Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
tamu di yayasan


__ADS_3

Happy reading ....


Hari berlalu terasa sangat cepat bagi Rianti. Begitu juga dengan laju mobil yang membawanya pulang dari kota R.


Tak hanya Rianti dan Adisurya, orang tua Isti juga ikut mengantar Rayhan dan istrinya ke apartemen baru mereka.


Sebelum kembali ke kediaman Adisurya, mobil yang dikemudikan Asep itu mengarah ke rumah Dahlan dan Ikah. Sepanjang perjalanan Rianti lebih banyak diam. Bahkan saat besannya itu meminta mereka untuk singgah, Rianti hanya menggeleng pelan sembari memaksakan senyuman.


"Ma. Udah dong. Satu bulan itu nggak lama kok. Iya 'kan Mang Asep?" tanya Adisurya dari kursi di belakang kemudi.


Asep mengangguk ragu. Ia tak ingin ada diantara majikannya.


"Pa."


"Hmmm ...." Adisurya menoleh pada Rianti sembari menggenggam tangan istrinya tersebut.


"Kok tega sih Ehan bilang sebulan baru bisa pulang. Dia sendiri yang bilang pulangnya dua minggu sekali," gerutu Rianti dengan wajah yang ditekuk.


"Mereka butuh waktu beradaptasi dengan lingkungan baru, Ma. Lingkungan tempat tinggal, dan juga lingkungan kerja. Anggap saja satu bulan ini mereka bulan madu. Apalagi Ehan belum membolehkan Isti kembali ke restoran," tutur Adisurya mencoba memberi pengertian.


Dengusan pelan Rianti membuat Adisurya mengulumkan senyum.


Sementara itu di yayasan 'Bunda Asih' ....


Anak-anak menikmati sore dengan sebuah permainan. Kebahagiaan anak-anak yang sedang bermain tebak kata di taman yayasan menularkan pada seorang pria yang tengah berdiri di luar pintu ruang tamu. Senyumannya lebar seiring dengan gerakan matanya yang mengikuti setiap gerakan wanita muda yang ikut dalam permainan.


"Permisi. Kalau boleh saya tahu, perempuan yang pakai blouse warna krem itu siapa namanya?" tanyanya pada seorang pegawai yayasan.


"Oh, itu Kak Nisa," sahut pegawai itu. Di yayasan, Annisa menolak dipanggil 'Neng' apalagi 'Non' oleh para pengurus yayasan, kecuali yang memang dituakan di sana. Annisa juga meminta tidak dibedakan dengan yang lain hanya karena yayasan itu didirikan oleh orang tuanya.


Pria itu mengangguk-angguk dengan senyuman tipis di wajahnya. Setelah menatap sekilas pegawai yang pamit undur diri, pria itu kembali menatap keriangan anak-anak di taman.


"Mas Helmy."


Pria itu menoleh. Di saat yang bersamaan, Annisa menatap ke arah pria itu.


"Maaf sudah menunggu. Saya sudah sampaikan semua pada Tuan Adisurya. Beliau baru kembali dari luar kota, jadi Anda diminta membicarakan negosiasi harga dengan putrinya," ujar Imas.

__ADS_1


Pria bernama Helmy itu mengangguk pelan.


"Mari, silakan menunggu di ruangan saya," imbuh Imas.


"Baiklah," ucap Helmy.


Sebelum masuk, Helmy menoleh ke taman dan ia sempat tertegun saat tatapannya beradu dengan tatapan Annisa.


"Mari, Mas Helmy. Saya akan panggilkan putri Tuan Adisurya," ujar Imas sembari melirik ke arah taman. Helmy menyeringai, dan mengikuti langkah Imas.


Setelah memastikan Helmy menunggu di ruangannya, Imas bergegas menemui Annisa.


"Ada apa, Bu?" tanya Annisa heran melihat langkah Imas yang tergesa-gesa.


"Neng, ada tamu tuan. Tapi kata tuan, disuruh ngobrol sama Neng Nisa," sahut Imas.


"Sama saya? Memangnya tamu dari mana?"


"Namanya Mas Helmy. Dia adalah ahli waris dari tanah yang di samping ini," jelas Imas seraya menunjuk ke salah satu sisi yayasan.


"Oh. Ya sudah, Nisa telpon ayah aja dulu ya. Dia bisa menunggu sebentar, 'kan?"


