
Happy reading ....
*
Entah karena suasana lapas yang dirasa asing atau penantian akan seseorang yang membuat Raydita terlihat tak tenang. Gadis itu celingukan dengan raut wajah gusar.
Perlahan tangan Raka yang duduk di sampingnya bergerak untuk menggenggam tangan Raydita. Raydita menoleh dan memaksakan senyum pada Raka yang memintanya untuk tenang melalui isyarat wajah.
Pintu ruang besuk tahanan itu ada yang membuka. Sontak Raydita menoleh ke arah pintu dan tatapannya langsung beradu dengan tatapan Sandy.
Keduanya terpaku. Terlihat jelas raut wajah Sandy yang tak percaya kan adanya Raydita di sana. Pria itu mengira hanya Raka yang datang membesuknya.
"Maaf, Pak. Kali ini saya menolak dibesuk," ujar Sandy yang langsung membalikkan badannya saat tersadar dari ketertegunannya.
"Pa."
"Om."
Raka dan Raydita memanggil Sandy dengan panggilan yang berbeda secara bersamaan. Hal itu membuat langkah Sandy terhenti.
"Dita mau bicara sebentar, Om," ujar Raydita datar.
Petugas lapas melihat pada Raka dan Raydita lalu punggung Sandy secara bergantian. Kemudian petugas itu pun berkata, "Pak Sandy, ada waktu 15 menit. Silahkan pergunakan sebaik mungkin. Saya permisi."
Sandy hanya bisa pasrah dengan mengangguk pelan pada petugas itu. Mau tak mau ia pun berbalik dan melangkah mendekati meja, lalu duduk di depan Raka dan Raydita.
"Bagaimana kabar papa?" tanya Raka sembari menatap wajah sang Ayah yang nampak semakin kurus saja.
"Seperti yang kamu lihat. Papa baik-baik saja," sahut Sandy dengan senyum yang dipaksakan.
__ADS_1
Sandy menoleh pada Raydita yang langsung membuang muka. Meski terlihat ragu, tak ayal Sandy menyapa Raydita.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Baik," sahut Raydita singkat dengan suara pelan. Raydita menundukkan kepalanya sembari mengatupkan bibirnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" tanyanya datar.
"Tidak ada yang penting. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku ... akan segera menikah," sahut Raydita ragu.
Sandy terkesiap. Ada rasa haru menyelimuti hati pria itu. Aah, seandainya saja ia ayah kandung Raydita. Mungkin saat itu dirinyalah yang akan menjadi wali nikah Raydita.
"Selamat. Saya turut bahagia untukmu, juga untuk mendiang Rida," ucap Sandy seraya menundukkan kepala.
"Terima kasih, Om," ucap Raydita pelan.
"Tentu. Namanya Yuda. Dia teman Aka, juga teman Dita. Kami cukup dekat dan saling mengenal satu sama lain. Papa jangan khawatir, Yuda pria yang baik dan bertanggung jawab. Aka, Ray, juga Om Adi yakin akan hal itu," sahut Raka.
Mendengar penuturan Raka membuat dada Sandy seketika terasa sesak. Siapa ia sampai harus mengkhawatirkan Raydita di saat begitu banyak sosok yang menyayangi gadis itu. Ia hanya masa lalu Rida, yang tidak hanya telah menorehkan luka pada wanita itu, tapi juga trauma bagi putrinya.
"Om minta maaf, Dita. Atas semua yang telah terjadi diantara kita," ujar Sandy seraya menundukkan pandangannya.
"Semua sudah berlalu, Om. Meski Dita sudah memaafkan, Dita tidak akan bisa melupakan semuanya. Siapa Dita, dan bagaimana masa lalu mama. Tapi mungkin Dita juga harus berterima kasih pada Om. Dengan masa lalu yang cukup rumit antara mama dan Om, Tuhan mengirimkan Papa Adi. Di keluarga itu Dita tidak kekurangan apa-apa. Dan hal itu yang Dita selalu syukuri sampai saat ini. Kasih Tuhan itu nyata, Om. Dita merasakannya," tutur Raydita panjang lebar.
