Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
reuni di rumah Agas


__ADS_3

Kebahagiaan dalam keluarga itu terasa sempurna dengan kedatangan Rayhan, Isti dan besan keluarga Adisurya. Makan malam bersama menjadi ajang kangen-kangenan keluarga kecil Adisurya yang kini sudah jadi keluarga besar dengan adanya Isti dan juga keluarganya.


Setelah makan malam usai, dengan berat hati Rianti harus merelakan anak-mantunya menginap di rumah Dahlan. 


Rayhan hanya mengantar Isti ke rumah orang tuanya, karena ia akan berkumpul dengan teman-temannya di rumah Ghaisan. Pria itu tersenyum lebar, merasa senang bisa berkumpul dengan mereka. 


“Hai, Calon Kakak ipar!” sapa Yuda pada Rayhan yang baru saja memasuki ruang keluarga.


“Kok lo ada di sini? Bukannya dipingit?” tanya Rayhan datar sambil bersalaman ala mereka.


“Nggak lah, masa dipingit. Kita ‘kan mau reuni,” sahut Yuda dengan wajah sumringah.


Rayhan mendaratkan bokongnya di sofa tak jauh dari Ghaisan.


“Lo kapan balik ke Amrik? Beneran kemarin lo balik ke sini cuma karena Nisa?” tanya Rayhan dengan tatapan tak percaya.


“Benerlah. Emangnya demi siapa lagi gue balik ke sini kalau bukan demi Nisa,” sahut Ghaisan sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. 


Rayhan mengulumkan senyum seraya berkata, “Harusnya lo sama Nisa yang naik pelaminan. Yakin lo masih bisa nahan? Awas aja ya kalau sampai ada ‘main’ di sana.” Ucapan Rayhan terdengar santai, akan tetapi baik Ghaisan maupun dua sahabatnya sangat tahu dan mengerti itu sebuah ancaman secara halus. Banyak hal yang mereka obrolkan mulai dari pekerjaan, rencana ke depan, sampai guyonan malam pertama Yuda dan Raydita.


“Eh, Yud. Fantasi s*x terliar lo apa? Yang pengen lo realisasikan di malam pertama. Kali aja BDSM ala-ala film Fifty Shades of Grey gitu,” tanya Raka yang duduknya berdekatan dengan Yuda.


“Apaan sih lo? Enggak ah, yang normal-normal aja. Serem amat BDSM (bondage, dominance, sadism, and masochism),” sahut Yuda yang juga mulai menyalakan rokok.


“Kenapa mesti BDSM sih? Emang nggak ada fantasi lain selain itu? Iya kalau bini lo suka atau nerima digituin, kalau enggak? Apa nggak berabe? Ntar dikira KDRT,” timpal Rayhan dengan raut datar.


“Iya juga sih. Hehehe. Namanya juga fantasi, Ray. Dita ‘kan agak bar-bar, ya kali aja mereka udah janjian.” Raka nyengir kuda mendapat seringaian Rayhan yang disertai delikan tajam.


“Lo gimana, Gas? Mau yang BDSM atau yang biasa aja?” tanya Yuda sekedar menggoda Ghaisan.


“Kalau lo nanya sih Agas, ya pasti yang biasa lah,” timpal Raka.


“Paling juga fantasi Agas cosplay ala-ala. Ya ‘kan, Gas?” tanya Rayhan yang ikut menggoda kekasih adiknya itu.


“Ala-ala apaan? Cosplay Nami yang di One Piece oke tuh. Asal jangan cosplay valak aja. Bisa-bisa bukannya terangs*ng, malah sawan,” kelakar Yuda yang sontak ditanggapi kekehan ketiga temannya.


Gelak tawa kembali terdengar setiap kali mereka melempar candaan. Sampai kemudian ponsel Rayhan berdering, dan pria itu meminta yang lain untuk diam.


“Iya, Sayang,” ucap Rayhan yang mendapat cebikan bibir dari Yuda dan Raka.


“Assalamu’alaikum, Kak. Kebiasaan deh,” protes Isti di ujung ponsel Rayhan.


“Hehehe, wa’alaikumsalam, Sayang. Aku sebentar lagi pulang kok. Setengah jam lagi, boleh?” tanya Rayhan lembut dan membuat Raka juga Yuga menatap tak percaya, sementara Ghaisan tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Boleh. Tapi jangan terlalu malam, biar nggak ganggu abi sama umi.”


“Siap, Sayang. Setengah jam di sini, plus di perjalanan. Oke?”


“Iya. Miss you,” pungkas Isti.


“Miss you too, Wifey. Assalamu’alaikum ….”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”


Rayhan menutup panggilan itu disertai senyuman tipis di wajahnya. Senyuman itu memudar ketika menyadari tatapan aneh Raka dan Yuda.


“Kenapa? Masalah buat kalian?” tanyanya ketus.


“Eng-gak. Nggak masalah kok ya, Ka?” tanya Yuda pada Raka yang hanya nyengir kuda.


“Ternyata Isti bukan cuma nama bini lo aja, Ray. Tapi kayanya lo juga ISTI deh,” cetus Raka yang membuat ketiga temannya menautkan alis.


“Maksud lo apa?” tanya Rayhan datar, masih dengan raut bingung.


