Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
rooftop (2)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Di sisi lain gedung itu, Yuda memarkirkan motornya di basement.


"Lo yakin Ren di sini tempatnya?" tanya Yuda pada seorang remaja perempuan yang sedang melepas helm-nya.


"Iya lah. Masa gue salah sih. By the way toilet di mana ya?" tanya Iren sambil memperhatikan sekelilingnya.


Iren merupakan adik teman Yopi—kakak Yuda yang meminta ditemani ke acara ulang tahun sahabatnya. Saat ini Iren mencari toilet untuk mengganti celana denim dengan dress yang dibawanya.


"Kayanya di sebelah sana deh. Gue ke sana dulu ya, Yud," ujar Iren.


"Oke. Gue tunggu di sini," sahut Yuda. Untuk sesaat, Yuda menatap langkah Iren dengan seringaian nakal.


"Lumayan juga body-nya. Kalau gue 'tembak', bakalan diterima nggak ya? Nasib ... nasib. Tiga tahun di SMA gue jomlo. Gini amat ya gue," gumam Yuda yang kemudian terkekeh pelan.


Tak lama kemudian ujung matanya, melihat Iren berjalan mendekati. Yuda menoleh dan sempat melongo melihat mini dress yang dikenakan Iren. "Lumayan, kalau udah rezeki emang nggak kemana. Hehe ...," batin Yuda.


Yuda bersiul dengan tatapan yang menggoda sambil turun dari motornya. Seakan ingin menanggapi tatapan Yuda, Iren melenggok dengan genitnya dan memberikan paper bag berisi denim dan jaket yang tadi dipakainya.


"Yuk!" ajak Iren dengan gerakan kepala.


"Oke. Kenapa nggak dari tadi lo pakai baju itu?" tanya Yuda.


"Ya kalee gue langsung masuk angin. Lagian lo juga sih, gue suruh bawa mobil eh, malah bawa motor," delik Iren.


"Modus dikit boleh dong," kelakar Yuda. Angan Yuda mulai berkeliaran saat Iren melingkarkan tangannya di lengan Yuda sambil berjalan menuju lift.


Di rooftop ....


Raydita cukup kesulitan melepaskan diri dari Colin. Pria bule itu seakan bersikeras dengan keinginannya mengajak Raydita bersenang-senang versi dirinya. Beberapa kali Raydita berhasil merenggangkan pelukan pria itu, Colin menarik kembali dan terus berusaha mendaratkan bibirnya pada bibir Raydita.


Colin tak bergeming saat Tasha memukulkan hand bag ke punggunnya. Mela yang merasa geram dengan kelancangan pria itu bahkan menyiramkan cocktail yang sedang diminumnya.


Suasana mulai memanas saat Colin membalas Mela dengan sebuah tamparan. Jessica yang tak terima acaranya berubah menjadi sebuah ajang pertengkaran berbalik berang pada sepupunya yang berkata, "Ckck. Udah deh Jessy, sebentar aja kok. Kapan lagi bisa lihat tontonan yang begini. Nggak akan ada yang nolongin Dita di sini. Kita lihat aja sampai dimana dia bisa menolak Colin."


"Lo gila, Vio. Ini acara gue! Colin, stop it!" berang Jessica.

__ADS_1


Pria itu masih tak bergeming, dan itu membuat Viola menyeringai senang. Semakin Raydita meronta, Colin semakin suka. Rontaan Raydita perlahan menggeser posisi keduanya. Raydita yang mulai lelah meronta, menggigit tangan Colin dengan sisa tenaga yang ia punya.


"Aarrgh! ****!" pekik Colin yang refleks menghampaskan Raydita ke kolam renang.


Byuurrr.


"Dita!" pekik Mela dan Tasha. Bersamaan dengan Yuda yang memasuki ruangan itu.


"Dita?" gumam Yuda heran. Sekilas Yuda melihat Tasha yang panik. Tanpa pikir panjang, Yuda berlari keluar menghampiri mereka.


"Eh-eh, lo mau kemana, Yud?" tanya Iren bingung.


Yuda langsung mengarahkan matanya ke dalam kolam renang. Yuda tersentak melihat Raydita seperti seseorang yang ternggelam. Yuda langsung berlari ke tepi kolam renang dan ... byuur. Yuda berenang mendekati Raydita dan membawanya ke tepi.


"I-itu si Yuda, kan? Gue nggak salah lihat, Mel?" tanya Tasya.


"Iya benar, itu Yuda. Ayo kita ke sana," ajak Mela.


Raydita bukan tak pandai berenang. Tapi sejak kejadian di kebun teh yang menyebabkan dirinya mengalami hipotermia, Raydita seperti pagofobia (ketakutan akan sesuatu yang dingin). Hal itu yang membuatnya tak bisa refleks menggerakkan anggota tubuhnya.


