Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raka


__ADS_3

Happy reading ....


*


Aura di ruang keluarga rumah Raka nampak tak bersahabat kala tiga sahabat itu mencoba untuk menyelesaikan masalah mereka. Ghaisan yang awalnya terlihat enggan karena kesal pada Rayhan, kini memperlihatkan keseriusannya saat membicarakan tekadnya melanjutkan hubungan dengan Annisa.


Rayhan yang pada dasarnya sangat mengenal Ghaisan melihat kesungguhan itu. Rayhan tak bisa berbuat banyak dan menerima saran Raka yang memintanya mendukung keputusan Ghaisan.


Ghaisan pun berpamitan pulang. Ia teringat pada ponselnya yang tertinggal di rumah. Pasti ada panggilan Annisa yang terabaikan. Ghaisan tak ingin Annisa sampai salah paham.


Sementara itu, Raka yang sedang bertukar pesan dengan Yuda mengerutkan alisnya melihat Rayhan yang sedang kesal. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya itu menyangkut Isti.


"Ck. Dia kemana sih?" tanya Rayhan menggerutu.


"Siapa, Ray? Cewek lo?" tanya Raka.


"Ya siapa lagi. Heran gue, dari pagi ponselnya nggak aktif mulu. Gimana gue nggak kesel?"


Raka hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa ada masalah ya?" gumam Rayhan.


"Siapa yang ada masalah?" tanya Raka lagi.


"Ya cewek gue, ogeb!" ujarnya kesal sambil melempar bantal sofa pada Raka.


Raka menangkap bantal itu sambil terkekeh pelan. "Lagian juga ya, lo beraninya di ponsel doang. Kalau gue jadi lo, datengin rumahnya," ujar Raka lantang.


"Iya juga ya. Hehe, pinter juga lo." Rayhan langsung bangkit dari duduknya.


"Mendadak gila lo, Ray," celetuk Raka.


"Gue sengaja pulang karena kangen. Kangen ortu, kangen adek-adek gue, kangen ngumpul sama kalian, wabil khusus ayang gue pastinya," sahut Rayhan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Bodo amat," ujar Raka yang kembali berbalas pesan dengan Yuda.


"Dasar jomlo. Betahnya sama jomlo juga. Kalo berani nyatain, jangan chat-an doang," balas Rayhan.


"Gila. Ini si Yuda," ujar Raka setengah berteriak.


"Ya kalee lo suka dia." Rayhan berlalu sambil memperlihatkan punggung tangannya yang digerakkan pada Raka.


"Idiih, sorry." Raka langsung meletakkan asal ponselnya di sofa. Raka pun beranjak menyusul Rayhan ke depan rumah tanpa menghiraukan bunyi notifikasi pada ponselnya.


Di tempat lain, Ghaisan yang baru sampai di rumah langsung masuk ke kamarnya. Hal pertama yang dicarinya adalah ponsel yang diingatnya tergeletak di atas tempat tidur. Ghaisan langsung menyambar ponsel itu. Sesuai dugaannya, baterai pada ponsel itu pasti sudah habis. Ghaisan pun cepat-cepat mencari kabel pengisi daya untuk ponselnya. Karena sudah tak sabar, Ghaisan memegangi ponselnya dan memberi waktu satu menit untuk terisi asal bisa dihidupkan.


Sambil mengisi daya, Ghaisan menghidupkan ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab yang ia terima. Terutama dari kedua sahabatnya. Juga satu panggilan tak terjawab dan pesan chat dari Annisa yang membuat Ghiasan mengernyikan keningnya.

__ADS_1


[Cukup hanya ada aku, dan kamu. Tidak perlu ada dia.]


"Maksudnya?" tanya Ghaisan bingung. Pesan Annisa seakan menyiratkan sesuatu. "Oh, No! Jangan-jangan Nisa udah tahu," pekik Ghaisan dalam hati. Tanpa pikir panjang, Ghaisan pun, menghubungi Annisa.


"Halo, Sayang! Kamu lagi di mana?" tanya Ghaisan dengan nada cemas.


"Di rumah, Kak. Memangnya kenapa?" Annisa balik bertanya di ujung ponsel Ghaisan.


"Syukurlah," celetuk Ghaisan pelan.


"Kok syukur? Memangnya ada apa?" Annisa terdengar bingung.


"Ini chat kamu maksudnya apa, Sayang? Jangan aneh-aneh deh," ujar Ghaisan yang mencoba untuk tidak berlebihan.


"Ooh, itu. Tadi waktu subuh, Nisa kebangun gara-gara mimpi yang nggak jelas, aneh aja gitu. Terus, Nisa iseng aja nulis gitu waktu chat Kak Agas tadi."


"Aneh kenapa?"


"Masa Nisa mimpiin ada cewek yang ngerebut Kak Agas dari Nisa, aneh kan? Padahal kita nggak lagi bertengkar." Ghaisan terpaku mendengar penuturan Annisa.


"Kak? Kok diam?" tanya Annisa menyadarkan keterpakuan Ghaisan.


"Hmm kayanya sih mimpi itu menyiratkan sesuatu deh, Yang." Ujarnya.


"Apa?"


"Menyiratkan kalau kamu tuh takut banget kehilangan aku. Jadi mimpinya begitu," seloroh Ghaisan.


Ghaisan terkekeh pelan sambil berkata, "Memang benar, kan? Sebenarnya, aku sih yang lebih takut kehilangan kamu."


"Hidung Nisa terbang loh, Kak."


