
Happy reading ...
🌿
Setelah panggilannya dengan Ghaisan berakhir, satu helaan napas dibuang kasar Rida. Wanita itu sedikit kecewa karena harus menikmati makan malam tanpa Rika dan Ghaisan, keponakannya.
Dengan malas Rida menyuapkan makanannya sambil menatap ponselnya. Kening Rida berkerut saat melihat Rika yang berfoto dengan seorang gadis remaja di status pesan chats-nya.
"Kalau nggak salah, ini salah satu dari anak-anak di resto waktu itu. Ternyata Kak Rika kenal sama dia. Anak siapa ya? Tunggu, tadi kata Agas mereka di sana sama keluarga Kak Adi. Apa dia putrinya?"
Rida pun berselancar di dunia maya. Mencari informasi tentang Adisurya. Bukanlah hal yang sulit, karena Adisurya memanglah salah satu pengusaha kaya yang cukup ternama.
"Itu artinya, Sandy juga mengenal anak Kak Adi. Tapi, bukankah dia sangat tidak menyukai Kak Adi? Jangan-jangan Sandy punya niat jelek terhadap anak itu." Gumamnya. Sekali lagi ditatapnya lekat foto itu. Ada rasa heran karena gurat wajah putri Adisurya itu agak mirip dengan kakaknya.
Rida tak sampai menghabiskan makanannya. Ia berlalu dan terduduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Tatapannya masih terfokus pada foto itu. Raydita, namanya. Entah mengapa, Rida merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya.
Tak lama terdengar suara klakson mobil di luar. Selang beberapa menit, Rika dan Ghaisan masuk ke dalam rumah.
"Hai, Tante! Lagi ngapain?"
"Nggak lagi apa-apa. Cuma nunggu kalian pulang," sahut Rida sembari tersenyum tipis.
"Sudah makan?" tanya Rika pada adiknya.
"Sudah. Kak, yang di status itu putrinya Kak Adi? Kok nggak mirip ya."
Deg. Rika tertegun sesaat. Belum sempat ia menjawab, Ghaisan menimpali ucapan tantenya.
"Iya, benar. Aku juga baru nyadar."
"Mirip Kak Rika deh," ujar Rida datar.
"Bukan mirip Mama. Justru mirip Tante," kilah Ghaisan.
"Ah masa sih? Coba tante perhatikan lagi." Rida kembali menatap lekat pada foto itu.
__ADS_1
"Benar juga. Mirip ya. Pantas aja tadi tante merasa anak ini mirip ...." Rida tidak meneruskan kalimatnya. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar saat menyadari bentuk mata dan bibir Raydita mengingatkan pada seseorang yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Aah, tidak mungkin. Rida mencoba menepis dugaan hatinya.
"Agas ke kamar dulu ya, Tante." Pamitnya.
"Iya, Sayang," sahut Rida pelan sambil menatap langkah Ghaisan yang setengah berlari saat menapaki anak tangga.
"Kok di hapus?" Gumamnya. Ternyata Rika sudah menghapus status yang dipasangnya beberapa saat yang lalu.
"Kak, kok dihapus? Aku mau lihat lagi."
"Untuk apa? Kamu sama Agas sama saja. Bisa-bisanya mengatakan Dita itu mirip Kak. Ya mirip ibu bapaknya laah," gerutu Rika sembari mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.
"Ya maaf kalau membuat kakak tersinggung. Lagian juga gampang kok kalau mau lihat fotonya. Cari aja di internet," ujar Rida yang kemudian berlalu meninggalkan Rika.
Rika terdiam, entah sedang menikmati minuman yang disesapnya, atau justru sedang merutuki diri atas kecerobohannya. Namun yang pasti, ucapan Rida dan Ghaisan mulai mengusik hati wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.
Semakin besar, anak itu memang semakin mirip Rida. Hanya berbeda dibagian mata dan bibir saja. Bagaimana ini? Bahkan Agas mulai menyadari kemiripan mereka. Batinnya merasa cemas.
Annisa senyum-senyum sendiri di kursi paling belakang. Ada rasa haru menyeruak melihat sisa kebersamaan mereka petang ini.
"Nisa, ini di atas bibir Lo kenapa?" tanya Rayhan sambil menunjuk pada bagian yang dimaksud di foto Annisa yang diperbesar olehnya.
