
Happy reading ....
🌿
"Ditukar?" gumam Annisa.
"Iya. Lo dengar ini baik-baik. Kita ini sengaja ditukar. Kenapa? Karena Lo terlahir ... cacat."
"Kamu bohong, Dita. Kamu bohong!" pekik Annisa.
"Bohong? Nih, luka diatas bibir Lo ini buktinya." Raydita mencengkram rahang Annisa.
"Ini bukan bekas jatuh, tapi bekas operasi. Ngerti Lo! Mama sama papa nggak mau punya anak seperti Lo, makanya Lo ditukar sama gue," ujar Raydita penuh penekanan di setiap katanya, seiring dengan cengkraman yang kuat di rahang Annisa.
Bibir Annisa meringis menahan sakit karena cengkraman Raydita. Rasa sakit itu tak seberapa, jika dibandingkan dengan hatinya teriris.
"Maksud Lo apa? Jadi benar dia adiknya Ray?" tanya Viola dengan raut bingung.
"Iya. Kenapa memangnya kalau dia ini Annisa Putri Adisurya, heh? Lo takut sama dia?" tanya Raydita dengan raut yang kesal.
"Gila, Lo ya. Lo udah ngejebak gue," umpat Viola.
"Gue nggak ngerasa. Satu hal yang gue tahu, gue bohong waktu bilang Lo cocok sama Kak Ehan. Ck, mimpi Lo ketinggian," ejek Raydita.
Viola mengepalkan tangan menahan geram. Ia menoleh pada Annisa, kemudian berlalu dari kamar itu diikuti Anya.
"Vio. Tunggu, Vi. Lo mau kemana?"
"Gue mau pulang. Sekarang!" tegasnya.
Raydita menyeringai mendengarnya. Mela dan Tasya masih terkejut mengetahui Annisa merupakan putri Adisurya. Keduanya pun masih terpaku di tempatnya.
"Kenapa? Sedih? Uuu kasian," ucap Raydita dengan nada mengejek.
"Kamu bohong, Dita. Aku tahu kamu nggak suka dengan kehadiranku di rumah, tapi memfitnah ayah sama ibu ... itu sudah keterlaluan," ujar Annisa dengan suara bergetar.
"Menurut Lo, kenapa Papa sama Mama baik banget sama Lo? Terutama Papa. Lo nggak tahu, kan? Gue kasih tahu ya ... itu karena papa yang menukar Lo sama Gue tanpa sepengetahuan mama. Dan Lo sadar dong, belakangan ini mama juga baik, perhatian, terus juga ngakuin Lo sebagai anaknya. Lo tahu kenapa? Karena mama merasa bersalah pernah menolak kelahiran Lo. Dengan kata lain, Lo itu anak yang dipungut lagi setelah dibuang, karena nggak diharapkan. Paham?"
Annisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bahkan menutup telinga selama Raydita berbicara.
"Dita, udah deh jangan diterusin lagi. Kasian juga lihatnya," ujar Tasya menyela.
"Kasian? Haha, jangan bilang Lo takut sama dia, setelah Lo tahu dia anak papa gue. Dia itu anak pungut!" pekik Raydita.
"Oke, dia anak pungut papa Lo. Udah ya, lebih baik kita ngobrol di kamar Lo. Gue yakin Lo punya unek-unek. Gue sama Mela pasti ngedengerin Lo," bujuk Tasya.
Tasya menangkap hal lain pada diri Raydita. Setelah mengetahui kebenaran tentang orang tuanya yang ternyata orang lain, Raydita pasti merasakan kecewa yang luar biasa.
Raydita melembut. Ia menuruti permintaan Tasya dan berlalu meninggalkan Annisa.
Mela menoleh sesaat pada Annisa yang menundukkan kepala. Ia pun mengikuti langkah Raydita dan Tasya menuju tangga.
Mereka berpapasan dengan Viola dan Anya yang sudah siap untuk meninggalkan vila tersebut.
"Apa?" bentak Raydita pada Viola yang menatapnya.
__ADS_1
"Cewek gila," umpat Viola. Ia dan Anya pun meninggalkan vila setelah sebelumnya memesan taksi online.
Raydita dan kedua sahabatnya mengobrol di kamar. Walau enggan, pada Mela dan Tasya, ia menceritakan semuanya.
"Dita, menurut gue ... sikap Lo ke Annisa tadi berlebihan. Gue yakin, orang tua Lo akan menepati janjinya dan bakal sayang sama Lo selamanya," ujar Tasya ragu. Ia takut Raydita merasa tersinggung.
Terdengar sebuah notifikasi pesan masuk. Setelah Raydita membuang kasar nafasnya, ia membaca pesan itu.
"Gue yakin, kalian sekarang ragu mau temenan sama gue. Itu terserah kalian, gue nggak peduli," ujar Raydita sambil beranjak dari kamarnya. Mela dan Tasya saling menatap kemudian keluar dari kamar itu juga.
"Dita, kita ini sahabat Lo. Kalo Lo lagi pengen sendiri. Oke. Kita akan ngebiarin Lo sendiri dulu. Yuk, Mel." Tasya pun mengajak Mela ke kamar yang mereka tempati. Sedangkan Raydita yang sempat terhenti langkahnya, kembali melangkah ke luar vila.
Di tempat lain ....
Rayhan dan kedua sahabatnya tidak menyangka jika mereka akan bertemu lagi dengan Juna. Yuda merupakan adik Yopi, teman Juna.
Beruntung Rayhan Cs, sangat supel, begitu juga dengan Yuda yang tidak canggung terhadap mereka. Dengan mudahnya mereka berbaur dan seru-seruan ngetrail bareng.
