
Happy reading ...
Pukul sembilan pagi, motor Yuda tiba di halaman kantor urusan agama (KUA) . Pagi ini ia dan Raydita akan mengikuti bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. Tak hanya kedua calon pengantin, Adisurya juga rencananya akan menyusul ke sana. Sekitar pukul sepuluh, Adisurya tiba di tempat itu.
Adisurya dipersilahkan memasuki ruangan seorang pegawai KUA. Tak berselang lama, Yuda dan Raydita juga masuk ke ruangan tersebut.
“Silahkan Bapak Adisurya, ada yang ingin disampaikan? Jika ada sesuatu yang sekiranya membutuhkan solusi, kita akan menyelesaikannya bersama. Silahkan,” ujar pegawai KUA itu.
“Begini, Pak. Raydita ini anak angkat saya dan istri. Akan tetapi, kami sudah menganggapnya seperti anak kandung. Dari hari pertama lahir sampai saat ini Raydita tinggal bersama keluarga saya. Akan tetapi sebesar apapun kasih sayang kami terhadap Raydita, saya selaku ayahnya tidak bisa menikahkan putri saya ini. Karenanya saya meminta pernikahan ini diwalikan oleh hakim,” kata Adisurya dengan hati-hati. Bagaimanapun ada Raydita yang hatinya harus dijaga.
Adisurya menoleh pada Raydita yang memberinya senyuman tipis. Melihat ekspresi Raydita, pegawai KUA itu tentu sudah bisa menangkap bahwasanya si anak mengetahui kebenaran tentang statusnya di keluarga dari jauh hari.
“Maaf sebelumnya, Pak. Orang tua kandungnya bagaimana?” tanyanya kemudian.
Adisurya hendak menceritakan versi dirinya yang ingin menutupi aib mendiang Rida. Tapi kemudian urung ketika gerakan tangan Raydita menahannya berbicara.
“Pak, izinkan saya yang menjawabnya,” ucap Raydita pada pegawai KUA.
“Silahkan.”
Tatapan Adisurya terlihat sendu tertuju pada Raydita, begitu juga dengan Yuda. Akan tetapi berbeda dari keduanya, Raydita justru tanpa ragu berkata, “Saya anak di luar nikah, Pak. Ibu saya sudah meninggal.”
Pegawai KUA itu mengangguk pelan sembari mendengarkan dengan seksama.
“Bisa ‘kan Pak kalau kebenaran ini tidak sampai diketahui yang lain. Keluarga besar kami sudah mengetahui hal ini, begitu juga keluarga calon mempelai pria. Bagi kami itu bukan masalah, dan memang seharusnya tidak menjadi permasalahan di kemudian hari. Saya kesini ingin meminta solusi mengenai hal tersebut. Menurut yang saya dengar dari beberapa ulama, menutupi aib itu lebih penting, apalagi aibnya orang yang sudah meninggal,” ucap Adisurya menimpali perkataan Raydita.
“Saya mengerti, Pak Adi. Sudah jadi pengetahuan umum bagi kita umat muslim, anak di luar nikah nasabnya ke ibu. Memang benar menutupi aib seorang muslimah yang sudah meninggal itu sangat penting, karenanya jika tidak disebutkan binti ibu, ada dua pilihan lain, Pak. Satu, bisa hanya nama calon pengantin wanita saja, atau yang kedua, bisa menggunakan binti Abdullah. Akan tetapi pemaksudan nama ‘Abdullah’ di sini bukan nama seorang ayah, melainkan dalam artian ‘abdi atau hamba Allah’. Silahkan mau yang mana,” jelas pegawai KUA itu panjang lebar.
Adisurya menoleh pada Raydita yang juga menoleh padanya. Seulas senyum terukir di wajah Raydita yang kemudian melingkarkan tangan di lengan Adisurya. Jika saja bisa, ia tentu ingin menyebut nama sang ayah. Sayangnya, sebuah ikatan suci tidaklah bisa sekehendak hati.
“Saya pilih yang kesatu, Pak,” ucap Adisurya pada akhirnya.
“Baik,” angguk pegawai itu. Setelah berbincang sebentar, Adisurya dan kedua calon mempelai pun undur diri.
Sementara itu di kediaman Adisurya, Annisa menyambut hangat dua sahabatnya, Yuli dan Raka yang baru saja tiba. Tak hanya Annisa, Ghaisan juga ada di sana.
“Kak Raka jam berapa ke desa? Jam segini udah nyampe aja,” ujar Annisa.
“Pagi buta, Nis. Takut hujan lagi,” sahut Raka sekenanya.
“Pagi buta lo jam berapa? Jam enam?” tanya Ghaisan berseloroh.
“Tau aja. Kita beda versi, Bro. Lo biasa lembur, sedangkan gue yang biasa kesiangan. Hehhe,” ujar Raka.
Ghaisan memperhatikan mimik wajah Raka yang menurutnya berbeda. Ia sangat mengenal pribadi sahabatnya itu. Ghaisan sangat yakin ada sesuatu yang mengganjal di hati Raka. Tak hanya Raka, Ghaisan juga melirik sesaat pada Yuli yang tersenyum kikuk pada Annisa. Ia jadi menerka-nerka, mungkinkah pasangan itu sedang bertengkar?
“Yul, ke dalam yuk!” ajak Annisa bersemangat, dan hanya diangguki pelan oleh Yuli.
__ADS_1
Sepeninggal mereka, Ghaisan melirik Raka sembari mulai menyalakan rokoknya.
“Kenapa?” tanyanya singkat.
Satu kata yang cukup membuat Raka terperanjat. Raka tersenyum masam untuk menutupi perasaannya yang kacau, kemudian mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
“Gue kebablasan, Gas,” ucapnya pelan dengan tatapan lurus ke depan.
