Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rayhan-Isti (malam pertama)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Penyatuan dua keluarga dari latar belakang yang berbeda itu nyatanya menghadirkan kekaguman di kedua belah pihak. Meski Marni terlihat canggung karena anak asuhannya dulu menjadi besan putrinya, tapi tidak dengan Adisurya dan Rianti.


Terutama Rianti. Perubahan sikapnya sangatlah kentara. Tak ada gengsi apalagi arogansi. Rianti bisa dengan santai berbincang dengan Marni dan besannya yang merupakan seorang Kiyai.


Saat keluarga inti kedua mempelai masih berbincang santai, Annisa dan Raydita mengantarkan Isti ke kamar yang akan ditempatinya di hotel itu. Ketika pintu terbuka, harum semerbak bunga yang menguar dari dalam kamar seketika tercium oleh mereka.


"Wow! Amazing," ucap Raydita singkat.


Dekorasi kamar itu membuat ketiganya terpana. Kesan romantis langsung terasa sejak menginjakkan kaki di sana.


Raydita sibuk mengagumi nuansa kamar itu, sementara Annisa menggandeng Isti menuju tempat tidurnya. Sesekali Annisa melirik pada Isti. Di balik kebahagiaan sahabatnya itu, ia tahu ada rasa lelah yang teramat sangat dengan semua rentetan acara hari ini.


"Mau kuambilkan sesuatu?" tawar Annisa.


"Tidak, Nis. Terima kasih. Aku hanya ingin segera mengganti pakaianku," sahut Isti pelan.


Annisa tersipu. Isti yang menyadarinya cepat-cepat berkilah, "Nanti kamu juga merasakannya."


"Iya, aku tahu. Pakaian, make-up, dan aksesorisnya itu lama-lama bikin kita nggak nyaman juga. Mau kubantu?" tawar Annisa lagi


"Eits. Jangan, Nis!" cegah Raydita.


"Kenapa?" tanya Annisa bingung. Begitu juga dengan raut wajah Isti yang menatap heran pada Raydita.


"Eh? Hehe, kenapa ya?" Raydita menggaruk kepalanya seraya tersenyum kikuk. Ia lalu menarik tangan Annisa dan mengajaknya meninggalkan Isti.


"Bye ...." Raydita melambaikan tangannya pada Isti yang melongo dengan sikapnya.


"Kok ditinggalin sih? Kasian, Dit," ujar Annisa seraya menoleh pada Isti.


"Sejak kapan sih kamu jadi nggak peka? Sini aku bisikin," ujar Raydita yang langsung membisikan sesuatu di telinga Annisa.


"Emang harus gitu ya?" tanya Annisa dengan mimik polosnya.


"Oh My God! Udah ah, ayo." Raydita mengajak paksa Annisa ke luar kamarnya. Ketika di ambang pintu sebelum menutupnya, Annisa melambaikan tangan sembari nyengir. Sedangkan Raydita dengan mengangkat kepalan tangan, ia berucap, "Fighting!"


"Eh? Kak Ehan 'kan belum ada. Isti mau fighting sama siapa?" tanya Annisa.


Raydita melepaskan genggaman tangannya. Raut wajahnya terlihat kesal seraya berkata, "Bukan fighting yang itu, Nis. Tapi, semangat. Se-ma-ngat! Huuh, nyebelin."


Annisa terkekeh melihat sikap Raydita yang berlalu masih dengan kekesalannya. Sebelum meninggalkan tempat itu, Annisa menoleh pada pintu kamar yang di tempati Isti.


"Selamat menempuh kehidupan baru, Isti. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, wa rohmah. Aamiin," gumam Annisa.


Annisa mempercepat langkahnya karena ia dan keluarganya akan segera meninggalkan hotel ini. Mereka akan meninggalkan pengantin baru menikmati malam pertama tanpa ada yang mengganggu.


Rencananya, tiga hari setelah hari pernikahan Rayhan dan Isti akan berbulan madu ke Pulau Nikoi, Bintan. Selama seminggu mereka akan berada di sana. Pulau itu sengaja di pilih atas permintaan Isti yang ingin menikmati bulan madu dengan pemandangan alam yang asri.


"Ray, kita pulang ya. Jangan 'galak-galak' mainnya," seloroh Raka.


"Slowly, Man," timpal Yuda.


"Siap," sahut Rayhan seraya tersipu.


Satu persatu mereka pun meninggalkan hotel. Setelahnya, Rayhan memutar badan dan berlalu menuju kamarnya.


