Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Raydita-Yuda (ajakan nikah)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Tak ayal, Raydita menurut. Ia dan Adisurya bergandengan tangan ke luar dari ruang kerja. Adisurya memanggil Rayhan dan Isti untuk berkumpul bersama. Rianti dan Annisa yang mendengar panggilan itupun bergegas menuju ruang keluarga.


"Ada apa. Pa?" tanya Rayhan heran.


"He-em. Papa kok kelihatannya serius begitu. Ada apa sih?" tanya Rianti seraya menoleh pada Raydita yang langsung menundukkan kepala.


Rianti melirik pada Annisa dan Isti yang juga sedng menerka-nerka apa yang akan disampaikan Adisurya. Tak ingin menunggu lama, Adisurya pun mulai mengutarakan maksudnya mengumpulkan mereka.


"Begini ... barusan, Papa dan Dita membicarakan sesuatu yang penting. Ini menyangkut kehidupan dan masa depan Dita." Adisurya menjeda kalimatnya. Tentu saja hal itu semakin membuat anggota keluarganya penasaran.


"Dita ... ingin menikah dengan Yuda," sambung Adisurya.


"Hah! Nikah?" semua kompak terperanjak.


"Lo hamil, Dit?" todong Rayhan dengan raut wajah menegang.


"Enggak, Kak. Sumpah! Gituan aja belum pernah, gimana mau hamil?" kilah Raydita cepat.


"Ehan, kok bisa berpikir seperti itu sih?" tegur Adisurya.


"Ya ... kali aja, Pa. Syukur deh kalau enggak. Bener tapi ya. Awas kalau bohong!" ucap Rayhan.


Raydita mengangguk sembari mengangkat kedua jari yang membentuk huruf 'V'.


"Tapi, Dita. Kuliah kamu gimana, Nak?" tanya Rianti.


"Maaf, Ma. Mama pasti kecewa sama Dita. Kalau Mama nggak setuju, Nggak apa-apa kok. Nanti aja nikahnya nunggu Dita lulus dulu," ujar Raydita.


"Mama nggak masalah, Dita. Silakan kalau mau menikah. Daripada kalian berzina. Mama hanya khawatir kamu akan sibuk, terus capek. Itu aja. Selebihnya, it's okay," tutur Rianti.


"Memangnya sibuk apa sih, Ma?" tanya Adisurya dengan tatapan menggoda.


"Sibuk ngurusin Yuda," sahut Rianti apa adanya.


"Dih, ngapain juga Dita ngurusin Yuda. Memangnya dia baby," timpal Raydita.


"Tuh, 'kan. Kamu kayanya belum dewasa deh. Sama Yuda aja masih begitu," protes Rianti.


"Dia udah dewasa, Ma. Makanya ngebet nikah," seloroh Rayhan.


"Maksud Mama bukan dewasa itu, Han," ujar Rianti.


"Berproses, Bu. Dengan menikah, Nisa yakin Dita pasti lebih dewasa. Iya, 'kan Dit?" tanya Annisa yang diangguki langsung oleh Raydita.


"Ngebet banget lo. Gue kira Yuda yang ngebet. Ternyata lo," kelakar Rayhan. "Perkiraanku nggak salah 'kan, Sayang? Kelakuan mereka di depan kita itu cuma gimik. Aslinya ...," imbuh Rayhan sembari menoleh pada Isti.


Isti hanya tersenyum kikuk menyadari ucapan suaminya membuat Raydita tertunduk malu, dan Annisa juga orang tua mereka mengulumkan senyum sambil menggoda Raydita.


"Jadi gimana nih keputusannya?" tanya Adisurya mencairkan suasana.


"Kalau papa sih, yes," imbuh Adisurya.


"Nisa juga, yes."


"Isti juga. Yes," timpal Isti sambil menyenggol lengan Rayhan.


"Mama bagaimana?" tanya Adisurya.


Rianti menoleh seraya menatap Raydita, kemudian berkata, "Mama, yes."


"Kak Ehan sekarang. Ayo, Kak!" seru Annisa antusias.

__ADS_1


"Ini lakinya Yuda 'kan?" tanya Rayhan.


"Ya iya dong, Han. Kalau bukan Yuda memangnya siapa lagi?" timpal Rianti.


"Ya kali aja, Ma." Rayhan mengulumkan senyum menatap Raydita yang tertunduk sangat dalam. "Kakak juga yes," ucapnya.


Raydita sontak mengangkat wajahnya. Ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Rianti yang duduk di samping Raydita pun langsung memeluknya. Rianti tidak menyangka jika Raydita akan mendahului Annisa berumah tangga.


Setelah suasana kembali seperti semula, Raydita dengan malu-malu bertanya pada Annisa, "Lo nggak marah 'kan gue langkahin?"


"Ngelangkah? Umur kita 'kan sama, Dit. Jadi bukan ngelangkah dong," ujar Annisa.


"Ah, iya-ya. Hehehe ...," cengir Raydita.


"By the way, si Yuda belum tahu, 'kan?" tanya Rayhan.


"Belum, Kak. Dia aja pasti nggak nyangka sama keputusan Dita," sahut Raydita dengan wajah bersemu.


"Ya udah, kasih tahu aja sekarang," timpal Isti yang diangguki Annisa.


"Mmm Dita mau ngasih tahu langsung boleh nggak, Ma, Pa?" tanya Raydita ragu.


"Boleh, Sayang. Yuda lagi di mana?" Rianti balik bertanya.


"Nggak tahu di mana," sahut Raydita polos.


"Di cafe abangnya. Tapi kita chat-an di grup," sahut Rayhan.


"Ya udah sana. Nggak kebayang gimana ekspresi anak itu," kekeh Adisurya.