Annisa mengangguk, dan Imas pun berlalu. Setelahnya, Annisa merogoh ponsel dan menelepon Adisurya.


Adisurya berencana memperluas yayasan karena tingginya antusias masyarakat sekitar dan bahkan dari luar wilayah itu. Akan tetapi rencana Adisurya terganjal oleh sulitnya membujuk pemilik lahan di sisi yang ingin ia perluas.


Ahli waris pemilik tanah kosong itu mengajukan syarat berbelit-belit dan akhirnya minta negosiasi harga.


Di ruang kepala yayasan, Helmy menunggu dengan tidak sabar. Selain ingin cepat-cepat menyepakati harga, juga ingin segera melihat wanita muda yang dilihatnya di taman tadi.


Tok ... tok. Helmy menoleh ke arah pintu. Ia tertegun melihat wanita muda itu masuk dan menyapanya.


"Selamat sore, Mas Helmy," sapa Annisa.


"Selamat sore, Cantik," balas Helmy yang langsung beranjak dari kursi dengan tatapan tak lepas dari Annisa.


Annisa merasa kikuk. Ia kurang suka dengan cara Helmy membalas sapaannya.

__ADS_1


"Wah, kalau saja dari kemarin-kemarin saya tahu yayasan ini punya staf secantik kamu, dengan senang hati saya akan sering ke sini. Siapa namamu, Sayang?" tanya Hemly dengan mimik menggoda.


"Maaf. Sebelumnya Mas Helmy mau dibuatkan minum apa?" tanya Annisa canggung.


Annisa mundur selangkah saat dirasa langkah Helmy semakin dekat saja.


"Apa saja. Kalau kamu yang membuatnya, pasti saya minum," sahut Helmy dengan seringaian. Nampaknya pria itu menyadari sikap Annisa yang memperlihatkan kewaspadaan.


"Baiklah. Tunggu sebentar," ucap Annisa yang kemudian keluar dengan tergesa-gesa.


"Hehe. Dia lucu juga. Hmm masih ada ya cewek yang grogi waktu gue deketin. Gue yakin, dia bakalan lari ke pelukan gue kalau dia tahu gue bakal dapat duit banyak dari nego hari ini," seringai Helmy.


Sementara itu di dapur ....


"Bu, nanti setelah nyuguhin minuman, jangan langsung keluar ya. Temenin Nisa," pinta Annisa pasa Imas yang sedang membuatkan teh manis hangat.


"Neng Nisa yakin? Ibu nggak berani lancang ah. Itukan pembicaraan intern antara Neng Nisa sama Mas Hemly."


"Nggak juga kok, Bu. Tadi kata ayah, Nisa cuma diminta basa-basi aja. Ujung-ujungnya ya biar dia ngobrol sendiri sama ayah besok atau kapan aja di kantor, sama notaris juga. Ya, Bu? Nisa mohon ...."


"I-iya, Neng," angguk Imas ragu. Ia tak mengerti mengapa Annisa bersikap seperti itu. Pikirnya, mungkin karena Annisa merasa tak nyaman hanya berdua berada satu ruangan dengan orang yang baru dikenal. Setelah selesai membuatkan teh, Imas dan Annisa pun kembali ke ruangan itu.


Ceklek.


Helmy langsung menoleh dan berdiri. Pria itu tersenyum manis dengan tatapannya yang lekat tertuju pada Annisa.


"Mas Helmy silakan dinikmati. Oh iya, perkenalkan, ini Neng Annisa, putri Tuan Adisurya. Dengan kapasitas saya sebagai ketua yayasan, semoga Mas Helmy tidak keberatan jika saya juga berada dalam ruangan ini," ujar Imas menegaskan.


Helmy terkesiap. Gerakan bola matanya mengikuti gerakan Annisa yang duduk di kursi yang ada di depannya setelah sebelumnya memaksakan senyuman.


"Silakan duduk, Mas," ujar Annisa.


"I-iya. Ka-kamu benar anaknya pemilik yayasan ini?" tanyanya ragu sembari menduduk


"Benar, Mas. Hari ini, saya akan mewakili ayah saya untuk membicarakan masalah harga dengan Mas Helmy. Silakan diminum dulu," sahut Annisa.


Helmy tersenyum masam. Baru saja melambung, angannya terhempas oleh kenyataan.

__ADS_1


"Sulit juga kalau ternyata dia anak Tuan Adisurya," batinnya.


_bersambung_


__ADS_2