Setibanya di kamar hotel, Rayhan berjalan sangat pelan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Ia menatap lurus pada pantulan wajah Isti yang tersipu di sela gerakan tangannya yang sedang melepas satu persatu aksesoris jilbabnya.

__ADS_1


Ketika berada tepat di belakang Isti, Rayhan memegang kedua sisi pundak istrinya itu dengan tatapan yang masih tertuju pada cermin.


Perlahan, Rayhan membungkukkan badan seraya menempelkan wajahnya pada wajah Isti. Terlihat jelas rasa gugup pada wajah cantik Isti. Tak hanya itu, gurat kelelahan juga nampak di sana.


"Semua sudah pulang, Kak?" tanya Isti pelan.


"Udah, Sayang. Istriku kecapean ya?"


Isti mengulumkan senyum seraya menurunkan pandangannya.


"Ada yang bisa kubantu, Sayang?" tanyanya lagi.


Wajah Isti seketika merona. Entah mengapa pertanyaan Rayhan itu terdengar seperti ada maksud tertentu.


"Aku tahu kamu lelah. Jangan terlalu fokus dengan malam pertama, Sayang. Kita tidak harus melakukannya malam ini," ujar Rayhan pelan.


"Kakak nggak marah?"


"Kenapa marah? Aku juga capek, Sayang. Aku butuh tenaga ekstra untuk melakukannya. Aku ingin mengukir kenangan yang sangat berkesan di moment pertama kita. Nggak seru 'kan kalau baru 'main' lima menit aku udah tumbang. Bisa-bisa kamu ilfil sama aku,' sahut Rayhan seraya mencium gemas pipi Isti.


"Memangnya kalau pengantin baru berapa lama 'main'nya?" tanya Isti malu-malu.


"Nggak tahu. 'Kan sahabatku belum ada yang married. Tapi aku ingin 'main' lama ... sampai kamu kehabisan tenaga," seloroh Rayhan.


"Nggak pakai 'itu', 'kan?"


"Itu, apa?" Rayhan mengerutkan kening menatap Isti yang salah tingkah.


"I-itu loh, Kak."


"Obat kuat?" tanya Rayhan dengan santainya. Isti yang merasa sangat malu pun mengangguk pelan.


Rayhan menyadari wajah istrinya yang memerah. Ia pun tak ingin Isti merasa malu membicarakan hal tabu seperti itu. Namun begitu, Rayhan mengalihkan pembicaraannya.


"Kamu mau ganti baju, 'kan? Aku bantu ya," ujar Rayhan.


Lagi-lagi Rayhan terkekeh melihat gelagat Isti yang malu-malu. Rayhan melangkah ke samping Isti. Tanpa diduga, putra Adisurya itu berjongkok dan menekuk satu kaki dengan tangan yang menggenggam tangan Isti.


"Istiqomah binti Dahlan, aku ... Rayhan Adisurya, secara resmi telah mempersuntingmu. Mengambil tanggung jawab atas dirimu, dan akan berusaha untuk membahagiakanmu. Jadi sayang, perlakukan aku sesukamu. Kau boleh marah padaku, jika aku kurang peka terhadap perasaanmu. Kau juga harus menegurku, jika ada khilaf yang kulakukan apapun itu. Dan yang terpenting, tolong cintai dan sayangi aku yang sangat mencintaimu ini, istriku. I love you ... i love you, and i love you so much."


Isti menatap haru pada wajah tampan itu. Bagaimana bisa Rayhan meminta rasa cinta dan sayang darinya, sedangkan kedua rasa itu sejak awal telah Isti berikan pada sosok pria yang kini telah jadi suaminya itu.


"Terima kasih, Kak. Bahkan jika kau mencintaiku dengan satu degup jantungmu, aku akan mencintaimu dengan ribuan degup jantungku," ucap Isti seraya menangkup wajah Rayhan.


Isti menempelkan bibirnya pada bibir Rayhan. Menciumnya kilat, lalu menatap sangat lekat.


Ketika hendak melepaskan tangkupannya, Rayhan menahan agar kedua tangan Isti tetap pada posisi semula.


"Sepertinya aku berubah pikiran," ucap Rayhan pelan. Kedua matanya yang sayu mengisyaratkan sesuatu.


"Ma-maksud Kakak apa?" tanya Isti bingung, tapi dadanya tiba-tiba saja berdegup kencang.


"Kita malam pertama sekarang aja. Ayo, ganti baju," ucap Rayhan dengan semangat.


"Eh? Katanya capek?"