Sandy merasa tertohok mendengar penuturan Raydita. Mau tidak mau, ia harus mengakui kebenaran akan ucapan putrinya itu.
Adisurya yang selama ini selalu dianggap saingan bisnisnya, ternyata sosok ayah idaman bagi Raydita. Sedangkan ia? Kalah jauh jika dibandingkan dengan Adisurya. Dalam bisnis, terlebih di dalam hati Raydita.
"Dit, waktunya sebentar lagi. Ada yang masih ingin lo sampaikan?" tanya Raka sembari menatap sendu wajah Raydita, juga pada Sandy yang diyakininya sedang merasa sedih.
__ADS_1
"Nggak ada. Dita cuma mau bilang, terima kasih. Semoga suatu hari nanti kita dipertemukan di tempat dan dalam suasana yang lebih baik. Semoga Om Sandy selalu sehat, dan dapat pengurangan hukuman supaya bisa keluar dari tempat ini lebih cepat dari yang ditetapkan pengadilan. Karena apa? Karena jika nanti Dita punya anak, Om harus datang sendiri menemuinya. Dita tidak akan pernah membawanya ke tempat seperti ini. Itupun kalau Om ingin bertemu dengan anak Dita tentunya," ujar Raydita. Meski terkesan angkuh, nada suara Raydita yang bergetar tak bisa menutupi perasaannya yang gusar.
"Tentu. Om akan menunggu saat itu tiba," sahut Sandy.
Sandy menundukkan kepalanya dengan jemari yang saling meremas di atas meja. Sandy terperanjat saat tangan Raka menyentuh jemarinya, lalu menepuk pelan sembari berkata, "Papa akan menjaga kesehatan papa dan berperilaku baik di sini. Aka percaya, papa bisa keluar lebih cepat dari yang seharusnya."
Sandy tak bisa lagi membendung air mata yang sedari tadi coba ia tahan. Melihat ketulusan di mata anak-anaknya membuat pria itu tersedu sembari menunduk sangat dalam.
Baik Raka maupun Raydita terkesiap melihatnya. Raka sampai kehabisan kata dan hanya mampu mengusap punggung tangan sang Ayah yang ia genggam. Sementara itu, Raydita melengoskan wajah. Ia tak ingin Sandy melihat ekspresinya yang larut dalam suasana di ruangan itu.
Petugas lapas yang tadi mengantar Sandy datang untuk mengingatkan jika waktu besuk sudah habis. Sandy cepat-cepat mengusap air matanya dengan ujung kaos berwarna orange yang ia kenakan.
"Sampai jumpa lagi, Pa. Jaga kesehatan, Papa." Raka menghampiri Sandy yang beranjak dari kursi dan langsung memeluknya.
"Terima kasih, Ka. Sampaikan salam papa untuk mamamu," ujar Sandy setengah berbisik.
Raka mengangguk pelan.
Sandy menatap Raydita yang sedang mengenakan sling bag. Ingin sekali ia memeluk buah hatinya itu. Tapi sepertinya mustahil karena Raydita hanya mengangguk pelan sebagai tanda berpamitan.
"Hati-hati, Ka," ucap Sandy pada akhirnya.
"Iya, Pa," angguk Raka.
Dari ambang pintu ruang besuk itu, Sandy menatap nanar langkah kedua anaknya. Sedih, itu pasti. Tapi semua buah dari perbuatannya sendiri.
Jangankan menjadi wali atau saksi, ia bahkan tidak bisa menghadiri pernikahan Raydita. Mungkin kemudian pernikahan Raka. Kini Sandy hanya bisa menyesali perbuatannya. Karena hukuman yang ia terima membuat Sandy harus rela melewatkan moment penting dalam kehidupan kedua anaknya.
_Bersambung_
__ADS_1