
Dilarang baper di episode ini!!!
Tidak ada maksud lain, hanya sekedar menuangkan obrolan ala remaja pada umumnya. Terima kasih, and happy reading ...
🌿
Rayhan dan kedua adiknya juga Isti berbincang di teras yang berada di samping rumah utama. Meski awalnya terasa canggung, Raydita bisa juga berbaur dengan Annisa dan Isti. Terlebih Rayhan selalu bisa mencairkan suasana bila mulai terasa kikuk. Seperti saat ini, Raydita mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka bahwa Isti itu cucu dari Mang Dayat dan Bi Marni yang merupakan ART di keluarga Adisurya sejak lama.
Isri langsung tertunduk. Annisa merasa tak enak hati dan menggenggam tangan sahabatnya tersebut. Sedangkan Rayhan dengan santainya berucap, "Nggak apa-apa kok ya. Memangnya kenapa kalau Isti cucu pembantu, yang pentingkan nantinya dia jadi ratu. Terutama kalau dapat cowoknya seperti aku. Jiaaah hahaha, aseek." Rayhan tergelak oleh ucapannya sendiri.
Annisa terkekeh pelan mendengar kelakaran Rayhan sambil melirik pada Isti yang tersipu malu.
"Cieee, sebentar lagi banyak kupu-kupu nih di sini," sindir Annisa.
"Kok bisa?" tanya Raydita heran.
"Iya, Nis. Nggak mungkin ada kupu-kupu. Ngasal kamu," ujar Isti pelan.
"Mungkin aja, kan ada hati yang sedang berbunga-bunga," seloroh Annisa.
"Hahaha bisa aja Lo." Rayhan mengangkat tangannya mengajak Annisa ber-tos-ria. Annisa pun melakukan hal yang sama sembari bertanya, "Kok Lo lagi sih, Kak? Tadi kan udah 'aku'."
"Suka-suka gue dong," sahut Rayhan santai membuat Annisa mengerucutkan bibirnya.
Terdengar ada yang berbincang di dalam rumah, tak lama suara lantang Raka menggema. "Spada! Anybody home?"
"Di sini, Kak Raka!" sahut Annisa sambil mengangkat tangannya.
"Nggak usah tinggi-tinggi ngangkatnya," ujar Rayhan asal.
"Ish. Kak Ehan," delik Annisa sambil menutupi ketiak yang sebenarnya tertutup lengan baju yang dikenakannya.
"Lagi pada ngapain nih? Pantesan Lo nggak mau diajak hangout Ray, kalau dikelilingi cewek-cewek cantik begini sih gue juga mau," kelakar Raka yang menarik kursi di samping Rayhan. Sedangkan Ghaisan, memilih duduk di salah satu sisi teras yang menghadap ke taman.
__ADS_1
"Cewek yang cantik banyak. Tapi calon bidadari surga cuma satu di sini," sahut Rayhan sambil melirik pada Isti.
"Maksud Kak Ehan, Nisa sama Dita nggak akan masuk surga gitu?" tanya Annisa kesal.
"Iya nih, Kak Ehan kalau ngomong asal. Disiram air comberan baru tahu rasa," delik Raydita.
Isti jadi kikuk dan salah tingkah melihat ekspresi wajah Raydita dan Annisa. Sebaliknya, Rayhan justru terlihat santai tanpa merasa bersalah.
"Eh, dengar ya. Hanya wanita solehah yang masuk surga. Diantara kalian kan cuma Isti yang pake jilbab, nggak salah dong gue ngomong," sahut Rayhan dengan percaya dirinya.
"Emang yakin Lo kalau yang pakai jilbab itu solehah? Banyak kali Ray cewek nakal pakai jilbab," lontar Ghaisan.
"Memang, nggak semua cewek berjilbab itu solehah."
"Tuh kan, benar kata Agas," ujar Raka memotong pembicaraan Rayhan.
"Gue belum selesai ban*ke. Tapi menurut gue, cewek solehah pasti berjilbab. Paham nggak? Aah gue lupa otak Lo cuma lima senti," ujar Rayhan pada Raka.
