Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
desa yang dirindukan (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Angin sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan terasa menyegarkan di siang yang cukup terik. Di saat seperti ini, pohon yang rindang menjadi tempat ternyaman untuk bersandar. Belum lagi hamparan sawah yang menghijau dengan beberapa orang petani sedang menggarapnya. Suasana alam pedesaan itu memanjakan mata Rayhan yang sedang terduduk menunggu Annisa.


Sesekali Rayhan menoleh pada Annisa yang sedang mencabuti rumput-rumput kecil di makam Bu Asih. Meski mereka sudah cukup lama berada di tempat itu, Rayhan masih melihat Annisa mengusap air matanya.


Rayhan merasa lega orang tuanya sudah mengetahui keberadaan mereka. Meskipun telinganya panas mendengar omelan sang mama.


"Nisa!"


Rayhan menoleh ke arah suara. Seorang remaja seusia Annisa berlari menuju area pemakaman masih dengan seragam SMA-nya.


"Nisa! Ya Allah, ini beneran kamu?" pekiknya.


Rayhan beranjak dan menghampiri mereka yang sedang berpelukan. Rahyan tersenyum lebar melihat wajah Annisa yang sudah tak muram lagi.


"Kamu kapan datang, Nisa? Sudah ke rumah belum?" tanyanya.


"Belum. Kamu baru pulang sekolah ya?"


"Iya. Kamu tinggal di mana, katanya sama orang kaya ya? Sama siapa kesini?" cecarnya.


Annisa terkekeh pelan melihat kehebohan sahabatnya-Yuli. Raut wajah Yuli jadi merona saat menyadari Rayhan sedang memperhatikan mereka.


"Siapa? Pacar kamu?" tanya Yuli setengah berbisik.


"Bukan. Ini Kak Ehan, kakakku," sahut Annisa memperkenalkan.


"Rayhan."


"Yuli."


"Nis, dia beneran kakakmu? Ganteng." Yuli berbisik sambil tersipu. Annisa mengulumkan senyum melihat tingkah sahabatnya itu.


"Ayo, ke rumahku! Ibu sama Bi Titin sedang masak untuk kamu." Ucapnya riang.


"Ngerepotin dong," ucap Annisa.


"Ya enggak lah. Udah beres belum?" tanya Yuli yang kemudian membantu membuang gundukan rumput yang tadi dikumpulkan Annisa.


Sekilas Annisa mengusap nisan Bu Asih. Dalam hati ia berpamitan dan berjanji akan kembali sebelum pulang nanti.


Rayhan mengikuti langkah Annisa dan Yuli. Tadi, sebelum memasuki desa mereka bertemu ayah Yuli. Rayhan menitipkan motornya di rumah Yuli dan berjalan kaki ke pemakaman.


"Kamu pasti betah ya, Nis. Sekarang kamu cantik. Aku jadi malu jalan sama kamu," ujar Yuli yang menggandeng tangan Annisa.


"Kenapa malu? Kamu juga cantik."


"Bisa aja. Eh tahu nggak? Sehari setelah kamu pergi, ada ibu-ibu datang ke rumah kamu. Siapa ya namanya? Mmm ... Bu Susi. Katanya saudara almarhum ibumu, Nis. Kamu kenal?"

__ADS_1


"Kenal. Kami tinggal bersama," sahut Annisa.


"Oh, jadi kamu tinggal sama saudara ibumu. Pantesan."


Annisa tersenyum sembari menoleh pada Rayhan. Yuli belum mengetahui jati diri Annisa yang sebenarnya. Dan itu lebih baik bagi Annisa. Setidaknya di desa ini, ia tetaplah putri Bu Asih.


"Nis. Kamu menginap, kan? Nginap ya ...," pinta Yuli, kemudian berbisik pada Annisa.


"Hei, ada gue di sini. Bisik-bisik," tegur Rayhan.


Yuli menoleh sambil nyengir. "Hehe, kakak tahu ya yang aku bisikin."


"Enggak. Emang Lo ngomong apaan?"


"Yuli minta kita nginep, biar bisa lama lihat kakak ganteng katanya," ujar Annisa dengan senyum menggoda.


"Ish kamu, Nis." Yuli menepuk lengan Annisa.


"Ciee mukanya merah." Annisa menghindari kegemasan Yuli dengan berlari kecil. Keduanya pun menikmati sisa perjalanan ke rumah Pak Indra sambil bercanda. Rayhan tersenyum lebar melihat kebahagiaan mereka.


***


Di kediaman Adisurya, suasana tak semenegangkan sebelumnya. Meski Rayhan melarang Adisurya dan Rianti datang ke desa dengan alasan takut merusak kebahagiaan Annisa, Adisurya memerintahkan beberapa orang suruhan untuk mengawasi anak-anaknya.


Adisurya dan Dahlan mengobrol di teras belakang. Sementara Yuda berada di kamar Raydita bersama Isti dan ibunya. Mereka mencoba menghibur Raydita, membuat Raydita memaksakan senyum untuk menghargai tamunya.


"Bu Rianti, Nisa kapan pulang?" tanya Isti.


