
Happy reading ....
🌿
Mentari pagi ini terasa hangat, sehangat kebersamaan keluarga Adisurya yang tengah menikmati sarapannya. Tawa renyah yang terdengar dari dalam rumah, menularkan senyum pada siapa saja yang mendengarnya. Salah satunya Bi Susi, yang juga sedang sarapan bersama Mang Asep dan pelayan lain.
"Bapak senang, akhirnya Non Dita sama Neng Nisa bisa akrab," ujar Mang Asep.
"Iya, Pak. Memang seharusnya begitu kan?" sahut Bi Susi yang diangguki oleh suaminya.
"Paling juga Non Dita pura-pura," seloroh Hani dengan suara pelan. Santi yang berada di samping Hani langsung menyiku dan memintanya untuk diam dengan isyarat wajah. Hani mendelik dengan raut wajah masam.
"Jangan bicara sembarangan. Sudah seharusnya kita ikut senang dan mendoakan. Kamu mau, di rumah utama ribut terus? Yang ada, kita ini juga kena imbasnya," tutur Mang Asep pelan.
"Bukan begitu, Mang. Kita kan tahu bagaimana Non Dita. Sebelum dia tahu Nisa itu anak Tuan dan Nyonya, dia udah nggak suka. Apalagi sekarang? Saya jamin, dia bukan nggak suka lagi, tapi benci. Sebenci-bencinya," sahut Hani pelan. Bi Susi dan Mang Asep tak berkata apa-apa lagi.
***
Annisa dan Raydita berjalan bersamaan menuju kelas mereka. Keakraban mereka menghadirkan tanda tanya besar di benak Yuda yang berjalan sangat pelan di belakang keduanya.
"Yud, tunggu." Terdengar samar-samar suara Istiqomah memanggil.
Yuda menoleh, menghentikan langkahnya dan menunggu Isti. Dengan nafas terengah Isti pun mendekat pada Yuda.
"Eh, itu Nisa kan?" tanya Isti sambil menunjuk. Ia hendak memanggil namun Yuda mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Isti heran.
"Aku heran, pagi ini Nisa sama Dita akrab banget," sahut Yuda pelan.
"Oh ya? Bagus dong. Berarti Dita udah mau menerima Nisa sebagai saudari angkatnya," ucap Isti sambil meneruskan langkah menuju kelas.
"Yakin?"
"Kenapa enggak? Namanya juga manusia, nggak selalu salah dan nggak selalu benar juga kan?"
"Hehe iya sih. Kamu cocok jadi Bu Haji," seloroh Yuda.
__ADS_1
"Aamiin, semoga doa kamu terkabul."Jawaban Isti yang santai ditanggapi horor oleh Yuda.
Tak hanya Yuda yang merasa aneh dengan kedekatan Annisa dan Raydita. Dua sahabat Raydita-Mela dan Tasya, juga merasakan hal yang sama.
Keduanya melongo menatap horor pada Annisa dan Raydita yang masuk bersamaan dengan wajah ceria.
"Mel, gue nggak lagi mimpi kan?" tanya Tasya sembari menggoyang-goyangkan lengan Mela yang juga sedang mengucek sebelah matanya.
"Kayanya enggak deh, Sya." Sahutnya. Gerakan mata Mela dan Tasya mengikuti setiap gerakan Raydita.
"Kalian kenapa?" tanya Raydita heran.
"Lo itu yang kenapa, Dit? Kesambet dimana, Lo? Kok bisa dekat gitu sama si Upik Abu?" Mela balik bertanya.
"Yee, aneh ya emangnya kalau gue jadi orang baik?" tanya Raydita lagi.
"He-em." Kedua sahabat Raydita mengangguk cepat.
"Gitu ya ...," ucap Raydita dengan wajah lesu.
"So-sorry, Dita. Bukan itu maksud kita kok. Lo baik, baik banget. Suka traktir kita berdua, hehe. Iya kan, Mel?" sanggah Tasya sambil memberi isyarat pada Mela.
"Terserah kalian aja deh. Mmm, gimana kalau weekend ini kita ke vila? Papa sama Mama nggak ada di rumah. Kita juga bisa ajak Nisa sama teman-temannya," usul Raydita.
