
Happy reading ....
Tidak seperti biasanya, suasana sekolah siang ini sangatlah ramai. Di setiap tempat bahkan di sudut-sudut sekolah terlihat para siswa yang bercengkrama.
Dari lantai atas, Rayhan dapat melihat siswa dan siswi baru itu hilir mudik di area lapangan. Sampai akhirnya, Raka melihat sosok Raydita dan kawan-kawan.
"Ray, itu adek Lo masih betah aja sama si Mela, sama si Tasya."
"Ya sama siapa lagi? Mereka kan trio kwek-kwek," sahut Rayhan malas. Sementara itu, Ghaisan tidak acuh dan memilih bermain game di ponselnya.
"Kalo mereka trio kwek-kwek, terus kita trio apaan dong?" tanya Raka.
"Trio macan," sahut Ghaisan asal.
"Gila Lo, trio macan itu cewek tahu. Lo mau kita jadi begini?" tanya Raka sambil memeragakan tarian yang gemulai.
"Mana gue tahu. Gue asal ngomong aja," sahut Ghaisan tanpa menoleh. Ia seakan tidak perduli dengan kedua temannya yang tertawa.
"Eh-eh. Itu si Nisa kan? Wiih, udah punya teman cowok aja tu anak."
Mendengar ucapan Raka, Ghaisan menoleh dan melihat ke bawah. Benar itu Annisa. Berjalan menuju kantin bersama dua orang temannya.
"Ka, kalau mereka trio apa?" tanya Rayhan dengan isyarat mata.
"Apa ya? Apa Gas? Biasanya Lo nyeletuk."
"Apaan sih ah. Pikir aja sendiri," sahut Ghaisan dan berlalu ke dalam kelas.
"Dih, itu anak kenapa? Woy! Lo lagi PMS ya?" Kelakarnya. Raka dan Rayhan terbahak-bahak tanpa memperdulikan tatapan para siswa lainnya.
"Agas, ke kantin yuk!" seru Rayhan setelah tawanya usai.
"Gue kira Lo nggak bakal ikut," ujar Raka mengulumkan senyum sambil menautkan kedua alisnya.
"Gue lapar," sahut Ghaisan datar.
"O ..." Raka dan Rayhan membulatkan mulut mereka masih dengan tawa yang tertahan.
Sementara itu di area kantin sekolah, Annisa dan dua teman barunya sedang berpikir akan membeli apa. Nisa terkesiap melihat area itu yang tertata rapi dan juga bersih. Tempatnya juga luas, jauh berbeda dengan warung Bu Tuti yang ada di sekolahnya di desa.
Namun begitu, Nisa merindukan suasana di warung itu. Tempat ia dan teman-temannya bercanda sambil menunggu gorengan panas yang dijual Bu Tuti.
"Nisa, kamu mau jajan apa?" tanya Isti.
"Nggak tahu, aku juga bingung. Jajanan di sini, mahal-mahal nggak ya?"
__ADS_1
Isti dan Yuda menatap heran pada Annisa. Bahkan Yuda seperti ingin menertawakan temannya tersebut.
"Kamu lupa bawa uang? Tenang aja, Isti yang akan traktir kita kok." Ujarnya asal.
"Eh, enak aja. Aku nggak dikasih uang jajan banyak sama Umi. Mendingan kamu aja deh yang traktir." Todong Isti pada Yuda.
"OMG, harga diriku sebagai laki-laki sedang dipertaruhkan. Oke deh. Jangan lebih dari lima ribu ya," ujar Yuda pada akhirnya.
Isti mengangkat tangannya mengajak ber-tos-ria pada Annisa. Saat tangan Yuda hendak merangkul pundak keduanya, kompak dua anak perempuan itu menghindarinya.
"Ya, gagal jadi Ahmad Dhani dong diriku."
"Maksudnya?" Isti menatap heran, begitu juga dengan Annisa.
"🎶Senangnya dalam hati, kalau beristri dua🎶" Sahutnya sambil menggoyangkan pinggangnya. Yuda seakan tidak perduli akan tatapan horor kedua temannya itu.
Tak lama terdengar riuh suara para siswa. Annisa dan dua temannya celingukan dan melongo saat mengetahui yang membuat kantin itu ramai ternyata kehadiran tiga siswa yang mungkin menjadi idola mereka.
Kak Rayhan dan teman-temannya? batin Annisa.
Sepertinya aku pernah melihat dia, batin Yuda saat ketiga siswa itu lewat didekat mereka.
"MasyaAllah, gantengnya," gumam Isti.
