Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
S2-perpisahan


__ADS_3

Happy reading ....


*


Jalanan ibukota selalu terlihat ramai seperti biasanya. Tak mengenal weekend ataupun weekday, jalan-jalan besar itu selalu dipadati oleh kendaraan dan lalu lalang orang-orang.


Laju roda mobil mulai lancar saat memasuki jalan bebas hambatan. Tatapan Ghaisan terlihat kosong menatap ke luar jendela mobil. Ia sangat berharap bisa melihat Annisa setibanya di bandara.


Ghaisan menyalakan ponselnya. Wajah ayu Annisa yang sedang tersenyum menjadi wallpaper di ponselnya. Ghaisan hanya menyeringai tipis membayangkan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.


Suara Rika yang sedang mengobrol dengan seseorang di telepon terdengar bernada bangga dan tentunya bahagia. Entah siapa yang bicara dengannya, sedari keluar rumah pembicaraan mereka belum selesai juga.


"Kamu tenang saja, Agas nggak banyak tingkah kok. Yang terpenting kamu serius dulu belajarnya, biar bisa nyusul Agas ke Amerika, oke? Udah dulu ya, kami sudah mau sampai. Bye, Sayang," pungkas Rika.


Rika tersenyum tipis sambil sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia kemudian berucap, "Agas, ada salam dari Angel. Kamu kenal nggak? Kalian kan satu sekolah. Tahun ini dia kelas 3."


"Nggak tahu, Ma." Sahutnya malas.


"Ish, kamu. Jangan terlalu cuek gitu dong, Sayang. Apalagi kamu udah kuliah. Nikmati masa muda kamu. Punya pacar, hangout, kalau mama sih nggak masalah asalkan itu bukan narkoba. Hmm?"


"Gimana nanti aja deh, Ma."


"Kamu kenapa? Mama perhatikan dari tadi ngelamun aja. Ada yang ketinggalan?"


Ghaisan membuang kasar nafasnya sembari menoleh ke jendela. Rika mengerutkan kening melihat sikap putranya yang seperti itu. "Ada apa dengan Agas, kok nggak semangat gitu?" batinnya.


Setibanya di bandara, Ghaisan dan Rika turun dari mobil yang membawa mereka. Rika memang sengaja ikut untuk menemani putranya selama seminggu di New York, Amerika Serikat.


"Pak, jangan lupa setelah ini mengantar Rida ke rumah sakit ya," pesar Rika pada supir yang sedang mengeluarkan koper miliknya.


"Baik, Nyonya." Angguknya.


Ghaisan mengambil alih menarik koper milik ibunya. Ia sendiri tak membawa apa-apa selain beberapa baju untuk dua hari ke depan. Anak laki-laki memang lebih simpel, Ghaisan lebih suka membeli di sana dari pada harus membawa yang ada.


Sambil berjalan, Ghasian memperhatikan sekelilingnya. Jangankan Annisa, bahkan kedua sahabatnya yang katanya akan mengantar pun tidak ada. Padahal sebentar lagi ia harus melewati bagian pemeriksaan, kemudian check-in.


"Ayo, Gas! Kok lama gitu sih jalannya," gerutu Rika.


"Iya, Ma." Sahutnya pelan. Ghaisan mempercepat langkahnya.


"Agas!" seru Raka dan Ghaisan pun langsung menoleh.


Ghaisan menyeringai tipis melihat Raka dan Rayhan yang berjalan cepat menghampirinya.


"Kamu ke sini juga, Ray?" tanya Rika.


"Iya, Tante," sahut Rayhan.

__ADS_1


"Kapan berangkat ke London?"


"Hari Sabtu sekarang." Sahutnya.


Rika mengangguk kecil sambil tersenyum. "Mama tunggu di dalam aja ya. Cepetan loh, kita harus check-in." Ujarnya.


Rika mengerti, putranya butuh waktu sebentar untuk mengobrol dengan sahabatnya. Meskipun Rika tidak menyukai Raka setelah tahu bahwa ia anaknya Sandy, namun tetap saja ia tidak mungkin melarang Ghaisan berteman dengannya. Rika merasa lega, karena dengan kuliah di luar negeri, putranya tidak akan terikat lagi dalam persahabatan yang menurutnya unfaedah itu.


Setelah meletakkan koper ibunya di jalur x-ray, Ghaisan menghampiri kedua sahabatnya. Raka langsung memeluk dengan gaya mereka dengan rasa haru sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


"Jangan lupain kita ya," pesan Raka.


"Nggak akan lah. Lo satu-satunya temen gue yang kelakuannya gaje (nggak jelas)," canda Ghaisan.


"Eh, jangan salah. Gue itu ngangenin loh," seloroh Raka sambil melepaskan pelukannya.