"Sama mereka? Oke ... tapi ajak Kak Ray juga ya, please," ujar Mela.
"Pasti dong. Mana boleh gue ke sana kalau nggak sama Kak Ehan," sahut Raydita. Mereka pun ber-tos-ria.
Sementara itu, kedua teman Annisa juga menanyakan hal serupa. Isti menaggapi dengan berucap syukur, sementara Yuda menaggapi dengan decihan. "Aah, paling juga dia lagi nge-prank kamu, Nisa." Ucapnya.
"Nggak lah, Yud. Dita itu aslinya memang baik," bela Annisa.
Annisa menoleh pada Raydita. Di saat yang bersamaan, Raydita juga menoleh padanya. Keduanya pun mengulumkan senyum. Annisa merasa sangat senang melihat perubahan Raydita yang bisa menerima persudaraan mereka.
***
Jam istirahat pun tiba. Hari ini Isti tidak membawa bekal karena sedang berpuasa sunnah. Ia mempersilakan Annisa dan Yuda untuk jajan ke kantin, sementara dirinya ke perpustakaan.
__ADS_1
"Yuda, kamu aja ya. Aku mau ke perpustakaan juga," ujar Annisa, saat mereka berada di persimpangan koridor dekat perpustakaan.
"Aah, nggak mau. Nanti kamu ke perpustakaan bareng aku. Kita jajan dulu. Aku lapar Nis, nggak sempat sarapan," ucap Yuda yang sambil menarik lengan Annisa.
"Itu kan kamu. Aku nggak lapar, Yud." Annisa menepuk-nepuk tangan Yuda yang menggenggam tangannya.
"Kalau nggak lapar, ya laparin aja. Demi aku, oke?" Ujarnya.
"Yang ada aku kenyang lihat kamu, Yud. Ish, ini lepas dong tangannya," pinta Annisa.
"Pokoknya anterin aku dulu. Banyak cewek yang naksir aku, Nisa. Nanti mereka bisa-bisa antri minta nomerku. Aku kan malu sama kakak kelas, di kira aku ini cover boy kali ya," aku Yuda.
"Ish, ish. Kepedean kamu, Yud. Yang ada mereka mau nimpukin kamu, bukan antri minta nomer ponsel," delik Isti.
"Iya, iya. Aku anterin kamu ke kantin. Tapi lepas dulu tangannya," pinta Annisa.
"Bye, Isti," ujar Yuda yang masih menarik tangan Annisa.
Beberapa langkah ke depan, mereka berpapasan dengan Rayhan dan kedua sahabatnya yang baru menuruni tangga. Rayhan bersikap datar, begitu juga Raka dan Ghaisan yang nampak cool.
"Lepasin tanganku, Yud," pinta Annisa pelan.
"Ayo, Nisa. Katanya mau ke perpustakaan. Jalannya yang cepat," ujar Yuda.
"Bukan muhrim, nggak usah pegangan tangan." Ghaisan tiba-tiba menyela diantara keduanya. Tak hanya melepaskan genggaman tangan Yuda dan Annisa, Ghaisan juga merengkuh pundak Annisa dan berlalu begitu saja.
Yuda melongo dengan ekspresi wajah bingung, begitu juga Annisa yang memaksa melepaskan tangan Ghaisan dari pundaknya. Tak hanya Yuda, Raka juga menatap bingung pada Rayhan yang berlawanan arah dan berbelok ke koridor menuju pepustakaan.
"Mereka kenapa? Gue ditinggal sendiri," gumam Raka yang tanpa sadar semakin mendekat pada Yuda.
"Woy! Bukan muhrim," seru Yuda saat melihat Ghaisan mencoba kembali meletakkan tangannya di pundak Annisa.
"Sialan, Lo. Ngagetin gue," ujar Raka menggerutu.
"Yee, kenapa juga Lo nyamperin gue?" delik Yuda.
Yuda pun berlari menyusul Annisa sambil berseru, "Nisa, tunggu!"
__ADS_1
"Anj*y, gue beneran di tinggal sendiri," ujar Raka yang memperhatikan ke sekitarnya. Melihat beberapa siswi menyapa dengan senyum mereka, Raka berlalu dengan gayanya yang cool sambil balik menyapa.
_bersambung_