Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
hari–H (2)


__ADS_3

“Masya Allah, cantiknya,” puji Ikah saat tatapannya tertuju pada Raydita yang kini sedang menuruni tangga. Pujian yang sama juga terlontar dari sebagian besar kerabat yang datang pagi ini.


Hampir semua mata terfokus pada Raydita. Calon dokter itu terlihat mempesona di hari istimewanya. 


Dengan diapit Annisa dan Rayhan, Raydita berjalan mendekati tempat yang tersedia untuk berlangsungnya ijab kabul. Langkahnya tentu saja mencuri perhatian Yuda. Pria yang hari ini sudah siap mengikrarkan janji sucinya di hadapan semua orang itu terpana dan nyaris tak berkedip kalau saja Raka tak menyenggol lengannya.


“Mingkem, lo mau married nggak ada cool-nya, heran gue. Pura-pura nggak lihat, cuek gitu biar kesannya gimana …,” omel Raka yang ditanggapi cengiran kuda oleh Yuda.


“Yaelah malah nyengir,” deliknya kemudian.


“Gue mimpi apa ya, Ka. Bakal punya bini secantik Dita,” ujar Yuda dengan tatapan kekaguman yang tertuju pada calon istrinya.


“Mimpi kejatuhan bulan. Yang kasian si Dita, dapetin lo serasa mimpi kejatuhan duren,” seloroh Raka.


“Aah, duren. Kok jadi kebayang enaknya ya,” timpal Yuda dengan tatapan menerawang.


“Masih pagi woy, udah ngeres aja otak lo,” cetus Raka.


“Diih, otak lo tuh yang ngeres. Emang gue ngebayangin duren,” kilah Yuda yang ditanggapi cebikan bibir oleh Raka.


“Sstt. Berisik tau,” tegur Ghaisan. Raka dan Yuda tersenyum masam pada Ghaisan, juga pada mereka yang ada di tempat itu.


Yuda tersenyum lebar melihat Raydita tinggal selangkah duduk di sampingnya. Yuda menarik kursi yang diperuntukkan untuk calon istrinya. Tak hanya itu, Yuda bahkan mengusap-usap bagian yang akan diduduki Raydita. 


Apa yang dilakukan Yuda membuat beberapa orang berdehem dan menahan senyum. Sedangkan Raydita, wajahnya merona dan jadi salah tingkah.


“Duduk, Sayang,” ucap Yuda sembari menepuk kursi.


“Ini juga gue mau duduk,” sahut Raydita bergumam.


Yuda menatap gemas wajah cantik Raydita. Meski Raydita mendelik sebagai isyarat agar Yuda tak seperti itu, sepertinya pria itu tak peka.


“Ehhem. Udah bisa dimulai?” tanya petugas KUA yang sedari tadi memperhatikan sambil mengulumkan senyum.


“Sudah, Pak. Silakan,” sahut Yuda malu-malu.


Raydita tersenyum tipis saat merasakan Rianti tengah memasangkan kerudung panjang untuk menutupi bagian kepala kedua mempelai. Suasana hening. Perhatian mereka terfokus pada petugas KUA yang sedang menyampaikan beberapa hal yang harus disampaikan.


Selain menanyakan perihal maskawin, petugas KUA itu juga menyebutkan bahwasanya pernikahan hari ini akan diwalikan hakim, yakni kepala KUA kecamatan setempat. Bertindak sebagai saksi, Dahlan dan Juna.


Penghulu mulai menyampaikan khutbah nikah. Setelahnya Yuda dibimbing membaca beberapa bacaan do’a, seperti kalimat istighfar, dua kalimat syahadat, dan juga shalawat. Selesai dengan itu semua, sesi selanjutnya ijab kabul pernikahan.


“Kita akan mulai ijab kabulnya ya. Silakan ananda Yuda berjabat tangan dengan wali nikah,” ujar petugas itu memberi aba-aba. Tanpa menunggu disuruh dua kali, Yuda cepat-cepat menyalami pria berumur yang duduk di hadapannya. 


