Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
cemburu pada Nisa


__ADS_3

Happy reading ....


Annisa terkesiap dengan apa yang dilihatnya. Nuansa putih dan pink muda yang mendominasi kamar itu, sangatlah memanjakan mata. Belum lagi furniturnya yang mewah.


"Yah, benar ini kamar Nisa?" tanya Annisa dari ambang pintu, menoleh pada Adisurya yang menghampirinya.


"Iya, Sayang. Ini pilihan ibu loh, sweet kan? Kamu suka warnanya?"


"Suka, Yah. Suka semuanya, ini bagus banget." Adisurya tersenyum lebar melihat kebahagiaan di wajah putrinya. Dengan isyarat mata, ia meminta Annisa menghampiri Rianti.


Annisa mengerti dan langsung mendekati ibunya, lalu terduduk di samping Rianti.


"Terima kasih, Bu. Nisa suka kamarnya, bagus."


Rianti mendelik dengan ekspresi wajahnya yang datar. Tiba-tiba dari belakang, Adisurya ada diantara mereka dan merangkul pundak keduanya.


"Jawab dong, Bu. Sama-sama, Sayang. Ibu senang kalau kamu suka kamarnya," bisik Adisurya di telinga Rianti dan membuat istrinya itu merasa geli.


"Oh ya, Nisa. Besok jam sepuluh akan ada guru private Bahasa Inggris ke sini. Belajar yang tekun ya, Nak."


"Beneran, Yah?"


"He-em. Ini juga usulan ibu loh," ucap Ayah Adi sembari melirik pada Rianti yang sedang salah tingkah.


"Terima kasih, Bu." Annisa langsung memeluk Rianti. Ia tidak perduli jika Rianti akan menolak. Namun di luar dugaan, Rianti mengusap lembut surai Annisa walau hanya sesaat.


"Pindahkan barang-barangmu ke kamar," ujar Rianti pelan. Annisa mengangguk cepat dan berlalu dengan riang.


Adisurya mengulumkan senyum melihat tingkah Annisa. Pria itu menoleh pada Rianti, lalu mencium pipinya.


"Ish, Mas. Nanti ada yang lihat." Ucapnya malu.


"Biar saja. Memangnya kenapa? Terima kasih, Rianti."


"Untuk apa?"


"Untuk senyuman di wajah Nisa. Aku akan sangat berterima kasih jika senyum itu selalu ada."


"Jangan berlebihan, Mas. Sudah seharusnya begitu. Bagaimanapun juga dia putri kita."


"Hmm, kamu benar. Sekarang, kita satu misi."


"Misi apa?"


"Mendekatkan anak-anak kita, sebelum akhirnya kebenaran tentang Annisa terungkap. Pelan-pelan, Ehan harus tahu bahwa Annisa itu adik kandungnya. Sedangkan Raydita, adalah adik sepersusuannya. Jadi apapun keadaannya, mereka berdua tetaplah adik Ehan. Anak-anak kita," ujar Adisurya pelan dan diangguki oleh Rianti.


Pasangan itu berlalu ke kamar baru Annisa. Menunggu putri mereka sambil menikmati suasana kamar.


"Nisa anak Tuan dan Nyonya? Pantas saja mereka mengistimewakan dia," gumam seseorang di samping pintu ruang makan.


***


Sementara itu di tempat lain ...


Rayhan, Raka, dan Ghaisan, juga beberapa remaja seusianya nampak bersemangat menggiring dan mengumpan bola berwarna oranye untuk masuk ke dalam ring. Meski keringat mulai bercucuran, namun raut wajah mereka terlihat senang.


"Ka, motor Lo asik tuh kalau dipakai balapan," ujar Atta, seorang kenalan Raka.

__ADS_1


"Pastinya," sahut Raka sambil meneguk air mineral yang dilemparkan Ghaisan.


"Gabung yuk, nanti malam." Ajaknya.


"Di mana?"


"Di jalan RH. Lo juga bisa ajak dua teman Lo itu." Ujarnya sambil menunjuk pada Rayhan dan Ghisan yang nampak tak acuh.


"Oke, kalau mereka mau. Jam berapa?"


"Hehe, cemen banget. Anak mami ya?" Ejek Atta pelan, namun dapat didengar oleh Rayhan dan Ghaisan.


Rayhan yang tak terima ejekan itu, mulai tersulut emosi. Melihat reaksi Rayhan, Raka cepat-cepat menghalangi langkah Rayhan yang akan menghampiri Atta.


"Tahan, Ray." Bisiknya.


"Heh, buktiin kalau memang kalian bukan anak Mami. Gue tunggu kedatangan kalian di jalan RH, jam satu malam. Oke?" ujar Atta, masih dengan raut wajahnya yang mengejek.


"Heh, lumayan juga. Motor mahal tuh," decih Atta, saat melihat motor kedua teman Raka.


"Udah lah, Ray. Nggak usah ditanggapin," ujar Agas.


"Apaan? Lo nggak dengar dia bilang kita anak Mami?"


"Terus? Lo mau kita samperin dia?"


