Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rayhan-Isti (ingin bertemu)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Meski dalam suasana duka, kediaman Rika tak lantas sepi bagai tak berpenghuni. Yuda dan Raka ada di sana untuk menemani sahabat mereka yang telah kehilangan orang tercinta. Sore tadi, Raydita bersama keluarganya mengantar Rida kembali ke rumah sakit. Raydita menemani Rida di sana. Sementara itu, Annisa dan kedua orang tuanya pulang ke rumah.


"Ehan pulang, Bi?" tanya Rianti sambil menatap heran pada ransel Rayhan yang tergeletak di sofa.


"Iya, Nyonya," sahut Bi Susi.


"Kok nggak bilang-bilang. Sekarang di mana?" tanya Rianti lagi sembari memutarkan pandangannya.


"Tadi ke kamar, Nya."


"Ooh. Bibi udah siapkan makan malam?" tanya Rianti.


"Sudah sebagian. Sisannya belum matang," sahut Bi Susi.


"Oke."


Annisa terduduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya. Ia menoleh pada Rianti yang juga mendudukkan bokongnya di sofa.


"Kata Kak Raka sih, Kak Ehan tadinya mau pulang kemarin, Bu. Tapi nggak jadi, karena kesiangan," ujar Annisa.


"Ehan pasti sibuk. Tahun terakhir memang begitu," timpal Adisurya.


"Kasihan ...," gumam Rianti.


"Kenapa kasihan? Kasihan itu, kalau masa mudanya dia habiskan berleha-leha dan cuma bersenang-senang, baru mama kasihan. Ehan 'kan calon kepala keluarga, biarkan dia berusaha sebaik mungkin. Jangan manja," tutur Adisurya sambil berjalan menuju tangga.


"Ehan itu nggak manja, Pa," bela Rianti.


"Iya. Papa tahu."


Terdengar pintu kamar di lantai atas dibuka seseorang. Tak lama Rayhan terlihat menuruni tangga dengan rambutnya yang basah.


"Kapan datang?" tanya Adisurya yang mengerutkan kening melihat Rayhan yang menyalami sambil mencium punggung tangannya.


"Belum lama," sahut Rayhan singkat sambil melambaikan tangan pada Annisa, dan meneruskan langkahnya menuruni tangga.


"Hei, Kak!" sapa Annisa.


"Baru datang, kenapa langsung mandi, Sayang?" tanya Rianti yang kemudian membuka lebar kedua tangan dan memeluk erat putra kesayangannya.


"Ehan mau ke rumah Agas, Ma," sahutnya.


"Happy graduation, Adekku Sayang." Rayhan memeluk Annisa dan mencium keningnya.


"Terima kasih, Kak," sahut Annisa.


"Mau hadiah apa dari kakak?" tanya Rayhan.


"Nggak usah, Kak," tolak Annisa.

__ADS_1


"Eh, jangan bilang begitu. Minta mobil, jangan kalah sama Dita," kelakar Rianti.


"Sejak kapan mama jadi kompor?" tanya Rayhan bercanda.


"Enak aja kompor," delik Rianti manja.


"Ayah yang akan belikan," timpal Adisurya dari lantai atas.


"Terima kasih, Yah. Tapi beneran nggak usah. Nisa lebih suka pakai motor. Sayang kalau nggak dipakai. Lagian juga ada mobil Kak Ehan, 'kan?" ujar Annisa.


"Nah, benar itu. Dari pada mobil kakak nganggur, pakai aja," sahut Rayhan.


"Siap, Kak," timpal Annisa.


"Ish kamu ini, Nisa. Itu akal-akalannya Ehan," gerutu Rianti.


"Mama aah! 'Kan papa yang mau beliin," Rayhan tersenyum masam.


"Mama nggak ngerti sih, Ehan itu lagi ngumpulin buat beli maskawin. Iya, kan?" todong Adisurya yang belum juga masuk ke kamar dan memperhatikan mereka dari railing tangga di lantai atas.


"Oh ya?" Rianti dan Annisa memberi tatapan menggoda pada Rayhan yang kini tersipu malu.


"Papa sok tahu ah." Rayhan memutar badannya menuju ruang makan.


"Benar itu, Han?" tanya Rianti penasaran sambil mengikuti langkah putranya.


"Mama udah deh. Lihat aja nanti," sahut Rayhan sambil menyuapkan lauk kesukaannya yang sudah terhidang di meja.


"Dita di rumah Agas?" tanya Rayhan.


Rianti manatap haru pada Rayhan, kemudian memeluknya dari samping. Putranya yang dulu arogan dan juga sedikit nakal, tidak disangka akan secepat ini menjadi sosok yang berpikir dewasa.


Keluarga itu makan lebih awal karena Rayhan akan menginap di rumah Ghaisan. Suasana terasa hangat dengan obrolan khas Rayhan dan Annisa.


