Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
bertemu Yuli


__ADS_3

Happy reading ....


*


"Assalamu'alaikum!" seruan salam Raydita menggema di kediaman Adisurya.


"Wa'alaikumsalam," sahut Annisa dan Rianti bersamaan.


"Di sini, Dit," imbuh Annisa memekik pelan.


Tak lama, langkah Raydita mulai terdengar mendekati teras belakang, dan menghampiri Rianti, lalu cipika-cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri).


"Eh? Ternyata ada yang nganter. Ehhem," goda Annisa ketika melihat Yuda berdiri di ambang pintu.


"Harus dong ya, Yud. 'Kan pacar siaga (siap antar-jaga)," seloroh Rianti menimpali.


"Hehe. Iya, Tante," sahut Yuda sambil menghampiri dan mencium punggung tangan Rianti.


"Siaga apaan? Dasar Kuya (kura-kura-dalam bahasa sunda)!" cibir Raydita.


"Diih, yang baru jadian kok udah bertengkar?" goda Annisa.


"Gue jadian sama dia karena terpaksa, Nis. Lebih tepatnya, di-pak-sa," tegas Raydita.


"Dipaksa siapa?" tanya Annisa berpura-pura.


"Siapa lagi kalau bukan Mama sama Kak Raka," gerutu Raydita.


"Nggak apa-apa. Awalnya dipaksa, lama-lama terbiasa. Eh, makin lama kok jadi suka?" kelakar Rianti.


"Jangan cuma suka dong, Tante. Cinta juga," timpal Yuda.


"Itu maksud, Tante. Hehehe, Dita ... Dita." Rianti terkekeh pelan melihat delikan Raydita pada Yuda.


"Eh, iya. Tanyain Raka sudah sampai mana. Bi Susi mini pizza buat camilan. Kalau udah dekat tinggal di oven. Biar masih hangat," imbuh Rianti.


"Oke. Yuda tanyain ya, Tante," ujar Yuda.


"Sip. Tante ke dapur dulu ya," pamit Rianti.


Yuda mengangguk pelan. Kini, Rianti merasa sahabat-sahabat Rayhan itu sudah seperti anaknya sendiri. Selain itu juga, Rianti merasa berkumpul dengan mereka jadi lebih menyenangkan dari pada ibu-ibu arisan.


Rianti meninggalkan teras, dan membiarkan mereka bercengkrama dengan leluasa. Tidak lebih dari tiga puluh menit kemudian, mobil Raka menepi di halaman rumah Adisurya. Yuda yang sengaja menunggu di teras depan tersenyum lebar sembari membalas sapaan Raka dari dalam mobil dengan mengangkat tangan.


Sementara itu, Annisa yang mengetahui kedatangan Raka dan Yuli, terlihat sangat senang dan bergegas ke depan rumah.


"Yuli!" seru Annisa dengan kedua tangan yang direntangkan dan menghampiri Yuli yang juga berseru memanggil namanya.


"Nisa!"


Kedua sahabat itu saling cipika-cipiki dan berpelukan dengan riang. Mereka seakan tidak peduli jika orang-orang yang melihat mengulumkan senyum karenanya.


"Nis, gue nggak?" tanya Raka dengan kedua tangan yang terbuka.

__ADS_1


"Bukan mahram, Kak," sahut Yuli mewakili.


"Ah, bisa aja. Kalau aku Agas pasti langsung dipeluk," seloroh Raka. "Ups," sambung Raka yang mendapati pelototan dari Annisa.


"Kak Agas pacar kamu, Nis?" tanya Yuli pelan.


"Nanti aku cerita deh. Kamu nginep lama ya di sini," ujar Annisa.


"Cuma dua malam. Wah, rumah kamu besar banget, Nis." Yuli tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat tampilan rumah mewah keluarga Adisurya dari luar.


"Bukan rumahku. Tapi rumah orang tuaku," kilah Annisa sembari menggandeng Yuli ke teras.


"Sama aja," sahut Yuli. "Assalamu'alaikum ...." sapa Yuli pada Yuda dan Raydita.


"Wa'alaikumsalam," sahut Yuda dengan senyuman ramah.


"Kenalin, Yul. Ini Yuda, temanku. Dan ini ... Dita," ujar Annisa.


"Adikku," timpal Raka menambahkan.


"Nggak ada yang nanya, Ka," sindir Yuda.


"Biarin. Namanya juga ngenalin. Lo nggak tahu sih, dia pernah jealous sama Dita," ujar Raka.


"Enggak ah, enak aja," kilah Yuli dengan wajah merona.


"Ge-er lo, Ka," ujar Yuda.


"Udah, ah. Ayo masuk!" ajak Annisa.


"Iya, ayo! Silakan ...," ucap Yuda riang.