“Aah gue tahu maksud si Raka,” ujar Yuda bersemangat.


“Apaan?” tanya Rayhan.


Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Selain Rayhan yang harus segera pulang, ketiga pria itu memutuskan untuk tidur di rumah Ghaisan. Tidur di ruang tv, berbaring di sofa yang tentunya cukup untuk mereka di posisi masing-masing.


Yups, masing-masing. Ketiga pemuda itu sedang menelpon pasangan masing-masing.


Berbeda dengan dua sahabatnya yang nampak int*im ngobrol dengan kekasih mereka, Raka justru harus menelan kecewa karena Yuli menolak panggilan telponnya. Kekasihnya itu bahkan tak membalas chat, membuat Raka merasa gelisah. Rupanya, raut wajah Raka yang tak tenang itu tak luput dark perhatian Ghaisan.


“Yang, Yuli tidur di kamar kamu?” tanya Ghaisan pada Annisa dengan suara pelan dan tatapan tertuju pada Raka.


“Iya. Memangnya kenapa, Kak?” 


“Nggak pa-pa. Kulihat Raka kayaknya lagi pusing telponnya nggak diangkat, dari tadi mondar-mandir nggak jelas.”


“Yuli udah tidur kali, Kak.”


“Oh. Ayang mau tidur juga?” tanya Ghaisan lembut.


“Hehehe. Kak Agas emangnya belum ngantuk?”


Ghaisan tersenyum tipis, kemudian berkata, “Iya deh. Udah dulu ya. Ayang istirahat, bangunin aku subuh. Soalnya aku bakal begadang deh kayaknya, takut kebablasan nggak shalat subuh.”

__ADS_1


“Siap, insyaAllah. Jangan tidur terlalu malam ya, Kak. Di sini Kak Agas nggak ada tugas malam, jadi nggak ada alasan untuk tidur terlalu malam apalagi pagi. ”


“Iya, Sayang. I love you.”


“I love you too. Assalamu’alaikum ….”


“Wa’alaikumsalam.”


Ghaisan menutup panggilan. Hal serupa juga dilakukan Yuda. Keduanya saling menatap penuh tanya pada Raka yang terlihat masih mencoba untuk menghubungi Yuli.


“Ck. Dimatiin,” decak Raka dengan raut kesal karena kini ponsel Yuli di luar jangkauan.


“Udahlah, Ka. Si Yuli pastinya mau istirahat. Besok juga ketemu,” tegur Yuda yang diangguki oleh Ghaisan.


“Huft. Oke. Besok gue izin bawa dia ke sini ya, Gas. Ada yang mau gue omongin sama dia,” ujar Raka dan lagi-lagi Ghaisan hanya memberikan anggukan. Ghaisan mengerti kerisauan di hati Raka setelah khilaf yang sudah terlanjur terjadi.


Mereka pun memilih bermain game online. Ketiganya mulai asik dengan permainan mereka entah sampai jam berapa.


Lain tiga pria di rumah Ghaisan, lain lagi dengan Rayhan. Pria itu tengah berada dalam tahap pemanasan sebelum memulai olah raga malam dengan Isti yang sedari tadi menunggunya pulang.


“Hubby, malam ini boleh bolong nggak?” bisik Isti di telinga Rayhan membuat pria itu justru semakin ter*ngsang. 'Bolong' yang dimaksud Isti merujuk pada libur berhubungan badan.


“Bolong kenapa, Sayang? Kamu lagi capek?” tanya Rayhan sembari menatap lekat pada istrinya. Pria itu coba menerka alasan dibalik sikap Isti. Karena jika itu masalah gairah, istrinya itu sama bergairahnya seperti dirinya.


“Aku udah telat beberapa hari, bangun tidur nanti mau coba testpack,” sahut Isti dengan raut malu.


“Whats? Kamu hamil, Yang?” tanya Rayhan antusias.


“Belum, Kak. Baru mau nyoba, jangan heboh dulu. Aku udah beli testpacknya dari sebelum kesini, tapi belum dicoba karena baru lewat dua atau tiga hari gitu. Tapi kalau besok masih belum haid, berarti telatnya enam hari. Nggak pa-pa ya, Kak? Soalnya kata keterangan di box-nya jangan dulu berhubungan kalau mau di test,” jelas Isti malu-malu.


“Okay, Honey."


"Beneran oke?"


"Beneran sayang, nggak pa-pa. Aah, kamu. Bisa-bisa aku nggak tidur malam ini,” ujar Rayhan sembari menekankan ujung hidungnya pada ujung hidung Isti.


“Tuh ‘kan, katanya nggak pa-pa, tapi kok nggak akan bisa tidur?”


“Bukan gitu, Sayang. Aku nggak bisa tidur, karena udah nggak sabar nunggu besok pagi. Memangnya kalau sekarang nggak bisa?”


“Bukan nggak bisa, takutnya nggak akurat,” kilah Isti.


“Baiklah, gimana Ayang aja."

__ADS_1


Rayhan membiarkan Isti tidur sembari memeluknya. Wajah Rayhan yang menengadah ke langit-langit kamar menyunggingkan senyuman. Membayangkan dirinya menjadi seorang ayah, membuat perasaannya berbunga-bunga dan kesulitan memejamkan mata.


__ADS_2