"Capekku udah hilang. Sekarang ya, Sayang. Please ...."


"Kalau cuma sebentar, gimana?" tanya Isti dengan mimik menggoda. Ia mendongak pada Rayhan yang berdiri dan mulai melepas kancing lengan baju.


"Aku akan tahan biar nggak cepat keluar," sahut Rayhan sekenanya.

__ADS_1


"Emang bisa? Caranya?" Kening Isti berkerut dengan tatapan yang mulai menajam.


"Berhenti dulu, terus ambil nafas panjang biar rileks," sahut Rayhan.


"Kok Kak Ray tahu?" tanya Isti ketus.


"Ya tahu laah. Kan-." Rayhan urung melanjutkan kalimatnya saat menyadari tatapan Isti.


"Kak Ray pernah ya?" tuduh Isti seraya berdiri dan mendelik pada Rayhan.


"A-aku belum pernah, Sayang. Aku cuma mau melakukannya sama kamu." Rayhan mengikuti langkah Isti yang menuju ke lemari pakaian.


"Bohong." Isti menghentikan langkahnya sembari memutar badan.


"Wallahi . Aku masih perjaka, Sayang. Aku tahu tips itu dari Raka," tegas Rayhan namun dengan nada yang lembut.


"Kak Ray nggak bohong, 'kan?" tanya Isti pelan. Tatapannya pada Rayhan tak setajam tadi.


Rayhan mendekat dan memeluknya erat.


"Aku berusaha memantaskan diriku untukmu. Mana mungkin aku melakukannya jika bukan denganmu," jawab Rayhan pelan.


Isti melingkarkan tanganya di pinggang Rayhan. Ia sangat malu dengan apa yang dilakukannya barusan.


"Maakan Isti, Kak," lirihnya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Karena malam ini malam pengantin kita." Rayhan melonggarkan pelukannya dan menatap Isti. "Bukan malam lebaran," imbuhnya sambil tersenyum riang.


Isti terkekeh pelan mendengar ucapan Rayhan. Dipeluknya Rayhan untuk menikmati aroma maskulin yang menenangkan.


Isti terkesiap merasakan gaun pengantinnya melonggar. Isti kehabisan kata mengetahui resleting gaun yang ia kenakan diturunkan Rayhan.


Rayhan melepaskan pelukan mereka. Dengan santainya, ia melepaskan setiap benda yang menempel pada jilbab Isti. Setelah memastikan semua terlepas, Rayhan menanggalkan jilbab yang dikenakan Isti.


"Cantiknya, Istriku," puji Rayhan seraya menatap Isti yang tertunduk malu sambil meletakkan satu tangan di dada agar gaunnya tak luruh ke lantai.


Isti terperanjat merasakan tubuhnya melayang. Tapi kemudian lengannya refleks melingkar di leher Rayhan saat menyadari tubuhnya sedang dipangku ala bridal.


"Isti belum cuci muka, Kak," ujarnya sangat pelan.


"Nggak apa-apa." Rayhan meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan sangat hati-hati.


"Nanti bau keringat," imbuh Isti.


"Biarin. Sekalian kita mandi keringat," sahut Rayhan dengan tatapan menggoda.


Isti melengoskan wajahnya yang merona ketika Rayhan melepas kemeja dan menampakkan dada bidangnya yang membuat Isti menelan saliva.


Isti merasa semakin gugup ketika ujung matanya menangkap pergerakan tangan Rayhan di bagian pinggang. Isti sampai menggigit bibirnya sendiri sambil merasakan degup jantung yang tak karuan.


Beberapa menit kemudian, ia hanya bisa pasrah seraya menatap wajah tampan yang mengungkungnya.


Siapa sangka selain lembut, Rayhan juga sangat telaten. Dengan sangat sabar, Rayhan menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakan Isti.


Raut wajah Rayhan yang santai, berbanding terbalik dengan kegugupan Isti yang sibuk menutupi setiap bagian yang terbuka. Rayhan sampai menahan tawa melihat tingkah istrinya itu.


"Jangan ditutupi, Sayang," ujarnya sembari menjauhkan lengan Isti yang menutupi bagian puncak dua bukit putih nan memesona.


Rayhan sampai menelan saliva dengan kedua mata yang hampir tak berkedip menatap tubuh indah yang nyaris tanpa cela. Cukup sudah selama ini Rayhan menahan hasratnya. Dan malam ini, ia akan menyalurkan segala rasa yang tersimpan hanya untuk Isti seorang.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2