"Kalau diperhatikan, Nisa mirip banget ya sama Neng Rianti. Saya belum pernah ketemu, tapi waktu lihat fotonya di ponsel Isti, langsung ingat masa kita remaja dulu. Mirip banget," seloroh Ikah.


"Kamu jangan panggil 'Neng'. Sekarang panggilan itu dipakai Nisa. Panggil nama aja," pinta Rianti.


"Oh ya? Ternyata bukan cuma cantiknya yang nurun, panggilannya juga nurun," kelakar Ikah.


"Bisa aja kamu," ujar Rianti tersipu.


"Panggil 'Mbak', boleh?" tanya Ikah.


"Boleh," angguk Rianti.


Isti merasa tak enak pada Rianti dan Raydita. Uminya salah mengenali dan menyangka Annisa putri keluarga itu. Padahal ia sudah pernah mengatakan bahwa Annisa hanya anak angkat mereka.


"Tapi Nisa itu banyak nurun dari ayahnya lho. Pinternya, baiknya, pokoknya banyakan dari Mas Adi deh," ujar Rianti dengan wajah riang.


"Perpaduan yang oke dong ya. Cantik iya, pintar dan baik juga iya. Isti tuh ya kalau udah ngobrolin Nisa, susah berhenti," tutur Ikah sambil terkekeh.


"Maaf ya, Ibu benar-benar nggak tahu. Padahal Nisa jadi ingin bawa bekal ke sekolah gara-gara kamu, kan? Katanya bekalnya enak, jadi jarang jajan."


"Iya, Bu. Nih sama Yuda suka rebutan," sahut Isti menunjuk pada Yuda yang terduduk sambil memainkan ponselnya.


"Fitnah, saya yang paling banyak," kelakar Yuda, membuat Isti dan dua wanita yang bersamanya tertawa pelan.

__ADS_1


Raydita menatap dingin tawa mereka. Dalam diamnya, ia merasa terabaikan. Bahkan Mama Rianti terlihat sangat senang saat menceritakan perihal Annisa.


***


Annisa melangkahkan kaki menuju rumahnya. Ia sengaja ke sana saat Rayhan sedang istirahat karena lelah setelah perjalanan yang cukup lama.


Dengan hati berdebar Annisa memutar gagang pintu rumah tempatnya dibesarkan. Saat pintu itu terbuka ...


Senyum wanita paruh baya yang sangat dikasihinya menyambut kedatangan Annisa. Dengan terbatuk-batuk ia menyapa Annisa dan memintanya untuk cepat mencuci tangan dan makan.


"Wah! Hari ini makannya sama sop ceker." Mata anak perempuan 10 tahun itu terlihat berbinar menatap menu lauk di hadapannya. Anak itu dengan semangat menyendokkan nasi dan sayur ke dalam mangkok plastik. Dan langsung menyuapkannya.


"Pelan-pelan, Nisa."


"Enaaak. Ibu punya uang ya?"


"Ibu hari ini dapat uang lumayan, jadi bisa masakin makanan kesukaan kamu. Bagaimana di sekolah?"


"Nisa diketawain teman, Bu." Adu anak perempuan itu polos.


"Loh, kenapa?"


"Sepatu Nisa bolong, jempolnya kelihatan." Sahutnya disela suapan.


"Sabar ya. Uang ibu belum cukup. Mudah-mudahan minggu depan bisa beli."


"Nggak usah, Bu. Tadi kata Yuli, dia mau ngasih sepatu. Masih bisa dipakai. Uang ibu dikumpulin aja. Nisa kan mau punya sepeda. Nisa mau balapan sama teman, Bu. Muter-muter kampung."


Brugh. Nisa membiarkan tubuhnya bersimpuh di lantai. Kenangan itu sangat melekat dalam ingatannya. Betapa tidak, saat ibunya memperlihatkan sepeda beberapa hari berikutnya, menjadi hari paling bahagia dalam hidup Annisa. Ia bisa seperti teman-temannya yang bermain dengan sepeda.


Seandainya saat itu ia tahu, ibunya bekerja sangat keras hanya untuk membelikan dirinya sepeda, meski itu sepeda bekas. Seandainya saja waktu bisa diulang ....


"Maafkan Nisa, Bu. Nisa nggak mau sepeda. Nisa mau ibu ...." Isakanya.


Annisa tersedu. Ia bersandar dan menatap ke dalam rumah dengan tatapan nanar. Bayangan ibunya yang berlalu lalang seakan terasa sangat nyata.


'Nisa, ayo cepat mandi! Ibu sudah menimba airnya.'


'Ibu! Nisa dapat ranking satu!'


'Pinternya anak ibu'.


'Nisa, makan dulu. Jangan main terus.'


' Nisa ... Nisa ....'


Lagi-lagi Annisa menangis. Menangkup wajahnya agar tangisnya tak terdengar tetangga. Ia benar-benar rindu hari-hari di rumah ini. Ia sangat rindu sosok sang ibu.


Ibu yang sangat tulus menyayangi meski ia bukan darah dagingnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2