"Yang mana?" sahut Annisa pelan.
"Yang itu tu." Annisa hanya bisa mengangguk pelan mengetahui ujung telunjuk Isti tertuju pada Rayhan.
"Jadi nggak jajannya? Heran deh, kok mereka pada heboh sih. Aku dari tadi ada di sini pada diem-diem bae," ujar Yuda percaya diri.
"Mmpphtt ..." Annisa dan Isti menahan tawa.
Bisik-bisik dan kekaguman itu mereda saat dua orang siswi menghampiri Rayhan dan teman-temannya. Siswi itu tak lain adalah Viola dan Anya, sahabatnya.
"Hai, Sayang. Sudah pesan?" tanya Vio yang kemudian duduk di samping Rayhan.
"Apaan sih Lo? Ini di sekolah, punya malu dong dikit. Sayang, sayang, pala Lo peyang." Rayhan merasa jengah dengan kehadiran Viola di sampingnya.
"Eh, Bu Haji. Beliin gue makanan di sana tuh. Bilang aja punya Rayhan." Tunjuknya.
Isti yang mengingat panggilan itu sempat disematkan Yuda padanya, dengan percaya dirinya mengangguk menyanggupi perintah Rayhan.
"Baik, Kak-Rayhan," sahut Isti yang nampak grogi saat menyebut nama Rayhan.
"Ya udah, sana."
__ADS_1
Annisa dan Yuda saling bertukar pandang melihat Isti yang berlalu menuju stand penjual yang ditunjuk Rayhan.
"Heh. Asik juga temen Lo, Nis. Nurut banget, memang cocok jadi teman Lo."
"Yang, Kamu kenal dia?" tanya Vio yang langsung menatap sinia pada Annisa.
"Dia cewek gue, kenapa? Masalah buat Lo?"
"Whats!" seru Raka dan Agas bersamaan. Tidak hanya kedua teman Rayhan yang merasa kaget, Annisa dan Yuda tak kalah syoknya. Apalagi Viola, delikan matanya begitu tajam terarah pada Annisa.
Menyadari tatapan siswi di samping Rayhan, Annisa mengangguk pelan dan berlalu dari tempat itu.
"Gila, Lo," bisik Raka.
"Kapan lagi ngerjain anak itu. Hehe, biar tahu rasa dia kena amukan Viola." Sahutnya balik berbisik. Ghaisan menautkan alisnya melihat Raka dan Rayhan ber-tos-ria sambil terkekeh.
"Kak Rayhan!" panggil Dita dan dua temannya. Mereka menghampiri Rayhan dengan senyum ceria, bahkan Raydita meletakkan tangannya di pundak Rayhan.
"Cuma Rayhan aja nih?" tanya Raka.
"Hai, Kak Raka! Hai, Kak Agas!" sapa Mela dan Tasya bersamaan.
"Hai juga, Ladies!" sahut Raka. Sementara Agas tak acuh terhadap dirinya.
Viola yang melihat keakraban tiga sisiwi baru itu mengepalkan tangannya menahan rasa geram. Selama ini tidak ada yang berani mendekati Rayhan, meski itu kakak kelas. Statusnya sebagai putri kepala sekolah membuat Viola ditakuti siswi lainnya.
"Ray, siapa lagi dia?" tanya Viola ketus.
"Eh, Lo itu yang siapa? Sana jauhan dikit duduknya. Nggak usah ya mepet-mepet Kak Ehan," cibir Raydita.
"Iya. Siapa sih dia, Dit?"
"Nggak tahu. Lumut kali ya, nempel-nempel gitu," kelakar Raydita yang disambut tawa kedua temannya.
"Eh. Jaga ya mulut kalian! Lo nggak tahu aja, Vio ini anak kepala sekolah. Jangan cari masalah kalau masih mau swkolah di sini," ujar Anya lantang.
"OMG! Gue harus gimana dong gaes? Takut jangan ya?" sahut Dita dengan gayanya yang mengejek. Lagi-lagi kedua temannya terbahak. Bahkan Raka juga menertawakan gaya Dita yang dibuat-buat itu.
"Awas kalian ya!" geram Viola yang berdiri dan menatap tajam pada Raydita, kemudian berlalu dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Huuu, jadi anak kepala sekolah aja belagu," ucap Raydita ketus.
"Haha, dia nggak tahu siapa Lo, Dit. Bakalan seru nih. Bukan cuma Nisa yang bakalan jadi sasaran si Vio," kelakar Raka yang mendapatkan delikan dari teman-temannya.
_bersambung_
__ADS_1