
Hari yang cerah di kesempatan yang berbahagia. Alam seakan merestui acara pernikahan yang digelar hari ini.
Suasana di kediaman Adisurya diramaikan oleh kerabat si empunya hajat meskipun tak banyak. Sementara tamu undangan mungkin akan datang di siang hari.
Annisa dan Yuli sedang berdandan secara mandiri, tanpa bantuan tim perias pengantin. Keduanya tampak cantik dengan make up natural dalam balutan kebaya berwarna senada.
Lain mereka berdua, lain juga pasangan Isti dan Rayhan.
Sejak kehamilannya diketahui, Isti mengalami morning sickness yang cukup parah. Keinginan untuk muntah terus terasa meski sudah tak ada yang bisa dikeluarkan lagi. Seperti saat ini, Ikah mengusap-usap punggung Isti yang sudah terlihat lemas di hadapan wastafel di dalam kamar mandi.
“Yang. Ini teh-nya,” ujar Rayhan yang berjalan menuju kamar mandi.
Tepat saat Rayhan membuka pintu, Ikah sedang menggandeng Isti. Rayhan buru-buru mendekati, kemudian berkata, “Umi, maaf bisa tolong pegangin?”
Ikah menerima mug yang disodorkan Rayhan. Tak lama Rayhan membopong Isti keluar dari kamar, dan menurunkannya di tepi ranjang.
“Minum dulu,” ujar Ikah.
Isti meminum teh hangat yang sudah gelas kedua. Isti terlihat lega, walau perutnya masih terasa kurang nyaman.
“Umi, udah mulai belum acaranya? Gimana ini?” tanyanya bergumam dengan raut wajah khawatir. Sejak tadi, Isti masih belum mengenakan kebaya, ia bahkan belum merias wajah.
“Santai aja, Yang. Mama pasti ngerti kok.”
“Tapi aku juga pengen lihat acaranya, Kak,” timpal Isti manja.
“Ya udah, Umi bantu yuk,” ujar Ikah yang diangguki cepat oleh putrinya.
Rayhan tak bisa berbuat banyak, selain membopong Isti ke walk-in closet. Di belakangnya Ikah mengikuti agar bisa membantu Isti mengenakan kebaya.
“Nanti jangan digendong begini ya. Malu,” ucap Isti dengan wajah merona.
“Kenapa malu? Nggak pa-pa dong, Sayang.”
“Aah, nggak mau,” geleng Isti dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
“Iya, Sayang. Enggaak.” Rayhan tersenyum lebar. Satu hal yang mulai nampak berbeda dari Isti sejak kehamilannya adalah semakin manja.
Di sisi lain rumah itu ….
__ADS_1
Rianti menatap pantulan wajah cantik yang baru saja selesai dirias. Gadis kecilnya yang bossy, sebentar lagi menyandang status istri. Tak hanya Rianti, Raydita juga sedang menatapnya. Menatap haru, pada wanita yang membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu.
Rianti menyadari kedua mata Raydita yang berkaca-kaca. Ia pun cepat-cepat mengambil tisu dan menggeleng pelan sambil tersenyum, meminta Raydita untuk tak menitikkan air mata. Karenanya, setelah memberikan tisu pada Raydita, Rianti pun pamit.
“Mama mau lihat ke bawah dulu ya. Sekalian mau manggil Nisa sama Isti biar nemenin kamu sampai rombongan calon mantu datang. Sebentar ya, Sayang,” ujarnya.
“Iya, Ma,” sahut Raydita pelan.
Raydita menatap pantulan punggung Rianti pada cermin. Punggung yang pernah menggendongnya sambil berlari menghindari kejaran Rayhan.
“Terima kasih, Ma,” batin Raydita saat langkah Rianti berlalu keluar dari kamarnya.
Tak berselang lama, Annisa dan Yuli masuk ke kamar itu dengan kehebohan ala mereka. Sesaat kemudian, Isti dan Rayhan. Selain saling memuji, tentu saja mereka tak melewatkan moment kebersamaan dalam jepretan kamera ponsel. Rayhan yang bertugas sebagai kang foto pun hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah mereka.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara alat musik mulai ditabuh menandakan rombongan calon mempelai pria sudah datang. Yuli dan Annisa bergegas menuju balkon, sementara Isti ingin segera turun untuk melihatnya.
Dari tempatnya duduk, Raydita bisa melihat raut wajah Annisa dan Yuli sangat bahagia melihat iring-iringan di bawah, membuat perasaan Raydita mendadak tak menentu.
Di yang bersamaan, Raka masuk ke dalam kamar, dan mengalihkan perhatian Raydita.
“Cantiknya adek kakak,” puji Raka. Sambil berjalan mendekati Raydita, Raka sempat melirik pada ke balkon. Senyumnya merekah melihat wajah Isti yang ceria.
