
Happy reading ....
Sepanjang malam Raydita memikirkan saran Annisa. Mendekat pada seseorang yang membuatnya terlahir tanpa seorang ayah yang sah. Ini sungguh tidak mudah bagi Raydita yang hatinya tak selapang Annisa.
Raydita merasa kesal karena sudah lewat tengah malam matanya belum bisa terpejam. Ia pun beranjak turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Suasana rumah besar itu sangat sepi, membuat bulu kuduk Raydita berdiri. Gadis itu berjalan cepat menuruni tangga dan menuju kamar Annisa.
Diputarnya gagang pintu kamar Annisa. Raydita merasa lega karena kamar itu tidak dikunci dari dalam. Raydita pun menutup kembali pintu itu dan menghampiri Annisa yang tertidur di ranjangnya.
"Nyenyak banget. Hmm," gumam Raydita sembari menghela napasnya.
Raydita naik ke ranjang itu sambil menyingkap selimut Annisa. Raydita berbaring di samping Annisa dan menyelimuti tubuhnya. Raydita menoleh pada Annisa. Wajahnya yang tenang mencerminkan hati Annisa yang tidak pendendam.
"Maafin gue, Nis." Gumamnya.
Raydita menatap langit-langit kamar itu. Dengkuran halus Annisa perlahan menariknya ke alam mimpi, dimana semua hal bisa terjadi.
***
Pagi ini, Adisurya dan Rianti harus bertolak ke USA. Mereka di sana selama tiga hari dan akan menghadiri banyak pertemuan bisnis juga pelelangan benda antik yang tentunya hanya akan dihadiri kalangan atas.
Rianti sudah bersiap. Sambil menunggu Adisurya yang masih mandi, ia pun keluar hendak pamit pada ketiga anaknya.
Kamar Rayhan yang pertama kali Rianti masuki. Setelah mencium kening dan sebelah pipi Rayhan yang masih terlelap, Rianti pun ke kamar Raydita. Betapa terkejutnya Rianti saat tak mendapati Raydita di tempat tidurnya.
"Dita kemana?" gumamnya dengan raut cemas sambil terus mencari ke kamar mandi dan juga balkon kamar.
Tidak menemukan Raydita dimanapun juga, Rianti bergegas kembali ke kamarnya.
"Mas, Dita nggak ada di kamarnya," ujar Rianti cemas.
"Yang benar, kok bisa nggak ada sih?" Tanpa pikir panjang, Adisurya yang masih mengenakan handuk pun keluar dari kamarnya.
Adisurya bergegas menuruni tangga dan menanyakan keberadaan Raydita pada beberapa ART yang sedang membersihkan bagian rumahnya di lantai bawah.
"Kalian lihat Raydita nggak?" tanyanya.
"Tidak lihat, Tuan. Setahu saya belum ada yang keluar dari kamar," sahut Santi.
"Aduh, ini anak kemana sih?" gumam Adisurya sambil mengacak kasar rambutnya yang basah.
"Cari Dita di luar rumah. Mungkin di taman atau dimana. Cari juga di kolam renang. Hei, Kamu! Panggilkan Leo!" Titahnya.
Adisurya menoleh pada kamar Annisa dan berjalan ke kamar putrinya tersebut. Saat pintu kamar itu terbuka, Adisurya terkesiap melihat pemandangan terindah yang pernah dilihatnya.
"Di luar ada nggak?" tanya Rianti pada pelayan yang dilihatnya.
__ADS_1
"Tidak ada, Nyonya."
"Udah, nggak usah dicari," ujar Adisurya.
"Kamu ini gimana sih, Mas?" Rianti menatap kesal pada suaminya.
Adisurya memberi isyarat agar Rianti mendekat padanya. Awalnya Rianti enggan karena beranggapan Adisurya tidak mengkhawatirkan Raydita. Akan tetapi setelah melihat ke ranjang Annisa, Rianti tersenyum dengan wajah haru.
Raydita tertidur sambil memeluk Annisa. Tak hanya tangan, tapi sebelah kakinya juga menumpang pada tubuh Annisa.
"Biarkan saja. Kita jangan mengganggu mereka," ujar Adisurya pelan sambil mengajak Rianti meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar itu. Rianti sangat ingin memeluk keduanya, tapi ditahan karena tak ingin mereka merasa canggung setelah terbangun nanti.
"Leo, aku percayakan anak-anak dalam pengawasanmu. Minta Heru mendatangkan beberapa orangnya untuk menjaga mereka," titah Adisurya pada Leo yang sudah menunggu di ruangan itu.
"Baik, Tuan."
