
Happy reading ....
***
Keceriaan di wajah Annisa yang sedang mengobrol sambil membantu Bi Susi dan seorang pekerja taman menghadirkan senyum di wajah Adisurya. Pria paruh baya itu memperhatikan putrinya dari teras belakang rumah mereka. Gelak tawa Annisa yang menanggapi candaan pekerja taman membuat hati Adisurya menjadi gamang. Ia tak tega jika kebahagiaan itu hilang dari wajah Annisa.
Adisurya yang sedang memegang cangkir kopi itu menundukkan kepala. Ia mencoba berfikir jalan keluar yang harus diambilnya demi senyum Annisa.
"Kenapa, Pa?" Pertanyaan Raydita membuat Adisurya tersentak. Adisurya mengangkat wajahnya sambil menghela nafas pelan. Ditatapnya wajah Raydita yang kini terduduk sambil menatap Annisa. Dari tatapan Raydita terlihat sorot mata sendu yang sulit diartikan.
"Sudah sarapan?" tanya Adisurya yang justru balik bertanya.
"Belum. Sebentar lagi. Pa ...."
"Hmm?" Adisurya menatap Raydita yang nampak bingung.
"Tadi, kata Tante Rida ... katanya Kak Agas mau tunangan hari Sabtu. Papa sudah tahu kan, Kak Agas pacaran sama Nisa?" tanya Raydita pelan dan hati-hati. Sesekali ia melirik pada Annisa yang berada cukup jauh dari mereka.
Adisurya hanya mengangguk pelan dengan kedua bibirnya yang dikatupkan.
"Siapa yang mau tunangan?" tanya Rayhan yang berdiri di ambang pintu dengan suara yang lantang.
Raydita yang terkejut pun sontak menempatkan jari telunjuknya di tengah bibir. "Ssstt, pelan-pelan dong, Kak." Ujarnya.
"Gue nggak salah dengar, kan? Lo bilang apa tadi? Agas mau tunangan?" Rayhan seakan menulikan telinganya, sampai-sampai Raydita harus menutup mulut sang kakak dengan telapak tangannya.
"Lo apaan sih? Jawab dulu, benar nggak?" Rayhan kembali bertanya dengan nada yang mulai meninggi.
"Kak, nanti Nisa dengar," ujar Raydita sembari nyengir pada Annisa yang menoleh ke arah mereka.
"Tante Rida yang ngasih tahu Dita. Tapi katanya Kak Agas nolak dan bertengkar sama mamanya," jelas Raydita. "Ssstt, Nisa ke sini," desis Raydita.
"Awas aja kalau sampai benar dia tunangan," geram Rayhan pelan sambil menatap langkah Annisa yang mendekati mereka.
"Udah selesai, Sayang?" tanya Adisurya mendahului bertanya sambil tersenyum.
"Udah, Yah," sahut Annisa membalas senyum ayahnya.
__ADS_1
"Nanem apa sih? Kelihatannya seru banget," imbuh Adisurya masih dengan tatapannya yang lekat pada Annisa.
"Apa ya tadi namanya? Nisa lupa. Kata mamangnya tanaman yang lagi viral. Mamang punya banyak di rumah dan bawa anakannya buat ditanam di sini," sahut Annisa santai.
"Ooh. Ganti baju dong, Sayang. Itu ada tanah di baju kamu," tunjuk Adisurya dengan gerakan bibirnya.
"Cuma sedikit. Sebentar lagi Nisa mandi kok," sahut Annisa.
Annisa menatap sekilas pada Rayhan, begitu pun sebaliknya. Tatapan mereka sesaat bertemu dan membuat mereka tersipu. Annisa teringat pada cerita Isti, sementara Rayhan teringat pada apa yang baru saja didengarnya.
Rayhan tak bisa membayangkan jika Annisa sampai terluka dengan keputusan Ghaisan. Ia sangat mengenal Ghaisan. Meskipun Rayhan tahu sahabatnya itu benar-benar mencintai Annisa, tapi ia juga tahu tak ada yang lebih penting dari sosok Rika dalam kehidupan Ghaisan.
Setelah sarapan, Rayhan kembali ke kamarnya. Ia bersemangat hendak menelepon Isti dan mengajaknya bertemu. Rayhan mengerutkan keningnya saat nomer yang dihubunginya tidak aktif. Berkali-kali dicoba, jawabannya tetap sama.
"Tumben nggak aktif," gumam Rayhan heran.
Rayhan kemudian teringat pada Ghaisan dan meneleponnya.
"Ini apa lagi, dari semalam nggak aktif. Jangan bilang lo lagi menghindari gue," ujar Rayhan kesal sambil mencoba menghubungi lagi nomer Ghaisan.
Rayhan kemudian menelepon Raka untuk menanyakan apakah Ghaisan masih ada di rumahnya. Pasalnya, Raka mengirim pesan lewat tengah malam tadi untuk memberitahukan bahwa Ghaisan datang dan menginap di rumahnya.
