aja," tegas Rianti.


"Iya. Nanti aku akan memastikannya," ujar Adisurya.


Terdengar bunyi klakson di luar gerbang, dan Asep pun bergegas untuk membukanya.


"Eh, itu Nisa pulang. Tumben jam segini? Apa dia nggak ke yayasan dulu?" tanya Adisurya pelan seraya tersenyum lebar, lalu beranjak dari kursi untuk menyambut Annisa.


"Assalamu'alaikum ...," ucap Annisa sesaat setelah ia membuka pintu mobil, dan menutupnya.


"Wa'alaikumsalam, Sayang," sahut Adisurya sembari membuka lebar satu tangannya. Tak hanya Adisurya, Asep juga menjawab salam Annisa dengan suara pelan.


Annisa tersenyum tipis pada Asep, kemudian menghampiri Adisurya. Dengan raut wajah malu-malu, Annisa memeluk Adisurya di sebelah kanan setelah mencium punggung tangannya.


"Nggak ke yayasan?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak, Yah. InsyaAllah besok," sahut Annisa. Ayah dan anak itu berjalan mendekati Rianti sembari saling merengkuh.


"Udah makan, Nis?" tanya Rianti saat Annisa menyalaminya.


"Sudah, Bu." Annisa refleks mengucap bacaan basmalah, lalu membuka mulutnya mengetahui Rianti menyendok salad dan diarahkan pada mulutnya.


"Hmmm enak," gumamnya sembari mengunyah.


"Duduk dong, Sayang," titah Rianti.


Annisa mengangguk pelan, lalu menarik kursi di samping Rianti. Bersamaan dengan itu, ponsel Annisa berdering. Setelah duduk dan kembali mendapat suapan dari ibunya, Annisa merogoh ponsel dari dalam tas yang ia letakkan di atas meja.


"Siapa?" tanya Rianti pelan.


"Kak Agas. Nisa angkat dulu ya, Bu." Rianti menganggukinya.


"Assalamu'alaikum, Kak," ucap Annisa.


"Wa'alaikumsalam, Cintaku. Lagi apa, Sayang? Udah makan?" Annisa tersenyum dengan wajah yang merona.


"Sudah. Kak Agas kok nelpon jam segini? Memangnya nggak tidur?" tanya Annisa bernada mesra. Adisurya dan Rianti menyunggingkan senyum mendengarnya. Dan hal itu membuat Annisa semakin malu saja.


"Aku lagi di UGD, Sayang. Kebetulan lagi istirahat dulu, jadi nelpon kamu deh biar nggak ngantuk. Sepulang dari sini baru bisa tidur," sahut Ghaisan yang tak kalah mesranya.


"Siap, Sayang."


"Agas," panggil Adisurya.


"Kak. Ayah mau bicara. Nisa ke ayahin ya."


"Oke."


Annisa pun memberikan ponselnya pada Adisurya. Namun Adisurya menolak dan justru menekan tombol speaker di ponsel Annisa.


"Good morning, Pa," sapa Ghaisan.


"Di sini sore, Gas," timpal Rianti.


"Hehe iya."


"Jaga kesehatan, Gas. Kamu pulang 'kan nanti nikahan Dita?" tanya Adisurya.

__ADS_1


"Ya pulang dong, Pa. Masa iya nggak pulang? Kalau nggak pulang, disusul sama Nisa," protes Rianti.


"Papa kira mau disusul mama. Eh, ternyata Nisa," seloroh Adisurya.


"Emang boleh mama nyusul Agas?" tanya Rianti dengan mimik menggoda.


"Boleh. Sama Nisa, sama papa juga," sahut Adisurya.


"Yee, itu sih bukan nyusul. Tapi ngelabrak," delik Rianti manja yang disambut kekehan Adisurya dan Annisa. Tak hanya mereka berdua, kekehan ringan juga terdengar di ponsel Annisa.


"Intinya kamu harus jaga kesehatan ya, Gas. Jangan mentang-mentang dokter, lalu abai sama kesehatan sendiri. Ingat, ada anak gadis papa lagi nungguin kamu di sini," pesan Adisurya.


"Iya, Pa," sahut Ghaisan. Nada suaranya terdengar haru. Annisa mengaulumkan senyum menyadari hal itu.


"Agas. Isti udah dihalalin Ehan. DIta juga sebentar lagi nyusul Isti. Kamu kapan mau ngehalalin Nisa?" tanya Rianti sembari melirik Annisa.


"Insya Allah menyusul, Ma," sahut Ghaisan.


"Iya. Mama tahu. Yang terpenting buat mama, kamu jangan mengecewakan Nisa. Mama nggak rela loh kalau sampai kalian nggak jadi," ucap Rianti pelan.


"Agas lebih nggak rela, Ma. Kalau Nisanya mau, hari ini juga Agas akan pulang untuk menikahi Nisa. Kalau resepsi 'kan bisa nyusul, yang penting sah dulu," ujar Ghaisan.


"Tuh, dengar Nisa. Mau nggak? Atau sekalian bareng sama Dita?" tanya Rianti.


"Ma." Adisurya menegur Rianti dengan mimik wajahnya yang datar sembari menggelengkan kepala.


"Agas, ngobrol lagi sama Nisa ya. Mama mau ngabisin salad nih," pungkas Rianti.


"Oke, Ma."


Rianti mematikan speaker di ponsel Annisa. Annisa pun meminta izin bicara di kamarnya.


Rianti mengikuti langkah Annisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah memastikan Annisa sudah jauh dari mereka, ia pun bertanya, "Kok papa nggak mau Nisa cepat-cepat nikah sih? Pendidikan Nisa 'kan bisa diteruskan di sana. Atau Agas yang ngalah nerusin di sini."


"Ma. Udah deh. Biarkan anak-anak yang memutuskan. Kalau papa boleh jujur, papa ingin menikmati kebersamaan dengan Nisa sepuas-puasnya. 15 tahun kita melewatkan hari-hari tanpa Nisa. Untuk mengisi kekosongan itu, rasanya tidak akan cukup hanya dengan lima atau sepuluh tahun sekalipun. Walaupun momentnya berbeda, setidaknya papa ingin bersama Nisa lebih lama. Karena kalau dia udah menikah, kita nggak bisa maksa mereka untuk tetap tinggal di sini, 'kan?"


Rianti terdiam mendengar penuturan Adisurya. Menyadari hal itu, Adisurya tersenyum tipis sembari menggenggam tangan Rianti.


"Papa ngerti kok. Mama pengen cepat punya cucu dari Nisa 'kan?" tanya Adisurya yang diangguki cepat oleh Rianti.


"Mama tidak bisa mengingat wajah Nisa sewaktu bayi, Pa. Setiap kali mama coba untuk mengingatnya, rasanya tidak sanggup. Perasaan bersalah itu tidak akan pernah hilang meskipun maaf dari Nisa sudah didapatkan. Seperti yang papa bilang barusan, kita melawatkan 15 tahun masa pertumbuhan Nisa. Dan itu juga yang membuat mama sangat ingin melihat pertumbuhan Nisa pada wujud bayi mungil cucu kita nanti," uajr Rianti seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


Rasa haru seketika menyelimuti perasaan Adisurya. Karena pada dasarnya, ia dan Rianti mempunyai pemikiran yang sama.


_bersambung_


__ADS_2