"Serius. Aku takut banget kehilangan kamu. Yang, kalau ada yang bicara aneh dan nggak jelas, jangan langsung di ambil hati ya. Kamu tanyakan dulu sama aku. Kita bicarakan baik-baik," ujar Ghaisan.


"Kakak bicara apa sih? Memangnya apa yang mau dibicarakan?" tanya Annisa bingung.


"Pokoknya gitu deh. Kalau ada apa-apa kamu langsung tanya sama aku. Oke?"


"Iya. Kak Agas hari ini mau kemana?"


"Mmm aku ada perlu. Kenapa? Kangen ya? Nanti sore aku ke rumah kamu. Udah dulu ya, Sayang. Aku lapar nih, baru ingat kalau belum sarapan. Hehe."


"Ini kan udah mau siang, Kak? Ya udah sana makan. Jangan sampai sakit, Kak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Love you, Sayang."


"Love you too, Kak." Ghaisan tersenyum tipis mendengarnya. Setelah panggilan diakhiri, ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur.

__ADS_1


Ghaisan menatap kosong langit-langit kamarnya. Saat ini ia harus mencari cara untuk menghentikan pertunangan yang akan dilakukan lima hari lagi. Satu helaan nafas dibuangnya saat teringat ucapan Adisurya. Menyadari waktu yang dimilikinya sangat singkat, Ghaisan pun bangun dan mulai mengganti bajunya, karena baju yang dipakai saat ini milik Raka.


Setelah selesai bersiap, Ghaisan keluar kamar dan berjalan menuruni tangga, lalu menuju ruang makan. Ia pun meminta dibuatkan makanan pada pelayan. Mendengar suara heels menuruni tangga, Ghaisan menoleh. Ia tersenyum pada Rida yang juga sedang tersenyum padanya.


"Tante nggak lihat kamu tadi pagi? Tidur dimana?" tanya Rida sambil menghampiri Ghaisan.


"Di rumah Raka, Tan. Tante mau kemana?" Ghaisan balik bertanya. Ditatapnya lekat wajah sayu Rida yang bersembunyi dibalik make-up.


"Mau ke apartemen. Tante mau prepare segala sesuatunya, soalnya Dita sudah diizinkan tinggal sama tante di apartemen," sahut Rida senang.


"Tante mau tinggal sama Dita? Kok di apartemen? Di sini aja," ujar Ghaisan.


Rida tersenyum tipis, dan berkata, "Tante ingin menikmati hari-hari menjadi seorang ibu. Hanya berdua dengan Dita. Meskipun sudah terlambat, tante ingin Dita memiliki kenangan bersama tante. Hehe, norak ya?"


"Enggak. Tante kenapa bicara seperti itu? Tante harus semangat, dan yakin akan kesembuhan jika Tuhan mengizinkan." Ghaisan meraih tangan Rida seakan ingin menguatkannya.


"Dibalik pengobatan yang sedang tante jalani sekarang, tante sudah pasrah pada takdir Tuhan. Tante sudah sangat bersyukur, Tuhan mengizinkan tante menikmati akhir yang bahagia. Terima kasih, Sayang. Kamu juga harus bahagia. Tidak perduli sesulit apapun rintangannya, kalau kamu yakin itu kebahagiaanmu, raihlah. Jika perlu, kejarlah kebahagiaan itu dan yakinlah semua akan indah pada waktunya," tutur Rida.


"Iya, Tante. Thanks. Tante sudah sarapan?" tanya Ghaisan saat pelayan datang membawakan makananannya.


"Udah dong, pagi banget. Tante kan harus minum obat. Tante pergi dulu ya," ujar Rida.


"Agas antar, Tante." Ghaisan hendak beranjak dari duduknya, tapi Rida langsung mencegah.


"Nggak usah. Tante punya supir pribadi," ujar Rida sambil mengulumkan senyum.


"Supir pribadi? Ooh. Lho, kok?" Ghaisan melongo saat melihat Raka menyembul dari pintu utama. Awalnya ia mengira yang dimaksud supir pribadi oleh Rida adalah supir Rika.


"Hai, Bro! Ketemu lagi kita," seloroh Raka.


"Bosen gue, Ka. Lo lagi, lo lagi," canda Ghaisan.


"Jangan bosen dong. Muka gue kan nggak ngebosenin. Lo baru makan?" tanya Raka menghampiri. Raka juga bertanya pada Rida, "Udah siap, Tante?"


"Udah. Mau ngobrol dulu sama Agas?" tanya Rida.


"Enggak. Tadi kita udah ngobrol panjang kali lebar kok di rumah," sahut Raka sambil mengambil sendok yang tersedia di meja dan menyendok makanan dari piring Ghaisan lalu disuapkan ke mulutnya.


"Sekarang, Tante?" tanyanya dan diangguki Rida. "Oke, siap. Lo baca chat gue ya," pesan Raka pada Ghaisan.


"Chat apaan?" tanya Ghaisan heran dan langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Sekilas Ghaisan tersenyum miring saat membaca pesan yang dikirimkan Raka.


"Thanks, Ka!" serunya.


Ghaisan tersenyum lebar pada Raka yang mengacungkan ibu jari sebelum keluar dari rumahnya.


"Oke. Semoga ini bisa jadi solusi," gumam Ghaisan yang kembali membaca pesan Raka tersebut.

__ADS_1


Ghaisan menoleh pada kaca jendela ruang tamu yang terlihat dari posisinya saat ini. Timbul tanya dalam benak Ghaisan, bukankah Rida ingin menikmati kebersamaan hanya berdua dengan Raydita? Lalu mengapa Raka ada diantara mereka berdua? Apa Rida bermaksud menitipkan Raydita pada Raka?


_bersambung_


__ADS_2