“Dingin gini tangannya, tegang ya?” tanya pak wali hakim setengah menggoda.


“Iya, Pak. Mendadak tegang,” sahut Yuda. Rasa gugup terlihat jelas dari raut wajah Yuda.


“Tegangnya jangan sekarang, Yud. Ntar malem aja,” seloroh Raka yang ditanggapi kekehan pelan oleh sebagian dari mereka.

__ADS_1


“Benar tuh. Tegangnya nanti malam aja. Rileks dong. Salah nyebut nama bisa berabe,” timpal Pak wali hakim.


“Siap, Pak. Saya coba rileks,” sahut Yuda yang jadi salah tingkah karena menyadari Raydita menatap aneh padanya.


“Lo kenapa sih? Biasa aja kali,” gumam Raydita ketus yang mendapat anggukan kikuk oleh Yuda.


“Sayang,” tegur Rianti lembut yang membuat Raydita tersenyum kikuk.


“Sorry,” ucap Raydita setengah bergumam.


“Biasa aja kali. Aku suka perhatian kamu,” ucap Yuda sembari memiringkan sedikit badannya ke samping.


“Eh, ni bocah malah ngobrol,” tegur Yopi sembari menyodorkan mic pada Yuda.


“Biar nggak tegang, Bang,” kilah Yuda sambil menerima mic itu.


“Udah siap?” tanya petugas KUA.


“Siap, Pak,” angguk Yuda. 


Akan tetapi siapnya Yuda hanya di lisan. Yuda tak bisa menutupi perasaan gugupnya yang semakin kentara dari mic yang sedikit goyang.


“Sini gue pegangin,” ucap Raydita meminta mic yang dipegang Yuda.


“Yakin, Dit?” tanya Yuda.


Di sisi lain Rayhan ingin mengambil alih mic itu. Akan tetapi isyarat dari penghulu menghentikannya.


Tak hanya memegang mic, satu tangan Raydita lainnya juga menggenggam tangan Yuda sebagai bentuk dukungan terhadap calon suaminya tersebut. Yuda menoleh pada Raydita. Keduanya tersenyum tipis dengan wajah bersemu.


Petugas KUA berdehem pelan, membuat Yuda mencoba untuk fokus agar tak salah mengucapkan nama. Terlebih petugas itu sudah mempersilakan pak wali hakim untuk memulai ijab.


“Bismillahirrohmanirrohim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Yuda bin Sofyan Pratama dengan Raydita Adisurya dengan maskawin cincin berlian 2,2 karat dan uang senilai dua juta dua ratus dua puluh dua ribu rupiah, tunai.”


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Raydita Adisurya dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”


“Bagaimana saksi, sah?” tanya petugas KUA.


“Sah,” sahut dua saksi bersamaan dengan sangat yakin.


“Alhamdulillah,” ucap mereka bersamaan.


Doa penutup pun dilantunkan. Semua nampak khusyuk mengaminkan doa tersebut. Tak hanya kedua mempelai, orang tua dan para kerabat merasa lega. Tak terkecuali Sandy yang menyaksikan momen sakral itu dari ponsel Raka.


Diam-diam Raka melakukan panggilan video saat ikrar ijab mulai diucapkan. Meski tak bisa hadir, ia ingin ayahnya tak melewatkan salah satu momen penting dalam hidup Raydita.


Sandy mengangguk pelan sambil mengulumkan senyum pertanda meminta panggilan itu diakhiri. Raka melakukan hal serupa, dan panggilan itupun diakhiri. 


Moment haru seketika sirna ketika pasangan yang baru saja menyandang status suami-istri itu bersalaman. Raydita terlihat canggung saat mencium punggung tangan Yuda. Lain halnya dengan Yuda yang tanpa aba-aba langsung mencium kening Raydita hingga hampir saja dagunya terkantuk kepala.