Tiba di ujung rute, mereka langsung istirahat. Mang Asep sudah menunggu dengan kopi dan kudapan tradisional yang dibelinya di warung warga.
"Terima kasih, Mang," ujar Juna.
"Sama-sama. Emang nggak nyangka, ternyata Den Juna adiknya Pak Heru." Juna hanya tersenyum tipis.
Gelak tawa keempat remaja itu terdengar saat membicarakan kejadian di jalan terjal yang mereka lalui tadi. Juna menyeringai sambil menggeleng pelan.
"Dasar bocah," ujar Yopi yang melewati mereka sembari mengacak kasar rambut Yuda yang sedang tertawa lepas dengan Rayhan dan Ghaisan.
"Jadi mereka ini Jun yang waktu itu terlibat balapan liar?" tanya Yopi, mengingat malam saat Juna yang sedang nongkrong di cafenya mendapat telepon dari Heru.
Juna mengangguk, lalu menyesap kopinya.
"Oke, Bang. Kita kan belum tahu. Kapok deh, beneran," sahut Rayhan dengan senyuman lebar. Yopi mengacungkan ibu jarinya.
"Hei, diam aja. Jangan bilang Lo masih jantungan sama track tadi. Itu belum seberapa, Ka. Coba lain kali Lo ikut ke hutan, ajib banget tracknya." Yuda menyenggol Raka yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Iya nih. Biasanya Lo yang paling heboh, Ka," timpal Rayhan.
"Aaah, gue tahu. Lo lagi nahan panggilan alam ya?" goda Yuda.
"Enggak," geleng Raka.
"Terus, Lo kenapa?" tanya Ghaisan.
"Guys, sini deh." Raka mengajak mereka dengan gerakan tangannya menjauhi Juna Cs. Rayhan, Yuda, dan Ghaisan saling menatap heran sambil mengikuti langkah Raka.
"Ada apaan sih?" tanya Yuda.
"Gue juga nggak tahu," sahut Rayhan sambil mematahkan ranting kering yang dilewatinya.
"Kenapa, Ka?" tanya Ghaisan.
Raka terduduk di bebatuan, diikuti tiga temannya yang menatap aneh.
"Gini, Ray. Gue lagi kepikiran si Viola." Raka menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Lo suka sama dia? Ambil aja, bukan cewek gue kok," sahut Rayhan.
"Bukan itu, Dodol. Kemarin ...." Raka menceritakan apa yang didengarnya pada mereka.
Rayhan langsung berdiri, dan berlari menuju tempat semula.
"Bang, pinjam dulu ya. Nanti pasti gue balikin." Rayhan yang masih memegang kunci motor trail pinjamannya langsung menghidupkan mesih dan melaju cepat meninggalkan tempat itu.
"Den, Den Ehan!" seru Mang Asep yang baru menyadari Rayhan pergi dari tempat itu.
"Bang, kita juga pinjam dulu ya." Ghaisan langsung berlalu. Ia dan Rayhan bahkan tidak sempat mengenakan helm.
"Ka, kalau ada apa-apa kabarin ya. Gue mau mandi dulu, baru nyusul," ujar Yuda.
"Siap. Bang, thanks banget ya." Raka melambaikan tangannya pada mereka yang ada di sana.
Raka meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Mang Asep yang berpamitan pada Juna dan teman-temannya.
***
Sementara itu di vila ...
Annisa masih terisak sambil membenamkan wajahnya di bantal. Jika benar dulu ia dibuang, mengapa sekarang diambil lagi? Benar yang Raydita katakan, ia hanyalah anak pungut.
Ceklek. Ada yang membuka pintu kamar Annisa.
Annisa cepat-cepat mengusap wajahnya dan menoleh. Tasya berdiri diambang pintu sambil menatap kosong pada Annisa.
"Ee ... Dita nggak ada di sini ya? Ka-kalau gitu, gue tutup lagi pintunya," ujar Tasya tergagap.
Di sisi lain vila, Rida berdiri di depan pintu gerbang. Tadi, ia mendengar dari Rika bahwasanya Ghaisan berada di vila ini dengan teman-temannya dan Raydita juga. Saat mengetahui Rianti dan Adisurya tidak bersama mereka, Rida langsung menuju ke sini.
Suara klakson motor mengagetkan Rida. Rupanya Rayhan baru saja tiba di sana.
"Cari siapa?" tanya Rayhan.
"Mmm ...." Rida terlihat bingung menjawabnya. Ia menoleh saat motor lain juga tiba di sana.
"Tante? Kenapa Tante ada di sini?" tanya Ghaisan heran.
"Tante kesini mau ... mmm."
"Kak Ray, Dita nggak ada di luar?" tanya Tasya yang datang bersama Mela.
"Nggak ada. Emang kenapa? Nisa nggak kenapa-napa, kan?"
"Nisa ... ada di kamarnya. Dari tadi kita berdua nyariin Dita. Tadi dia kayanya ke luar deh. Soalnya, abis terima chat, dia ninggalin kita di kamar. Tasya kira dia di teras, udah keliling vila berapa kali juga nggak ada. Ditelepon juga nggak diangkat," tutur Tasya.
"Dita nggak ada? Dia kemana?" Rida terlihat khawatir.
"Viola ada nggak?" tanya Ghaisan.
"Udah pulang, Kak," sahut Tasya.
Mereka bergegas masuk ke area vila. Berpencar mencari Raydita di bagian luar dan dalam vila. Raut wajah mereka memucat karena khawatir. Rayhan bahkan terlihat frustasi karena ponsel Raydita tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Kemanakah Raydita?
_bersambung_