Ketika Annisa dan Yuli berlalu mendahului mereka, Raydita memelototi Yuda entah karena apa. Setelahnya, Raydita pun masuk ke dalam rumah. Raydita meninggalkan Yuda yang menggaruk kepala.


"Hehe. Kalau udah punya cewek, jaga sikap, Bro. Awas lo kalau macam-macam. Apalagi kalau sampai ganggun inceran gue," ujar Raka degan telunjuk mengarah pada dagu Yuda. Raka pun menyusul Raydita ke dalam rumah.


Berbeda dengan sapaan yang terdengar hangat dari dalam rumah. Yuda justru semakin bingung dengan apa yang terjadi.


"Itu kakak-adik kenapa sih? Salah gue di mana?" gerutu Yuda bermonolog.


"Yud. Yuda!" panggil Annisa.


"I-iya, Nis. Aku datang," sahut Yuda yang mengesampingkan kebingungannya. Yuda masuk dan bergabung dengan mereka.


Kehadiran Yuli di rumah itu di manfaatkan mereka untuk mengetahui kehidupan Annisa di masa lalu. Disela obrolan, Yuli menceritakan keseharian mereka yang menyenangkan dengan riang dan tanpa beban. Bermain di sungai, memanjat pohon jambu tetangga, sampai keseruan pulang sekolah dengan berjalan kaki beramai-ramai.


Bagi Yuda, Raka, dan Raydita, cerita Yuli terdengar menyenangkan. Lain halnya bagi Rianti. Cerita masa lalu itu seakan kembali membuka lembaran usang yang ingin ia simpan.


Annisa menyadari raut wajah ibunya yang sendu. Dengan santainya ia menyela dan mengatakan, "Beda tempat, beda keseruan ya. Di sini juga nggak kalah menyenangkan. Suatu hari nanti, pertemuan kita ini juga akan jadi hal yang indah untuk dikenang."


"Setuju," timpal Raka.


Rianti tersenyum tipis. Dalam hati, ia kagum pada kepribadian Annisa.

__ADS_1


Asih ... sungguh Rianti merasa sangat berutang budi pada wanita berhati mulia itu. Rianti pun bertekad ingin segera merealisasikan rencananya membangun panti asuhan untuk mengenang kebaikan Asih pada keluarga mereka.


***


Waktu pun berlalu ....


Malam yang larut tak lantas membuat Raka bisa memejamkan mata. Iya merasa gelisah dan ingin mendengar suara Yuli sebelum memejamkan mata. Beberapa kali ia melihat waktu di ponselnya. Saat ini sudah pukul sebelas malam, dan ia yakin Yuli sudah terlelap.


"Telpon aja ah, dari pada gue nggak bisa tidur. Siapa tahu Yuli masih ngobrol dan kangen-kangenan sama Nisa," ujar Raka pelan. Raka pun nekad menelpon Yuli.


Satu kali, panggilannya tidak terjawab. Kali kedua pun sama.


"Apa dia beneran udah tidur? Hmm ...," gumamnya lesu. Tapi kemudian Raka kembali bermonolog. "Coba sekali lagi. Kalau yang ketiga ini masih nggak diangkat. Fiks, gue harus bersabar nunggu besok."


Raka kembali menelpon Yuli. Raut wajah Raka menegang, dan berharap telponnya dijawab sang Pujaan. Raka sudah bersiap untuk kecewa. Namun di detik-detik terakhir, Yuli menjawab panggilan Raka.


"Halo ...."


Raka hampir saja terlonjak saking senangnya.


"Halo ...." Suara Yuli terdengar malas.


"Yul. Kamu udah tidur ya?" tanya Raka.


"Hmm ...."


"Yul, aku nggak bisa tidur karena mikirin kamu. Mmm, kamu tahu 'kan aku suka sama kamu?"


"Hmm ...."


"Gimana kalau kita pacaran? Kamu mau nggak, Yul?" tanya Raka dengan nada suara yang diatur. Raka salah tingkah dengan hati yang berdebar menunggu jawaban Yuli.


"Yul, kamu mau 'kan jadi pacarku?" tanya Raka yang sudah tidak sabar.


"Hmm ...."


"Apa, Yul? Kamu mau jadi pacarku?"


"He-emm ...." Meski terdengar malas, tak ayal jawaban Yuli membuat Raka bersorak.


"Ya udah deh. Kamu pasti ngantuk banget. Terima kasih ya, Sayang," ucap Raka.


"Hmmm ...."


"Hihihi, yes!" seru Raka dengan semangat.


"Gue nggak jomlo lagi. Asik ... asik," sorak Raka.


Sementara itu di kamar Annisa ....


Yuli terlelap dengan ponsel menempel di telinganya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2