"Kenapa enggak? Ya kan Ray?"


"Males ah. Drag liar malam hari itu ilegal, Bro. Kalau keciduk polisi berabe urusannya," ujar Agas.


"Ah payah, Lo. Ayo dong, Gas! Sekali-kali aja, mumpung malam Minggu nih. Pasti seru, cewek cantiknya juga pasti banyak di sana."


"Terserah deh."


"Ikut ya, Gas?"


"Iya ... iya!" jawab Ghaisan sambil berlalu menuju tempat parkir.


"Yes. Deal ya. Gimana nih cari alasannya?" tanya Raka pada Rayhan.


"Biasa aja. Kita tinggal bilang mau nginep di rumah Agas. Ya nggak?"


"Oke."


"No. Kali ini enggak," tegas Ghaisan.


"Maksud Lo?"


"Jangan pakai alasan nginap di rumah gue. Gue nggak mau ya kalau ada apa-apa, nyokap gue dibawa-bawa."


"Terus, kita nginap di mana dong?" tanya Raka.


"Ya di rumah Lo," jawab Rayhan dan Ghaisan bersamaan.


"Di rumah gue?"


"Iya. Nggak mungkin kan di rumah si Ray? Bisa ngamuk Om Adi. Mana security-nya sangar."

__ADS_1


"Iya benar, jangan di rumah gue. Penjagaan di rumah gue diperketat, sejak si Nisa kabur dari rumah. Security-nya diamuk mama," ujar Rayhan sambil memasangkan helm-nya.


"Nisa kabur? Nggak salah, Ray?" tanya Raka, yang diangguki Rayhan sambil menyalakan mesin motornya.


"Hehe, berani juga," gumam Raka.


"Tapi dia udah balik kan, Ray?" tanya Ghaisan.


"Udah. Bokap gue langsung nyusul. Dia baru nggak ada satu jam lebih aja, rumah udah kaya apa. Mama panik, Papa apalagi. Nah giliran gue nggak ada seharian, mana ada yang nyariin," dengus Rayhan.


Rayhan menoleh pada dua sahabatnya yang terkekeh. Ia mendelik, menyadari mereka sedang menertawakan dirinya.


***


Setibanya di rumah, Rayhan merasa jengah mengetahui adiknya-Raydita sedang melakukan protes pada sang mama. Lagi-lagi Annisa. Semua orang di rumah ini, dibuat tak tenang dengan kehadirannya.


"Ma, Dita juga mau ganti furnitur kamar. Masa iya, punya Nisa lebih bagus dari punya Dita sih. Mama kan bisa ngasihin punya Dita. Yang baru untuk Dita. Di kasih bekas juga dia pasti udah senang."


"Ya nggak gitu dong, Sayang."


"Mama kenapa sih? Eh Nisa! Lo pakai pelet apa, hah? Kemarin mama masih nggak suka dama Lo. Sekarang dia langsung suka, bahkan sayang sama Lo," ujar Raydita sarkasme, namun tak ditanggapi Annisa.


"Apa Dita juga harus kabur ya, Ma?"


"Ish, sembarangan. Awas aja kalau berani, mama kurung kamu di gudang."


"Tuh kan! Sama Nisa mama nggak gitu. Mama nggak adil."


"Dita, bukan begitu. Mama hanya bercanda. Oke, mama akan ganti semua. Kamu boleh milih sendiri di katalog mebel yang kemarin mama pesan."


"Asik, gitu dong Ma."


Rianti menghela nafasnya. Tak lama ia menoleh pada Rayhan yang sedang menuruni tangga.


"Mau kemana lagi, Han? Kamu kan baru datang."


"Ehan menginap di rumah Raka ya, Ma."


"Raka? Biasanya juga di rumah Agas." Rianti terlihat heran sekaligus tak suka.


"Sekali-kali, Ma. Papa nggak di rumah kan. Ehan nanti chat papa ya, Ma."


"Han, kenapa buru-buru?"


"Ehan malas Ma di rumah. Apa-apa Nisa. Pagi-pagi mama sewot karena Nisa, sampai sore pun masih juga Nisa. Nggak ada nama lain apa di rumah ini?" Dengusnya, sambil berlalu mengambil sepatu.


"Sayang, itu karena ...."


"Karena apa, Ma? Jangan-jangan benar yang dibilang Dita, Nisa itu udah melet mama. Heh, lama-lama satu rumah dia pelet." Decihnya.


"Han, Ehan!" Rianti mengikuti langkah Rayhan yang menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari teras.


"Rayhan janji, besok pagi pulang, Ma."


"Tapi kenapa menginapnya di rumah Raka? Kenapa nggak di rumah Agas, atau di sini aja. Kita bisa buat barbeque."


"Udah deh, Ma. Ini baru pertama kali Ehan sama Agas menginap di rumah Raka. Masa nggak boleh?"

__ADS_1


"Tapi, Han ...." Rianti tak meneruskan kalimatnya. Percuma saja meminta pengertian putranya yang sudah bersiap meninggalkan rumah.


_bersambung_


__ADS_2