__ADS_1


Gelak tawa terdengar bersahutan saat kedua mempelai berkumpul bersama Annisa dan yang lainnya. Kebersamaan itu tentunya tak luput dari saling lempar godaan terhadap kedua mempelai.


“Ntar malam di mana, Dit? Di sini apa di rumah Agas?” tanya Raka.


“Mau tau aja atau mau tau banget?” tanya Raydita sembari mendelik manja pada Yuda.


“Mau tau banget dong, gue mau pasang cctv, atau nggak gue yang jadi kameramennya,” seloroh Raka.


“Diih amit-amit. Bikin sendiri sono sama Yuli. Film biru,” timpal Raydita.


“Ooh, tenang. Nanti kita bikin ya, Say,” cetus Raka asal, tapi cukup untuk membuat Yuli merasa tertohok. Beruntung wajahnya yang ditekuk cepat disadari Raka yang kemudian meminta maaf.


“Sorry, Sayang. Aku cuma becanda,” sesalnya.


“Lo sih, becanda asal mangap. Jangan diambil hati, Yul. Maksudnya Kak Raka nanti kalau udah married. Sah-sah aja kok, buat kenang-kenangan,” timpal Raydita yang diangguki cepat oleh Annisa.


“Ayang main ngangguk aja. Emangnya nanti kita mau di videoin?” tanya Ghaisan setengah menggoda.


“Iih enggak. Awas aja,” sahut Annisa dengan wajah merona.


“Cepetan dong kalian nyusul. Biar kita tuh lebih leluasa. Leluasa ngobrol, leluasa bermesraan. Nggak pamer kemesraan juga, ya intinya lebih nyaman aja deh,” ujar Isti.


“Aku setuju. Nisa-Agas, Raka-Yuli, yuk bisa yuk secepatnya nyusul,” ujar Rayhan.


“Setelah nyusul nikah, ntar nyusul punya baby,” timpal Isti yang kemudian mendapatkan ciuman gemas di pipinya dari Rayhan.


“Congrats ya, Kak Ehan. Sebentar lagi kita jadi Auntie ya, Nis,” ucap Raydita.


“Iya. Duuh jadi nggak sabar. Sehat-sehat ya keponakan Auntie,” timpal Annisa sembari mengusap perut Isti.


“Makasih Auntie cantik,” ucap Isti seraya merengkuh pundak Annisa lalu menempelkan pipi mereka.


Beberapa saat kemudian, satu persatu kerabat berpamitan. Selang satu jam kemudian, Raydita dan Yuda berganti busana untuk menyambut tamu yang akan segera hadir.


“Dit. Serasa mimpi nggak sih, kita married?” tanya Yuda sembari membuka kancing kemejanya di kamar yang digunakan untuk mengganti pakaian. Orang dari salon seakan sengaja memberi ruang pada pasangan itu untuk ngobrol sebelum pakaian mereka diganti.


“Disebut mimpi ya nggak juga. Kita ‘kan ada persiapan. Di sebut nggak mimpi ya gimana? Lo dulu nyebelin banget. Kayaknya paling random di kelas. Eh, sekarang jadi laki gue.”


“Ntar malam jadi di sana?” tanya Yuda dengan ekspresi menggoda.


“Jadi laah. Gue udah minta orang salon dekor khusus buat malam pertama kita,” sahut Raydita dengan wajah merona.


“Kok Raka nggak dikasih tau?” 


“Ck. Dia pura-pura nggak tau, Yud. Aslinya tau kok.”


“Masa sih?” 


Raydita mengangguk cepat mengiyakan. Malam ini, ia dan Yuda berencana menghabiskan malam di apartemen Rida. Mereka sengaja memilih menjauh dari keluarga karena selain ingin lebih menjaga privasi, tentunya ingin menikmati masa bulan madu dengan tenang tanpa gangguan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2