Adisurya dan Rianti kembali ke kamar mereka. Keduanya pun bersiap untuk segera berangkat ke bandara.
***
Sinar mentari yang mengintip dari ventilasi membuat silau pandangan Annisa yang baru saja mengerjap. Annisa merasa badannya berat dan tak bisa digerakan.
Annisa mengerutkan keningnya melihat posisi tidur Raydita. Ia pun mengingat-ingat kapan Raydita masuk kekamarnya.
"Kok aku nggak ingat. Kapan Dita ke sini?" gumamnya.
"Kamu sudah bangun? Bisa geser dikit nggak? Pegel, Dit." Pintanya pelan.
"Oh, sorry."
Raydita beringsut dengan wajah merona karena malu. Annisa menyadari hal itu, dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Jam berapa kamu ke sini, Dit? Kok aku nggak tahu," tanya Annisa.
"Gue juga nggak ingat," kilah Raydita.
"Oh, mungkin kamu tidur sambil jalan," pungkas Annisa.
"I-iya kali." Raydita nyengir kuda.
"Oh iya, Dit. Hari ini Isti mau main ke sini. Umi sama Abi-nya ada undangan dan dia nggak ikut," tutur Annisa.
"Eh. Bukannya hari ini ayah sama ibu mau pergi. Ya Allah, kok aku bisa lupa sih? Aduh, mana belum cuci muka."
Raydita mengulumkan senyum melihat Annisa yang buru-buru ke kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, Raydita berkata : "Udah pergi. Lihat dong jam berapa ini. Papa sama mama kan pergi jam enam."
"Iya juga ya," gumam Annisa setelah melihat ini sudah jam delapan pagi.
__ADS_1
Satu jam kemudian Isti datang diantar kedua orang tuanya. Setelah menyapa Annisa dan Bi Susi, kedua orang tua Isti pun berpamitan.
"Orang tuamu beneran nggak ada, Nis? Aku malu kalau ada mereka," ujar Isti.
"Masa iya sih aku bohong sama kamu. Sarapan yuk!"
"Boleh. Sebenarnya aku udah sarapan, tapi boleh lah sekalian nemenin kamu."
Annisa dan Isti mulai menikmati menu sarapan yang disediakan Bi Susi. Sesekali terdengar candaan dari ruang makan.
"Dita sama Kak Ray pada kemana?"
"Ada di kamarnya. Dita tadi ngobrol sama Tasya di telepon, kalau Kak Ehan belum turun."
"Ooh. Eh, Nisa. Jujur ya, aku sempat nggak percaya loh waktu umi bilang kamu itu anak Bu Rianti," ujar Isti pelan.
"Jangankan kamu, aku juga nggak percaya," sahut Annisa setengah bercanda.
"Ah, kamu ini." Isti mendelik sambil mengulumkan senyumnya.
Terdengar langkah seseorang menuruni tangga. Isti langsung menunduk entah karena apa, Annisa pun tidak tahu.
"Kamu kenapa, Is?" tanya Annisa heran.
"Hehe nggak kenapa-napa," sahut Isti yang kembali tertunduk.
"Eh, ada Bu Haji," sapa Rayhan sambil berjalan menghampiri mereka.
"Isti, Kak. Pantesan Isti langsung menunduk. Dia malu, Kak Ehan menyebutnya begitu," ujar Annisa.
"Malu? Malu-malu kucing kali ah. Meong," goda Rayhan sambil menarik kursi di samping Isti.
Rayhan terduduk, lalu meletakkan sebelah pipinya di meja dengan wajah menghadap pada Isti. Sahabat Annisa itu semakin tertunduk menyembunyikan jantungnya yang berdegup tak menentu.
"Meong. Kalau dipanggil itu nengok dong. Masa orang cakep dianggurin. Harusnya tuh diapelin," seloroh Rayhan.
"Isti kan bukan kucing, Kak. Isti juga bukan tukang buah," sahut Isti pelan. Ia mencoba melihat pada Rayhan sekejap dan kembali tertunduk.
"Kak Ehan aneh deh. Setahu Nisa, yang apel itu cowok. Masa Kak Ehan minta diapelin," ujar Nisa sambil meneruskan sarapannya.
"Oh, gitu ya. Kalau gue ngapelin Lo, bakal dianggurin nggak?" tanya Rayhan pada Isti.
"Bukan dianggurin, tapi dikacangin. Iya nggak, Isti?" gurau Annisa menimpali.
"Yee sama aja dong," delik Rayhan yang mulai mengambil sarapannya.
Mereka tidak menyadari, Isti yang tertunduk itu sedang tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Rayhan.
__ADS_1
_bersambung_