“Dita. Papa mau ngomong katanya,” ujar Raka sembari memberikan ponselnya.
Raydita sempat terkesiap. Ia tak menyangka Sandy akan menelponnya di hari istimewanya. Raydita pun menerima ponsel itu dan mendadak merasa canggung.
Raka tersenyum tipis dengan kepala yang dianggukan pelan. Untuk memberi ruang pada Annisa, Raka berlalu menuju balkon menyapa dua wanita cantik yang ada di sana.
“Halo,” sapa Raydita yang mencoba untuk tak gugup.
“Halo, Dita. Selamat, Nak. Selamat atas pernikahanmu hari ini dengan Yuda. Papa hanya bisa mendo’akan semoga acaranya lancar, dan yang terpenting kau bahagia.”
“Te-terima kasih,” ucap Raydita singkat. Raydita seakan kehabisan kata. Ia bingung menanggapinya.
Ceklek.
Pintu kamar kembali dibuka dari luar. Kali ini rupanya Adisurya.
“Papa.” Refleks Raydita mengucapkannya sambil tersenyum pada Adisurya.
__ADS_1
Jauh di sana, Sandy tersenyum lebar mendengar panggilan itu. Sayangnya senyum tersebut memudar saat terdengar Adisurya berkata, “Sudah siap, Sayang?”
Sandy menundukkan kepalanya. Ia harus sadar diri, dan memang tak pantas mendapat panggilan itu dari Raydita.
“Dita. Bisa papa bicara sebentar dengan Adi?” tanyanya kemudian.
“Tentu. Sebentar,” sahut Raydita datar.
Raydita memberikan ponsel Raka pada Adisurya sembari berkata, “Om Sandy mau bicara sama papa.”
“Sandy?” tanya Adisurya yang diangguki cepat oleh Raydita. Adisurya menerima ponsel itu dan langsung menyapa Sandy.
Setelah saling menyapa, Sandy berucap, “Thanks, Adi. Kau ayah yang baik. Aku malu terhadapmu, dan aku juga mau minta maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu. Terima kasih sudah membesarkan Dita dan tak membuatnya kekurangan apa-apa. Sekali lagi, terima kasih.”
Adisurya tertegun. Ayah yang baik?
Tidak. Ia bukan ayah yang baik. Karena ayah yang baik tidak akan menelantarkan anak kandungnya.
Adisurya terdiam cukup lama, membuat Raydita merasa heran. Ketertegunan pria itu buyar saat mendengar suara riang Annisa yang masuk ke dalam ruangan.
“Sama-sama. Baik-baiklah di sana. Meskipun kau tidak berkumpul bersama anak-anakmu, aku yakin kau mendengar mereka bahagia juga akan membuatmu bahagia.”
“Kau benar. Kalau begitu sudah dulu ya. Kau pasti sangat sibuk hari ini. Sampaikan terima kasihku pada Rianti,” pungkas Sandy.
“Nanti kusampaikan.” Panggilan itupun diakhiri, bersamaan dengan masuknya Raka dan Yuli.
Adisurya memberikan ponsel pada Raka, kemudian mendekap Annisa dan mencium keningnya. Entah kenapa rasa bersalah itu tiba-tiba menghinggapi hatinya.
Jika harus jujur, Adisurya merasa dirinya lebih buruk dari Sandy. Pria itu melakukan kesalahan karena memang tak tahu menahu tentang kehadiran Raydita di dunia, sementara ia melakukannya dengan kesadaran sepenuhnya. Sengaja menjauhkan Annisa kecil dari keluarganya. Bukankah seharusnya ia mendapat hukuman yang pantas? Karena jika tak dihukum di dunia, Adisurya merasa mungkin dirinya tak akan sanggup menerima hukumannya di akhirat kelak.
“Ayah kenapa?” tanya Annisa dengan tatapan bingung. Adisurya terlihat melamun dengan tatapannya yang kosong.
“Ayah nggak pa-pa, Sayang. Ayah membayangkan, sebentar lagi kamu juga akan menyusul Dita dan meninggalkan rumah ini. Pasti nanti sepi,” kilah Adisurya berdusta.
Beruntung terdengar panggilan Dahlan, sehingga Adisurya punya alasan untuk segera pergi agar hatinya tak semakin karuan.
“Papa turun dulu ya,” ujarnya sembari meraih tangan Raydita, lalu mencium punggung tangan itu sekilas. Sekali lagi Adisurya mencium kening Annisa, kemudian melepaskan dekapannya.
Adisurya berlalu dengan diiringi senyuman kedua putrinya. Terlepas dari rasa yang kembali menghantuinya, selama ini Adisurya sudah berusaha memantaskan diri berperan sebagai ayah bagi ketiga anaknya.
__ADS_1