“Jadi lo ke sana kemarin?”
“He-em.”
“Nginep di rumahnya?”
“Bukan. Apa ya namanya? Motel kali,” ucap Raka malas.
“Oh. Cuaca mendukung ya.”
“Mendukung buat ngelakuin dosa. Huft.”
“Tapi enak ‘kan?” seloroh Ghaisan.
“Mantap, Bro. Tapi ya itu udahnya. Gimana gitu perasaan gue.”
“Mana ada yang tenang kalau udah ngelakuin dosa, Ka.”
“Bisa ae nyalahin setan. Setannya 'kan lo.”
Raka terkekeh pelan mendengar umpatan sahabatnya itu. Untuk sesaat mereka menikmati kepulan asap rokok sambil berbincang dengan suara pelan.
“Lo sama Nisa belum pernah?”
“Pernah apa, ML (making love)? Enggak lah. Lo tahu sendiri gimana hubungan gue sama dia. Nggak benar-benar bersih, tapi ya untuk ke arah itu Nisa selalu bisa nyadarin gue yang kadang bisa ‘setengah gila’ kalau udah sampe di ubun-ubun.”
“Jangan sampai deh. Gue juga nyesel, Gas.”
“Yakin lo nyesel?”
“Beneran. Gue nyesel banget, kenapa cuma satu kali, Bro.”
“Gila lo. itu ketagihan namanya, go*lok,” umpat Ghaisan yang membuat Raka tersenyum lebar.
“Ya lo bayangin aja, kalau ‘belah duren’ itu setelah sah jadi suami-istri ‘kan enak. Bisa minta lagi, lagi, dan lagi. Sedangkan yang terjadi sama gue dan doi, boro-boro minta lagi, yang ada kok jadi ngerasa nggak gentle. Beneran, Gas. Ada rasa takut dia mikir gue cuma ingin ‘itu’ doang. Gue jadi takut cinta gue diragukan, Gas. Gimana dong? Kasih gue solusi, Bro.”
“Halah. Sok-sokan minta solusi? Giliran mepet dikit ntar minta lagi,” delik Ghaisan sambil menyeringai tipis.
“Gue serius, Gas.”
__ADS_1
“Ya halalin dong. Gila aja lo kalau udah ‘dapat’ gitu bisa tenang. Anak orang itu, Bro. Jangan nunggu bunting dulu baru lo ambil sikap.”
“Iya juga ya. Jadi jangan dulu nunggu dia tek-dung atau nggak, gitu?” tanya Raka dengan mimik serius.
“Jangan lah,” sahut Ghaisan cepat.
“Oke. Setelah acara Dita sama Yuda beres, gue akan ngomong sama dia,” ujar Raka pasti.
“Gitu dong.”
“Ray kapan pulang?” tanya Raka kemudian.
“Katanya sih besok.”
“Asik dong bisa reuni. Ngumpul di rumah lo ya.”
“Oke.”
Tak berselang lama, Adisurya dan kedua calon mempelai datang. Bisa dipastikan suasana rumah itu jadi ramai. Tawa terdengar bersahutan saat Raydita dan Yuda menyebutkan apa-apa saja jawaban mereka dalam bimbingan di KUA tadi.
“Pesan mama, jangan mentang-mentang udah mendekati hari-H kalian bisa ‘seenaknya’. Ngerti ‘kan ya?” tanya Rianti sambil menata menu makan siang mereka.
“Iya, Ma. Tenang aja, Yuda bisa nahan kok.” Rianti mengulumkan senyum mendengarnya.
“Yang, nanti kalau kiss gini aja.” Yuda mengerucutkan jari-jari tangannya, menempelkan ujung jari-jari itu pada bibirnya, lalu menempelkan pada bibir Raydita.
“Diih apaan sih?” delik Raydita.
“Balas dong. Mana nggak kerasa, nggak dibalas pula. Ngenes amat, Dit,” protes Yuda setengah bercanda.
“Beneran mau di balas?” tanya Raydita dengan senyuman devil. Yuda mengangguk cepat. Pria itu dengan polosnya mengharap Raydita melakukan hal serupa.
Raydita mengambil bantal sofa, kemudian mencium di bagian tengahnya. Yuda menatap dengan seksama, begitu juga dengan pasangan lain yang ada di ruangan itu. Kemudian ….
Bugh.
Raydita melayangkan bantal itu ke wajah Yuda.
“Kerasa ‘kan? Itu balasan dari gue. Jadi kenanya nggak di bibir doang. Semuka kena tuh. Gimana, mau lagi?” ujar Raydita sembari menahan tawa melihat wajah Yuda yang cemberut.
Semua terkekeh kecuali Yuda tentunya. Bahkan Rianti yang sebisa mungkin menahan diri untuk tidak ikut-ikutan tertawa, tak bisa menahan dirinya. Kekehan mereka membuat wajah Yuda merona karena malu. Diantara kebahagiaan itu, Raka diam-diam melirik Yuli yang juga ikut menertawakan Yuda.
Perasaannya berkecamuk. Sekilas ia menatap Raydita. Seorang adik yang merupakan buah dari kesalahan sang ayah. Sosok yang dulu pernah membuatnya kecewa itu, kini justru ditirunya.
“Tidak. Aku akan segera menikahi Yuli. Aku tidak ingin semua terlambat untuk kami. Aku tidak ingin Yuli sampai menyembunyikan kehamilannya, apalagi sampai aborsi. Aku tidak ingin ada Tante Rida dan Dita lainnya dalam kehidupanku ini. Yups. Aku keputusanku sudah mantap. Saat mengantar Yuli pulang nanti, aku akan bicara dengan Pak Indra,” tekad Raka dalam hatinya.
_bersambung_
__ADS_1