"Agas ... udah pulang, Ray. Baru aja, ada mungkin 10 menitan. Kenapa emang?" Raka balik bertanya.
"Kok gue telpon ponselnya nggak aktif?"
"Dia nggak bawa ponsel. Katanya sih ketinggalan di rumah," sahut Raka di ujung ponsel Rayhan.
"Masa iya sih dia belum nyampe," ujar Rayhan kesal.
"Ya, kali aja dia belok dulu. Mungkin beli sarapan. Bisa aja, kan? Emang ada apaan sih?"
"Entar deh gue cerita. Gue mau mandi. Mau ke rumah Agas," sahut Rayhan.
"Mau ngapapin lo ke rumah si Agas? Lo ada masalah sama dia?" tanya Raka heran.
"Kalau dia nggak bisa ditelpon, gue datangi laah. Udah ya, bye."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Raka, Rayhan mengakhiri panggilannya.
Sekali lagi, Rayhan mencoba menelepon Isti. Namun, ia harus kecewa karena yang dihubungi masih belum aktif juga. Akhirnya, Rayhan pun beranjak ke kamar mandi. Ia berniat menanyakan sendiri perihal apa yang didengarnya dari Raydita.
Sementara itu di rumah Raka ....
"Ray mau ke rumah lo katanya, Gas. Menurut lo, apa si Ray udah tahu?" tanya Raka pada Ghaisan yang sedang memilih baju yang akan dipinjamnya dari Raka.
"Mana gue tahu. Yang pasti sekarang gue harus ke kantor Om Adi. Gue lagi bingung. Jangan dulu nanya gimana selanjutnya," pinta Ghaisan pada Raka.
Raka tentu mengerti. Kebingungan Ghaisan sangat kentara di wajahnya. Apalagi saat semalam sahabatnya itu pertama kali datang ke rumahnya. Wajahnya yang kusut memperlihatkan itu semua. Namun sejujurnya, Raka merasa bersalah karena telah berbohong pada Rayhan perihal Ghaisan yang pulang ke rumah.
***
Deru motor Rayhan berhenti di halaman rumah Ghaisan. Setelah melepaskan helm, Rayhan pun turun dan langsung menuju ke teras. Setelah memijit bel beberapa kali, seorang pelayan datang membukakan pintu. Rayhan cukup terkejut mengetahui Ghaisan tidak di rumah.
"Siapa, Mbak?" tanya Rika yang melihat pintu terbuka dari tangga.
"Ini Rayhan, Tante," sahut Rayhan.
Pelayan itu mempersilakan Rayhan untuk masuk dan meninggalkannya di ruang tamu. Tak lama, Rika menghampiri Rayhan yang lebih dulu menyapanya.
"Loh, tante kira Agas sama kamu," ujar Rika santai.
"Semalam Ray keburu pulang dari rumah Raka, Tante. Tapi kata Raka, Agas sudah pulang ke rumah," sahut Rayhan.
"Oh ya? Tante dari tadi belum lihat Agas pulang. Ooh, mungkin langsung ke rumah calonnya. Kamu sudah tahu belum, hari Sabtu ini, Agas mau tunangan. Sebagai sahabatnya, kamu pasti datang dong," ujar Rika enteng.
"Tunangan sama siapa, Tante? Ray belum tahu."
"Ya sama pacarnya. Masa sama perempuan lain," sahut Rika dengan gayanya yang dibuat-buat.
"Pacarnya? Maksud tante, Nisa? Kok Ray nggak tahu ya tante," ujar Rayhan bingung.
"Iih kok Nisa sih? Pacar Agas itu namaya Angel. Dari namanya aja udah bisa kebayang dong, cantik, baik, pokoknya sempurna deh. Dan yang terpenting, dia nggak ada cacat-cacatnya. Tante ngeri kalau Agas nikah sama perempuan sempurna hasil operasi, amit-amit. Coba kamu bayangin, kalau ternyata cacatnya nurun sama cucu-cucu tante nanti? Hiii ...."
Rayhan menatap nanar pada Rika yang sedang bergidik dengan mimik jijik. Ia tentu mengerti maksud dari ucapan Rika. Seketika dadanya terasa sesak. Tapi sebisa mungkin, Rayhan meredamnya.
__ADS_1
"Tante, tidak ada manusia yang sempurna. Cacat fisik mungkin lebih baik, karena Tuhan pasti memberi kelebihan lain dari penciptaan-Nya. Tapi tidak dengan cacat hati. Karena itu murni hasil pemikiran dan watak manusia itu sendiri. Terima kasih, tante sudah menunjukkan bahwa Annisa memang tidak pantas untuk keluarga ini. Karena seorang bidadari tidak tercipta untuk hidup di neraka dimana didalamnya ada iblis berwujud manusia. Sekali lagi, terima kasih, Tante." Rayhan berlalu meninggalkan Rika yang mengepalkan tangan menahan rasa geram.
_bersambung_