"Dita boleh ke sana, Pa?" tanya Raydita yang menoleh pada Adisurya.


"Boleh, Nak. Pergilah. Hati-hati bawa mobilnya," sahut Adisurya.


"Thank you all. I love you so much," ujar Raydita riang.


"Dit, kalau Yuda sudah setuju, minta dia bicara sama Papa ya," ujar Adisurya.


"Oke, Pa."


Rianti tersenyum tipis mendengarnya. Rianti menoleh pada Annisa yang menyandarkan kepala di bahunya.


"Beneran nggak apa-apa, Sayang?" tanyanya.


"Nggak apa-apa, Bu. Lagian Nisa juga 'kan memang sudah ada rencana. InsyaAllah," sahut Annisa yang diangguki oleh Isti dan Rayhan.


Di cafe milik Yopi ....


Yuda sedang membantu kakaknya menyuguhkan beberapa pesanan pelanggan yang datang. Cafe itu cukup terkenal di kalangan anak muda. Saat-saat menjelang sore seperti saat ini akan menjadi awal kesibukan para pekerja cafe tersebut.


Selain suasana cafe yang nyaman, areanya juga sangat strategis. Banyak karyawan kantor yang sengaja mampir sepulang kerja ataupunmuda-mudi yang hangout semata.


"Mas, pelayan baru ya?" tanya seorang pelanggan wanita pada Yuda yang mengantarkan ke salah satu meja pelanggan.


"Bukan, Mbak. Pegawai lama, udah jamuran malahan saking lamanya," seloroh Yuda.


"Mas-nya selain sopan, juga ganteng deh. Kenalan dong," timpal yang lain.


"Terima kasih. Baru si Mbak loh yang bilang saya sopan. Jadi terhura," sahut Yuda santai.


"Terharu, Mas. Bukan terhura." Dua wanita itu terkekeh pelan seraya tersenyum menggoda.


"Itu maksud saya. Hehe ...."


"Memang biasanya Mas dibilang apa?"

__ADS_1


"Saya? Nggak ada ahlak," sahut Yuda spontan.


"Oh ya? Siapa yang bilang begitu, Mas?"


"Seseorang yang cantiknya tiada dua," kelakar Yuda.


"Mas udah punya pacar?" tanya salah satu dari wanita itu yang kini berubah ketus.


"Bukan cuma pacar, tapi juga buntut, Mbak," sahut Yuda asal.


"Masa sih? Kelihatannya masih muda banget." Wanita itu menatap tak percaya.


"Ih si Embak nggak percaya. Itu loh buntut ku ... cing." Yuda mengerutkan kening melihat mobil Raydita terparkir di depan cafe kakaknya. Tanpa pikir panjang, Yuda berlalu meninggalkan meja pelanggan tadi.


"Eh, Mas. Mau ke mana? Di sini aja temenin kita ngobrol," panggil salah satu wanita itu.


"Saya permisi ya, Mbak. Istri saya datang, bisa dicincang saya kalau ketahuan. Hehe ...."


"Istri?" gumam kedua wanita itu seraya saling pandang.


"Dia itu playboy atau apa sih? Tadi pacar, terus buntut, sekarang istri," gerutu salah satunya.


"Tapi ganteng, 'kan?" tanya temannya dan diangguki wanita itu.


Tatapan mereka pun mengikuti Yuda yang bergegas menuju ke luar masih dengan apron dan nampan yang dibawanya.


"Ayang, kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Yuda dengan raut wajah yang senang.


"Emang kenapa kalau nggak bilang. Lagi selingkuh ya?" tuduh Raydita.


"Waduh. Ya nggak lah, Yang. L-o-v-e-ku itu cuma buat kamu," sahut Yuda dan berhasil membuat seorang Raydita tersipu karenanya.


"Yakin?" tanya Raydita.


"Yakin se-yakin-yakinnya," angguk Yuda bersungguh-sungguh.


"Kalau gitu ... will you marry me?" tanya Raydita malu-malu.


"A-apa?" Yuda melongo mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir Raydita.


"Tunggu, Ayang Mbeib. Nggak bisa gitu dong. Harusnya aku yang nanya begitu," protes Yuda.


"Ish. Dasar nyebelin! Ambyar mood gue," pekik Raydita dan itu membuat mereka jadi pusat perhatian di sana.


Raydita yang kesal pun hendak berbalik, namun tangannya cepat diraih Yuda.


"Dita, Sayang. Kamu serius?"


Raydita menoleh dengan wajah yang ditekuk.


"Jangan bete dong, Sayang. Maaf ... tapi 'kan harusnya aku yang nanya begitu. Biar kesannya romantis," ujar Yuda dengan gaya sok imut.


"Lo udah sering nanya begitu, Yud. Sekarang giliran gue nanya ke Lo. Will you marry me?" tanya Raydita yang masih terlihat kesal.


"Oh My God! Bang, gue dilamar Dita!" serunya pada Yopi yang sedari tadi menyaksikan drama adiknya. Yuda langsung berbalik dan memeluk Raydita sangat erat seraya berkata, "Of course 'yes', My sweety, my honey-bunny ... eh, kamu nggak lagi ngindur, 'kan?"


"Ish." Raydita ingin melepaskan pelukan Yuda, tapi urung karena pria itu kembali mengeratkan pelukannya.


"Maaf-maaf, Sayang. Uuh, sayangku, cintaku ... akhirnya kamu mau juga nikah sama aku. Hmm kalau ini mimpi, aku rela nggak bangun lagi," seloroh Yuda sekenanya.


"Mati, dong," delik Raydita.


"Ya jangan lah. Aku tuh rela nungguin kamu sampai mati, Sayang," ucap Yuda mesra di telinga Raydita.


"Mulai deh ... gombal," ujar Raydita dengan wajah yang bersemu.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2