"Dit ... Dita. Sadar Dit," ujar Tasya cemas, saat melihat Raydita yang dibaringkan di tepi kolam renang terlihat lemas.


Yuda berinisiatif memberikan nafas bantuan dengan mulutnya. Satu kali ... dua kali ... dan ketika akan melakukan yang ketiga kalinya, Raydita terbatuk dan memuntahkan air.


"Dit, lo nggak apa-apa, kan?" tanya Tasya yang semakin cemas melihat Raydita yang gemetar kedinginan.


"I-ini. Tapi nggak ada handuk gede. Gimana dong?" tanya Mela bingung. Handuk kecil yang ia dapatkan itupun sebenarnya hanya lap yang dimintanya dari pelayan lounge.


"Gue ada baju temen gue di motor. Gue bawa Dita ke bawah ya," ujar Yuda sambil membopong Raydita. Yuda tidak menghiraukan Iren yang melongo dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Kita juga ikut yuk!" ujar Tasya.


"Oke." Mela menghampiri Jessica dan berpamitan. Jessica terlihat sangat malu dan meminta maaf pada Mela. Mela dan Tasya berlalu menyusul Yuda. Samar-samar terdengar amarah Jessica yang meledak-ledak ditujukan pada Viola dan temannya, Colin.


Yuda menunggu di luar toilet sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Ia ingin mengabari Annisa, tapi tak ingin membuat sahabatnya itu khawatir. Yuda tersentak mendengar isakan dari dalam toilet. Pria itu refleks mendorong pintu toilet yang memang hanya dihalangi oleh punggung Tasya.


"Dita kenapa, Sya?" tanya Yuda.


"Dita pasti syok, Yud," sahut Tasya sambil keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Bawa pulang aja. Ayo!" ajak Yuda.


Mela memapah Raydita yang berwajah sembab. Wajahnya pucat dan bibir yang kebiruan.


"Gue mau pulang ke apartemen. Kalau gue pulang ke rumah, masalahnya bisa panjang," ujar Raydita dengan air mata yang berderai.


"Tapi, Dit ...." Tasya menoleh pada Mela yang memberi isyarat agar mengikuti keinginan Raydita.


"Kita ke rumah sakit dulu ya, Dit," ajak Yuda.


Raydita menggeleng lemas, dan mau tak mau mereka mengikuti keinginannya.


"Yud, gue bawa motor lo. Baju lo kan basah. Lo di mobil gue aja sama Dita dibelakang. Si Tasya yang nyetir," ujar Mela.


Tasya mengangguk dan mereka pun memapah Dita ke dalam mobil Mela. Tasya mengemudikan mobil itu menuju apartemen Rida. Begitu juga dengan Mela.


Setibanya di gedung apartemen, Raydita terlihat sangat lemas saat mengucapkan sandi pintu apartemen. Setelah berhasil masuk, Tasha langsung membantunya mengganti pakaian Raydita dengan piyama.


"Sya, di lemari yang ujung ada baju Kak Raka kalau nggak salah. Kasihin ke Yuda buat ganti," ujar Raydita lemas.


Tasya beranjak dari tempat tidur. Tak lama Mela menghampiri dengan secangkir teh panas. Mela mengambilkan satu baju yang kemudian di berikan pada Yuda. Sedangkan Mela menawarkan diri untuk menemani tidur di sana.


"Gue chat Nisa ya, bilang kalau kita nginep di sini," ujar Mela.


Raydita mengangguk pelan sambil menarik selimut untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk porinya. Tasya mengambilkan selimut lain untuk memastikan Raydita merasa hangat.


Setelah meminum teh hangat buatan Mela, Raydita mulai memejamkan mata. Karena tak ingin mengganggu, Mela dan Tasya meninggalkan Raydita sendirian di kamar.


"Dit, lo nggak sendiri. Kita ada di luar," ujar Tasya pelan sambil mengusap kening Raydita untuk memastikan sahabatnya itu tidak mengalami demam. Setelahnya, Tasya menyalakan lampu tidur di atas nakas.


Lampu kamar dimatikan, pintu pun ditutup rapat. Tak lama kemudian, dari balik selimut terlihat tubuh Raydita berguncang seiring dengan isak tangis yang tertahan.


"Ma ...," lirih Raydita di sela isakannya. Gadis itu tidak menyangka akan mengalami hal yang menakutkan. "Ma ...." Suara Raydita bergetar dengan jemari yang meremas kuat selimut yang menutupinya.


Di saat yang bersamaan ....


Seorang dokter dan perawat baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin sesuai jadwal di ruangan yang nampak remang dan hanya bunyi alat medis yang terdengar. Perawat itu hendak membetulkan posisi selang infusan, namun kemudian ia terkesiap dengan apa yang dilihatnya.


"Dok." Panggilannya menghentikan langkah dokter yang hendak membuka pintu.

__ADS_1


"Pasien sadar," imbuh perawat itu.


_bersambung_


__ADS_2