"Prett ah. Buat apa ngangenin lo, kalau udah ada Nisa yang bisa dia kangenin," kelakar Rayhan pelan. Rayhan dan Ghaisan bersalaman ala mereka, lalu saling menempelkan dada sesaat.


"Nisa nunggu lo di arah jam tiga," bisik Rayhan.


"Beneran, Ray? Dia datang ke sini?" tanya Ghaisan senang.


Tak menunggu jawaban dari Rayhan, Ghaisan langsung berlari ke arah yang diberitahukan sahabat sekaligus kakak dari kekasihnya itu.


"Jiaah, dia langsung lari aja," gumam Raka setengah menertawakan.


"Ciee yang sebentar lagi LDR-an juga," sindir Raka.


"Lo tahu gue punya pacar?" Rayhan terkesiap.


"Ya tahu laah, Pak Haji," kelakar Raka.


"Pak Haji?" Rayhan mengerutkan keningnya.


"Idih, amnesia lo ya? Mentang-mentang sekarang manggilnya 'sayang', lupa kalau lo dulu nyebut cewek lo itu 'Bu Haji'," delik Raka.


"Oh iya ya. Hehe sorry, kayanya gue emang amnesia deh," cengir Rayhan.


"Hati-hati lo beneran amnesia. Sampai sana kelayapan nyari cewek lain," todong Raka.


"Hoo itu nggak mungkin. Kalau itu gue jamin nggak akan lupa," sahut Rayhan yakin.


Raka menyeringai geli dengan tingkah sahabatnya.


"Ray, Agas mana?" tanya Rika dengan bagian dalam bandara.


"Mm ... ke toilet, Tante. Sebentar kok, nggak akan lama," sahut Rayhan berdusta.

__ADS_1


Rika nampak mengerutkan kening ketika mendengarnya. Pikirnya, kenapa tidak ke toilet yang ada di dalam saja?


Sementara itu, Ghaisan yang sudah berada di balik tiang besar yang terdapat di sana celingukan mencari Annisa. Ia sempat bingung, sampai kemudian tatapannya mengarah pada gadis remaja berjilbab yang membelakanginya.


"Apa itu Nisa?" batinnya heran. Karena tidak mungkin jika Isti yang menunggunya di sana.


"Annisa." Panggilnya.


Benar saja, gadis remaja itu langsung menoleh dan tersenyum pada Ghaisan yang justru terpana dibuatnya.


"Nisa nggak telat kan, Kak?" tanya Annisa sambil berjalan menghampiri Ghaisan.


Ghaisan masih terdiam. Ia terpana dengan wajah cantik Annisa yang mengenakan jilbab walaupun dengan gayanya yang sederhana. Ketika Annisa tinggal selangkah lagi mendekatinya, Ghaisan melangkah maju dan menarik pinggang Annisa, lalu memeluknya sangat erat.


Annisa menolak dan meronta dengan gerakan yang pelan.


"Sebentar saja, Sayang. Please," bisik Ghaisan.


Annisa pun terdiam, meski di dalam hati ia merasa risih dengan tatapan beberapa orang yang berlalu-lalang.


"Jaga kesehatan ya, Kak," ujar Annisa pelan.


"Aku pasti akan setia, Sayang," sahut Ghaisan.


Annisa melongo, lalu berkata : "Kesehatan, Kak. Bukan kesetiaan."


"Oh. Aku kira kamu minta aku setia," seloroh Ghaisan.


"Ish. Awas aja kalau selingkuh," gerutu Annisa.


"Tuh kan. Intinya tetap saja kamu meminta aku untuk setia," ujar Ghaisan yang sebenarnya sengaja melakukan itu untuk menutupi rasa harunya atas kedatangan Annisa di bandara.


Ghaisan melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Annisa. Ditatapnya wajah ayu itu dengan tatapannya yang sendu.


"Tunggu aku ya. Ingat, nggak usah maskeran. Nanti aja maskerannya kalau udah tahu aku mau pulang. Matanya jangan jelalatan. Nggak usah tengok kiri-kanan kalau cuma buat nyari yang lebih ganteng dari aku. Nggak akan nemu," ujar Ghaisan menegaskan.


Annisa terkekeh pelan dan tentunya memperlihatkan barisan giginya yang putih. Tatapan Ghaisan sulit diartikan, antara sedih dan senang.


"I love you, Nisa." Ujarnya sambil mengecup kening Annisa cukup lama.


"Terima kasih, Kak. I love you too. Jangan lupa berdoa selama diperjalanan." Pesannya.


"Kamu akan nunggu aku, kan?" tanya Ghaisan ingin memastikan.


Annisa pun mengangguk pasti.


Ghaisan memeluk Annisa sekali lagi sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2