"By the way, Han. Gimana rencana tunangan kamu sama Isti? Masih mau dilanjutkan?" selidik Adisurya. Seketika Rianti dan Annisa memasang mode menyimak.


"Masih dong, Pa. Tapi ... coba tanya dulu Isti-nya. Soalnya Ehan sama dia lost contact. Kalau Ehan pribadi ya memang niat ke sana, makanya nggak neko-neko," sahut Rayhan.


Adisurya mengangguk kecil dengan tatapan bangga. "Mau kamu, atau papa yang menanyakan?"


"Kamu dong, Han. Bicarakan dulu berdua," timpal Rianti.


"Tapi Kak Ehan sama Isti 'kan nggak boleh ketemu dulu, Bu," ujar Annisa.


"Ya minta izin dong, Sayang. Bicaranya juga di rumah mereka," sahut Rianti.


"Iya, ya." Annisa mengangguk pelan.


"Kamu sih enak, jalan menuju pelaminan udah kaya jalan tol, bebas hambatan," ujar Rayhan berkelakar.


"Iih, Kak Ehan. Jangan bicara begitu dong," tegur Annisa.


"Iya, sorry," ujar Rayhan sambil mengacak pelan rambut Annisa.

__ADS_1


***


Kebersamaan Ghaisan dan ketiga sahabatnya sedikit banyak mengurangi kesedihan pria itu. Sesekali Ghaisan terlihat menyunggingkan senyuman tipis mendengar kelakaran Raka dan Yuda.


Ghaisan menoleh pada Rayhan yang terlihat gelisah dan tidak fokus pada pembicaraan temannya yang lain. Ghaisan menyeringai tipis, dan bertanya, "Lo kenapa?"


"Eh? Nggak kenapa-napa," sahut Rayhan.


"Lo nggak usah ngeles gitu deh. Gue perhatiin dari tadi pikiran lo itu nggak di sini," ujar Ghaisan.


"Kenapa, Ray? Lo ada masalah?" tanya Raka.


"Cerita dong. Siapa tahu kita bisa bantu," timpal Yuda.


Rayhan terkekeh pelan sambil menundukkan kepala.


"Sorry ya, Gas. Harusnya gue di sini ngehibur lo. Tapi yang ada malah kalian yang mengkhawatirkan gue," ujar Rayhan.


"It's ok," sahut Ghaisan.


"Mmm sebenarnya, gue bingung tentang Isti. Tadi bokap nanya, katanya gimana kelanjutannya. Ya kalau gue sih oke. Tapi gue nggak tahu sama Isti. Dia 'kan baru lulus," tutur Rayhan gamang.


"Memangnya kenapa kalau baru lulus? Kalian nggak akan langsung nikah, 'kan?" tanya Yuda.


"Emang nggak juga sih," sahut Rayhan.


"Terus, masalahnya di mana?" tanya Raka.


"Coba lo jelasin planning kedepannya gimana. Biar kita nggak asal ngasih saran," ujar Ghaisan.


Rayhan menghela nafasnya sembari menatap pada Raka dan Yuda yang juga mengangguk setuju.


"Keinginan gue sih ... sekarang lamaran. Tahun depan 'kan gue lulus nih? Married lah. Tinggal di sini, dan dia juga bisa sambil kuliah. Gitu," papar Rayhan.


"Bagus tuh. Perfect ya planning lo. Gampang, hehe ...," kelakar Raka.


"Kalau ngomong doang sih gampang. Nggak tahu realisasinya gimana," sahut Rayhan yang terus saja menatap layar ponselnya.


Sudah lama ia tidak mendengar suara Isti. Rayhan selalu mencari tahu tentang gadis pujaannya itu dari kedua adiknya, terutama Annisa. Dan sejujurnya, ia sangat ingin bertemu. Rasanya tidak cukup meskipun sehari semalam memandang wajah Isti jika itu hanya berupa foto.


"Lo bimbang amat, Ray. Kaya bukan Rayhan Adisurya aja. Lo telpon dong dia. Bilang, kalau lo ingin ketemu," seloroh Yuda seakan mengerti isi hati Rayhan.


"Maunya sih gitu. Tapi 'kan Isti lagi di rumah abahnya," sahut Rayhan.


"Siapa bilang? Nih, lihat!" Yuda memperlihatkan chat Isti di grup kelas mereka.


Dalam chat itu tertulis ... 'Udah dong, jangan bahas horor. Takut, tahu .... Aku sendirian di rumah'.


Seketika senyum Rayhan melebar. Tanpa pikir panjang, ia langsung beranjak dari kursi dan menghubungi pujaan hatinya tersebut.


Raka sampai mengulumkan tawa, begitu juga dengan Yuda. Sementara itu, Ghaisan yang mengerti sekali bagaimana rasanya berada di posisi Rayhan, hanya bisa mengulumkan senyum di wajahnya.


_bersambung_

__ADS_1


*****


Teman-teman, aku ada chat story. Jika berkenan, mampir ya🤗 terima kasih.


__ADS_2