Annisa refleks menyentuh bagian bibir atasnya. Sedangkan Raydita yang terduduk di samping Rayhan hanya tersenyum mengejek.
"Ray ...." Papa Adi mencoba menghentikan Rayhan bertanya lebih lanjut. Papa Adi tahu persis Rayhan sengaja melakukannya. Adisurya dan Rianti saling menatap sesaat dengan perasaan berdebar.
"Ini ... kata almarhumah ibu, Nisa terjatuh saat lari, Kak." Sahutnya pelan.
Adisurya dan Rianti merasa lega mendengar jawaban Annisa. Dalam hati, mereka sangat berterima kasih pada almarhumah Asih.
"Jatuh? Kok sampai segitunya?" tanya Rayhan lagi.
"Ray, udah dong. Nanti Nisa-nya malu," ujar Papa Adi.
__ADS_1
"Kenapa harus malu, Pa? Nggak kelihatan juga. Ya kecuali, kalau diperhatikan banget. Dipoles tipis pakai make-up juga tersamarkan. Lo belajar make-up deh. Biar percaya diri Lo oke. Di youtube juga banyak tutorialnya," saran Rayhan.
"Nisa kan masih sekolah, Kak. Masa iya dandan menor. Lagi pula Nisa nggak malu kok. Justru setiap melihat bekas luka ini, Nisa jadi ingat ibu." Sahutnya.
Rayhan tak mampu berkata-kata lagi. Dalam hati ia hanya bisa bergumam, "Itu bukan bekas luka Nisa. Itu bekas operasi. Lo mau aja dibohongin."
"Biarin aja begitu, Kak. Kalau ditutup make-up, yang ada nanti cowok yang suka sama dia merasa tertipu," delik Raydita.
"Tertipu, maksud Lo?"
"Gimana nggak ketipu, kalau ternyata dia ada cacat. Ya, walaupun cuma dikit sih. Tetap aja, kalau dibagian muka pasti malu-maluin," ujar Raydita sinis.
"Kalau sampai ada yang begitu, gue akan kasih dia bogeman mentah biar benjol-benjol mukanya," ujar Rayhan sembari mengangkat tangannya yang terkepal.
Kak Ehan kok jadi care banget sama si Nisa. Apa jangan-jangan Kak Ehan udah tahu kalau Nisa itu anak mama sama papa. Tapi nggak mungkin deh, batin Raydita.
Seuasana di dalam mobil kembali hening. Perhatian ketiga anak-anak itu kembali terfokus pada ponsel mereka.
Satu helaan napas dibuang perlahan oleh Raydita. Pandangannya terarah ke luar kaca menatap kosong lalu lalang kendaraan.
Rasa takut kehilangan, juga takut terabaikan, membuat perasaan Raydita tak karuan. Terlalu banyak tanya dalam benaknya, dan semua itu terasa bagai untaian benang kusut dalam hatinya. Ingin sekali berteriak, namun ia takkan mampu menjawab jika ada yang mempertanyakannya.
Tuhan, jika aku bukan anak mereka. Lalu aku anak siapa? Dimanakah orang tuaku? Haruskah aku mencari tahu? Apa salahku, hingga mereka tak menerima kehadiranku? Tuhan, aku harus bagaimana? Sampai kapan aku bisa menipu diri? Mengapa, mengapa Kau tak adil padaku? Kau berikan Annisa orang tua yang sempurna, sedangkan aku ....
"Dita. Hei, kok melamun? Ayo turun, Sayang? Kita sudah sampai," tegur Adisurya.
"Eh iya. Dita nggak melamun, Pa. Tadi Dita menahan kantuk sampai melongo nggak jelas." Sahutnya sembari turun.
"Jangan dulu tidur ya, ini masih jam delapan. Kita ngumpul di ruang keluarga," pinta Papa Adi.
"Mau ngapain, Pa?" tanya Raydita heran.
Nggak mungkin kan kalau papa mau buat pengumuman kalau Nisa itu anaknya, batin Raydita gusar.
"Ada yang mau papa katakan pada kalian. Pada kamu, Nisa dan juga Ehan. Jadi jangan dulu tidur, oke?"
__ADS_1
_bersambung_