Rayhan menaikkan alisnya sambil tersenyum pada Isti yang tersipu malu. Sedangkan kedua adiknya yang merasa tertohok langsung berwajah muram.
"Mendadak ustad, Lo," celetuk Ghaisan yang beranjak dari posisinya dan menoyor pelan kepala Rayhan.
"Lo nggak lagi mab*k kan, Ray?" tanya Raka.
"Gue mab*k cinta," sahut Rayhan dengan senyum konyolnya.
"Ish-ish. Gue cabut, ketularan gila kalau lama-lama di sini," ujar Raydita yang beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruang keluarga.
Annisa justru terkekeh. Ia mengerti maksud kakaknya itu. Diam-diam, Ghaisan menatap wajah Annisa. Lalu tersenyum sambil menundukkan kepala. Raka menangkap senyum itu. Ia menoleh pada Annisa yang belum mengerti arti tatapan Ghaisan padanya.
"Huft. Orang kalau lagi bucin, dunia terasa milik berdua. Gue juga cabut, jadi kambing c*nge di sini," pamit Raka.
"Huss sana," usir Rayhan sekenanya.
__ADS_1
Raka beranjak meninggalkan teras dan berjalan menuju ruang keluarga. Bukan tanpa maksud ia meninggalkan mereka. Karena Raka ingin menggunakan kesempatan ini untuk bicara dengan Raydita.
"Mau ngapain, Lo?" tanya Raydita sambil mendelik pada Raka yang duduk tidak jauh darinya.
Raka tersenyum ketir mendengar panggilan Raydita padanya sudah berubah. Jika sebelumnya Raydita memanggilnya dengan sebutan 'kak' seperti pada Ghaisan, kini tidak terdengar lagi panggilan itu.
"Dit, gue mau ngomong." Ucapan Raka menghentikan langkah Raydita yang akan meninggalkan sofa. Raydita menoleh dan menatap sinis pada Raka.
"Nggak penting. Dan Lo nggak berhak minta apapun dari gue, sekalipun itu cuma kesempatan buat ngomong. Gue masih baik sama Lo, cuma sebatas Lo teman Kak Ehan. Nggak lebih," tegas Raydita.
Raka terdiam sambil menatap kosong setiap langkah Raydita. Ia cukup mengerti posisi Raydita. Namun begitu, ia sungguh ingin bicara dengan Raydita. Karena bukan hanya Raydita yang kecewa pada situasi keluarganya saat ini, tapi juga Raka.
Raydita merasa kesal dengan cara Raka menatapnya. Meski Sandy ada diantara mereka, status Raka dan dirinya sangatlah berbeda.
Raydita menatap jengah pada ponselnya yang berbunyi. Rika yang menghubunginya.
"Ish, mau apalagi sih?" gumamnya sambil menjauhkan ponsel itu. Raydita kembali termenung. Ia pun membaringkan tubuhnya sambil mendengarkan gelak tawa yang sesekali terdengar.
Rumit sekali setiap hubungan dalam hidupnya.
Dengan Raka, ada Sandy.
Dengan Ghaisan, ada Rida.
Sedangkan dengan Rayhan dan Annisa, ada Rianti dan Adisurya.
Raydita menghela napasnya dalam-dalam. Banyaknya hubungan tak lantas membuatnya merasa senang. Karena pada kenyataannya tanpa hubungan yang suci, ia hanya seorang diri. Hanya saja, Tuhan Maha Pemurah karena memberinya kesempatan untuk bahagia. Apakah Tuhan juga memberi kesempatan yang sama pada Rida dengan kehadirannya?
Raydita menatap ragu ponsel yang sudah berhenti berdering itu. Perlahan, ia mengambil ponselnya, dan balik menghubungi Rika.
"Halo, Tante. Dimana Dita bisa bertemu dia?" tanya Raydita dengan suara yang terdengar berat.
_bersambung_
__ADS_1